Juragan Muda

Juragan Muda
228. Aqiqah


__ADS_3

7 hari kemudian.


Acara aqiqah untuk bayi mereka di gelar. Lagi lagi mereka tak bisa saling menghadiri acara, karena waktunya bersamaan.


Segala persiapan jauh-jauh hari sudah dilakukan. Agar acara itu bisa berjalan dengan lancar.


Terutama keluarga pak Atmaja, yang memiliki banyak relasi. Begitu juga dengan Reyhan, yang rekan seprofesinya semakin banyak, seiring usahanya yang kian sukses dan melejit.


2 ekor kambing yang sudah disembelih dan telah matang, siap dibagikan pada tetangga sekitar, rekan bisnis pak Atmaja dan rekan Reyhan, serta para tamu undangan nantinya.


Sementara mereka para anggota keluarga dan tetangga sedang repot berbagi tugas, Reyhan dan Laura masih berada di kamar.


"Kamu tetap saja cantik. Tidak kelihatan kalau sudah punya anak." puji Reyhan saat memakaikan jilbab untuk Laura. Sehingga membuat wanita itu tersipu malu.


"Kamu bisa saja mas, pasti gombal."


"Serius Miss Laura. Aku harus tetap dalam mode siaga. Aku takut kamu di sambar orang lain."


Laura semakin terkikik mendengar ucapan suaminya, yang ia anggap sebagai sebuah candaan.


"Kok malah ketawa sih? Memangnya lucu?"


"Pasti kamu ada maunya kan mas, kalau lagi merayu seperti itu?"


"Mau ku..... banyaklah. Aku pengen bikinin adik untuk bayi kita." ucap Reyhan sambil menaikkan satu alisnya.


"Mas...... masa nifas ku aja belum selesai, sudah ngomong seperti itu." ucap Laura sambil geleng-geleng kepala.


"Ok, kalau begitu, setelah masa nifas mu selesai."


"Ngga janji ya. Aku mau membesarkan anakku dengan sepenuh hati dulu. Baru bikin lagi."


"Tapi, kata papa dan mama kita harus bikinin cucu yang banyak untuk mereka lho."


"Hemm.... iya-iya." jawab Laura sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya, namun dengan cepat Reyhan kembali mendudukkan nya.


Melihat suaminya tengah menatapnya intens, membuat Laura salah tingkah. Apalagi ketika ia semakin mendekatkan wajahnya pada Laura.


Keduanya saling beradu pandang dengan intens, dan......

__ADS_1


Ceklek.... tiba-tiba pintu terbuka.


"Reyhan! Tahan dulu keinginan mu. Non Laura baru saja melahirkan kemarin, jahitannya saja belum sembuh. Jangan macam-macam. Ayo segera temui tamu undangan di bawah." ucap Bu Rohmah yang membuat keduanya terkejut.


Laura tampak tersipu malu. Begitu juga dengan Reyhan, ia garuk-garuk kepala menyadari kelemahannya.


"Iya Bu, sebentar lagi kami akan turun."


"Iya cepetan." ucap Bu Rohmah, lalu melenggang pergi.


Keduanya terkekeh geli membayangkan hal tadi.


"Ish, kamu mas, bikin malu saja." ucap Laura sambil menonjok perut Reyhan. Untung Reyhan segera menangkap tangannya, sehingga tidak sampai mengenai.


"Kenapa harus malu? Ibu ku juga pernah muda kok. Tenang saja. Ya sudah beri aku satu tanda sayang dulu, baru kita keluar."


Laura memandang suaminya sesaat, sambil memikirkan ungkapan rasa takut yang tadi sempat dilontarkan.


Sejujurnya, dalam hati Laura juga terbesit rasa takut. Jika suaminya menginginkan nya di saat masa nifasnya belum selesai.


Ia takut jika suaminya tak bisa mengendalikan diri, dan akhirnya jajan di luar.


"Mas, aku boleh tanya sesuatu?"


"Apa itu sayang? Kok kedengarannya penting sekali."


"Kalau masa nifas ku belum selesai, dan kamu sudah tidak tahan, apa kamu akan jajan di pinggir jalan?"


"Astaghfirullah."


Reyhan mengurut dadanya tak menyangka dengan ucapan yang keluar dari mulut istrinya. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab.


"Kenapa kamu bisa bicara seperti itu sayang. Melihat perjuangan mu melahirkan buah hati kita saja, aku tak tega. Ingin sekali aku menggantikan posisi mu saat itu. Ini kamu malah tega menuduh ku seperti itu."


"Maafkan aku mas. Perasaan ku juga sama seperti kamu. Tak ingin jauh, atau bahkan berpisah dengan mu. Meskipun banyak lelaki yang menyukai ku, hanya kamu satu-satunya lelaki yang telah memenuhi ruang hatiku.


"Dan kamu, juga satu-satunya wanita yang mengisi seluruh ruang di hatiku. Meskipun, banyak wanita yang mendekati ku." ucap Reyhan sambil mengecup tangan istrinya.


"Terima kasih mas."

__ADS_1


"Sama-sama sayang."


Setelah beradu sayang, keduanya segera keluar kamar. Keduanya tampak mempesona, dalam balutan gamis syar'i putih dan kemko putih.


Reyhan melingkarkan tangan satunya di belakang pinggang Laura, dan tangan satunya memegang erat tangan Laura. Keduanya berjalan anggun menuruni satu persatu anak tangga.


Mereka para tamu undangan, yang terdiri dari anak-anak panti asuhan dan pengasuhnya memandang takjub ke arah Reyhan dan Laura.


Setelah sampai bawah, Reyhan dan Laura segera menyalami satu persatu dari mereka.


"Wow, ternyata papanya adik bayi ganteng sekali."


"Mamanya juga cantik sekali. Nanti kalau aku sudah besar, aku ingin punya wajah cantik seperti itu."


Celotehan anak-anak panti asuhan itu membuat orang dewasa yang mendengarnya tersenyum. Mereka juga membenarkan ucapan polos yang keluar dari mulut anak-anak.


Setelah menyalami, dan semua undangan sudah hadir, acara pun segera di mulai.


Acara yang pertama adalah pembukaan yang dibuka oleh seorang MC. Yang di buka dengan salam serta ucapan selamat datang bagi para tamu undangan.


Acara yang kedua adalah pembacaan ayat suci Al-Quran dari salah satu anak panti asuhan. Seorang anak lelaki yang berumur sekitar 7 tahun, melangkah berdiri, dan maju ke depan.


Setelah mengucapkan salam, ia segera melakukan tugasnya. Semua mendengarkan dengan khusu' hingga akhirnya anak kecil itu selesai.


Sebelum kembali ke tempat duduknya, terucap untaian doa yang tulus dari mulut anak kecil itu. Sehingga mereka yang mendengarnya merasa terenyuh. Mereka para hadirin mengaamiinkan doa si kecil itu. Setelahnya barulah ia kembali duduk.


Acara yang selanjutnya adalah, sambutan dari tuan rumah. Reyhan dipersilahkan berdiri oleh pak Atmaja, karena dialah yang memiliki hajat tersebut, meskipun berada di rumah mertuanya. Reyhan pun segera bangkit berdiri dan mengucapakan sepatah dua patah kata untuk menyambut para tamu.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh. Selamat pagi dan yang kami hormati bapak/ibu pengampu yayasan panti asuhan. Selamat pagi adik adik semua yang kami sayangi. Kami ucapkan terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk hadir di acara tasyakuran aqiqah putra pertama kami, Salman Alfarizi.


Semoga dengan kehadiran putra pertama kami ini, dapat menambah keberkahan, kebahagiaan dan segala kebaikan di dalam keluarga kami. Aamiin..


Kami mohon keikhlasan bapak/ibu, adik-adik serta semua yang hadir untuk memanjatkan doa, khususnya untuk putra kami. Agar menjadi anak yang sholih, cerdas berakhlaq Karimah, serta selalu diberi kesehatan dan dilindungi Allah dimanapun berada. Semoga senantiasa menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa. Serta senantiasa berbakti pada kedua orang tua.


Bapak/ibu serta adik-adik yang sangat kami sayangi, kami atas nama keluarga mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas kesediaannya menghadiri acara ini.


Mudah-mudahan kehadiran bapak/ibu serta adik-adik, di catat Allah sebagai amal kebaikan, sehingga bisa menambah bekal kita kelak di Yaumil Akhir nanti. aamiin...


Kami juga minta maaf, apabila dalam penyelenggaraan acara ini terdapat banyak kekurangan serta kesalahan, baik yang kami sengaja maupun tidak.

__ADS_1


Sekian sambutan dari saya, apabila ada salah kata, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh. Waktu saya kembalikan pada pembawa acara."


__ADS_2