Juragan Muda

Juragan Muda
136. Ujian hidup


__ADS_3

Semalaman Laura tak bisa tidur. Bayangan tentang acara lamaran semalam masih menari indah di kepalanya. Dan, setelah menunaikan sholat subuh, barulah ia bisa tidur.


Handphone nya berdering beberapa kali, sehingga membuatnya tergeragap bangun. Dengan suara serak khas orang bangun tidur ia menjawab panggilan itu tanpa melihat siapa yang sedang menelpon.


"Hallo."


"Hallo, assalamu'alaikum." balas suara di seberang sana.


Laura langsung melihat handphone nya.


"Reyhan." gumamnya tak percaya.


Sepagi ini dia sudah menelponnya. Padahal semalam dia baru saja dari rumah Laura.


"Wa'alaikumussalam Reyhan." Laura berusaha menjawab salam itu dengan sehalus mungkin.


"Gimana tidurnya semalam, nyenyak?" balas Reyhan dari seberang sana.


"Emm... biasa saja."


"Harusnya luar biasa dong, bukan hanya biasa saja. Oh iya, Miss Laura tetap semangat ya, semoga ujian skripsi nya hari ini di mudahkan Allah, dapat nilai yang terbaik."


"APA!" Laura membulatkan mata tak percaya. Ia lupa jika hari ini ada jadwal untuk sidang skripsi.


"Reyhan aku pamit dulu, assalamu'alaikum." bergegas Laura mematikan sambungan telepon nya, padahal Reyhan belum menjawab salamnya.


"Astaga, kenapa aku bisa lupa?" gumam Laura sambil berjalan menuju kamar mandi dengan tergesa-gesa.


Ia kembali memandangi koleksi pakaian nya yang berjajar rapi dalam almari, setelah kemarin sempat ia acak acak. Dengan yakin ia mencomot satu set gamis dari Reyhan. Setelah selesai berdandan, bergegas ia menuruni anak tangga.


"Pa, ma, Laura berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum." Laura mencium tangan kedua orangtuanya yang sedang berkumpul di meja makan.


"Eh, sarapan dulu sayang."


"Nanti di kampus saja ma. Laura terburu-buru." ia segera berjalan menuju teras, di mana sudah seharusnya mobilnya terparkir di sana ketika hendak berangkat kuliah.

__ADS_1


Ia membulatkan matanya tak percaya kala melihat Reyhan sudah berdiri di ambang pintu.


"Rey_han?" gumamnya.


Seperti hal nya Laura yang syok melihat kedatangan Reyhan yang tiba-tiba. Reyhan pun juga sama syok nya. Ia menatap Laura tanpa berkedip, karena ini adalah pertama kalinya ia melihat Laura memakai set gamis ketika kuliah.


"Maa syaa Allah, Miss Laura tambah cantik sekali." puji Reyhan.


"Kali ini aku ngga mempan kamu gombalin, keburu telat berangkat kuliah." ujar Laura manja.


"Aku tahu, pasti semalaman Miss Laura ngga bisa tidur, jadinya paginya mengangguk dan bangun kesiangan. Ayo aku antar sekarang, aku ngga mau calon istri ku ngebut seperti pembalap liar."


"Ta_tapi?"


"Aku sudah ijin sama papa mama kok sebelum datang kesini." Reyhan segera berjalan menuju mobilnya dan membukakan pintu untuk Laura. Laura semakin merasa bahagia dengan perhatian yang Reyhan berikan.


Mobil melaju dengan kecepatan yang sedikit lebih tinggi, membelah jalanan kota yang sudah padat dengan kendaraan.


"Calon istri ku harus makan dulu, supaya ada tenaga untuk mengerjakan ujiannya. Ayo bekal itu di makan dulu. Karena aku sendiri yang menyiapkannya." Reyhan menunjuk box makan dan minum yang sudah ia siapkan di dashboard.


Sebenarnya Laura tak merasa lapar. Tapi demi menjaga perasaan Reyhan, ia segera mengambil box itu dan membukanya. 4 potong sandwich memenuhi box itu. Laura segera mencobanya satu.


"Syukurlah kalau miss Laura suka, habiskan ya."


Tak lama kemudian, mobil sudah memasuki kampus, Reyhan segera berhenti di fakultas Laura. Terlihat Laura sedang mengatur nafas beberapa kali sebelum turun.


"Aku doakan semoga Allah beri kemudahan pada calon istri ku dalam mengerjakan ujian kuliah dan ujian hidupnya."


"Kenapa ada ujian hidup juga?" Laura mengernyitkan keningnya.


"Teman-teman miss Laura akan kaget dengan penampilan miss Laura yang berbeda dari biasanya. Teman yang baik akan mendukung. Tapi, teman yang buruk akan mencaci dan menghina Miss Laura. Nah, itu namanya ujian hidup."


"In shaa Allah aku sudah siap dengan segala konsekwensinya. Aku melakukan ini semua untuk calon suami ku, agar terhindar dari jilatan api neraka ketika nanti di akhirat."


"Makin pinter saja." dengan gemas Reyhan mengelus pucuk kepala Laura.

__ADS_1


"Sudah sejak dulu aku pintar. Rangking 1 dari SD sampai SMA."


"Hebat, kebalikan ku berarti." kekeh Reyhan.


"Aku pamit ke kelas dulu Reyhan, terima kasih tumpangannya."


Setelah berkata seperti itu, Laura segera turun. Tak lupa berbalik arah menatap Reyhan yang masih setia menunggu nya masuk kelas. Keduanya saling melambaikan tangan dan melempar senyum.


Ternyata benar apa yang di katakan oleh Reyhan. Ketika Laura masuk kelas, semua menatap nya dengan pandangan yang tak biasa. Ada yang memujinya, tapi juga tak sedikit yang mencelanya. Laura bersikap cuek. Ketika mereka tak mengganggu nya, maka ya sudah. Toh, ia melakukan semua itu ikhlas demi orang yang di cintai nya, tanpa ada unsur pemaksaan sama sekali.


"Woi, ku pikir ada mahasiswa baru, ternyata misses ceres ya." Mira langsung menyerang Laura. Sehingga seisi kelas terkekeh. Tapi Laura masih diam.


"Tumben diam saja, biasanya juga langsung nyolot. Apa karena sudah berubah jadi ustadzah, makanya alim dan ngga koar-koar?" imbuh Mira lagi yang membuat seisi kelas kembali terkekeh. Choki yang berada di dekat Mira pun juga ikut terkekeh geli sejak tadi.


"Oh, apa mungkin karena kecelakaan kemarin, jadi pakai bajunya emak emak buat nutupin lukanya kali ya. Atau sengaja untuk mencari perhatian Choki." kekeh Mira.


Laura yang mulai mendidih otaknya tak terima atas hinaan Mira mulai membalas nya.


"Sudah selesai belum yang ngomong? Asal kamu tahu ya, aku melakukan semua ini karena IKHLAS, demi calon suami ku. Agar tidak terkena jilatan api neraka, karena melihat istrinya yang tidak menutup aurat. Bukan karena hal duniawi lainnya. Nih lihat, cincin pertunangan kita." Laura sengaja memamerkan cincin berlian dengan hiasan batu safir berwarna pink. Laura sengaja menekan kata ikhlas, agar semua orang tahu, bahwa dia serius niat berubah.


Semua teman berdesakan ingin melihat keindahan cincin yang di pakai Laura.


"Wow, baru tunangan saja sudah di kasih cincin mahal, apalagi nanti mas kawinnya, pasti lebih mahal lagi. Pasti orang kaya nih calon nya."


"Iya, ntar kalau aku nikah, aku juga pengen di beliin cincin seperti itu."


"Berarti kamu harus cari pria kaya yang mau menikah dengan mu."


"Pacaran nya sama Choki, kok nikahnya sama orang lain. Kalah kaya atau kalah ganteng mungkin."


Dan masih banyak lagi omongan lainnya dari mulut teman sekelas Laura. Tentu saja hal itu membuat Mira semakin iri dengan apa yang di dapat oleh Laura. Sedangkan Choki hanya diam mematung. Tak percaya rasanya, kemarin ia melihat Laura menangis sesenggukan melihat dia dengan Mira, eh sekarang sudah pamer cincin nikah.


'Cepat sekali dia move on dari ku.' batin Choki.


"Nah, jadi jangan bilang ya kalau aku ngga bisa move on dari Choki. Karena itu sesuai yang kecil bagi seorang Miss Laura." Laura menjentikkan ujung kukunya dan tersenyum puas melihat Mira dan Choki yang sedari tadi hanya diam.

__ADS_1


"Pekerjaan calon suami mu apaan sih memangnya?"


"Pekerjaan nya ngga penting apa, karena papa mama ku sudah kaya. Tapi, kalau kamu butuh handphone dan segala accesoris nya, bisa datang ke counternya." balas Laura terkikik menanggapi pertanyaan temannya.


__ADS_2