Juragan Muda

Juragan Muda
24. POV Bayu


__ADS_3

Secara umur tentu lebih banyak kak Reyhan, selisih nya 3 tahun. Tapi kak Reyhan memilik wajah baby face dan berkulit putih, sedangkan aku berperawakan tinggi besar dan berkulit kuning bersih.


Sehingga tak jarang orang akan mengira kalo aku sebagai kakak, dan kak Reyhan terlihat seperti adikku.


Namun, dari segi prestasi, kakakku sudah belajar mati matian tapi hasilnya tetap saja sama. Sedangkan aku, nilaiku lebih diatasnya. Dengan nilai ijazah yang baik, aku yakin pasti akan mudah untuk diterima di universitas atau ketika aku melamar kerja, pasti bakalan banyak pabrik yang mau menerima ku.


Meskipun begitu, dia adalah kakak yang baik. Selalu mengalah dengan kedua adiknya. Waktu kecil jika aku meminta mainan, dengan sukarela pasti dia akan memberikan nya.


Walaupun setelah dewasa kita sering bertengkar, tapi tidak sampai menyimpan dendam. Karena kedua orang tua ku selalu mengajarkan cara berkasih sayang dengan sesama. Dan itu adalah bentuk kasih sayang ku pada nya, dengan sering mengajaknya ribut, he he he.


Melihat kak Reyhan yang pontang panting kesana kemari tapi tak kunjung mendapatkan pekerjaan juga membuat ku sedih, dalam hati aku pun mendoakan semoga kakak ku lekas mendapatkan pekerjaan.


Dan, benar saja setelah satu bulan akhirnya dirinya mendapatkan pekerjaan, kami sekeluarga sangat bahagia. Setidaknya ada yang bantuin ibu cari nafkah.


Tapi, tak berlangsung lama, kak Reyhan harus ikut kena PHK karena penurunan jumlah produksi, akibat virus Corona jadi pabrik nya gagal ekspor.


Tak patah semangat, kak Reyhan pun segera melamar pekerjaan lagi. Beruntung, salah satu teman sekolah nya dulu menawarinya pekerjaan, dan akhirnya kakakku diterima.


Selama kak Reyhan bekerja, dia sering memberi uang jajan ke aku dan Bima. Setiap gajian tiba, pasti ada saja oleh oleh yang akan dibawanya.


Pelan pelan perekonomian keluarga kami juga kembali stabil. Bahkan kak Reyhan juga membelikan kulkas untuk kami. Sehingga tak perlu repot-repot untuk sekedar beli es kopi kesukaan di hik terdekat.


Dan, tak berselang lama akhirnya kakakku kembali menganggur, karena pabriknya terbakar. Kasian, lagi lagi harus jadi pengangguran, alamat bakal puasa karena tak dikasih uang jajan sama kakakku tercinta itu.


Dan, sebuah ide yang tak tau dari mana asalnya, akhirnya kakak ku memutuskan untuk berjualan pulsa di depan rumah. Dengan modal seadanya dan modal nekad tentunya, karena kakak ku tak memiliki ilmu marketing sama sekali, sangat berlawanan arah dengan ilmu yang di dapat di sekolah tehnik otomotif.

__ADS_1


Kami sekeluarga mendukung apa yang dilakukan kak Reyhan, kalo bukan keluarga siapa lagi yang akan mendukung nya, pacar aja dia ngga punya. Beda lah sama aku yang gampang naklukin hati cewek.


Tapi nyatanya, meskipun dengan modal yang terbatas, kakakku sedikit demi sedikit bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah lagi. Seiring berjalannya waktu omset nya pun kian meningkat.


Aku yang dulu sering main kerumah teman, atau diam diam kencan dengan cewek terpaksa mengurangi waktu. Karena di suruh membantu usaha counternya. Kak Reyhan pun sering memberi uang berlebih ke aku. Semangat membantu ku lebih terpacu lagi tentunya.


Bima pun juga diberi uang jajan sendiri juga ibu untuk tambah beli kebutuhan keluarga.


Kak Reyhan adalah orang yang begitu baik, setiap omset nya naik pasti kita sekeluarga langsung ditraktir makan. Walaupun menu sederhana tapi kami tetap menyukainya. Dia juga menolong seorang penjual cilok yang sepi pembeli dengan memborong dagangan nya, bahkan menggratiskan sewa tempat.


Tak hanya itu, ibu pun juga dibelikan mesin cuci yang pasti harganya mahal. Hati kak Reyhan yang begitu baik mengantarkan nya pada rezeki yang lebih kata ibu suatu hari.


Tapi aku heran dengan kak Reyhan, kenapa sejauh ini dirinya tak pernah mengajak cewek main kerumah. Aku pikir kakakku agak belok.


Suatu ketika pernah aku tanya, tapi jawab nya memang lagi fokus ngumpulin uang, bantu kebutuhan ekonomi keluarga.


Melihat wajah nya yang cantik, tawanya yang lepas membuatku semakin mengaguminya. Disela-sela waktu menunggu pembeli pasti aku akan mengajak nya bicara, bercanda, karena bicara apa saja dengannya pasti nyambung.


Hingga aku ingin menjadikannya seorang pacar. Seorang cowok ganteng seperti ku dengan tinggi 175 berat 60kg , berkulit kuning bersih berbadan kekar disandingkan dengan cewek yang berambut lurus panjang berkulit kuning bersih memiliki lesung pipi pasti akan terlihat sangat serasi.


Dan, aku pun mulai berubah pikiran, yang dulu sempat tertarik untuk meneruskan kuliah, akhirnya aku lebih memilih bekerja di counter kak Reyhan saja.


Toh ujung ujungnya kalo habis kuliah juga pasti cari kerja. Tak perlu kesana kesini ikut tes kerja, udah langsung dapet gaji yang banyak kerjaan juga enak dari kakakku. Dengan adanya Tiwi disini juga menjadi salah satu penyemangat ku.


Hingga kak Reyhan akan buka cabang di pasar jati, aku di suruh menunggu counter baru seorang diri pula, rasanya berat jauh dari Tiwi. Akhirnya aku bujuk kak Reyhan agar dia saja yang menunggu counter baru itu. Dan, tak perlu kelamaan mikir akhirnya diapun setuju. Terbukti kan dia kakak yang sayang adik, apa mau ku pasti dituruti.

__ADS_1


Semoga dengan banyak nya waktu berduaan dengan Tiwi disini, aku bisa cepet jadian.


Dan siang itu seperti biasa, ketika jam makan siang tiba, aku mengajak Tiwi makan bersama, tapi kok aneh dia malah menolak.


Malah ada aja kerjaan yang dilakukan nya, untung saja kak Reyhan datang dan membujuk nya, akhirnya dia pun mau mengikuti ku.


Selama makan siang berlangsung dia juga diam saja, hingga aku yang harus memulai duluan obrolan siang itu.


"Em... Kriteria cowok yang kamu suka seperti apa, kasih tau dong. Oh ya udah punya pacar belum?"


Lhoh, mendengar kata-kata ku kok Tiwi langsung terbatuk-batuk, 'apa dia terpesona ya dengan ku.'


Spontan aku segera menuang es kopi di gelas dan menyodorkan ke Tiwi. Tiwi pun segera meminumnya, setelah itu kembali menyuap bakso ke mulutnya yang tipis itu.


'Kenapa pertanyaan ku ngga dijawab? Padahal aku pengen bisa membahagiakan nya dengan menjadi sosok pacar yang sesuai dengan kriterianya.' batinku tak terima, aku pun segera mengulang pertanyaan ku tadi sambil menatap wajahnya dengan serius.


"Ngga ada." singkat padat dan jelas perkataan Tiwi membuat ku sedikit bengong.


Antara harus senang atau harus bersedih dengan ucapannya. Senang kalo memang benar dia belum punya pacar. Tapi juga sedikit sedih, karena Tiwi menjawabnya dengan nada sedikit ketus.


Ikhlas ngga sih dia jawabnya, mulai sekarang aku harus gencar mendekati nya, sebelum keduluan kak Reyhan.


Lamunanku buyar ketika melihat dia sudah berjalan menuju counter. Bisa bisanya dia ninggalin aku padahal obrolan kami belum selesai, bakso di mangkok ku saja belum habis.


Segera aku menghabiskan bakso, membereskan meja lalu menuju counter, yang ternyata sudah banyak pembeli yang antri.

__ADS_1


'Huft.. Semangat cari uang, juga semangat gaet anak orang.' batinku memotivasi diri.


__ADS_2