
"Selamat pagi." sapa Adam pada Bu Siti dengan senyum ramah.
"Selamat pagi juga dok."
"Kita periksa dulu ya Bu." Adam mulai memeriksa kondisi Bu Siti.
"Alhamdulillah,semakin bagus Bu kondisinya. Yang penting makan dan minum obat yang teratur. Jangan memikirkan sesuatu yang berat. Sebenarnya tidak ada pantangan makan, karena makan apa saja boleh asal tidak berlebihan." saran Adam, Bu siti mengangguk patuh sambil tersenyum.
Sebelum pergi meninggalkan ruangan, Adam sempat sekilas melirik Tiwi.
'Apa semalaman gadis itu tidak tidur? Sehingga jam segini masih belum bangun.'
"Maafkan anak saya yang terlihat malas dok. Semalaman dia menjaga dan memijit saya hingga tertidur pulas. Makanya sekarang masih tidur." ucap Bu Siti karena mengetahui Adam tengah menatap Tiwi.
"Eh, ngga apa-apa kok Bu. Semoga dia selalu sehat, biar bisa terus merawat ibu sampai tua nanti."
Bu Siti dan Adam saling melempar senyum sebelum pergi.
Setelah selesai mengecek pasien, Adam segera kembali ke ruangan nya. Duduk di kursinya sambil mengecek map yang ada di mejanya.
"Astaga, dia pasti belum makan. Jatah makan hanya untuk pasien saja." Adam meraih handphonenya lalu memesan makanan.
Sambil menunggu pesanan datang, ia kembali mengecek laporan nya dengan penuh konsentrasi. Hingga tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Bergegas ia berdiri dan membukakan pintu.
"Terima kasih pak. Kembaliannya ambil saja." kata Adam sembari mengulurkan uang selembar merah pada ojek online yang mengantar makanannya.
Setelah menutup pintu ruangan nya, ia berjalan santai menuju ruang pasien. Tanpa di sadari, adik dan mamanya yang memang berniat menemui nya berjalan mengekorinya.
"Assalamu'alaikum." sapa Adam sambil menyembulkan kepalanya di ruang perawatan Bu Siti.
"Wa'alaikumussalam." balas Tiwi dan ibunya.
Tiwi mengernyitkan dahi, karena baru saja Adam memeriksa ibunya, kini sudah kembali lagi. Sedangkan bu Siti juga tampak panik melihat kedatangan Adam.
"Maaf, mungkin saya mengganggu waktu istirahat kalian. Saya cuma mau mengantar ini, pasti belum beli sarapan."
Adam menyodorkan kantong plastik yang berisi nasi box pada Tiwi. Walaupun terasa aneh, Tiwi tetap mau menerimanya.
"Terima kasih dok, apa ini termasuk fasilitas di rumah sakit ini. Keluarga pasien juga mendapat jatah makan?" tanya Tiwi dengan polosnya.
__ADS_1
Adam menyunggingkan senyum karena baginya pertanyaan Tiwi lucu.
"Iya, itu fasilitas khusus untuk kalian. Karena kemarin aku yang mengantarkan kesini."
Tiwi semakin mengernyitkan dahi ketika Adam berkata demikian, sedangkan bu Siti tampak menahan senyumnya. Seakan ia tahu apa maksud Adam.
"Kamu bisa makan duluan, ibu mu biar aku yang menjaga."
Tiwi yang merasa sudah sangat lapar segera duduk sambil membuka box nasi. Sebelumnya ia menawarkan makan pada ibunya dan Adam.
Sementara Tiwi tengah melahap makan, Adam mengajak Bu Siti bercakap-cakap. Keduanya terlihat sangat nyambung, hingga tanpa di sadari,
Ceklek....
Tiba-tiba pintu di buka. Semua menoleh ke arah pintu. Alangkah terkejutnya Adam ketika melihat mama dan adiknya yang berdiri di ambang pintu.
"Mama." desis Adam.
"Assalamualaikum." ucap mama dan Dira sambil berjalan ke arah mereka.
"Wa'alaikumussalam." balas mereka kompak.
"Kenapa mama kesini?" Adam langsung menodong mamanya, mukanya terlihat gugup, sedangkan mama dan Dira terlihat santai.
"Apa mama tidak boleh membesuk pasien? Hanya kamu saja yang boleh menjenguk begitu?"
Adam yang khawatir takut mamanya berkata yang macam-macam segera mengajaknya keluar. Namun, mamanya tetap kukuh dengan pendiriannya.
Bahkan mamanya justru menyalami Tiwi dan ibunya sambil mengucapkan salam. Ia juga memperkenalkan diri sebagai mamanya Adam. Lalu bercakap-cakap sebentar dengan ibunya Tiwi.
Walaupun ibunya Tiwi heran dengan kedatangan mamanya dokter, ia tetap membalas semua perkataan nya sambil tersenyum ramah. Sedangkan Adam tampak menahan malu.
"Mama, ayo kita ke ruangan Adam saja. Kasian mengganggu Bu Siti istirahat." Adam memegang lengan mamanya. Karena sudah cukup lama kedua ibu itu saling bertukar cerita.
Akhirnya mama berpamitan pada Bu Siti. Sambil bersalaman, tak lupa mama menyelipkan uang. Walaupun Bu Siti sudah menolak, mama tetap memaksa, sehingga akhirnya Bu Siti menerima dan mengucapkan terima kasih.
Setelah nya Tiwi juga bersalaman sambil mengencium tangan mamanya Adam dengan takzim.
Setelah keluar dari ruangan, Adam langsung mencecar mama dan adiknya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Ia juga menggerutu kesal.
__ADS_1
"Mama kenapa pakai nyariin Adam di ruang perawatan sih? Kan bisa nunggu Adam di ruangan ku."
"Mama ngga sabar nunggu kamu. Toh hanya ingin bersilaturahim, apa salahnya sih. Mereka juga baik, mau menerima kedatangan ibu dan adik mu."
Adam menggerutu kesal karena percuma memberitahu mamanya. Sementara mamanya justru mulai banyak bertanya tentang Tiwi yang Adam belum banyak tahu tentang jawabannya.
"Mama sudah sering bertemu dengannya di toko. Mama melihat dia sikap nya cukup baik. Jika kamu menjalin hubungan dengannya mama akan merestui."
Adam ingin berjingkrak ketika mamanya berkata seperti itu. Tapi dalam hati, ia belum percaya, apakah dirinya benar benar cinta dengan Tiwi, ataukah sebatas kagum.
Besok sorenya, Bu Siti sudah di ijinkan pulang, Tiwi merapikan barang-barang milik ibunya. Adam menyembulkan kepalanya sambil mengucapkan salam. Tiwi dan ibunya menjawab salam kompak.
Melihat Tiwi yang tengah bersiap siap, Adam pun membantunya. Tiwi menarik senyum dan berterima kasih padanya.
"Tunggu sebentar ya, aku rapikan berkas ku dulu. Nanti aku antar kamu pulang."
"Ngga usah repot-repot dok, nanti biar saya cari angkutan umum saja."
"Rezeki jangan di tolak. Aku tinggal sebentar ya."
Setelah selesai mengemas, Adam segera berlalu keluar menuju ruangannya.
Tak lama kemudian, ia sudah kembali ke ruangan sambil membawa tas kerja. Ia membantu mendampingi Bu Siti sampai ke mobilnya.
Sepanjang perjalanan, Adam banyak bertanya tentang jalan menuju rumah Tiwi, karena baru sekali itu ia kesana.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit, akhirnya mobil memasuki pelataran rumah yang sederhana namun tampak sejuk karena banyak di tumbuhi pohon pohon. Adam menatap ke sekeliling dan begitu menikmati suasana.
'Kenapa dia melihatnya seperti itu. Apa kaget dengan kondisi rumah ku.' pikir Tiwi sedikit kecewa.
Adam segera membukakan pintu untuk mereka lalu membantu Bu Siti masuk ke dalam rumah. Setelah membaringkan tubuh Bu Siti, Adam duduk di kursi tamu yang menghadap ke arah luar. Melihat hal itu, Tiwi segera membuatkan minuman untuknya.
'Kenapa dia baik sekali sama keluarga ku? Apa ada sesuatu yang membuatnya jadi seperti itu? Aku takut kalau sampai suatu saat dia memanfaatkan keluarga ku. Eh, tapi, keluarga ku kan cuma orang miskin, apa yang bisa di manfaatkan coba.' batik Tiwi sambil menuang benda putih ke dalam gelas, lalu mengaduknya.
"Silahkan di minum." tawar Tiwi sambil meletakkan segelas es teh.
Karena hawa yang cukup panas, Adam segera meneguk minuman itu. Wajahnya seketika berubah seakan ingin memuntahkan cairan yang baru saja ia minum.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1