Juragan Muda

Juragan Muda
64. Don't touch me.


__ADS_3

"Ayo kita pulang sayang." ajak Laura sambil membenahi dandanannya.


"Em.... aku... mau ada acara sama teman sayang." tolak Choki yang membuat Laura langsung mengerutkan keningnya.


"Tumben banget sih ada acara, Aku temani ya?" tawar Laura.


"Oh, ngga usah sayang. Nanti aku pulang naik taksi online saja."


"Sungguh?" Laura mengejarnya dengan pertanyaan, Choki pun mengangguk.


Akhirnya Laura pun pergi meninggalkan Choki yang masih ada dikelas sendiri.


"Bagus sayang, harusnya sekali-kali kamu berani menolak ajakan dia dan mulai memprioritaskan aku." ucap Mira yang kembali masuk ke kelas setelah Laura keluar.


"Iya iya, tapi juga jangan terlalu sering, karena aku takut dia mulai curiga." balas Choki sambil mencubit dengan gemas dagu Mira.


Choki pun merangkul bahu Mira dengan mesra menyusuri koridor.


"Kita mau kemana?" tanya Choki setelah keduanya masuk mobil.


"Kita nonton film yuk?" tawar Mira, dan Choki langsung mengangguk setuju.


Setelah memberi pop corn dan minuman keduanya masuk ke gedung pertunjukan.


"Kenapa lihatnya harus film horor sih sayang?" tanya Choki yang terlihat keberatan itu.


"Ih, kok kamu ngga paham sih. Kan kita jadi bisa peluk-pelukan lebih lama." ucap Mira sambil mencondongkan tubuhnya kearah Choki.


"Kalau mau pelukan mah ngga usah pakai acara nonton film dulu sayang." Choki menepuk jidatnya.


"Ah sekali-kali juga ngga apa-apa kan, aku maunya yang beda gitu suasananya." Mira melingkarkan tangannya dilengan Choki dan menyandarkan kepalanya sambil tersenyum bahagia.


Bagaikan dimabuk asmara dua sejoli itu menikmati tegangnya menonton film horor sambil berpelukan.


Setelah puas menonton, mereka berjalan menuju cafe terdekat untuk mengisi amunisi perutnya. Puas makan, dilanjutkan mengelilingi mall untuk membeli beberapa baju branded.


"Sayang.... aku puas banget seharian ini bisa menemani kamu menghabiskan uang." kata Choki sambil memeluk mesra Mira.


"Aku juga senang banget bisa seharian ada dalam pelukanmu." kata Mira sambil mengedip ngedipkan matanya seperti orang klilipan.


"Ya sudah besok saja lagi kita jalan." ajak Choki penuh semangat. Karena Mira sangat memujanya dengan kemewahan.


"Ah yang benar? kamu ngga takut Laura marah padamu?" goda Mira sambil menggelitiki paha Choki.


"Ah itu urusan kecil sayang." jawab Choki sambil menyentilkan ujung kukunya.


_____


"Ganti pacar ya Chok?" tanya satpam ketika melihat Choki turun dari mobil hitam, bukan mobil merah yang senantiasa menjemputnya.

__ADS_1


"Itu pacar nomor 2, kalau pacar no 1 lagi dirumah." ucap Choki dengan bangganya.


"Wah, mantep kamu. Anak pembantu saja bisa punya pacar anak sultan, 2 pula. Pakai pelet ya?"


"Sembarangan!" Choki menoyor kepala satpam.


"Kamu itu pak yang perlu pakai pelet. Kalau aku ya jelas ngga perlu, karena mukaku sudah ganteng duluan." sambil bersiul Choki pun pergi meninggalkan satpam yang diam mematung.


"Kenapa akhir-akhir ini pulangnya selalu malam toh Chok?" sambut ibunya dengan raut wajah kesal.


"Choki kan kuliah bu, jam nya ngga tentu." sahut Choki santai sambil membuka paper bag yang berisi barang belanjaannya tadi.


"Kamu belanja lagi?" tanya ibunya Choki yang melihat Choki mulai membolak-balik baju baru.


"Tentu dong bu, anak kuliah jangan sampai ketinggalan fashion kalau tidak mau dibilang kampungan."


"Choki... Choki, kamu itu kuliah mau cari ilmu atau cari sensasi toh?"


"Kalau bisa dapet keduanya ya kenapa ngga toh bu. Lagian Choki lakukan ini demi mengangkat harkat derajat kita. Agar kita tidak dipandang sebelah mata."


"Masalahnya kalau mereka tahu kamu cuma anak pembantu, apakah mereka masih mau menerima mu?"


"Kalau mereka tidak mau ya tidak masalah, yang penting aku kan sudah mencicipi kemewahan mereka. Dan ibu harus doakan aku agar bisa jadi menantu orang kaya."


Huft.....


Ibunya menghembuskan nafas kasar karena melihat kelakuan putra semata wayangnya yang kian menjadi jadi.


"Huh dasar orang tua, diajak hidup mewah ngga mau." gerutu Choki.


_____


Semakin kesini Choki semakin sering menolak ajakan Laura untuk pulang bareng dengan alasan ada tugas yang harus dikerjakan kelompok. Dengan terpaksa, Laura pulang sendiri.


Sesampainya dirumah, Laura segera merebahkan tubuhnya karena masih merasa kesal dengan Choki.


"Kenapa akhir akhir ini aku merasa kalau Choki berubah ya?" gumam Laura.


Sambil berselancar didunia maya, ia mencoba mengusir rasa bosannya karena tidak ada teman.


Tok.... Tok.... Tok


"Siapa?" teriak Laura.


"Ini bibi non."


"Masuk bi, ada apa?"


"Ini, bibi mau mengantar baju yang sudah di loundry non. Sekalian bibi juga mau tanya, ini barang punya nya siapa ya non, apa mungkin ada kesalahan." kata bibi sambil memperlihatkan sarung dan selendang warna putih.

__ADS_1


Seketika Laura langsung teringat Reyhan.


"Itu milik aku bi, mana? Yang lain masukkan saja ke almari." perintah Laura.


"Harus aku kembalikan atau ngga ya?" gumam Laura sedikit bingung sambil menimang kedua benda itu.


Laura pun mencoba menelepon nomor Reyhan. Setelah beberapa kali akhirnya panggilan itu dijawab juga.


"Kenapa kamu ngga segera mengangkat telepon ku setiap kali aku hubungi?" maki Laura.


"Okay, dimana aku bisa menemuimu? Tunggu sampai aku datang, jangan kemana-mana." Laura langsung mematikan teleponnya. Bergegas ia mandi dan mempercantik diri.


"Dimana orangnya? Katanya ada di hotel bintang. Apa mungkin dia baru...... Ih dasar cowok mesum." maki Laura. Lalu menghempaskan tubuhnya di kursi tamu.


Hampir satu jam ia menunggu dengan muka ditekuk karena merasa di bohongi, ditelepon lagi tapi tak ada jawaban. Dia pun bangkit dari duduknya hendak pergi meninggalkan tempat itu.


"Assalamu'alaikum." sebuah suara yang ia kenali menyapanya dengan lembut. Laura langsung mendongakkan kepalanya.


"Kenapa kamu lama sekali! Baru check-in sama pacar ya?" semprot Laura.


"Astaghfirullah." seketika Reyhan mengelus dadanya difitnah seperti itu. Ngga pernah ada halus halusnya sama sekali.


"Kenapa pikiranmu selalu buruk ke orang lain? Aku baru ada seminar tentang pengembangan bisnis. Ini jam istirahat, nanti ba'da isya dilanjutkan lagi acaranya. Memangnya ada perlu apa Miss mau ketemu saya." Reyhan bertanya sambil menekan emosinya.


"Aku mau mengembalikan sarung yang dulu pernah kamu pinjamkan sewaktu pengajian. Nih." Laura menyerahkan sebuah paper bag ke Reyhan.


"Oh, kalau itu langsung diantarkan kerumah saja bisa Miss, ada karyawan dan adikku kok. Tak usah menunggu aku seperti ini." ucap Reyhan sambil tersenyum manis.


"Kamu! Berani-beraninya ya bicara seperti itu ke aku!"


'Astaghfirullah, kenapa marah lagi, apa aku salah bicara lagi.' batin Reyhan sambil tepuk jidat.


'Lhololhoh, bukannya itu pacar Laura. Kenapa check-in sama cewek lain? Apa mereka sudah putus? Atau dia selingkuh dibelakang Miss laura. Kalau seperti itu, kasian sekali Miss Laura. Eh, tapi apa urusannya dengan ku.' batin Reyhan lagi.


"Hei! aku bicara sama kamu. Kenapa diam, takut?" sentak Laura.


"Oh, i_iya, ya sudah aku minta maaf ya sudah menyinggung perasaan Miss. Ini sudah masuk waktu Maghrib, yuk sholat bareng." Sengaja Reyhan mengajak Laura keluar agar tak melihat Choki yang sedang bergandengan mesra dengan Mira.


Laura pun bangkit berdiri dan melangkahkan kaki menuju pintu utama, tapi Reyhan segera menarik tangannya untuk berjalan mengikutinya keluar melewati pintu samping.


"Don't touch me!"


Berteman yuk kak di FB.


FB: Nurul khanifah


Berikan penilaian yang baik ya agar menambah semangat author untuk terus update.


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca. Tekan like, hadiah, vote dan favoritkan ya biar karya ini makin populer 🔥🔥

__ADS_1


Terimakasih semoga sehat selalu dan semakin lancar rezekinya.😘🤗


__ADS_2