Juragan Muda

Juragan Muda
176. Anisa melahirkan


__ADS_3

"Arghhh.."


Seketika Anisa menjatuhkan sendok makannya. Ia mengerang kesakitan sambil memegang perutnya yang buncit.


Semalam ia merasakan perutnya yang sedikit mules. Ia pikir karena terlalu banyak makan sambal. Tapi kali ini rasa mulesnya sungguh tak tertahankan.


Semua menatap ke arahnya dengan panik.


"Sayang, apa yang terjadi?" Bayu ikut memegang perut Anisa. Ia hanya meringis menjawab pertanyaan suaminya.


"Bayu, sepertinya Anisa kontraksi, menjelang melahirkan. Cepat kamu bawa ke rumah sakit." titah ibunya.


"Melahirkan?" ulang Bayu. Seketika ia bergetar dan sangat panik.


Mereka pun segera berhamburan. Reyhan menyiapkan mobilnya, Bayu memapah Anisa di bantu Laura. Sedangkan bu Rohmah menyiapkan perlengkapan yang sekiranya di perlukan Anisa.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang sudah tampak macet dengan kendaraan orang yang berangkat kerja.


"Kak, cepat dikit dong. Kasian Anisa." seru Bayu.


"Ini sudah yang paling maksimal. Kamu bersabarlah dulu." balas Reyhan.


Laura yang duduk di depan, berulang kali membalikkan badannya melihat kondisi Anisa. Peluh mulai membasahi wajahnya. Sehingga berulang kali Bayu menghapus keringat nya. Sedangkan ibunya yang berada di sampingnya senantiasa mengusap pelan perut Anisa.


Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam, akhirnya mobil mulai memasuki pelataran rumah sakit.


Reyhan segera berlari keluar untuk memanggil petugas rumah sakit. Yang langsung datang menghampiri mereka sambil membawa brankar dorong untuk pasien.


Bayu dengan sigap mengangkat tubuh Anisa dan meletakkan nya pelan-pelan di brankar. Semua ikut mengikuti langkah perawat yang mendorong Anisa menuju kamar IGD.


Semua di larang masuk, kecuali Bayu. Ia ikut menemani Anisa di dalam ruangan. Seorang dokter di bantu perawat memeriksa Anisa.


"Baru bukaan 8 tunggu sebentar lagi ya sambil kami menyiapkan peralatan nya." ucap dokter.

__ADS_1


"Apanya yang buka dok?" tanya Bayu dengan polosnya. Sehingga membuat dokter serta perawat yang ada di dekatnya sedikit menyunggingkan senyum.


"Jalan lahirnya pak. Harus menunggu sempurna pembukaannya, baru bisa melahirkan." jelas dokter, dan Bayu mengangguk sambil membulatkan bibirnya tanda paham.


Dokter dan perawat segera keluar untuk menyiapkan peralatan nya, sedangkan Bayu berada di dalam ruangan bersama Anisa.


Bu Rohmah yang berada di luar ketika melihat dokter dan perawat itu keluar bersamaan segera memberondong nya dengan pertanyaan.


Tapi tatapan dokter itu langsung tertuju pada Laura sembari mengingat wajah itu. Dan ia langsung teringat bahwa wajah itu dulu tidak memakai jilbab. Berbeda dengan sekarang yang tampak semakin cantik dan anggun dalam balutan gamis dan jilbab yang lebar.


Dokter itu juga tak sengaja melihat cincin berlian melingkar di jari manis Laura, ketika Laura tengah merapikan jilbabnya.


Dokter itu 100% yakin bahwa Laura telah menikah dengan lelaki tampan yang ada di sampingnya, yakni Reyhan.


'Serasi sekali mereka.' batik dokter itu.


Melihat dokter itu memandang ke arah Laura cukup lama, Reyhan segera berdehem keras. Tak rela istrinya tercinta di tatap oleh lelaki lain.


"Ehem."


"Ehem." dokter itu juga berdehem untuk mengalihkan kegugupan nya karena merasa tertangkap basah.


"Saudara semua tenang saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Karena pasien sebentar lagi akan melahirkan, dan ini baru pembukaan 8. Kalian boleh masuk, sembari kami menyiapkan peralatan nya." ucap dokter.


"Terima kasih dok." ucap mereka serempak.


Dokter itu pun mengulum senyum sebelum pergi. Mereka pun juga membalasnya dengan sebuah senyuman, termasuk Laura, yang kian terlihat cantik, sehingga membuat jantung dokter itu berdegup kencang.


'Sadar diri, dia sudah punya suami.' batin dokter.


Setelah dokter itu pergi, bergegas mereka masuk ke dalam ruang IGD. Tampak Bayu yang sedang mengipasi Anisa sambil mengelap peluh yang membanjiri wajah Anisa, bahkan cadar Anisa sampai basah.


Laura berdiri di samping Anisa, mengelus perutnya sambil merapalkan doa untuknya. Semua yang ada terus memberi semangat dan dukungan untuk Anisa.

__ADS_1


Sekian menit berselang, 2 orang perawat masuk ke ruangan itu. Mereka kembali mengecek Anisa yang ternyata sudah mengalami pembukaan sempurna. Keduanya segera menggantikan baju untuk Anisa lalu membawa ke ruang bersalin. Keluarga nya pun turut mengiringi di belakangnya.


Dan, sesampainya di ruang bersalin, hanya Bayu yang diijinkan masuk. Semua kembali menunggu di luar dalam keheningan masing-masing sembari berdoa.


Laura seketika ingat, jika sejak tadi belum menghubungi orang tua Anisa. Segera ia merogoh handphonenya lalu memencet nomor telepon ibunya Anisa.


Setelah menghubungi orang tua Anisa, ia juga memberi kabar pada papanya, bahwa ia dan suaminya tidak masuk kerja hari ini karena menunggu Anisa melahirkan. Tak lupa, ia juga memberi kabar pada sahabat satu-satunya yang belum menikah, yakni Rosyidah.


Tentu saja orang-orang yang menerima kabar dari Laura sangat terkejut sekaligus senang. Mereka pun berjanji akan segera datang ke rumah sakit.


Sedangkan di dalam ruang bersalin, Bayu semakin pucat wajahnya karena untuk pertama kalinya melihat seorang wanita yang berjuang melahirkan bayi. Tapi ia berusaha tegar menyaksikan Anisa yang sejak tadi meringis menahan sakit. Tangan keduanya saling menggenggam erat.


Kali ini dokter yang menangani adalah dokter perempuan sesuai permintaan Anisa. Dan dokter itu serta beberapa perawat mengelilinginya.


"Pembukaan sudah sempurna ya bu. Ayo tarik nafas sedalam-dalamnya lalu hembuskan pelan-pelan. Angkat sedikit kepalanya sambil melihat ke bawah ya. Usahakan jangan banyak gerak, agar jalan lahir tidak banyak mengalami robek." instruksi bu dokter.


Anisa pun melakukan berusaha melakukan instruksi itu. Bayu terus menyemangati Anisa walaupun sebenarnya ia juga takut sekaligus merinding. Bahkan tulang tulang persendian nya seakan patah karena menyaksikan hal itu.


Erghhh....


Anisa terus mengejan dan mengerang kesakitan demi bisa melahirkan normal. Bahkan rasa sakitnya seakan membuat tulang tulangnya patah. Peluh terus membanjiri wajahnya. Dan akhirnya, setelah berjuang sekian menit,


Owek.... owek


Suara tangis bayi memekakkan telinga. Semua seketika mengucapkan syukur dan tersenyum lega. Tapi Bayu justru seketika pingsan ketika mendengar suara tangisan bayinya.


Dokter serta perawat geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecil melihatnya. Bergegas mereka pun segera membantu mengangkat tubuh Bayu lalu meletakkan di brankar sebelah Anisa.


Setelah itu, barulah mereka membersihkan bayi mungil yang masih penuh darah. Sedangkan dokter segera menjahit jalan lahir milik Anisa.


Anisa kembali merasakan kesakitan ketika dokter berulang kali menusukkan jarum ke goanya yang menganga karena baru saja di lewati bayinya.


Tapi ia merasa bersyukur, akhirnya bisa melahirkan normal dan semuanya sehat selamat.

__ADS_1


Ketika menoleh ke samping melihat Bayu yang masih pingsan, ia hanya menyunggingkan senyum menyadari kekonyolan suami nya.


Setelah bersih, barulah bayi itu di dekatkan pada Anisa. Ia memeluk bayi merah itu sambil meneteskan air mata.


__ADS_2