
Adam yang sejak tadi duduk di samping tempat tidur mulai deg-degan dengan jawaban Tiwi.
Dan Tiwi pun sama. Ia mencoba menarik nafas dalam-dalam.
"Boleh saya bicara berdua dengan dokter Adam dulu?" tanya Tiwi ragu.
Mereka pun mengangguk lalu meninggalkan keduanya di kamar dengan pintu yang terbuka.
"Apa yang akan kamu katakan?" tanya Adam setelah semua pergi.
"Kenapa kamu mendadak melamar ku? Seperti tahu bulat saja di goreng dadakan."
"Aku ngga mau berzina, jika sudah yakin ya sudah nikah saja, semua beres."
"Kamu belum lama mengenal ku, banyak yang ngga kamu ketahui tentang ku."
"Masa lalu seseorang tidaklah penting bagi ku, yang penting adalah masa sekarang. Melihat kebaikan mu, membuat ku yakin mengambil keputusan besar ini."
"Sebelum memutuskan berhijab, aku pernah pacaran, dan di putus oleh pacar ku karena aku adalah cewek matre. Sejak saat itulah aku trauma pacaran. Aku sadar, karena dulu perekonomian keluarga ku tidak baik, jadi aku menjadikan pacar ku pelampiasan untuk memenuhi kebutuhan ku. Aku merasa sangat bersalah. Dan sampai sekarang, aku ngga percaya diri berdekatan dengan lelaki. Kita sangat jauh berbeda, jika mantan ku mengetahui perbedaan itu, aku takut dia tetap berpikiran buruk tentang ku. Apalagi sekarang aku bekerja di toko milik istrinya."
Tiwi berkata yang sejujurnya. Baginya lebih baik mengatakan yang sejujurnya sebelum menikah. Jika Adam menerima ia sangat bersyukur. Jika tak terima, Tiwi pun tak masalah. Daripada setelah menikah suaminya baru mengetahui tentang keburukannya di masa lalu, yang berimbas pada retaknya hubungan rumah tangga.
"Tiwi, jika Allah telah menutup aib kita, maka sekali kali jangan pernah kamu membukanya."
"Dalam hadits riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah telah menjelaskan. Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan ( melakukan maksiat). Dan temasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia berkata: wahai Fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu padahal Allah telah menutupnya, dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya."
"Kamu paham kan?"
Tiwi mengangguk.
"Lalu apa jawaban dari pertanyaan ku?"
"Sudah ku jawab lewat anggukan kepala, aku paham dengan penjelasan dokter. Terima kasih sudah memberi ilmu tambahan." Adam menepuk jidatnya, karena jawaban Tiwi tidak sesuai dengan hatinya.
"Bukan yang itu, satunya. Kamu mau menerima lamaran ku ngga?"
Tiwi terdiam cukup lama yang membuat Adam semakin tak sabar menunggu. Dan setelah beberapa menit, akhirnya Tiwi mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Jika nanti aku melakukan kesalahan, tolong nasehati aku ya dok. Karena ilmu ku masih minim."
"Kita belajar bersama." balas Adam yakin.
Ia pun mengeluarkan kotak bludru warna biru dari dalam kantong bajunya.
"Ini untuk kamu." Adam membuka kotak itu dan memperlihatkannya pada Tiwi.
Tiwi membulatkan matanya tak percaya.
"Tapi, ini baru sekedar lamaran dok, aku tak pantas menerimanya."
"Wanita itu makhluk unik jadi harus diperlakukan spesial. Ulurkan tanganmu."
Dengan ragu, Tiwi mengulurkan tangannya lalu Adam perlahan memasukkan cincin itu di jari manis Tiwi.
"Alhamdulillah." semua berucap syukur lalu bertepuk tangan.
"Astaga, kalian mengintip?" gumam Adam dan Tiwi bersamaan, karena melihat keluarganya sudah berdiri di ambang pintu sambil tersenyum bahagia.
Adam tampak menyunggingkan senyum bahagia sepanjang perjalanan.
"Dulu, katanya bukan pacarnya, eh sekarang senyum-senyum sendiri habis melamar. Dasar labil." cicit Andira sengaja menggoda Adam. Namun Adam hanya cuek saja. Karena apa yang dikatakan Andira benar.
_____
Sementara itu di tempat lain, yakni di kediaman Rosyidah. Setelah memanjatkan doa dalam setiap sujudnya, ia sudah memantapkan hati untuk mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya.
Malam itu, Andre benar benar gugup, ia mondar-mandir di kamarnya seorang diri. Tadi sore, Reyhan mengabarkan Rosyidah akan memberi jawaban pada malam itu juga. Keduanya di minta ke rumahnya untuk mendengarkan jawaban Rosyidah.
"Andre, kenapa kamu terlihat gugup seperti itu?" tanya ibunya, karena pintu kamar Andre sedikit terbuka.
"Eh, itu Bu.."
Sejenak Andre berpikir, untuk mengatakan kepada ibunya atau tidak. Sebenarnya ia ingin memberi kejutan pada ibunya bila lamarannya berhasil. Namun ia juga butuh doa dari ibu.
"Bu, malam ini Andre akan ke rumah perempuan itu untuk mendapatkan jawaban, atas lamaran Andre beberapa hari lalu. Doakan ya semoga di terima." dengan gugup Andre mengadu pada ibunya. Ibunya mengernyitkan dahi bingung, siapa yang di maksud dengan 'perempuan itu.'
__ADS_1
"Jelaskan siapa perempuan itu Ndre."
"Dia seorang anak ustadz pimpinan pondok pesantren bu. Walaupun aku belum pernah melihat wajahnya sama sekali, namun melihat sikapnya bisa membuat ku jatuh cinta. Ibu harus merestui, agar dia mau menerima ku. Ya."
"Kamu belum pernah melihat wajahnya dan bisa jatuh cinta, sehingga memutuskan untuk melamarnya? Bukankah itu hal yang mustahil Ndre? Apalagi kita orang biasa lho."
"Bu, wajah itu tidak penting. Yang penting kebaikan hati dan sikapnya. Kecantikan wajah bisa memudar seiring berjalannya waktu, namun kecantikan hati akan tetap terjaga sepanjang masa. Andre ingin istri dan ibu bisa hidup rukun karena sama-sama memiliki kecantikan hati. Bukan perang setiap hari karena antara menantu dan mertua tidak memiliki sikap yang baik."
"Hem, baiklah jika itu keputusan mu. Ibu akan mendoakan, semoga diberi yang terbaik, lamaran mu diterima."
"Aamiin, terima kasih doanya bu. Oh iya, namanya Rosyidah, dia memakai penutup muka, ibu jangan kaget ya kalau suatu saat bertemu dengannya. Itu artinya dia hanya ingin wajahnya di lihat oleh suaminya saja."
"Iya ibu paham. Ibu malah senang, siapa tahu nanti bisa mengajari banyak hal yang belum ibu ketahui tentang agama kita."
"Senang sekali Andre mendengarnya Bu. Oh iya, Andre berangkat sekarang ya. Assalamualaikum." Andre mencium tangan ibunya lalu keluar menjemput Reyhan.
Keduanya menaiki motor bersama menuju rumah Rosyidah.
"Ngebut sedikit dong Rey, aku sudah ngga sabar mendengar jawabannya." pinta Andre.
"Biar pelan asal selamat Ndre. Memang kamu mau ngga bisa ngerasain malam pertama gara-gara jatuh dari motor?"
"Tega sekali, doain keburukan untuk ku. Teman ngga ada akhlak."
Thuk...
Andre mengetok helm yang dipakai Reyhan.
Setelah melewati adu mulut yang cukup lama, akhirnya keduanya sampai di rumah haji Dahlan. Mereka segera turun dari motor dan mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
Terdengar suara balasan salam sambil perlahan pintu terbuka.
"Silahkan masuk nak Andre dan nak Reyhan." ucap haji Dahlan ramah.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1