
Acara lamaran sekaligus pertunangan Bayu dan Anisa sudah berjalan lancar. Hari pernikahannya pun juga sudah di tetapkan. Kini tinggal menunggu acara lamaran Laura yang akan di adakan nanti malam.
Beruntung keadaan Laura, sudah kian membaik. Luka di wajahnya juga sudah banyak berkurang, hanya tinggal sedikit bekasnya, dan tak akan kelihatan jika sudah di poles dengan make up.
Seperti hal nya di rumah Anisa dulu sewaktu lamaran, di rumah Laura pun juga sama ramainya. Bu Ani dan art perempuan sibuk memasak. Sedangkan art lelaki membersihkan seluruh ruangan, dan merapikan tanaman di depan rumah, agar tampak lebih rapi dan sedap di pandang.
"Hemm, sudah enak, manis dan bumbunya pas banget." ucap bu Ani kala mencicipi ayam bumbu madu.
Ia juga mencicipi beberapa menu lainnya. Setelah semua selesai, bu Ani membantu bibi menyiapkan makanan itu di meja prasmanan yang sengaja di letakkan di ruang tamu untuk menyambut keluarga Reyhan. Snack pembuka juga sudah tertata rapi.
"Huft... beres sudah." bu Ani membuang nafas, karena merasa lega, seluruhnya telah selesai dipersiapkan.
Bergegas ia bersiap-siap untuk menyambut kedatangan keluarga Reyhan.
"Papa, kok keluarga Reyhan belum datang sih?" ucap bu Ani ketika sedang mengoles bibirnya dengan lipstik.
"Katanya sih nunggu sholat isya' dulu." ucap pak Atmaja sambil merapikan krah baju batiknya.
"Ngga nyangka ya pa, sebentar lagi Laura akan menikah. Padahal perasaan baru kemarin ia lulus sekolah lho."
"Sama, papa pun juga ngga menyangka. Papa tuh ngga rela, kalau Laura selalu di manfaatkan Choki. Nah, lebih baik sama Reyhan dong, jelas di jagain. Semuanya di cukupi. Makanya papa terus kejar mereka supaya cepat nikah. Habis mereka nikah, papa jadi ada temennya untuk mengelola showroom."
"Ih, papa, ternyata cari kesempatan juga ya." bu Ani mencubit perut buncit pak Atmaja.
"Arghhh... Mama. Pantesan saja, Laura suka nyubit Reyhan, ternyata itu semua dari gen mama ya."
"Enak saja." bu Ani mengerucutkan bibirnya. Pak Atmaja terkekeh melihat istrinya yang cemberut itu.
"Eh ma, kamu dengar ngga? Seperti suara klakson. Apa Reyhan sudah datang ya." pak Atmaja berhenti terkekeh dan menajamkan pendengarannya. Bu Ani pun sama.
"Sepertinya iya pa."
"Ya sudah, papa temui mereka dulu. Mama panggil Laura. Heran tuh anak ngapain saja di kamar, ngga keluar sejak tadi."
Keduanya segera keluar kamar dengan tujuan yang berbeda.
Sementara itu di kamar Laura. Sejak selesai mandi, ia berdiri di depan almarinya. Ia membolak-balik seluruh bajunya, karena bingung mau memakai baju apa. Berkali-kali ia mencoba baju, tapi merasa tidak cocok, lalu melemparkan ke segala arah. Akhirnya ia hanya duduk di depan cermin dan menghembuskan nafas kasar.
__ADS_1
Pikiran nya terbang jauh mengingat segala kenangan nya bersama Reyhan. Ia selalu memperlakukan nya dengan baik, dan penuh perhatian. Ia selalu menutup tubuh Laura yang terlihat menggoda dengan setiap barang yang ada di dekatnya.
Mengingat hal itu, muncullah rasa malu di hati Laura, karena sudah berpakaian yang mini, yang terkesan seperti menggodanya Reyhan. Beruntung Reyhan lelaki yang mampu mengendalikan n*fsunya. Jika tidak, bisa saja ia berbuat seperti Choki.
Akhirnya, malam itu, Laura memutuskan untuk memakai set gamis pemberian Reyhan. Sebuah gamis polos warna pastel yang dibagian bawahnya terdapat manik manik yang akan terlihat berkilau ketika tertimpa cahaya. Ia segera memoleskan make up tipis untuk menyamarkan bekas lukanya.
'Kamu sudah banyak sekali berkorban untuk aku, harusnya aku juga berkorban untuk mu. Mulai malam ini, ku niatkan menutup aurat ku demi kamu calon imam ku.' batin Laura sambil menatap bayangannya di cermin.
"Laura." bu Ani terkejut.
Ia membulatkan matanya dan masih berdiri di ambang pintu kamar. Laura pun segera menengok ke arah mamanya berdiri.
"Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya bu Ani sambil melangkah masuk.
"Memang apa yang sudah Laura lakukan?" tanya Laura yang bingung melihat tingkah mamanya.
"Ini, kenapa semuanya berantakan?" bu Ani menunjuk baju Laura yang berceceran di lantai dan tempat tidurnya.
Laura mengedarkan pandangannya dan justru terkekeh, menyadari dirinya sudah berbuat onar.
"Maafin Laura ma." ucap Laura sambil meringis, mamanya yang melihat justru geleng-geleng kepala.
"Kamu cantik sekali sayang." dengan mata yang berbinar bu Ani memuji putri semata wayangnya. Laura hanya tersenyum menanggapi ucapan ibunya.
"Reyhan sudah datang, ayo kita turun."
Jantung Laura kian berdetak cepat ketika mendengar nama Reyhan di sebut.
"I_iya ma." Laura kembali melihat bayangan nya untuk memastikan penampilan nya.
"Sudah cantik sekali sayang, pasti Reyhan klepek klepek lihat kamu."
Laura berdiri dan menggamit lengan mamanya.
"Miss Laura cantik sekali." celetuk Bima, ketika melihat Laura dengan langkah pelan menuruni anak tangga.
Reyhan mengikuti arah pandang adik bungsunya itu, dan jantungnya berdetak cepat ketika melihat Laura yang sangat cantik. Bahkan matanya tak berkedip sama sekali sampai Laura sudah berdiri di hadapan para tamu.
__ADS_1
"Kak, mulutnya di kondisikan. Nanti di masukin lalat lho."
Semua terkekeh mendengar ucapan Bima yang apa adanya itu. Sementara Reyhan harus menahan malu karena ulah adik nya yang tak bisa di ajak kompromi. Laura menyunggingkan senyum melihat tingkah Reyhan yang konyol, tapi sangat menggemaskan buatnya.
Laura segera duduk di antara kedua orang tuanya. Dan acara pun di mulai.
Di hadapan para hadirin, Reyhan menyampaikan maksud kedatangannya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh. Saya Reyhan Perdana Kusuma, malam ini datang berkunjung ke rumah bapak Atmaja. Untuk memohon ijin meminang putri bapak, Laura Arabela. Saya tak bisa menjanjikan apapun selain, mengajaknya bersama berjuang dalam suatu maghligai rumah tangga, agar sakinah mawadah dan warahmah." ucap Reyhan dengan suara lantang.
Hati Laura bergetar hebat kala mendengar penuturan Reyhan itu, seketika ia langsung menitikkan air mata haru.
Semua yang hadir juga takjub dengan ucapan Reyhan tadi.
"Bagaimana Laura, apa kamu menerima lamaran Reyhan?" pak Atmaja menoleh pada putrinya.
Laura tetap menundukkan pandangannya sambil mengangguk.
"Alhamdulillah." ucap para hadirin.
"Reyhan, pasangkan cincin untuk non Laura." bisik ibunya.
Laura dan Reyhan bangkit berdiri. Reyhan pun mengambil kotak kecil warna merah bludru dan mengeluarkan isinya.
"Terimalah pemberian ku yang tidak seberapa ini wahai calon istri ku." ucap Reyhan sebelum memasukkan cincin itu di jari manis Laura.
Semua menatap dengan seksama cincin berlian yang tampak berkilau indah itu, yang harganya tentu tak murah.
Entah kenapa Laura merasa sangat senang ketika berkali kali Reyhan memanggilnya dengan sebutan calon istri. Itu semua masih terasa seperti mimpi baginya. Keduanya saling melempar senyum termanis nya.
Prok...Prok...Prok
Tepuk tangan meriah dari para hadirin ketika cincin itu masuk ke jari manis Laura dengan sempurna.
"Ayo mas Reyhan dan mbak Laura merapat, di foto dulu." kata salah satu saudara Laura.
Keduanya pun mengikuti ajakan untuk berfoto itu. Mereka berjejer sambil tersenyum manis. Tangan Laura di angkat sambil menunjukkan cincin pertunangannya. Reyhan memakai batik lengan panjang sehingga lebih berwibawa. Sedangkan Laura memakai gamis polos warna pastel yang begitu terlihat anggun.
__ADS_1
Setelah itu, acara di lanjutkan tentang penentuan tanggal pernikahan. Karena satu dan lain hal akhirnya pernikahan di gelar 2 bulan kemudian.
Semua yang hadir bersorak gembira, dan tentunya mendoakan agar acara pernikahan nya nanti berjalan lancar.