
Rencana di Bandung yang hanya 2 hari, berubah menjadi sepekan. Reyhan sengaja ingin menikmati waktu berdua bersama istri tercintanya. Begitupun juga dengan Laura. Tanpa ada yang menggangu sama sekali.
Keduanya menjelajahi pelosok kota Bandung. Dan singgah dari hotel satu ke hotel yang lainnya. Agar tidak terlalu kerepotan, dan bisa segera beristirahat jika kecapekan setelah jalan-jalan.
Selama rentan waktu itu, keduanya juga menggunakan nya untuk memadu kasih. Berharap setelah kepulangannya dari Bandung, Laura bisa segera hamil.
Tak sabar rasanya, Laura ingin menggendong bayi seperti wanita yang ia bantu kemarin.
Hari ini, keduanya tengah bersiap-siap untuk check out dari hotel.
"Yakin tidak ada yang terlewat atau kurang?"
"Sepertinya semua sudah masuk ke tas mas. Aku yakin ngga ada yang tertinggal." ucap Laura sambil mengamati seluruh barang barangnya.
"Sepertinya kita melewatkan sesuatu sayang." ucap Reyhan dengan senyum menggoda.
"Apa itu mas?" tanya Laura dengan tatapan polosnya.
Bukannya menjawab, Reyhan justru mendekati Laura yang terlihat menggoda, karena memakai tang top dan hot pant.
Reyhan dengan sigap mengangkat tubuh Laura, yang sontak membuat Laura terkejut dan terkekeh kecil.
Reyhan meletakkan tubuh Laura dengan pelan di atas tempat tidur, dan mulai memberi kecupan hangat di keningnya, lalu menjalar ke seluruh tubuh.
"Jika ini berhasil, mungkin akan menjadi oleh-oleh yang paling membahagiakan untuk semua orang."
"Tapi kalau tidak berhasil?"
"Ya di coba lagi." ujar Reyhan sambil terkekeh.
"Bismillah, semoga berhasil ya sayang." imbuh Reyhan.
Setelah menunaikan haknya, mereka berdua mandi bersama tanpa ada adegan selanjutnya.
Untuk yang kesekian kalinya mereka memastikan bahwa tidak ada satupun barang yang tertinggal.
Reyhan segera menenteng banyak barang bawaan. Padahal sewaktu berangkat hanya membawa 1 tas ransel miliknya dan 2 tas Laura.
Sekarang justru di tambah membawa beberapa dus dan paper bag. Berisi oleh oleh untuk keluarga nya dan beberapa potong baju yang harus ia beli karena baju yang mereka bawa tidak cukup.
"Mas, kamu sudah seperti office boy saja." Laura terkekeh geli.
Ia mengulurkan tangan hendak membantu suaminya, namun Reyhan langsung menolak.
__ADS_1
"Ya Allah mas, segitunya sih. Aku sama sekali ngga capek ya." Laura memaksa membawa barang barang itu, namun untuk yang kesekian kalinya Reyhan menolak.
Akhirnya Laura memberi kecupan di pipi Reyhan atas perhatian yang ia berikan itu. Dan tentu saja hal itu menjadi mood booster bagi Reyhan.
Segala beban berat yang ia bawa mendadak menguap, menjadi ringan. Ia segera menyeimbangi langkah Laura yang berjalan di depan.
"Hore, kak Reyhan sudah pulang." seru Bima.
"Ya Allah, Bima..." seru Reyhan karena terkejut, melihat Bima yang berdiri di ambang pintu kamarnya.
Reyhan dan Laura sampai rumah pada siang hari. Karena tidak ada orang, sekaligus capek setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya keduanya tidur siang setelah sholat dhuhur.
Dan baru saja mata terpejam, harus di kejutkan dengan suara Bima yang cempreng dan kini sudah berada di ambang pintu kamarnya.
Padahal saat itu Reyhan yang kegerahan hanya mengenakan celana kolor, sedangkan Laura mengenakan tang top dan hot pant. Keduanya saling berpelukan. Pemandangan yang tidak boleh di lihat untuk anak di bawah umur.
"Ngapain disitu? Buruan pergi?" teriak Reyhan sambil melempar bantal ke arah adiknya.
"Ish, kok malah di lempar bantal sih? Bima kan senang, kak Reyhan pulang dengan selamat dan membawa banyak oleh-oleh." Cicit Bima, lalu ia mengerucutkan bibirnya.
"Iya, tapi masalahnya kakak baru saja istirahat, jangan di ganggu."
"Iya iya maaf."
"Apalagi kak?" Bima menoleh dengan malas.
"Jangan lupa tutup pintunya. Dan, mulai sekarang, kamu ngga boleh keluar masuk kamar kakak sesuka hati."
"Lhoh, kenapa memangnya?" Bima mengernyitkan dahi.
"Kamar kakak menjadi ruang rahasia yang hanya boleh di masuki kakak dan Miss Laura saja. Mengerti?"
"Okay kak."
"Adik mu mas." ucap Laura sambil tersenyum kecil.
Reyhan hanya geleng-geleng kepala lalu kembali melanjutkan tidurnya.
Sore itu, Reyhan dan Laura mengantar oleh-oleh untuk kedua orang tua Laura. Mereka menginap di sana beberapa hari, untuk mengobati rasa kangen.
Di rumah sendiri, Laura lebih banyak menghabiskan waktu di dapur untuk belajar masak pada bibi dan mamanya. Seperti pagi itu, ia kembali berkutat di dapur.
"Kenapa rasanya masih tak seenak buatan bibi sih?" Laura menggerutu kesal, ketika sop dagingnya tak seenak buatan mama dan bibi. Bibi dan mamanya terkekeh melihat hal itu.
__ADS_1
"Sabar non. Kalau sering latihan memasak, nanti lama-lama rasanya pasti enak. Di ingat ingat juga, jenis bumbu yang digunakan apa saja. Kalau bumbunya kurang atau takarannya tidak pas, bisa mempengaruhi rasanya juga."
Laura manggut-manggut mendengar nasehat bibinya, lalu ia kembali membuat sop daging. Tak peduli, jika bau bawang dan bau daging menyatu dalam tubuhnya. Yang penting adalah ia bisa memasak.
Hingga saat Reyhan pulang dan mencarinya ke seluruh ruangan, namun tidak menjumpai nya. Akhirnya ia bisa menemukan Laura berada di dapur dan tengah mengulek bumbu.
Reyhan memberi kode agar bibi dan mamanya keluar. Sengaja ia berdiri di belakang Laura dan terus memperhatikan nya sampai masakan nya matang.
"Hem, lumayanlah, daripada tadi." Laura memuji masakannya sendiri.
"Aku juga mau merasakannya." kata Reyhan yang membuat Laura terkejut. Bahkan ia memeluk Laura.
"Mas, kenapa kamu selalu mengejutkan ku?" Laura menekan dadanya. Lalu melepaskan pelukan Reyhan. Ia tak percaya diri dengan bau yang pasti menempel di seluruh tubuhnya.
"Wanita bau bawang pertanda ia rajin memasak, ngga usah malu sayang. Sekarang ayo suapi aku." pinta Reyhan. Laura yang kesal tetap menyuapi suaminya.
"Menurut ku ini sudah enak kok." kata Reyhan setelah mencoba merasakan sesendok kuah sop.
Setelah makan malam, pak Atmaja mengajak keluarganya bicara serius.
Pak Atmaja menyampaikan keinginannya pada Reyhan dan Laura untuk segera mengurusi showroom. Karena hanya keduanya yang berhak mewarisi semua kekayaan papanya. Sehingga baik Laura ataupun Reyhan, harus di latih mulai sekarang.
Di saat kebanyakan orang sangat menginginkan sebuah warisan dari orangtuanya, Reyhan dan Laura justru sebaliknya. Keduanya merasa khawatir sekaligus tak percaya diri mengambil alih pekerjaan itu.
Niat hati berkunjung ke rumah mertua memberi kejutan oleh-oleh. Eh justru Reyhan dan Laura yang terkejut mendapat warisan mendadak. Semua perasaan nya seketika campur aduk. Antara senang, sedih susah.
Karena mempertahankan jauh lebih sulit daripada meraih.
Tapi, demi menghargai kebaikan orang tua, mereka akhirnya bersedia menerima tawaran itu.
"Semoga nantinya kami bisa mengelola bisnis papa dengan baik. Do'akan kami selalu pa, ma." ucap Reyhan pada mertuanya.
"Kita akan selalu do'akan kalian."
Pagi itu, Reyhan dan Laura tengah bersiap siap. Keduanya akan mengikuti papa ke showroom.
"Kenapa aku terlihat aneh seperti ini?" gumam Reyhan. Biasanya ia mengenakan outfit sesuka hati. Kini ia harus berpenampilan formal dengan memakai setelan jas.
"Kamu bertambah ganteng kok mas, terlihat semakin berwibawa." ucap Laura sambil memperhatikan penampilan suaminya.
"Serius?"
"Seribu rius malah." Laura terkekeh di ujung kalimatnya.
__ADS_1