Juragan Muda

Juragan Muda
181. Kecelakaan


__ADS_3

Arghhh....


Brakk.....


Tiwi berteriak kencang karena panik lalu tak sadarkan diri. Pengendara mobil itu pun juga sangat panik, lalu segera menepikan mobilnya.


Bergegas ia berjalan mendekat ke kerumunan warga pada seseorang yang sudah di tabraknya. Karena Tiwi pingsan, ia segera di angkat oleh beberapa warga untuk di tepikan ke pinggir jalan bersama motornya. Seseorang yang menabrak itu tetap mengikutinya untuk memastikan kondisinya.


Alangkah terkejutnya ia, ketika helm pengendara motor itu di buka. Sesosok wanita yang bau pesing dan sudah 3 x dalam sehari ini bertemu dengannya yang ia tabrak.


"Tolong segera masukkan ke mobil saya." pinta pengendara mobil itu.


Bergegas ia membuka pintu mobil bagian belakang untuk Tiwi. Sedangkan ia segera memutar jalan dan kini sudah siap duduk di kemudi.


Setelah memastikan wanita yang ia tabrak tidur dengan posisi nyaman, ia segera melajukan mobilnya.


Walaupun tangannya gemetaran, karena ini adalah pertama kalinya menabrak seseorang, ia tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar cepat sampai rumah sakit.


Ia beranggapan bahwa semua itu adalah salah wanita yang di tabraknya. Tapi, ia tetap harus mengantarkannya ke rumah sakit karena terdorong belas kasian.


"Hem, sudah seperti minum obat saja. Sehari 3 kali bertabrakan dengannya, dan ini adalah yang paling parah. Semoga dia tidak apa-apa dan segera sadar." gumamnya.


Tak berselang lama, akhirnya mobil putih itu sudah sampai pelataran rumah sakit. Dengan berlari kecil ia mendekati perawat laki-laki. Lalu mereka berduyun-duyun mendekati mobil.


"Ya ampun dok, memang wanita ini tabrakan sama apa? Kenapa sampai berdarah dan bau pesing?" celetuk salah satu perawat.


"Jangan banyak tanya, ayo segera urus dia." balas dokter itu sambil ikut mendorong brankar menuju ke ruangan IGD.


Dokter itu pun segera melakukan serangkaian pengecekan mendetail pada wanita yang baru ia tabrak.


"Huft, syukurlah dia tidak apa-apa. Hanya luka ringan saja." ujar sang dokter setelah sekian menit melakukan pemeriksaan, dan luka di beberapa bagian tubuh Tiwi sudah di obati.


"Kalian keluar saja, biar aku yang menunggunya di sini. Oh iya, semua biaya perawatan nya aku yang menanggung." titah sang dokter.


Ia pun segera menyeret kursi dan menghempaskan tubuhnya di sana. Sedangkan beberapa perawat itu setelah manggut-manggut segera melenggang keluar.


"Sepertinya yang menabrak pasien itu adalah dokter Adam sendiri." bisik seorang perawat wanita.

__ADS_1


"Iya lah, kalau bukan dokter yang menabrak, mana mungkin sampai rela di tungguin dan membayar total tagihan nya." timpal perawat yang lainnya lagi.


"Mungkin karena yang di tabrak cantik, jadi dokter Adam dengan senang hati menunggunya dan membayarkan seluruh biayanya."


"Ah, belum tentu. Nyatanya banyak dokter dan perawat cantik yang mengejar dokter Adam. Tapi, ia tetap cuek saja."


"Kemarin aku melihat dokter Adam terlihat salah tingkah ketika berada di ruangan ibu melahirkan. Sepertinya ada seorang wanita yang cukup memikat hatinya. Dan menurut ku wanita itu berkali-kali lipat cantiknya dari pasien tadi."


Dan para perawat itu pun masih melanjutkan ghibahan mereka tentang dokter Adam dengan antusias.


Sedangkan di dalam ruangan IGD. Dokter Adam bingung, harus berbuat apa selain hanya menatap wanita yang baru saja ia tabrak karena kesalahan wanita itu.


"Apa aku harus menghubungi keluarganya? Tapi bagaimana kalau mereka memaki ku? Lagian jika aku menghubungi keluarganya, aku kan tidak tahu nomor teleponnya." gumamnya bingung.


Ia pun mendengus kesal dan menghempaskan tubuhnya di kursi.


Tak lama kemudian ia yang sudah cukup lelah dengan aktifitas nya hari ini, akhirnya tertidur dengan posisi kepala menelungkup di pinggir brankar tempat tidur.


Sampai malam Tiwi baru perlahan sadar. Ia menggerakkan mata nya perlahan-lahan. Sorot lampu kamar yang terlihat putih menyala membuatnya kesilaun.


Sambil memejamkan mata ia sejenak berpikir dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Ia merasakan sekujur badannya sangat sakit tak terkira. Ia juga merasakan di beberapa badannya terasa perih. Hingga akhirnya ia teringat apa yang sudah menimpanya.


Tiwi mengerang kesakitan sambil mengibaskan sebelah tangannya. Tapi erangan itu tidak membuat lelaki di tepi brankar nya terbangun.


"Siapa dia? Kenapa ia tidak mendengar ku yang mengerang kesakitan sejak tadi? Hidup atau mati sih dia?" desis Tiwi.


Sebenarnya Tiwi mulai merasa kehausan tapi badannya sangat sulit di gerakkan. Terpaksa ia harus menunggu sampai ada yang membantu nya.


Dan setelah sekian menit berlalu, lelaki yang ada di hadapannya mulai menggeliat sambil membuka matanya perlahan, lalu membelalakkan matanya.


"Kamu sudah bangun?" tanya nya pada Tiwi.


"Iya. Apa pak dokter yang menabrak ku tadi?"


"Iya, aku minta maaf sudah menabrak mu. Tapi semua ini juga salah mu."


Tiwi mengerutkan keningnya mendengar ucapan dokter itu. Seperti meminta maaf tapi tidak ikhlas.

__ADS_1


"Kalau tidak ikhlas tidak usah meminta maaf dok."


Dokter itu menghela nafas panjang, karena sebal dengan ucapan Tiwi. Lalu keduanya kembali saling terdiam.


Seketika Tiwi teringat akan kedua orang tuanya. Pasti keduanya tengah mengkhawatirkan dirinya. Karena ia pamit menjenguk Anisa sejak tadi pagi, dan justru sampai malam belum pulang. Ia celingukan mencari keberadaan tas nya.


"Mencari apa?" tanya dokter itu yang melihat Tiwi celingukan.


"Tas saya pak dokter. Kedua orang tua saya pasti mengkhawatirkan saya, karena sejak tadi pagi sampai sekarang belum pulang."


Dokter itu pun membuka laci nakas lalu mengeluarkan tas milik Tiwi.


"Ini?"


Tiwi pun mengangguk. Dokter itu lalu meletakkan tas nya di samping tangan Tiwi.


Arghhh...


"Kenapa badan saya semua terasa sulit di gerakkan?" desis Tiwi sambil mengerjapkan matanya, seakan menahan tangisnya.


"Tenang, kamu cuma lecet-lecet saja. Ngga ada sesuatu yang serius. Aku minta maaf ya."


Tiwi mengangguk pelan sambil meringis menahan sakit.


"Kamu mau minum?" tawar dokter itu karena melihat bibir Tiwi yang pucat. Dan Tiwi mengangguk lemah.


Dokter itu segera menyodorkan segelas air putih untuk Tiwi, tapi tangan Tiwi sulit untuk di gerakkan. Akhirnya dokter itu menyodorkan gelasnya ke dekat bibirnya. Tiwi pun meneguk sampai tandas.


"Ya ampun, kamu kehausan?" Tiwi mengangguk.


"Lapar?" tanya dokter itu lagi dan Tiwi mengangguk lagi.


Dokter itu pun segera mengotak atik handphone nya sebentar.


"Oh ya, katanya kamu mau menghubungi orang tua mu. Kenapa ngga segera di hubungi?"


"Tangan saya kan masih sakit, gimana mau buka tas nya?"

__ADS_1


Dokter itu pun menghela nafas panjang lalu membuka tas Tiwi dan mencari handphone miliknya. Ia mengernyitkan dahi ketika memegang handphone Tiwi yang cukup ketinggalan jaman. Jauh berbeda dengan handphone nya yang tiap tahun selalu ganti dengan keluaran terbaru.


__ADS_2