
Reyhan memperhatikan Laura yang sedang menelpon keluarga nya. Ia mengernyitkan dahi ketika Laura berbohong atas nama dirinya di hadapan kedua orangtuanya.
"Miss Laura, kok bicara nya seperti itu?" tanya Reyhan ketika Laura sudah selesai berbicara lewat sambungan telepon.
"Aku ngga sedang berbohong, kita kan memang sedang piknik. Mereka percaya kalau aku bersama mu."
"Ya sudah, yang penting jangan di ulangi lagi ya. Aku takut mereka bakal mikir yang tidak-tidak ke aku. Sepulang dari sini, aku akan ngomong jujur ke mereka."
"Iya iya, bawel. Ya sudah ayo kita jalan lagi, mumpung besok aku libur kuliah, aku pengen menghabiskan malam ini di sini." seru Laura dengan penuh semangat. Ia segera bangkit dari duduknya dan mulai berjalan lagi.
"Katanya patah hati, tadi marah marah tak karuan. Sekarang justru malah sebaliknya, semangat 45 muter-muter sampai jalannya becek." gumam Reyhan. Ia segera bangkit dan kembali mengejar Laura.
Setelah puas berkeliling menyusuri jalan sepanjang Malioboro, Laura kembali merasa lapar. Perutnya semakin keroncongan ketika hidungnya mencium gudeg Jogja yang sangat khas itu.
"Reyhan aku lapar." rengek Laura.
Tak ada kata lain selain menuruti lagi permintaan Laura. Ia memesan 2 porsi nasi gudeg dan 2 gelas wedang uwuh.
Laura yang merasa sangat lapar segera melahap makanannya. Tak lupa juga mengambil aneka hidangan pelengkap seperti telur puyuh tusuk, ati tusuk dan beberapa menu lainnya.
"Ayo pulang, aku sudah kenyang." ajak Laura.
Reyhan membulatkan matanya, melihat Laura yang sudah menghabiskan makanannya duluan. Bergegas ia segera menghabiskan makanannya.
Keduanya kembali berjalan beriringan menuju mobil terparkir. Kali ini Laura berjalan sedikit pelan. Mungkin karena rasa ngantuk dan lelah mulai menyapanya.
Dan benar saja, baru menempuh 15 menit perjalanan, ia sudah tertidur pulas di dalam mobil.
Reyhan mengecilkan suhu mobil agar tidak terasa dingin, dan menutup tubuh Laura dengan jaketnya. Lama lama melihat kemolekan tubuh Laura bisa membuat ia lemas tak berdaya, karena ia juga lelaki normal.
Menempuh hampir 4 jam perjalanan dari Jogja sampai tiba di kotanya membuat Reyhan merasa benar benar ngantuk dan sangat capek.
Ia berhenti di sebuah pom bensin untuk mencuci muka agar tidak mengantuk dan melaksanakan sholat subuh. Bergegas ia membangunkan Laura untuk sholat berjama'ah.
"Kita sudah sampai?" tanya Laura sambil merentangkan tangannya lalu mengucek matanya.
__ADS_1
"Kita sholat subuh dulu, baru lanjut perjalanan. Sebentar lagi juga sampai rumah kok." kata Reyhan dengan lesu, karena tak bisa menyembunyikan rasa kantuknya.
Keduanya bergegas turun dan mengambil air wudhu yang sangat menyegarkan itu, lalu bergegas melaksanakan sholat subuh berjama'ah.
Setelah itu kembali mereka melanjutkan perjalanan. Reyhan hanya diam saja dan fokus menyetir sambil membiarkan Laura kembali tidur.
Tapi, ternyata Laura tak bisa kembali memejamkan matanya dan justru tengah asyik menatap Reyhan.
Ia tak menyangka jika orang yang dulu ia benci justru adalah orang yang menemani nya menghabiskan waktu nya selama hampir 2 hari. Dan itu terasa sangat menyenangkan. Ia juga mendapat banyak pelajaran berharga selama bersama Reyhan.
"Kapan kapan aku pengen piknik bareng lagi."
"In shaa Allah. Sama aku aja atau bareng karyawan ku?"
"Terserah. Intinya piknik." Reyhan mengangguk mengiyakan.
Reyhan menghentikan mobilnya tepat di depan tukang jualan bubur ayam. Sebelum Laura merengek kelaparan, lebih dulu ia siaga.
"Terima kasih Reyhan, tahu aja kalau aku mulai lapar lagi." ucap Laura sambil terkekeh, yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih seperti iklan Pepsodent.
"Aku anter Miss Laura pulang, nanti biar aku naik ojek saja pulangnya." di sela-sela makan Reyhan berbicara dengan Laura.
"Jangan, sebaiknya aku antar kamu pulang. Kamu pasti capek semalaman menyetir mobil."
"Aku kurang sreg, masa lelaki di antar pulang sama perempuan. Dimana mana lelaki kan yang harusnya mengantar perempuan." tolak Reyhan.
"Okay, tapi nanti kamu harus pakai mobil ku, ngga boleh naik ojek." Reyhan mengangguk sambil tersenyum.
Keduanya segera menghabiskan sarapan mereka, lalu pulang.
Satpam rumah terperangah kaget ketika sepagi itu Laura baru pulang. Dengan tergopoh-gopoh ia segera membuka pintu gerbang, karena mendengar bunyi klakson beberapa kali.
Reyhan membantu membawakan belanjaan Laura yang cukup banyak itu, ketika mobil sudah terparkir di depan teras rumah. Ia tak hanya membelikan oleh-oleh untuk kedua orangtuanya, tapi juga untuk art nya, dan kedua temannya yaitu Rosyidah dan Anisa. Tentu saja semua itu Reyhan yang membayar.
Ting tong.....
__ADS_1
Beberapa kali Laura menekan bel dengan tidak sabar. Akhirnya, pintu itu terbuka juga.
Mamanya membulatkan matanya, ketika melihat Laura yang baru saja pulang di antar Reyhan. Ia langsung memeluk putri kesayangannya itu, seolah-olah sudah lama tidak bertemu.
"PAPA!"
Beberapa kali bu Ani berteriak memanggil suaminya yang tengah asyik dengan burung piaraan kesayangannya.
Dengan tergopoh-gopoh ia datang memenuhi panggilan sang istri.
"Apaan sih ma teriak-teriak? Bikin murai ku ngga jadi makan." sungut pak Atmaja kesal.
Tapi rasa kesalnya langsung hilang ketika melihat seseorang yang ada di hadapannya saat ini.
"Kenapa baru pulang? Nginep di mana kalian? Awas ya kalau sampai terjadi macam-macam, aku nikah kan kalian secepatnya." maki pak Atmaja. Sengaja ia berkata seperti itu agar hubungan keduanya semakin dekat.
Laura dan Reyhan beradu pandang dan membulatkan matanya mendengar perkataan pak Atmaja.
"PAPA!" seru keduanya kompak.
Tak menyangka jika akhirnya akan seperti itu. Reyhan segera menceritakan apa yang terjadi. Dan semua merasa lega setelah mengetahui kebenaran nya.
Bu Ani mengajak nya sarapan bersama, tapi ia segera menolaknya karena masih kenyang. Ia pun berpamitan pulang dengan mengendarai mobil Laura.
Sesampainya di rumah, Reyhan melihat ibunya sedang duduk di teras rumah dengan perasaan khawatir.
"Reyhan, kemana saja kalian semalam? Kalian ngga sampai melakukan hal yang....." bu Rohmah langsung menodong Reyhan dengan pertanyaan, ketika ia baru saja menginjak teras rumah.
"Astaghfirullah, ibu kok ngomongnya gitu sih? In shaa Allah Reyhan masih bisa tahan kok."
Reyhan sangat terkejut dengan tuduhan yang dilontarkan ibunya. Ia pun segera menjelaskan apa yang terjadi agar tidak ada kesalahpahaman.
Seketika ibunya bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan Reyhan. Ia segera menyuruh Reyhan untuk istirahat. Ia merasa kasian, karena putra sulungnya itu pasti sangat capek.
Reyhan pun masuk ke kamarnya dengan langkah gontai. Ia segera menjatuhkan tubuhnya di kasur kapuk kesayangannya itu. Dan tak lama kemudian ia sudah tidur dengan sangat nyenyak.
__ADS_1