Juragan Muda

Juragan Muda
49. Dia orang kaya


__ADS_3

"Lihat saja nanti malam Choki sayang, bakal ada kejutan untukmu." senyum manis tersungging di wajah Laura.


Malam yang dinantikan pun tiba. Laura segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar tak telat menjemput Choki.


Seperti biasa Laura akan mengirim pesan ke Choki jika sudah sampai depan pintu gerbang dan menunggunya di dalam mobil.


"Halo sayang, udah lama nunggu?" sapa Choki sambil membuka pintu mobil Laura.


"Baru aja, yuk buruan naik." ajak Laura sambil tersenyum manis.


Laura pun segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Choki ngakunya.


Selama perjalanan, mereka seperti biasa akan saling bercerita dan bersenda gurau, hingga akhirnya mobil Laura sudah sampai di depan gerbang rumahnya.


"Lholholhoh... Sayang, bukannya ini rumahmu?" tanya Choki sambil membenarkan letak duduknya karena terkejut.


Laura hanya mengangguk sambil tersenyum dan memarkirkan mobilnya di carport.


"Ayok buruan turun." ajak Laura karena Choki masih diam saja. Akhirnya Laura pun segera keluar dari mobilnya, lalu segera membuka pintu dekat Choki.


"Ayok sayang buruan turun, keburu malam lho." dengan setengah memaksa Laura pun menarik tangan Choki.


"I_iya sayang, tapi perjanjiannya kan kita mau jalan-jalan sambil beliin aku parfum, bukan kerumahmu."


"Itu, bisa lain kali sayang. Tapi untuk bisa ketemu papa itu adalah kesempatan yang langka, dan kamu harus memanfaatkan nya semaksimal mungkin agar bisa merebut hatinya. Jadi ayo buruan turun." bujuk Laura lagi. Akhirnya dengan kekuatan Laura memaksa dan dengan berat hati Choki pun keluar dari mobil.


Laura tampak bersemangat menggandeng tangan Choki, sedangkan Choki sendiri tampak sudah pucat pasi dan berkeringat dingin.


"Papa mama aku pulang." teriak Laura.


"Ssttt..... jangan teriak-teriak sayang." pinta Choki.


"Ngga papa, biar orangtuaku segera denger lalu menyambut kedatanganmu. Papa mama ada tamu buruan keluar."


Choki pun tepuk jidat dengan ulah kekasihnya itu.


"Ada apa sih sayang? kok teriak-teriak." jawab ibunya yang baru saja keluar dari arah dapur.


"Ini mah Laura bawa teman Laura." Laura pun sengaja menyenggol lengan Choki, lalu Choki pun sedikit membungkuk sambil tersenyum kearah bu Ani.


"Perkenalkan saya Choki tante." Choki mengulurkan tangan ke arah bu Ani, dan bu Ani segera membalas jabat tangannya sambil tersenyum.


"Papa mana ma?" tanya Laura sambil celingukan, karena sebelum ia berangkat menjemput Choki, dia melihat papanya sedang membaca koran di ruang tamu.


"Baru keluar, tapi ngga pamit mau pergi kemana."


Mendengar bu Ani berkata demikian membuat Choki bisa bernafas sedikit lega.

__ADS_1


"Yah, Laura kan mau bikin kejutan untuk papa, kok malah ngga ada." Laura tampak kecewa.


"Eh iya, mama baru selesai masak, yuk kita makan sama-sama." ajak bu Ani menghilangkan kecewa di hati putri semata wayangnya.


Mendengar ajakan makan seketika senyum terpancar di wajah Choki.


"Ayok sayang, temennya diajak."


"Yuk nak, mari makan sama-sama." ajak bu Ani lagi.


Choki kembali tersenyum dan menyenggol lengan Laura. Laura pun segera membalas senyuman kekasihnya dan mengikuti langkah ibunya menuju dapur.


Seketika Choki membulatkan mata melihat berbagai hidangan yang tersedia di meja. Air liur nya pun seketika menetes. Tanpa dipersilahkan Choki segera menggeser kursi dan mulai duduk. Laura yang melihat hanya bisa tepuk jidat.


Choki yang merasa sedang diperhatikan oleh ibu dan anak itu segera minta maaf untuk menutupi kelemahannya karena tak bisa menahan pesona hidangan yang menggugah nafsu makannya.


"Eh maaf tante, saya agak capek jadi langsung duduk."


"Oh ngga papa nak, langsung aja dicicipi, ngga usah sungkan, anggep saja rumah sendiri." ujar bu Ani sambil menggeser kursi duduknya, Laura pun melakukan hal yang sama.


Tanpa sungkan Choki pun menjadi yang pertama yang mengambil nasi, lalu segera mengambil ayam bakar bumbu madu, rendang daging sapi, ditambah kwetiau goreng, sambal matah dan acar bening.


Bu Ani sejenak tertegun melihat porsi makan Choki yang menurutnya luar biasa itu. Choki yang merasa diperhatikan pun seketika mengurai senyum.


Setelah puas melihat Choki, akhirnya bu Ani dan Laura pun juga mengambil makan tapi dengan porsi yang sedikit karena sudah kenyang melihat piring Choki yang menggunung.


"Mari makan." ajak bu Ani sambil mengangkat sendok hendak menyuap ke mulutnya.


"Siapa dia?" tanya pak Atmaja dengan suaranya yang menggelegar, dan tiba-tiba sudah berdiri di kongliong dapur.


Mendengar suara pak Atmaja yang menggelegar, membuat kunyahan Choki terhenti, dan mulutnya masih terlihat penuh.


"Teman Laura pa." Laura segera menjawab sambil berbalik arah menyambut papanya.


"Teman?" ulang pak Atmaja sambil mulai melangkah mendekati mereka yang mengelilingi meja makan.


"Kamu? Choki?" kata pak Atmaja sambil membulatkan mata menahan gejolak didada.


Choki yang mendapat tatapan serius dari pak Atmaja seketika merasa kikuk karena mulutnya yang masih penuh dengan makanan. Lalu ia pun segera bangkit berdiri sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman pak Atmaja.


Dan, tak disangka pak Atmaja malah mengabaikannya lalu duduk sambil menuang nasi ke piringnya.


"Aku sudah tahu kamu, tak perlu berkenalan." kata pak Atmaja dengan muka dinginnya.


"Oh iya saya kan orang terkenal, pantes bapak sudah tahu saya duluan. bagus kalau begitu pak, jadi kita tak perlu kenalan lagi." jawab Choki dengan senyum jumawa.


Mendengar penuturan Choki itu seketika mereka menghentikan kunyahannya dan melihat ke arah Choki dengan mata membulat. Entah apa yang ada dipikiran mereka masing-masing, yang jelas pak Atmaja terlihat semakin tak suka.

__ADS_1


"Apa setiapa hari porsi makan mu seperti itu?"


"Eh enggak kok pak, seharian ini saya belum makan karena puasa."


Laura yang mendengar itu hanya bisa menahan senyum, karena terlihat jelas jika Choki tengah berbohong ke papanya.


"Ini kan hari Sabtu puasa apa?"


'Waduh, dasar dodol, kenapa ngga ingat hari aku.' batin Choki.


"Udah lah pa, jangan mengintrogasi seperti itu, kita ini mau makan." mama berusaha mencairkan suasana yang tegang.


Akhirnya mereka pun menikmati makan malam tanpa ada pembicaraan sama sekali. Setelah selesai makan, barulah Laura mengenalkan secara resmi Choki pada papanya.


Pak Atmaja memberikan pertanyaan yang susah untuk dijawab oleh Choki. Sehingga pembicaraan malam itu pun terasa sangat kaku.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Laura segera menyikut lengan Choki untuk segera berpamitan dengan orangtuanya.


Choki pun serasa mendapat angin segar mendapat kode dari Laura. Segera ia berpamitan dengan kedua orang tua Laura. Pak Atmaja hanya membalas jabat tangan Choki dengan muka datar tanpa ekspresi, sedangkan bu Ani tetap membalas jabat tangan Choki sambil tersenyum hangat.


Setelah berpamitan hanya kedua orang tua Laura yang mengantar sampai depan pintu, sedangkan Laura mengambil kunci mobil terlebih dulu untuk mengantar Choki pulang.


"Lhoh, tadi kamu kesini naik apa? kok ngga ada kendaraan." tanya pak Atmaja.


"Eh itu pak, tadi dijemput Laura karena mobilnya dipakai semua."


"Oh, terus sekarang mau pulang naik apa?"


"Eh itu pak..." Choki bingung juga mau menjawab apa, akhirnya hanya bisa garuk-garuk kepala yang tak gatal.


"Ayo sayang aku anter pulang." kata Laura yang ternyata sudah sampai di teras.


"Apa! Malam-malam kamu mau anterin dia pulang sayang?" tanya pak Atmaja dan bu Ani bersamaan.


"Iya pa, ma."


"Ngga boleh, sudah malam, bahaya buat gadis secantik kamu keluar malam."


"Trus Choki pulang nya gimana pa?"


"Dia kan orang kaya, biar naik taxi online saja."


"Apa naik taxi online?"


Berteman yuk kak di FB.


FB: Nurul khanifah

__ADS_1


Berikan penilaian yang baik ya agar menambah semangat author untuk terus update.


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca, terimakasih semoga sehat selalu dan semakin lancar rezekinya.😘🤗


__ADS_2