Juragan Muda

Juragan Muda
151. Dimanapun asal bersamamu


__ADS_3

Setelah selesai sungkem, kedua pengantin itu di persilahkan duduk. Reyhan pun membantu Laura yang tampak kesulitan berdiri, lalu segera menghapus pelan air matanya. Hal itu kembali membuat para tamu berdecak kagum dan begitu mendamba pasangan seperti Reyhan.


Dan berikutnya para pemuda dan pemudi desa yang tergabung dalam organisasi karang taruna di persilahkan masuk dan bersalaman dengan pengantin. Baru kemudian mereka menghidangkan makanan untuk para tamu. Begitulah adat di desa Reyhan.


Banyak dari teman karang taruna Reyhan yang berbisik memuji kecantikan Laura. Reyhan hanya tersenyum menanggapi perkataan mereka.


Sambil anggota karang taruna menghidangkan makanan, musik kembali mengalun merdu. Saat itu, di manfaatkan oleh fotografer untuk mengambil foto pengantin dan kerabatnya.


Keduanya kembali bergaya sesuai arahan fotografer. Setelah sekian banyak gaya yang mereka lakukan, satu persatu keluarga di panggil ke depan untuk berfoto.


Anisa dan Bayu naik ke atas pelaminan, dan keduanya berfoto dengan pengantin. Setelah nya Anisa memeluk Laura.


"Ngga nyangka ya, kita bakal jadi saudara ipar." kekeh Anisa, di ikuti oleh Laura.


"Coba Rosyidah dapet saudaranya Reyhan juga, pasti bakal seru." imbuh Laura.


"Tapi sayang nya saudara mas Bayu tinggal Bima yang masih SD, ngga mungkin kan Rosyidah nungguin dia sampai gede." gurau Anisa.


Bayu dan Reyhan akhirnya juga ikut terkekeh melihat keduanya yang tampak akrab.


"Ayo panggil Rosyidah kesini, kita foto bareng."


Bayu pun segera menuruti permintaan Laura dengan memanggil Rosyidah. Ia segera menyambut hangat permintaan sahabat nya itu.


Reyhan memberi kesempatan pada Laura dan kedua sahabatnya itu untuk berfoto. Keceriaan tampak jelas di wajah ketiga wanita itu. Setelah puas Anisa dan Rosyidah segera turun, setelah sebelumnya mengucapkan selamat pada Laura.


"Pasti aku bakal rindu mengisi tausyiah di rumah mu La. Sekarang kan sudah ada mas Reyhan yang menggantikan posisi ku." ucap Rosyidah dengan suara serak seakan menahan tangis.


"Hei, kita nanti masih bisa bertemu dan bermain kemanapun kok Ros. Iya kan mas?" Pandangan Laura beralih kepada Reyhan, seolah meminta ijin untuk menikmati waktu bersama kedua sahabatnya itu.


"Terserah Miss Laura mau melakukan apa saja, yang penting ingat jalan pulang. Jangan sampai nyasar." kekeh Reyhan. Mengingat kejadian Laura dulu yang nyasar sampai pantai.

__ADS_1


Laura mencubit gemas pinggang Reyhan karena merasa tersindir. Semua yang berada di panggung terkekeh melihat hal itu.


"Kakak ayo kita foto keluarga dulu. Nanti keburu yang lain ikut ikutan foto." tiba tiba suara Bima mengejutkan mereka dan kini kembali terkekeh.


Mendengar permintaan Bima pada kakaknya, Rosyidah segera berpamitan kembali ke tempat duduknya. Ia menyaksikan kebahagiaan kedua sahabatnya berfoto dengan keluarga Reyhan.


Setelah itu karyawan Reyhan juga turut maju ke depan untuk berfoto dengan bos kesayangan mereka.


"Waktu di tampar di pantai itu, aku pikir bos bakalan putus sama pacarnya. Eh ternyata malah langsung nikah." kekeh Aldo di ikuti yang lain.


"Hust, itu aib jangan keras-keras, nanti bisa di dengar orang lain." Reyhan menjewer telinga Aldo yang langsung mengaduh kesakitan.


"Ayo gayanya yang bagus, nanti kalian pasang di setiap cabang counter ku. Biar pelanggan tahu aku punya istri yang cantik baik dan sholihah." ucap Reyhan sambil tersenyum hangat pada Laura. Namun justru di sorak oleh seluruh karyawannya.


"Dasar bucin." kekeh Aldo sebelum akhirnya mereka berfoto.


Setelah melakukan berbagai gaya, mereka mengucapkan selamat pada bos dan tak lupa mendoakan kebaikan untuknya.


Andre dan teman teman futsal Reyhan lainnya juga ikut naik ke pelaminan dan mengabadikan momen mereka dalam sebuah foto.


"Tiap ketemu bilangnya ngga punya pacar, tahunya nyebar undangan duluan. Dasar." gurau Andre.


"Kamu harus segera nyusul."


"Siap. Jangan lupa kasih tahu caranya supaya ngga salah pilih." Andre dan Reyhan terkikik mengingat kejadian melabrak Sinta dulu.


"Kita tunggu di lapangan, kita main futsal sama sama kayak dulu lagi. Jangan sampai pertemanan kita putus." celoteh yang lain.


"Okay, siap kapten." bala Reyhan.


"Serius aku pegang janji mu. Bisanya jangan cuma main futsal di dalam kamar bareng istri." celetuk salah satu teman, di ikuti gelak tawa mereka. Sementara Laura justru mengerutkan keningnya, tak tahu dengan arah bicara teman teman Reyhan.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun berfoto dengan berbagai gaya yang membahana. Tak terasa serangkaian acara itu akhirnya selesai. Pengantin, keluarga dan among tamu berjajar di depan melepas kepulangan para tamu.


"Ingat sayang, jadi istri yang baik." ucap bu Ani mengingatkan Laura kembali, sebelum ia pulang dan meninggalkannya di rumah Reyhan. Ia memeluk Laura erat, dan sekali lagi Laura menitikkan air mata. Setelah sekian detik, bu Ani mengurai pelukan.


"Jadi istri yang baik ya, patuh sama suami." ucap pak Atmaja sambil memeluk Laura. Laura mengangguk dan terisak di dada papa nya. Dada yang selalu menjadi tempat ternyaman nya selama ini.


"Titip Laura ya bu. Jewer saja telinganya kalau sampai bangun siang." kekeh bu Ani lalu memeluk besannya.


"Non Laura sudah saya anggap anak sendiri, mana mungkin saya tega menjewer bu. Saya juga takut nanti di marahi sama Reyhan." balas bu Rohmah sambil terkekeh melihat pasangan pengantin itu.


"Iya bu, saya juga titip Laura. Didik dia seperti ibu mendidik anak anak ibu, sehingga menjadi anak yang baik dan sukses seperti Reyhan." imbuh pak Atmaja sambil menjabat tangan bu Rohmah.


"In shaa Allah pak, semampu saya."


Akhirnya rombongan pengiring dan para tamu lainnya pergi satu persatu meninggalkan kediaman Reyhan. Kini yang terdengar hanyalah suara musik.


Setelah semua tamu pulang, Reyhan menggandeng tangan Laura. Keduanya berjalan beriringan menuju dalam rumah.


"Suruh saja non Laura untuk istirahat dulu, pasti dia kecapekan." ucap bu Rohmah pada Reyhan.


"Iya bu."


Laura terhenyak dengan rumah Reyhan yang terlihat kecil itu.


"Ayo masuk." ucap Reyhan mengagetkan Laura yang masih berdiri di depan pintu.


Laura mengangguk lalu mengikuti Reyhan yang sudah masuk ke kamarnya. Ia mengedarkan pandangannya menyapu setiap sudut ruangan yang kecil tapi tampak rapi itu.


"Pasti Miss Laura kaget melihat kamar ku yang sempit ini. Jelas ngga ada apa-apa nya jika dibandingkan dengan kamar Miss Laura yang luasnya melebihi rumah ini. Kalau ngga suka tinggal di sini, nanti sore kita bisa ke rumah papa atau cari kontrakan." ucap Reyhan datar.


Laura bagai tersentil hatinya ketika mendengar Reyhan berbicara seperti itu. Padahal tak ada niat dalam hatinya untuk merendahkan kehidupannya. Ia justru bangga dan salut memiliki suami sepertinya. Berawal dari keterbatasan ekonomi, tapi sekarang bisa menjadi orang yang sukses di usia muda. Tapi ternyata malah di salah artikan.

__ADS_1


"Mas, lihat aku." Reyhan mendongakkan wajahnya menatap Laura.


"Kenapa kamu bicara seperti itu? Aku ngga ada niat sedikit pun untuk merendahkan mu. Justru aku sangat bangga memiliki suami seperti mu. Mau berjuang dengan keras sampai bisa meraih kesuksesan di usia muda. Di manapun tinggal, asal itu sama kamu, aku bersedia." ucap Laura dengan tulus. Bahkan air matanya pun menetes.


__ADS_2