
Akhirnya kedua kakak beradik itu keluar dari pusat perbelanjaan dengan membawa belanjaan yang cukup banyak. Keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Yaitu ke sebuah toko perhiasan.
Keduanya berjalan pelan, sambil serius mengamati setiap bentuk perhiasan yang tampak indah dan menyilaukan mata itu.
"Gila, semuanya bagus-bagus. Harganya juga lebih bagus lagi." Bayu geleng-geleng kepala takjub dengan deretan perhiasan itu.
Bayu pun segera memilih satu set perhiasan. Ia lupa menyadari jika uang nya yang tersisa tidak cukup untuk membayar. Sehingga ia berniat untuk membatalkan satu perhiasan.
"Tenang, aku saja yang bayar kekurangan nya." bisik Reyhan.
Bayu seketika bernafas lega. Ia pun keluar dari toko perhiasan itu dengan senyum sumringah. Karena semua barang barang yang di butuhkan sudah ia dapatkan.
"Wow, banyak banget kak." seru Bima ketika melihat kedua kakaknya menenteng paper bag dan parcel. Ia pun segera membantu kakaknya.
Keduanya merebahkan diri di depan tv, untuk menghilangkan penat yang ada.
"Kalau kakak sudah menikah, pasti rumah ini tambah rame. Ibu juga tambah senang, karena punya teman yang bantuin masak, ngga cuma Bima terus yang bantuin." celetuk Bima.
Bayu dan Reyhan saling beradu pandang lalu terkekeh mendengar ucapan adik bungsunya.
_____
Sementara itu, seminggu sebelum hari pernikahan di rumah Anisa. Semua orang tampak mulai sibuk. Karena Anisa hanya anak tunggal, maka pak Gofur ingin pernikahan anaknya di buat semeriah mungkin.
Tenda tarub mulai di pasang. Ibu ibu juga sibuk membantu di dapur, mereka memasak aneka jenis makanan untuk di bagikan pada tetangga, saudara sebelum acara resepsi di adakan.
Sedangkan Anisa sendiri, ia tetap sibuk mengajar dan rutin mengecek kondisi tokonya yang setiap hari semakin bertambah ramai. Baik online ataupun offline.
Termasuk di sore itu, Anisa sedang mengecek laporan keuangan dan transaksi harian, serta membantu melayani pembeli.
Tak seperti biasanya, di sela-sela waktu senggang, Anisa mengajak seluruh karyawannya berkumpul.
"Ih, tumben banget di suruh kumpul. Ada apa mbak?" tanya Anya yang sudah di penuhi jiwa keponya.
Setelah memastikan semua karyawannya berkumpul, barulah Anisa mengeluarkan sesuatu dari tas nya.
__ADS_1
"Datang ke acara nikah ku ya." kata Anisa, sambil menyerahkan satu persatu undangan pada karyawannya.
"APA! Mbak Anisa mau nikah?" Anya begitu terkejut. Begitupun dengan yang lain. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba mereka langsung menerima undangan pernikahan.
"In shaa Allah. Doakan ya Nya, semoga segala sesuatunya berjalan lancar."
Tiwi, yang juga mendapat undangan pernikahan itu, adalah yang paling terkejut ketika membuka lembar undangan. Matanya membelalak ketika melihat nama calon suami Anisa.
'Bayu Wicaksono. Mantan ku?' batin Tiwi terperangah kaget ketika membaca sederet tulisan itu.
Ia benar-benar tak menyangka, jika Anisa bisa menikah dengan mantannya.
'Bagaimana jalan kisah cinta mereka, sehingga dalam waktu dekat bisa menikah? Setahu ku mbak Anisa selalu sibuk dengan segala kegiatannya. Rasanya ngga mungkin jika mereka pacaran terlebih dahulu. Mbak Anisa saja dengan tegas melarang karyawannya untuk pacaran.'
"Wi, Tiwi." Berulang kali Anisa memanggil Tiwi yang bengong, hingga akhirnya Anya menyenggol lengannya.
"Eh, i_iya mbak, ada apa?" tanya Tiwi gelagapan.
"Mikirin apa sih mbak Tiwi? Pengen nikah juga?" goda Anya.
"Besok kamu juga harus datang ya." Anisa mengingatkan pada Tiwi.
"In shaa Allah mbak, saya usahakan. Semoga lancar segala sesuatunya ya mbak. Ngga nyangka bisa secepat ini menerima undangan pernikahan dari mbak Anisa."
"Saya juga ngga nyangka Wi. Kita baru bertemu pertama kali di suatu acara, dan dia langsung melamar saya. Awalnya saya ragu, tapi melihat dia yang begitu lantang ketika menyatakan tentang lamaran itu, akhirnya saya pun menerima. Menurut ku dia lelaki yang cukup bertanggung jawab. Bahkan dia belum pernah melihat wajah ku sama sekali." Anisa tersenyum di balik cadarnya ketika mengingat momen di mana Bayu melamarnya.
"Cie...Cie... Curhat nih ye..." goda Anya. Yang membuat Anisa tersadar jika tak seharusnya dia bercerita. Sehingga ia tersipu malu.
"Ish, Anya, biarkan saja mbak Anisa cerita. Kan bisa buat bahan renungan kamu dalam memilih calon suami idaman." Tiwi mengingatkan Anya.
"Oh iya, juga ya mbak." Anya menepuk nepuk kepalanya sendiri. Semua terkekeh melihat tingkahnya.
Setelah selesai urusan toko, Anisa segera pulang. Di kamar nya,ia sibuk membaca buku-buku tentang pernikahan, cara menjadi istri yang baik dan sholihah, serta buku referensi lainnya. Ia ingin menjadikan pernikahan nya sebagai pernikahan pertama dan terakhir seumur hidupnya.
____
__ADS_1
Hal yang hampir sama, juga di lakukan oleh Laura. Setelah sidang skripsi, jam kuliah nya mulai banyak berkurang.
Ia memanfaatkan waktunya untuk membaca tentang cara menjadi istri yang baik, apa saja yang perlu di persiapkan sebelum pernikahan dan beberapa bacaan lainnya. Ia juga memperbaiki jam jam sholat wajibnya serta menambah ibadah sunnah. Setiap selesai sholat, ia juga membaca Al Qur'an, agar bacaan nya semakin bagus.
Luka-luka di seluruh tubuhnya juga sudah hilang, tentu saja karena kedua orangtuanya meminta obat-obatan yang terbaik untuknya. Sehingga kian hari, aura kecantikannya pun semakin bertambah.
Dan, semenjak sidang skripsi itu, ia tak lagi bertemu atau sekedar berkomunikasi dengan Reyhan. Ia teringat pesan Reyhan, jika ia merindukan nya, maka Laura di suruh untuk banyak berdzikir.
Biarlah sejenak menahan rasa cinta yang membuncah. Dan, seluruh rasa itu akan di luapkan ketika bertemu di pelaminan nanti.
Mengingat hal itu, Laura pun menitikkan air mata haru. Ia sangat merasa beruntung, di persunting oleh orang yang sangat perhatian dan lembut kepada wanita. Karena selama ini, ia tak pernah di perlakukan Choki seperti itu.
Sesekali ia membuka galeri handphonenya. Untuk melihat foto saat di pantai dan pertunangan, yang menjadi salah satu obat rindu.
"Laura." tiba-tiba mamanya sudah berdiri di belakangnya.
Laura segera menghapus titik air mata dan menutup galeri handphonenya.
"Ada apa ma? Kok mengagetkan saja."
"Sudah berulang kali mama memanggil mu, tapi ngga kamu jawab. Lagi mikirin Reyhan ya?" goda mamanya.
Laura hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan mamanya yang memang benar adanya.
"Mama ngga nyangka, rasanya baru kemarin sore kamu bisa merangkak, berjalan, eh sekarang sudah besar dan bahkan sebentar lagi akan menikah. Rasa bahagia dan sedih bercampur jadi satu."
"Jangan seperti itu dong ma, kan Laura jadi ikut sedih." Laura meletakkan kepalanya di pangkuan mamanya yang sedang duduk di pinggir tempat tidurnya.
"Kamu ngga boleh sedih, nanti aura cantiknya hilang lho. Mama senang melihat mu semakin berubah seperti ini, rajin beribadah, menutup aurat, lebih lembut. Pasti hasil didikan Reyhan."
"Mama bisa saja."
"Eh, ayo buruan makan, papa sudah dari tadi menunggu di meja makan. Tuh kan, gara-gara melow, jadi lupa." keduanya terkekeh.
Laura segera melepaskan mukenanya dan merapikan Al Qur'an. Bergegas keduanya berjalan beriringan menuju meja makan.
__ADS_1