
Dengan langkah ringan Laura berjalan menuju kamar Anisa. Tak di sangka di depan nya seorang dokter yang dulu pernah memeriksanya juga berjalan menuju ke kamar Anisa. Sehingga keduanya berpapasan di depan pintu.
Jantung dokter itu seketika berdegup kencang. Ia berusaha menetralkan perasaannya. Apalagi ketika keduanya masuk ke ruangan Anisa bersamaan. Dokter itu benar benar gugup.
Tapi Laura tetap terlihat santai, karena hatinya memang hanya untuk suami yang sangat di cintainya, Reyhan.
Tak lupa Laura menyalami seluruh keluarga yang berada dalam ruangan itu. Ia juga memberikan nasi bekal untuk ibu mertuanya dan orang tua Anisa.
Tentu saja ibu mertuanya sangat senang menerimanya. Ia yakin menantunya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat masakan itu. Dokter itu pun sedikit mencuri pandang ke arah Laura, dan terkesima dengan perlakuannya yang baik.
"Dok." ucap perawat yang berada di dekat dokter mengingatkan, sehingga dokter itu bergegas memeriksa kondisi Anisa dan bayinya.
Semua memperhatikan ke arah mereka. Setelah sekian menit memeriksa, Dokter itu pun menjelaskan tentang kondisi Anisa dan bayinya yang cukup baik. Sehingga semua berucap syukur lega mendengarnya.
Setelah dokter itu selesai memeriksa, ia segera keluar.
Gubrak...
Tak di sangka, seorang gadis yang berniat hendak masuk malah menabraknya hingga jatuh.
Arghhh...
Keduanya mengerang kesakitan. Tapi mereka yang melihat justru terkikik, termasuk seorang perawat yang membersamai dokter itu. Ia bukannya segera membantu dokter, tapi juga ikut terkikik. Sehingga membuat dokter itu cukup geram.
"Bisakah kau segera menyingkir? Aku tak kuat menahan berat badan mu." rintih dokter itu.
"Apa! Apakah aku gemuk? sehingga dokter tega mengatakan hal itu." gadis itu langsung tertunduk sedih di atas tubuh dokter. Sehingga membuat dokter itu harus mengambil nafas lebih dalam lagi, karena memang keberatan tertimpa tubuh gadis itu.
'Kenapa setiap wanita selalu sedih ketika di katakan gemuk?' batin sang dokter. Ia pun mencari kata-kata lain.
__ADS_1
"Kamu ngga gemuk, cuma body mu seperti gitar spanyol. Sekarang cepatlah menyingkir."
Wanita itu segera menyingkir sambil bangkit berdiri setelah untuk yang kedua kalinya dokter itu berbicara, karena tak mau di bilang mencari kesempatan. Keduanya segera berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata minta maaf.
"Apa kamu juga ngga suka jika di bilang gemuk?"
Dokter itu melempar pertanyaan pada perawat yang mengikutinya tanpa menoleh sedikit pun. Perawat itu pun mengerutkan keningnya, karena heran dengan pertanyaan dokter yang tiba-tiba itu.
"Iya, saya juga ngga suka kok dok kalau di bilang gemuk." jawab perawat itu jujur.
"Meskipun kenyataannya memang gemuk?" ulang dokter itu lagi.
"Iya dok. Semua wanita inginnya di puji badannya ramping, halus, cantik dan lain sebagainya pokoknya." balas perawat nya tanpa sungkan.
"Lagian kenapa dokter bertanya seperti itu?"
"Hem, wanita benar-benar kelewatan. Itu artinya aku sebagai seorang lelaki di suruh berbohong." desis dokter itu.
"Karena wanita ingin di mengerti dok. Seperti lagunya Ada band itu lho." sambil meringis perawat itu tetap menjawab. Sehingga membuat dokter hanya bisa menghela nafas panjang dan tak ingin membahas hal yang sudah membuatnya malu.
Sementara itu, di waktu yang bersamaan, di dalam ruangan Anisa. Setelah gadis itu bangkit berdiri, ia segera berjalan menuju ke arah Anisa.
"Maaf ya mbak, sudah buat keributan di sini."
"Ngga apa-apa Wi, lagian kamu yang menabrak dokter itu, kenapa minta maafnya sama aku." kekeh Anisa.
"Soalnya sudah bikin keributan disini mbak. Takut membangunkan adik bayi juga." ulang gadis itu sambil meringis.
"Iya ngga apa-apa. Tapi nanti kalau ketemu dokter itu lagi kamu harus minta maaf."
__ADS_1
Tiwi mengangguk dengan perintah Anisa.
Tak lupa Tiwi menyalami kedua orang tua Anisa dan Laura. Walaupun awalnya Tiwi sangat sungkan dengan Laura, ia juga tetap bersalaman. Hal itu di lakukan karena ada banyak orang di dalam ruangan itu. Ia berharap Laura sudah lupa dengan segala kejadian buruk bersamanya dulu.
Sementara Laura tampak mengerutkan keningnya saat bersalaman dengan Tiwi. Mencoba mengingat ingat wajah di depannya yang seperti tak asing baginya. Sehingga keduanya masih bersalaman cukup lama.
'Bukankah dia wanita yang menyatakan cintanya pada mas Reyhan. Ya ampun, kenapa dia kenal dengan Tiwi?' batin Laura heran.
"La, dia karyawan ku. Memangnya selama kamu belanja di toko ku, ngga pernah lihat Tiwi? Atau saat aku menikah, Tiwi juga datang kok."
Anisa berusaha memecahkan kecanggungan di antaranya keduanya. Laura pun menggelengkan kepalanya karena memang tidak tahu akan fakta itu.
"Oh iya Wi, dia itu dulu sahabat ku, sekarang justru jadi kakak ipar ku. Lucu kan kisah kita?" celetuk Anisa menceritakan secuil kisah hidupnya pada karyawan nya.
Anisa memang dulu bukan lah orang yang cerewet, tapi semenjak menikah dengan Bayu, mulai ketularan cerewet nya. Dan, apapun itu, bisa menjadi bahan candaan untuknya.
Tiwi pun akhirnyamengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum menanggapi penjelasan Anisa. Padahal tanpa di jelaskan pun, Tiwi juga sudah paham.
"Lebih lucu lagi, kamu ternyata mantan pacar mas Bayu ya, kenapa ngga pernah cerita ke aku?" Anisa bertanya dengan nada santai, namun tetap membuat jantung Tiwi berdegup kencang. Tiwi tak menyangka akhirnya kisah cintanya di ketahui oleh Anisa.
'Ini sih bukan lucu namanya. Bisa bisanya sifat mas Bayu yang suka humor nular ke mbak Anisa.' gerutu Tiwi dalam hati.
"Buat apa sih mbak di ceritakan segala? Aku takut nanti malah membuat hubungan mbak Anisa dan mas Bayu jadi renggang. Aku pengen mbak Anisa dan mas Bayu sehidup semati selalu bersama." tutur Tiwi dengan tulus.
"Terima kasih ya Wi, kamu memang karyawan terbaik ku. Semoga kamu juga mendapat jodoh orang yang baik. Maaf kan aku tadi hanya asal bicara, tapi benar kan?" balas Anisa sambil meringis. Tiwi pun hanya bisa menarik sedikit senyum menanggapi ucapan Anisa yang cukup mirip dengan Bayu.
Laura yang sejak tadi memang terus memperhatikan interaksi keduanya, juga cukup lega mendengar percakapan keduanya. Dalam hatinya, ia juga mengaminkan doa Anisa. Apalagi setelah melihat Tiwi berpenampilan sama seperti dirinya, memakai gamis lebar. Mungkin Tiwi sudah berubah sama seperti dirinya.
Ketiganya pun mulai bercakap-cakap. Dan tentu, pagi itu adalah pertama kalinya Laura dan Tiwi terlibat percakapan yang cukup lama.
__ADS_1
Tiwi tak menyangka ternyata di balik sikap angkuhnya Laura dulu, tersimpan kebaikan. Tak hanya itu saja, dalam hati ia memuji Laura yang semakin cantik dan anggun dalam balutan gamis lebarnya.
'Selera mas Reyhan memang tinggi.'