Juragan Muda

Juragan Muda
150. Sungkem


__ADS_3

Dengan hati hati Reyhan membantu Laura turun dari mobil. Kali ini mereka menggunakan pakaian adat Jawa. Reyhan memakai beskap warna cream, senada dengan kebaya yang di pakai Laura. Sedangkan bawahan nya mereka menggunakan kain jarik yang di lilitkan kencang, sehingga membuat keduanya harus berhati-hati dan berjalan pelan agar tidak terjatuh.


Semua keluarga Reyhan dan among tamu sudah berdiri menyambut kehadiran mempelai. Sedangkan tamu undangan, mereka tetap duduk sambil memperhatikan pengantin yang sedang berjalan menuju kursi pelaminan. Keduanya tampak cantik, anggun dan tampan. Hingga semua berdecak kagum dan berandai-andai memiliki pasangan seperti mereka.


"Gila, dimana mas Reyhan bisa menemukan bidadari secantik itu?"


"Iya benar, anak orang kaya pasti."


"Aku juga ngga bakal nolak kalau di kasih cewek secantik dia."


"Eh bukannya cewek itu yang dulu pernah ikut pengajian sebelum Reyhan berangkat umrah ya."


"Eh, tapi mereka ngga pacaran lho. Tahu tahu langsung nikah."


"Bagus nya ya gitu, kalau sudah suka dan cocok langsung tancap gas saja, kayak Reyhan itu. Kalau ngga, ya keburu di samber orang lain."


Sambil terkekeh para tamu undangan serta tetangga mulai membicarakan tentang pengantin yang tak akan ada habisnya. Hingga akhirnya pengantin itu dipersilahkan duduk di pelaminan, di ikuti oleh kedua orang tua mereka.


MC pun kembali membacakan acara selanjutnya. Yaitu sambutan dari kepala desa. Setelah itu acara serah terima pengantin yang di lanjutkan dengan acara sungkeman.


Bu Rohmah kembali teringat akan suaminya yang sudah lama meninggal. Ia berandai-andai jika suaminya masih hidup, tentu ia akan senang ketika melihat anak pertama mereka berhasil meraih kesuksesan dan sekarang menikah dengan orang terpandang.


Dalam hati bu Rohmah, ia tidak pernah menyangka hal itu bisa terjadi. Ia mengusap kepala Reyhan dan mendoakan kebaikan untuk rumah tangganya. Reyhan tak mampu membendung air matanya atas doa tulus yang di ucapkan ibunya, begitu pun ibunya yang juga ikut menangis. Dengan penuh takzim Reyhan mencium tangan keriput ibunya, yang sudah membesarkannya.

__ADS_1


Hal yang sama juga di lakukan bu Rohmah pada Laura. Ia mengusap kepala wanita berhijab yang di penuhi dengan ronce bunga melati itu sambil mendoakan dengan tulus. Laura adalah satu satunya wanita yang mampu menyembuhkan hati Reyhan dengan cara uniknya, dari rasa trauma yang pernah ia rasakan karena di saat terpuruk justru pacar nya meninggalkan nya.


"Terima kasih non Laura sudah mau menerima anak ibu jadi suami mu, kepala rumah tangga dalam hidup mu. Dukung ia dalam kebaikan, dan tegur ia dengan cara yang halus bila melakukan kesalahan. Jantung keluarga ada pada mu. Semoga kamu mampu memberi kehidupan yang lebih indah untuk Reyhan, begitu juga sebaliknya."


Laura terisak mendengar penuturan ibu mertua nya itu. Selama ini Reyhan yang selalu berjuang dan begitu memperhatikan nya, meskipun Laura selalu bersikap angkuh dan keras kepala, serta berbuat sesuka hatinya. Ia hanya bisa mengangguk menjawab doa ibu mertuanya. Ia juga mencium tangan ibu mertuanya, seperti mencium tangan mamanya sendiri.


Setelah itu, kini kedua pengantin itu duduk bersimpuh pada orang tua Laura.


Reyhan menundukkan kepala sambil menangkupkan kedua tangannya di dekat keningnya, di hadapan pak Atmaja, untuk meminta restu


Pak Atmaja menggenggam tangan Reyhan dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya berada di punggung Reyhan.


"Reyhan, ku serahkan sepenuhnya Laura pada mu. Jaga dan lindungi ia semampu yang kamu bisa. Tegur ia dengan cara yang halus. jika kamu sudah tidak menginginkan dia lagi untuk jadi istrimu, serahkan baik baik pada papa. Jangan pernah kamu menyakiti nya. Karena kami membesarkannya dengan penuh kasih sayang, sampai sekarang." ucap pak Atmaja dengan tegas, walaupun di pelupuk matanya sudah menggenang air mata yang siap terjatuh kapan pun juga.


Setelah berkata seperti itu, Reyhan mencium tangan pak Atmaja sebagai bentuk hormat nya. Dalam hati, Reyhan sungguh sangat bersyukur memiliki mertua sebaik pak Atmaja. Walaupun dia adalah orang kaya, tapi tidak sombong. Bahkan atas campur tangan pak Atmaja lah, kini Reyhan bisa menikahi wanita yang tidak hanya cantik, tapi juga baik, dan bisa menerima segala bentuk kekurangannya. Tidak hanya melihat pada harta saja.


Pak Atmaja pun tak ragu untuk memeluk dan mengecup ubun ubun Reyhan.


"Semangat berjuang, karena babak baru dalam hidup mu, baru saja di mulai." ucap pak Atmaja di akhir kalimat nya sambil menepuk bahu Reyhan di iringi sebuah senyuman. Reyhan membalas dengan mengangguk dan tersenyum.


Kini Reyhan sedikit menggeser tubuhnya, dan bersimpuh di hadapan mama mertuanya. Kedua tangannya di satukan di depan keningnya sambil meminta restu pada mama mertuanya itu.


Bu Ani menggenggam tangan Reyhan dengan tangan kanannya dan kirinya berada di punggung Reyhan. Kepalanya menunduk sejajar dengan kepala Reyhan.

__ADS_1


Ia mendoakan kebaikan untuk Reyhan dan Laura.


"Mama titip Laura ya Rey. Jaga dan lindungi ia baik baik. Mama yakin kamu adalah orang yang tepat untuk menjadi imam nya. Dia sangat butuh bimbingan mu. Ajarkan segala sesuatu dengan sabar kepadanya. Karena selama ini kami tak pernah berbuat buruk padanya, dan membesarkan dengan penuh kasih sayang." ucap bu Ani dengan terisak.


Reyhan pun ikut terisak karena mama mertuanya begitu mempercayakan Laura padanya.


"In shaa Allah Reyhan berjanji ma, akan menjaga dan melindungi Miss Laura semampu Reyhan." balas Reyhan sambil mencium punggung tangan mama mertuanya.


Setelah itu giliran Laura yang duduk bersimpuh di hadapan papa nya.


Pak Atmaja melakukan gerakan dan doa yang sama pada Laura.


"Laura, sekarang kamu sudah besar. Bukan saatnya lagi kamu bermanja-manja dengan kami. Kamu sekarang sudah memiliki seorang suami. Tunduk dan patuh lah pada perintah suami. Seluruh tanggung jawab yang papa pikul selama ini, papa serahkan sepenuhnya pada suami mu, Reyhan. Semoga kamu bisa menjadi istri yang baik." ucap pak Atmaja. Lalu ia memeluk dan mengecup ubun ubun Laura. Yang membuat Laura terisak. Laura pun tak mampu membendung air matanya pada orang yang telah melimpahkan segala kemewahan untuknya.


Setelah itu Laura bersimpuh di hadapan mamanya. Belum sempat keduanya berkata, air mata keduanya sudah mendahului jatuh.


Laura langsung menundukkan kepala di pangkuan mamanya dan terisak.


Bu Ani mengelus punggung Laura sambil memberi petuahnya.


"Laura, sekarang kamu sudah besar. Sudah menjadi seorang istri. Berbuat baiklah pada suami mu. Layani ia dengan sepenuh hati. Kamu lahir dari rahim seorang ibu, dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Semoga kamu bisa memainkan peran mu dengan baik. Dan ingat, hormati suami mu dan keluarganya." ucap bu Ani dengan tersedu sedu. Laura mengangguk dan kembali terisak. Keduanya pun berpelukan dengan erat.


Semua yang melihat acara sungkeman itu pun tak kuasa menahan air matanya, sehingga ikut terisak.

__ADS_1


__ADS_2