Juragan Muda

Juragan Muda
239. Kehidupan Tiwi


__ADS_3

Menjadi seorang dokter adalah cita-cita Adam sejak dulu. Dan akhirnya bisa terwujud. Ia sangat senang bisa membantu sesama yang membutuhkan pertolongannya.


Namun kini, buah hatinya lahir, ia tak bisa mengambil banyak waktu cuti. Karena hanya di beri 12 hari waktu cuti dalam setahun. Dan kini, waktu cutinya telah habis. Dengan tidak bersemangat ia menyambut hari pertama masuk kerjanya.


"Mas, yang semangat dong. Makin banyak tanggungannya lho." cicit Tiwi.


"Iya sih. Tapi mas masih pengen mainan dengan putri kita." ucap Adam sambil membelai wajah baby Fatim yang tertidur pulas.


Ia melakukan hal itu sejak selesai menunaikan sholat subuh, hingga fajar mulai menampakkan cahaya kemerahan.


"Tuh kan, anaknya masih tidur pulas. Malah sengaja dijahili, nanti kalau dia bangun gimana? Padahal popoknya belum aku cuci." Tiwi mengerucutkan bibirnya, karena tingkah suaminya.


"Habis, mas sangat gemas. Bolos sehari boleh ya. Pliss banget." bujuk Adam sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Hem, terserah mas Adam saja lah. Katanya seorang dokter yang profesional. Tapi maunya di rumah saja. Banyak orang yang membutuhkan pertolongan kamu lho mas."


Adam menghela nafas panjang. Ia membenarkan ucapan istrinya. Namun, juga tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena memiliki calon penerusnya.


"Ya sudah, mas siap-siap berangkat kerja. Tapi kamu di rumah, jangan kebanyakan gerak. Urusan cucian, di loundry saja. Mau makan, pesan online saja, kalau repot. Harus fokus sama baby Fatim." pinta Adam pada istrinya, sehingga membuat wanita itu tersenyum ke arahnya.


"Iya-iya mas, aku akan lakukan semua nasehat mu dengan baik." balas Tiwi untuk melegakan hati suaminya.


Adam pun bangkit dari tidurnya, lalu bergegas ke kamar mandi, yang terletak di belakang rumah. Sedangkan Tiwi menyiapkan baju yang akan dipakai suaminya untuk bertugas.


Semenjak menikah, Adam memang meminta Tiwi untuk memilihkan setiap pakaian yang akan ia kenakan. Entah itu di rumah, saat bekerja ataupun pergi kemana saja.


Setelah selesai menyiapkan pakaian, Tiwi ke dapur untuk merebus kan air yang akan di pakai mandi anaknya.


Ia kembali ke kamar, yang bertepatan dengan baby Fatim menggeliat bangun sambil terisak.


Segera ia menghampiri dan mengangkat bayinya yang berada dalam box, tentunya dengan sangat hati-hati.


Sambil duduk di tepi ranjang, ia menyusui bayinya dengan penuh kasih sayang.


Tak lama kemudian, Adam masuk ke kamar dan menyaksikan pemandangan yang membuatnya malas bekerja.

__ADS_1


Ingin rasanya menghabiskan waktunya dengan memandang istrinya yang tengah menyusui bayinya.


Namun hal itu segera ia tepis. Karena istrinya pasti akan memarahinya. Ia benar-benar menginginkan suaminya bekerja, untuk membantu siapapun yang membutuhkan pertolongannya.


Adam sengaja meminta tolong pada Tiwi untuk memasangkan dasinya.


Demi menjaga semangat suaminya dalam bekerja, Tiwi memenuhi permintaan suaminya. Sambil menyusui, sambil memasangkan dasi.


"Terima kasih sayang." ucap Adam sambil mengecup pipi Tiwi kiri dan kanan, lalu beralih mengecup bayinya.


Wanita itu terlihat tidak percaya diri, karena dirinya belum mandi, dan bercampur aduk bau yang hinggap di tubuhnya. Jauh berbeda dengan suaminya yang berbau wangi, tampak segar dan terlihat lebih fresh, karena baru saja mandi.


Adam mematut diri di depan cermin, sedangkan Tiwi bangkit berdiri sambil membawakan tas kerja suaminya. Keduanya berjalan beriringan keluar kamar.


"Sarapan dulu mas." ajak Tiwi, Adam pun mengangguk sambil tersenyum.


Adam duduk di kursi dapur. Sementara Tiwi menyiapkan makanan untuknya.


Pagi itu, menu makanannya adalah nasi putih, sayur kari daun singkong, sambel ikan teri, telur dadar dan kerupuk ikan. Menu sederhana yang disukai Adam.


Dulu, sebelum melahirkan, ia juga sering membantu ibunya memasak, tapi setelah melahirkan, semua melarang melakukannya.


"Nasinya segini cukup mas?"


Adam mengangguk. Lalu Tiwi mengambilkan sayur dan lauknya. Setelahnya, Tiwi meletakkan piring yang penuh dengan isinya di depan suaminya.


Kini wanita itu duduk di hadapannya, menemani ia menghabiskan makanannya. Adam menutup sarapan paginya dengan segelas teh manis.


Sebelum berangkat, tak lupa Adam mencium punggung kedua mertuanya, lalu dengan diiringi istrinya ia berjalan menuju teras rumah. Kini Tiwi mencium punggung tangannya.


"Hati-hati ya mas. Semoga dimudahkan pekerjaannya hari ini. Segala amal baik mu mendapat balasan dari Allah. Karena telah berniat menolong sesama."


"Aamiin ya rabbal aalamiin. Terima kasih atas do'anya sayang. Titip putri kita. Aku akan merindukan kalian berdua."


Tiwi tersipu dengan ungkapan hati suaminya.

__ADS_1


"Ya sudah, mas pamit dulu ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam. Dada ayah. Semangat ya kerjanya." ucap Tiwi dengan logat kekanakan.


Adam melangkahkan kaki menuju mobilnya. Sebelum melajukannya, ia melambaikan tangan ke arah Tiwi sambil tersenyum. Wanita itupun membalas melakukan hal yang sama.


Tiwi menyaksikan kepergian suaminya, hingga deru mobilnya tak lagi terdengar. Lalu kembali masuk ke rumah, hendak memandikan baby Fatim.


Meskipun ia mendapatkan cukup banyak jahitan di jalan lahirnya, ia tetap berusaha melakukan semuanya sendiri.


Ia tak ingin merepotkan siapapun, termasuk saat memandikan bayinya. Meskipun begitu, ia berharap jahitannya juga lekas kering. Sehingga lebih leluasa dalam melakukan aktivitas apapun juga.


Pak Somad menyiapkan air hangat di ember bayi, dan ember itu ia letakkan di atas meja, agar Tiwi lebih leluasa dalam memandikan bayinya.


Dengan penuh kehati-hatian, Tiwi mengusap seluruh tubuh putrinya. Agar kulitnya yang masih sensitif tidak rusak.


Sekian menit berlalu, akhirnya aktivitas memandikan bayi pun selesai. Tiwi menggendong menuju kamarnya, dan mendandaninya serapi mungkin.


Bau khas bayi begitu menyeruak memenuhi ruang kamarnya. Sehingga Tiwi mengecup seluruh tubuh putrinya tanpa kecuali.


"Kamu cantik dan menggemaskan sekali sayang. Pantas saja, ayah mu ngga mau jauh dari kamu. Ingin selalu berada di dekat mu. Ibu pun juga sama kok."


Baru saja meluapkan kebahagiaan dengan anaknya, pak Somad melenggang masuk kamar Tiwi, karena tadi pintunya memang terbuka.


"Hem, wangi sekali, mana cucu kakek?" celetuk pak Somad, yang kini sudah ada di dekat Tiwi dan putrinya.


"Yuk ikut kakek dulu. Ibu biar mandi dan sarapan. Kasian kalau ibumu ngga makan, nanti ngga ada kekuatan untuk menggendong kamu Fatim." celoteh pak Somad sambil terus memperhatikan wajah cucunya.


Tak lama kemudian, ia sudah mengangkat bayi mungil itu, dan berjalan keluar menuju teras. Sedangkan Tiwi segera mengambil baju ganti dan bersiap mandi.


Kehidupan setelah memiliki pasangan dan anak, memang sungguh merepotkan dan melelahkan.


Namun, jika kita ikhlas mengerjakan semuanya, tentu akan ada balasan dari setiap hal yang kita lakukan.


Bukankah sungguh indah janji Tuhan?

__ADS_1


__ADS_2