
Laura masih memandangi setiap foto yang baru saja di kirim dari handphone Reyhan. Terkadang secarik senyum terbit di wajahnya. Tiba-tiba Reyhan menepikan mobilnya.
"Kenapa berhenti?"
"Terhalang lampu merah, aku ngga tahu bus nya tadi belok kemana." jawab Reyhan sambil menengok ke kiri dan kanan berharap menemukan petunjuk.
"Ya sudah kita ikuti google map aja." tangan lentik Laura menggeser layar handphone mencari pusat oleh-oleh.
Reyhan hanya bisa mengangguk menuruti permintaan Laura. Ia fokus memperhatikan jalan yang semakin terlihat tak sama dengan awal ia berangkat tadi.
Sampai akhirnya mereka justru memasuki kawasan Malioboro yang letaknya tentu lebih jauh dari pantai Baron tadi. Reyhan seketika mengernyitkan keningnya. Itu artinya mereka terpisah dengan rombongan.
Hal yang berbeda, terlihat di wajah Laura, ia tampak memperhatikan sekeliling sambil tersenyum. Ia menyadari jarang sekali keluar menghabiskan waktu di tempat seperti itu. Selama ini ia selalu ke mall, salon dan bioskop. Itupun hanya bersama Choki seorang.
"Sepertinya Miss Laura salah kasih petunjuk deh. Ini kita nyasar sampai Malioboro." celetuk Reyhan.
"Kok kamu nyalahin aku? Dimana mana perempuan ngga pernah salah, selalu benar." balas Laura sambil bersedekap dan mengerucutkan bibirnya.
Reyhan geleng-geleng sambil tepuk jidat menyadari bahwa ia telah salah bicara. Segera ia minta maaf. Beruntung kali ini Laura langsung memberi maaf. Ia segera memberi kabar lewat grup WhatsApp nya, pada Bayu dan pada pihak travel guide. Setelah mereka semua membalas pesannya, barulah ia mengajak Laura turun dari mobil.
Laura langsung berlari kecil sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu. Lampu remang-remang yang menghiasi jalan sepanjang kawasan Malioboro terlihat sangat indah. Deretan penjual kaki lima yang sedang membuat aneka jajanan membuat perut keroncongan.
"Reyhan aku mau itu." Laura menunjuk antrian orang yang membeli lumpia dan es dawet.
Reyhan mengangguk, dan segera ikut antri. Tak lama pesanan mereka pun datang. Dengan tak sabar Laura coba mencicipi lumpia yang masih hangat. Reyhan tak menyangka jika akhirnya Laura mau makan di pinggir jalan bersamanya. Menu sederhana tapi terasa nikmat jika di santap bersama orang yang tepat.
"Sudah habis, ayo kita jalan lagi." seru Laura.
Reyhan kaget melihat lumpia yang belum sempat ia cicipi sudah dihabiskan Laura. Es dawet milik Laura pun sudah habis, sementara miliknya masih tersisa separuh. Setelah menghabiskan es nya, bergegas ia mengejar Laura.
Mengejar Laura, bagaikan mengejar kupu-kupu. Ia berhenti di tempat penjual yang satu ke penjual yang lainnya untuk mencicipi jajanan yang memang sangat lezat itu.
Tak hanya itu saja, ia juga memasuki sebuah mall. Beruntung Reyhan tak kehilangan jejak dan segera mengejar mengikuti nya.
Lelah jiwa raga Reyhan saat ini mengikuti setiap langkah Laura. Tapi wanita itu justru tak terlihat lelah sama sekali.
__ADS_1
'Memang benar, surganya wanita itu ya belanja.' batin Reyhan. Ia sampai ngos-ngosan karena mengejar Laura.
"Sepertinya ini cocok mu." Laura menempelkan satu baju batik untuk Reyhan.
"Pakai apapun aku tetap ganteng dan cocok kok." dengan nafas terengah-engah Reyhan membalas Laura.
"Oh ya, berarti pakai ini juga cocok dong." celetuk Laura sambil menempelkan bikini pada Reyhan. Ia pun terkekeh geli melihat itu.
"Tentu cocok, kalau di pakai di hadapan Miss Laura seorang." Reyhan pun terkekeh melihat Laura yang langsung terdiam mendengar ucapannya tadi.
"Ih kamu sama mesumnya dengan Choki." Laura mengerucutkan bibirnya kesal.
"Kan Miss Laura yang mulai duluan. Ya sudah, aku minta maaf lagi." Reyhan mengulurkan tangan.
"Ayo buruan pilih baju yang mana, mumpung dompet ku masih tebal." imbuhnya lagi sambil terkikik.
"Baiklah kalau kamu memaksa." Laura segera mengambil beberapa potong baju yang menarik hatinya. Reyhan dengan setia mengikutinya dari belakang.
"Hah sudah." Ucap Laura lega sambil meletakkan tumpukan baju di meja kasir.
Lagi-lagi Reyhan segera mengeluarkan kartu saktinya untuk membayar belanjaan Laura.
"Kirim saja nomor rekening mu, nanti aku ganti totalnya."
"Dalam kamus ku, ngga ada yang namanya minta ganti. Jadi simpan saja baik-baik uangnya." ucap Reyhan tegas.
Keduanya kembali menyusuri jalan Malioboro dengan menenteng beberapa kantung belanjaan.
"Ayo pulang Miss, ini sudah jam 9."
"Aku masih mau jalan jalan Reyhan. Sepertinya semakin malam tempat ini semakin ramai. Aku suka berada di sini." ucap Laura dengan wajah yang berbinar.
Hal itu membuat Reyhan tak tega sehingga mengurungkan niatnya untuk cepat pulang.
"Astaghfirullah, Miss Laura sudah mengabari papa sama mama belum?" tiba-tiba Reyhan teringat hal itu. Ia tak mau kedua orang tuanya khawatir. Laura membulatkan matanya mendengar Reyhan berkata seperti itu. Ia segera merogoh handphonenya untuk mengabari kedua orang tuanya.
__ADS_1
_____
Sementara itu dikediaman pak Atmaja. Bu Ani tengah khawatir, sejak tadi ia berjalan mondar-mandir di depan pintu untuk menunggu kedatangan putri semata wayangnya.
"Mama, bisa diam ngga sih? Dari tadi mondar-mandir melulu. Mikirin apa?"
"Papa ini gimana sih, sudah malam anak belum pulang kok ngga ada rasa khawatirnya sama sekali." jawab bu Ani yang mendengus kesal.
"Dia kan sudah besar ma, pasti dia bisa jaga diri. Paling lagi ngerjain tugas atau keluyuran sama temannya."
"Tetap aja mama ngga tenang."
Tak berselang lama setelah keduanya adu mulut, handphone pak Atmaja berdering. Ia mengernyit ketika mengetahui Reyhan yang menelponnya. Bu Ani yang mendengar handphone suaminya berdering, berhenti mondar-mandir dan mendekati suaminya yang tengah duduk. Ia melihat nama Reyhan tengah memanggil. Ia pun ikut mendengarkan percakapan keduanya.
"Hallo." sapa pak Atmaja.
Ia dan istrinya, mengernyitkan dahi ketika mendengar suara Laura yang justru menyapa dari sebrang sana.
"Papa, maaf handphone Laura mati kehabisan baterai. Ini Laura lagi ada di Jogja di ajak Reyhan piknik. Nanti Laura bawain oleh-oleh yang banyak. Sampai kan ke mama juga, ngga usah khawatirkan Laura. Bye pa."
Tut.... Tut
Laura langsung mematikan teleponnya.
Setelah telepon itu mati keduanya lalu beradu pandang.
"Bukannya tadi pagi pamitnya berangkat kuliah, kenapa sekarang malah sampai Malioboro?" gumam bu Ani.
"Sepertinya Reyhan curi start. Keliatan nya malu malu sama Laura, tapi nyatanya mau juga sama Laura."
"Siapa yang bisa menolak pesona Laura sih pa? Kecantikan nya kan menurun dari mama." celetuk bu Ani yang menyunggingkan senyum.
"Iya iya, papa percaya. Ya sudah ngga usah di tunggu, papa percaya kalau Laura bersama Reyhan. Mending kita bikin adik aja untuk Laura." ucap pak Atmaja sambil menaikkan satu alisnya, tangan kanannya merangkul bahu istrinya dengan mesra.
"Ih papa, apa-apaan sih, sudah mau punya cucu juga." jawab bu Ani yang tampak tersipu malu. Pak Atmaja terkekeh mendengar ucapan istrinya yang masih tetap cantik walaupun sudah berumur 40 tahun. Keduanya berjalan beriringan menuju kamar.
__ADS_1