
"Bibi, ini Rosyidah. Jangan kaget." ucap Rosyidah sambil menahan tawa. Ia tahu bibi itu pasti terkejut karena melihat kedatangannya bersama Anisa yang juga sama-sama mengenakan cadar.
"Oh, ustadzah Rosyidah. Bibi kira siapa." ucap bibi bernafas lega.
"Mari masuk ustadzah. Sepertinya mereka baru bersiap siap."
"Terima kasih bi." Keduanya pun melangkah masuk dan menunggu di ruang tamu. Sedangkan bibi tengah memanggil majikannya.
"Anisa, Rosyidah, sudah lama menunggu?" sapa Laura hangat. Ia berjalan pelan dan anggun mendekati keduanya. Lalu menyalami dan memeluk keduanya.
"Ayo, kita ke ruang majelis." ajak Laura pada keduanya. Mereka pun berjalan beriringan. Anisa memperhatikan setiap detail rumah Laura yang sangat mewah itu.
"Assalamu'alaikum." sapa bu Ani dan pak Atmaja bersamaan.
"Wa'alaikumussalam." mereka kompak menjawab salam.
"Ini Anisa ma, teman aku dan Rosyidah." ucap Laura mengenalkan Anisa pada kedua orangtuanya. Anisa segera mencium tangan bu Ani.
Setelah bercengkrama sebentar, mereka segera memulai acara pada sore hari itu.
Anisa dan Rosyidah sama pintar nya dalam menyampaikan materi. Keluarga Laura pun mendengarkan dengan penuh antusias. Hingga tak terasa waktu sudah mendekati Maghrib. Mereka pun segera mengakhiri acara pada sore hari itu.
"Terima kasih Rosyidah, Anisa, sudah berkenan kesini. Besok lagi ya." ucap Laura ketika mengantar mereka sampai teras.
"In shaa Allah La." keduanya mengedipkan mata pada Laura.
Laura tengah asyik mengerjakan tugas kuliah. Tiba-tiba ibunya mengejutkan, karena langsung menyelonong masuk kamarnya.
"Nih, mama bawain susu hangat untuk mu. Biar tetap semangat ngerjain tugas." bu Ani meletakkan segelas susu di meja Laura.
"Ih mama ngagetin aja." Laura mencubit dengan gemas pinggang mamanya.
Tak biasa, mamanya mengantar susu untuk Laura. Seketika hal itu mengingatkan Laura pada Reyhan, sewaktu makan cilok di rumahnya.
Ia menolak mentah-mentah minum susu, tapi karena kepedesan, akhirnya segelas susu itu habis. Jika mengingat hal itu kembali, Laura merasa malu dan geli.
__ADS_1
"Bagaimana hubungan mu dengan Reyhan?"
"Mama, kenapa tanyanya seperti itu?" Laura mengerucutkan bibirnya.
"Lhoh, mama kan cuma tanya saja. Tahu ngga, sewaktu kamu ngga memberi kabar waktu piknik, mama panik setengah mati. Tapi setelah kamu menelpon dan memberi tahu, jika kamu bersamanya, langsung hati mama jadi tenang. Oh ya, mama mau tanya serius sama kamu, dan harus di jawab jujur."
"Apa itu ma?" tanya Laura sambil mengernyitkan dahi. Tumben sekali mama bicara seserius itu padanya.
"Apa benar, Reyhan tak melakukan apapun padamu waktu piknik?"
Dengan tegas Laura menggeleng. Yang membuat mamanya mengernyitkan dahi, seolah-olah masih tak percaya dengan apa yang dikatakan anaknya.
"Terus apa saja yang kalian lakukan dari pagi sampai ke pagi lagi? Masa ada laki-laki yang kuat menahan pesona mu. Apa jangan-jangan dia....."
"Mama, berhenti berpikir buruk tentang nya. Harusnya mama senang, Laura pulang dalam keadaan tak kurang suatu apapun. Justru malah bawain oleh-oleh untuk semua. Yah walaupun..... semua yang bayarin Reyhan." ujar Laura, ia terkekeh di akhir kalimat nya.
"Apa! Semua yang bayarin dia? Kok kamu matre sekali jadi cewek." suara bu Ani naik satu oktaf. Ia tak suka anaknya matre. Apalagi selama ini ia selalu mendapat uang saku yang tak sedikit jumlahnya.
"Siapa yang matre? Awalnya Laura niat mau bayar sendiri, tapi dia selalu menolak dan ingin membayarkan belanjaan ku. Sewaktu aku mau ganti juga ngga mau. Katanya uangnya di simpan saja untuk kebutuhan ku lainnya."
Dan tanpa sadar, Laura menceritakan semua kebaikan Reyhan selama berada di Jogja.
"Fix, sepertinya kamu mulai jatuh cinta sama dia." kata bu Ani sambil menjentikkan jarinya, ketika Laura sudah selesai bercerita.
"Ngga! Laura ngga mau jatuh cinta. Jatuh cinta itu pasti menyakitkan." ucap Laura dengan tegas. Ia tak ingin jatuh cinta lagi, jika akhirnya harus di khianati. Seperti Choki mengkhianati nya.
"Udah, mama keluar sana. Masih banyak yang belum Laura kerjakan."
'Lhoh, ini anak gimana sih? Tadi penuh semangat cerita soal Reyhan, eh tiba-tiba jadi cemberut. Bilang nya ngga mau jatuh cinta.' bu Ani geleng-geleng kepala sebelum keluar dari kamar Laura.
'Bodoh, kenapa aku cerita panjang lebar soal Reyhan?' rutuk Laura dalam hati.
_____
Di malam yang sama, Anisa dan kedua orangtuanya tengah berkumpul. Mereka membahas soal rencana pengajian yang akan di adakan di rumahnya.
__ADS_1
Pengajian itu sebagai ungkapan rasa syukur keluarga pak Gofur, karena semakin kesini usahanya dan usaha Anisa kian sukses.
Rencananya mereka akan mengundang tetangga, saudara, rekan-rekan, dan anak yatim-piatu. Semua undangan sudah di sebar. Dan pengajian itu akan di adakan malam jum'at besok.
"Bi, aku ingin mengundang Laura dan Rosyidah, boleh?"
"Tentu boleh sayang. Oh ya, pak Atmaja dan bang Dahlan lupa belum aku undang. Aku harus undang mereka juga."
Setelah berkata seperti itu, anak dan bapak itu segera memberi tahu lewat pesan singkat. Sejenak Anisa berpikir, apakah nanti Reyhan bakal di undang atau tidak.
Tapi untuk bertanya pada abi nya ia merasa sungkan. Ia memutar otak bagaimana caranya untuk mengetahui Reyhan sudah di undang atau belum.
"Abi kebelet pengen ke belakang." sambil meringis menekan perutnya, pak Gofur segera berlari ke belakang.
Sedangkan umi Salwa, ia pergi ke dapur untuk membuat minuman hangat.
Melihat handphone abi nya yang tergeletak di dekatnya, muncul sebuah ide dalam benak Anisa.
Ia segera meraih handphone itu. Dengan mudah ia langsung mencari riwayat pesan karena handphone abinya tidak memakai kata sandi yang menurutnya ribet.
Anisa meneliti satu persatu undangan yang di kirim lewat pesan singkat itu.
'Nah, bener kan, mas Reyhan belum di kasih tahu.' batin Anisa. Ketika tidak melihat riwayat panggilan atau pesan untuk Reyhan. Bergegas ia mengetikkan sebuah pesan undangan untuk Reyhan. Kemudian ia kembali meletakkan handphone abinya ke tempat semula.
"Erghhh... lega banget." suara pak Gofur terdengar jelas walaupun baru berjalan melewati kongliong dapur. Anisa langsung pura pura sibuk.
Tak lama kemudian, handphone abinya bergetar. Yang bersamaan dengan abi yang duduk di dekat Anisa. Sewaktu pak Gofur membuka pesan, Anisa beranikan untuk sedikit melirik.
"Siapa bi?" Anisa pura pura bertanya.
"Balasan pesan dari teman-teman abi." Pak Gofur menyebutkan satu persatu nama nama yang baru saja membalas pesan nya. Anisa sedikit menyunggingkan senyum kala nama Reyhan juga ikut di sebut.
"Oh, terus mereka bilang apa?"
"In shaa Allah mereka akan datang." Anisa merasa lega mendengar jawaban bahwa Reyhan juga akan datang.
__ADS_1