
"Gimana transaksi hari ini Sus?"
"Lumayan ramai mas." Susi mendongakkan kepalanya ketika melihat Bayu yang baru saja datang.
Ia segera mengecek buku laporan dan meneliti sambil mencocokkan jumlah uang yang ada di laci. Sementara Susi kembali melayani user yang datang. Begitu juga dengan 2 karyawan lainnya.
"Bagus." gumam Bayu sambil manggut-manggut.
'Semoga aku bisa sesukses kak Reyhan. Tuhan berikan keajaiban mu untukku.' batin Bayu.
Setelah jam menunjukkan pukul 9, Bayu segera menyuruh Susi untuk menutup pintu.
"Ini gaji untuk kalian, sekalian ada sedikit tips untuk kalian, karena omset bulan ini meningkat." Bayu menyerahkan amplop coklat pada ketiga karyawannya. Dan ketiganya mengangguk sambil mengucapkan terimakasih.
Biasanya pagi dan sore Bayu mengecek counter, dan membantu melayani pembeli atau membungkus paket. Tapi, karena hari itu ia bangun kesiangan, ia memutuskan untuk sekalian saja ke counter waktu malam mendekati jam tutup counter.
Sudah lama sekali ia tak mengobrol rayuan maut pada wanita, jadi ketika Sinta membalas pesan nya, seketika ia mengeluarkan jurusnya.
Dan, sebelumnya di sore itu Bayu menjemput Sinta di pabriknya. Bayu yang melihat Sinta baru saja muncul dari pintu gerbang segera berinisiatif menghampirinya.
Tin....
Sinta kaget dengan kemunculan Bayu yang tiba-tiba sudah berada didekatnya sekaligus membunyikan klakson.
Hari itu, memang Bayu sudah janji akan menjemput Sinta pulang kerja. Awalnya Sinta menolak dengan berbagai alasan. Tapi, Bayu sangat kukuh meyakinkan Sinta, hingga ia tak bisa menolak.
"Ayo naik." kata Bayu sambil membuka penutup helmnya. Sinta lirik kanan kiri dulu sebelum akhirnya membonceng.
"Mau mampir kemana dulu tuan putri?" tanya Bayu sambil tersenyum manis.
Mendengar dipanggil dengan sebutan tuan putri oleh Bayu membuat Sinta sangat senang.
"Kok cuma senyum-senyum saja sih?" tanya Bayu yang melihat Sinta dari pantulan kaca spionnya yang memang baru tersenyum.
"Terserah kamu saja." ucap Sinta malu-malu.
Motor pun akhirnya belok ke sebuah rumah makan yang bernuansa klasik, agar terkesan lebih romantis.
"Kenapa diam saja?" Bayu membuka obrolan sambil menunggu pesanan makanan datang.
__ADS_1
"Aku ngga pede, bau ku pasti asem. Baru pulang kerja belum mandi, sudah diajak ketemu."
"Bagiku kamu tetap cantik dan bau wangi dalam segala kondisi tuan putri." ucap Bayu sambil terkekeh melihat Sinta mengerucutkan bibirnya.
"Ayo buruan habiskan makanannya, kamu pasti lapar." ucap Bayu ketika pesanan mereka sudah datang.
"Kamu suka sama tempatnya?" tanya Bayu ketika melihat Sinta memandangi setiap detail ornamen rumah makan itu, lalu ia mengangguk.
Karena Bayu adalah orang yang cerewet, maka sore itu keduanya banyak sekali bercerita. Hingga tak sadar jika waktu sudah mendekati waktu Maghrib.
"Sepertinya ibuku akan memarahiku jika pulang larut malam." kata Sinta sambil melihat jam dipergelangan tangannya.
"Baiklah, aku akan mengantar kamu pulang." Bayu berdiri diikuti Sinta.
Setelah itu motor kembali melaju menuju rumah Sinta.
"Nanti aku turun di perempatan jalan saja, ngga perlu sampai rumah."
"Lhoh kenapa memangnya?" Bayu mengernyitkan dahi tak paham.
"Em.... aku ngga enak saja sama tetangga sekitar karena pulang malam." dusta Sinta. Sebenarnya ia tak ingin ada yang curiga tentang hubungannya dengan Bayu. Yah walaupun mereka memang baru sekedar teman.
"Baiklah kalau itu mau mu."
Jantung Bayu langsung berdetak tak karuan. Setelah sekian lama tak bersentuhan dengan tangan lembut Tiwi, kini malah langsung kesetrum karena senggolan dada Sinta yang mengenainya punggungnya.
"Maaf." ucap Sinta.
"Ngga apa-apa, bisa diulangi?" balas Bayu sambil terkekeh. Dengan spontan Sinta menepuk punggung Bayu.
"Terimakasih untuk semua."
"Aku ikhlas kok, besok lagi ya."
"Akan aku kabari besok. Bye." ucap Sinta mengakhiri percakapan malam itu.
Bayu mengamati Sinta hingga belok menuju rumahnya. Setelah itu baru lah ia menuju counter.
Hubungan Bayu dan Sinta mulai terasa intens. Mereka sering bertemu. Hanya sekedar untuk menjemput Sinta pulang kerja atau untuk jalan-jalan keluar.
__ADS_1
Tentu saja, Sinta melakukan hal itu dengan sangat hati-hati agar tidak diketahui oleh Andre. Karena, bagaimana pun juga mereka sudah bertunangan.
Sinta merasa tertantang, karena Bayu terus terusan menggombali dengan rayuannya. Tak hanya itu saja, sebenarnya Bayu juga sangat royal pada Sinta. Sehingga sayang sekali untuk dilewatkan begitu saja.
Urusan muka, Bayu sebelas dua belas dengan Andre. Yang paling ganteng dan mapan tetap Reyhan tentunya. Tapi, dia semakin sulit dikejar.
Sinta lumayan bingung, dalam sepekan waktunya telah habis ia gunakan untuk jalan dengan Bayu dan Andre. Tapi, berkat mereka, uang gajinya selalu utuh. Karena Bayu dan Andre selalu memberikan apa yang dimau oleh Sinta.
"Mereka laki-laki, tapi kenapa bodoh semua? Mau saja aku manfaatin." gumam Sinta sambil bercermin, karena ia sedang menyisir rambutnya.
"Ternyata, kecantikan memang modal utama untuk menggaet para cowok. Dan, aku beruntung memiliki nya. Tapi, Reyhan kenapa tidak tertarik denganku lagi? Padahal aku semakin cantik, tentunya berkat perawatan salon yang rutin aku lakukan. Apa tipe cewek dia juga semakin naik ya, seiring karirnya yang juga semakin naik." Sinta bermonolog sendiri.
Tok...Tok..Tok
"Siapa?" tanya Sinta ketika mendengar pintunya ada yang mengetuk.
"Ada Andre di luar." jawab ibunya sambil melongokkan kepala nya di ambang pintu.
"Dia tak bilang kalau mau kesini." gumam Sinta, lalu bangkit berdiri untuk menemui Andre.
"Kamu baru saja mandi sayang?" tanya Andre ketika melihat rambut Sinta yang masih basah. Bau sampo juga masih terasa menusuk hidung Andre.
"Iya, tadi capek sekali kerjanya. Jadi, aku pulang kerja langsung tidur. Dan ini baru saja bangun." Sinta berdusta.
"Berarti tepat sekali aku datang. Ayo kita lihat festival di taman kota." ajak Andre dengan bersemangat.
"Lihat festival?" gumam Sinta dengan lesu. Dan Andre kembali mengangguk dengan senyum.
Dengan berat hati Sinta menuruti keinginan Andre untuk melihat festival. Setelah berganti baju, keduanya berangkat. Seperti biasa, Sinta selalu memeluk Andre dari belakang ketika dibonceng.
Sinta terlihat senang sekali melihat festival lampion. Andre bangga jika bisa melihat Sinta tersenyum selama berada disampingnya. Ia juga mengabadikan momen itu dalam beberapa kali cekrekan foto.
Setelah puas melihat festival lampion, tak lupa Andre untuk mengajak makan Sinta. Sambil menunggu pesanan datang, Andre melihat kembali foto foto Sinta, dan menguploadnya di media sosial.
"Hak...." ucap Sinta sambil mendekatkan potongan steak. Andre langsung membuka mulutnya, dan melahapnya.
"Sepertinya ibumu sudah ngga sabar menjadikan aku menantu sayang. Tadi ia menyuruhku mempercepat tanggal pernikahan kita." ucap Andre yang membuat Sinta tersedak saat makan.
Hai readers yg kece badai terimakasih atas setiap support nya, semoga senantiasa di balas Allah.,🙏🙏
__ADS_1
sambil nunggu author update bab selanjutnya mari mampir ke karya besti author yang kece😘😘