
Setelah mendengar penjelasan Reyhan, Laura merasa lega dan berjanji akan memperbaiki kesalahannya. Reyhan segera mengambilkan baju untuk Laura dan mengantarkan ke kamar mandi.
"Ngga usah mas, aku bisa sendiri." tolak Laura halus. Walaupun jalannya masih sedikit tertatih karena masih merasakan sakit di bagian bawah sana, tapi ia tak ingin terlihat manja.
Ia merasa sungkan ketika melewati dapur, dan melihat ibu mertuanya sedang memasak. Dalam hati ia berniat akan membantu nya setelah kegiatannya selesai.
"Mau kemana Miss?" tanya Reyhan yang terpaksa menghentikan membaca Al Qur'an, karena melihat Laura hendak keluar kamar setelah selesai sholat subuh.
"Mau bantuin ibu masak."
"Memang bisa? Kemarin goreng telur saja kena letusannya." kekeh Reyhan.
"Ish, kamu menyebalkan. Maka dari itu aku mau belajar masak sama ibu biar tambah pintar. Harusnya di semangati dong, bukan di jatuhin mental nya." gerutu Laura.
"Iya iya, aku minta maaf. Bukan maksud ku menjatuhkan mental Miss Laura, tapi aku ngga ingin Miss Laura tertekan selama berada di sini karena perbedaan kebiasaan. Biar aku yang bantuin ibu masak."
"Kamu lanjutkan mengajinya saja, aku serius ingin belajar masak. Biar kamu tambah sayang sama aku." balas Laura sambil terkekeh.
"Ngga bisa masak pun aku tetap sayang, apalagi tambah pintar masak." balas Reyhan yang membuat Laura tersipu malu, lalu bergegas keluar kamar.
"Ibu mau masak apa?" tanya Laura yang sudah berdiri di samping ibu mertuanya.
"Non Laura suka soto ngga? Ini ibu mau masak soto soalnya."
"Suka, Laura suka makan apa saja kok bu." balas Laura sambil memperhatikan ibu mertuanya yang sedang mengupas bawang.
Laura celingukan mencari pisau untuk membantu, dan akhirnya menemukan nya.
"Eh, non Laura mau ngapain?"
"Ya mau bantuin ibu lah." Laura tersenyum kecil. Lalu meraih bawang itu dan mulai mengupasnya dengan hati-hati.
"Eh, ngga usah saja, nanti ibu bisa di marahi Reyhan kalau sampai non Laura kecapekan. Balik ke kamar saja."
"Ibu, Laura sudah ijin kok sama mas Reyhan."
Sebenarnya bu Rohmah merasa tak tega dengan Laura, karena tahu pasti ia tak pernah membantu mamanya memasak. Dan di tambah lagi jalannya masih tertatih. Tapi melihat ia semangat membantu, akhirnya bu Rohmah mengijinkan.
"Asal non Laura nyaman di gubuk reyot ini, ibu sudah sangat bersyukur. Ngga di bantuin masak pun tak apa-apa." ucap bu Rohmah dengan tulus.
__ADS_1
"Laura sangat nyaman berada di sini bu. Apalagi kalau pas lagi kumpul, tambah ramai." kekeh Laura.
"Ya begitulah anak anak ibu. Kalau ada kata-kata yang kelewatan, jangan di ambil hati. Mereka semua suka bercanda." Laura tersenyum sambil mengangguk. Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tak berselang lama, Anisa melewati keduanya ketika hendak ke kamar mandi. Laura terus memperhatikannya. Tampak jilbab bagian atasnya yang basah seperti habis keramas.
'Apa Anisa semalam juga melakukan hal seperti itu? Tapi kenapa jalannya biasa saja?' batin Laura.
Sreng.....
Laura terkejut dan segera mengalihkan pandangannya, melihat ibu yang tengah menggoreng ayam. Setelah menutup, ibu segera melanjutkan mengulek bumbu.
'Non, ayamnya tolong di balik ya." Laura mengangguk lalu membuka tutupnya, setelah sekian menit hanya melihat ibunya yang tengah mengulek bumbu dengan cepat.
Dor...dor
"Arghhh....."
Laura tersentak kaget dan berteriak, ketika membuka tutup penggorengan, tiba-tiba ayam gorengnya meletup-letup, hingga menjatuhkan tutup itu hingga pecah. Bahkan tangannya lagi lagi terkena letusan minyak.
"Non Laura ngga apa-apa?" tanya bu Rohmah khawatir.
"Ada apa bu?" tergopoh-gopoh Anisa bertanya, di ikuti oleh Bayu dan Reyhan karena mendengar suara benda pecah.
"Reyhan kamu obati luka non Laura. Ibu mau meneruskan masak."
Bayu dan Anisa tampak tersenyum, sedangkan Reyhan bergegas menggandeng Laura menuju kamar dan mengobatinya.
"Nah kan, aku bilang juga apa. Di kamar saja ngga usah bantuin ibu masak. Biar aku yang bantuin." cerocos Reyhan sambil mengoleskan salep luka. Ia sangat khawatir, karena tahu kebiasaan Laura yang semuanya serba disiapkan. Tak pernah mengerjakan pekerjaan ringan atau pun berat.
"Aku kan mau bantuin ibu mas. Kata mama, aku harus rajin bangun pagi dan bantuin ibu masak. Pokoknya bantuin apa saja di sini." Reyhan justru terkekeh mendengar penjelasan Laura yang polos seperti anak kecil itu.
"Aku cari istri, bukan cari pembantu. Aku tahu niat Miss Laura tulus bantuin ibu, dan semua itu juga butuh proses. Jadi harus sabar ya. Nikmati saja dulu, waktu waktu santai jadi pengantin baru." kekeh Reyhan lagi yang membuat Laura juga ikut terkekeh dan mengangguk.
Setelah mengobati luka Laura, Reyhan segera keluar dan menyapu halaman rumah. Sedangkan Bayu kembali tidur setelah sholat subuh tadi. Anisa sendiri membantu ibu memasak. Anisa memang lebih cakap dalam memasak, karena di rumah memang sering membantu ibunya.
Hidangan pun kini sudah selesai di sajikan di depan tv, dan Bima yang sudah siap berangkat sekolah sudah menunggunya di sana. Anisa segera membangunkan suaminya. Sedangkan Reyhan segera mencuci tangannya dan segera memanggil Laura.
"Miss Laura ayo kita makan sayang, semua sudah berkumpul." ajak Reyhan dengan lembut. Laura pun mengangguk dan segera meraih jilbabnya.
__ADS_1
Kini semua sudah berkumpul dan siap menikmati sarapan pagi. Seperti biasanya, mereka akan selalu bertukar cerita sampai akhirnya makanan mereka pun habis. Bima segera berpamitan dan memakai sepatunya sambil berdiri.
"Astaghfirullah, Bima." pekik bu Rohmah. Ia sangat terkejut ketika melihat selembar uang merah yang jatuh dari saku baju Bima.
"Dapat dari mana uang sebanyak itu. Lagian kalau sekolah ngga boleh bawa uang sebanyak itu kan." bu Rohmah memberi pengertian pada anak bungsunya.
"Oh, ini dikasih kak Reyhan. Katanya Bima ngga boleh bilang sama siapapun soal kejadian tadi pagi." tutur Bima dengan polos.
Reyhan langsung tersedak dan buru buru meneguk minumannya mendengar Bima berkata seperti itu. Sedangkan yang lainnya menatapnya menunggu penjelasannya.
"Itu, aku ngga punya uang receh, jadi aku kasih saja uang yang ada." sambil meringis Reyhan sengaja mencari alasan.
Tentu saja Bayu terkekeh karena tahu hal yang sebenarnya.
Bima segera berpamitan sekolah, setelah uangnya di tukar receh oleh ibunya. Tak lama kemudian Anisa juga berpamitan hendak berangkat ke sekolah.
"Ibu lagi ngapain?" tanya Laura mendekati ibunya.
"Ini, ibu baru menyiapkan sembako yang akan di bagikan pada tetangga, karena sudah banyak membantu selama menggelar pernikahan." Laura tampak menganggukkan kepalanya lalu membantunya.
"Ibu pamit dulu ya." ujar ibu setelah semua selesai.
"Laura boleh ikut?"
"Jangan, soalnya ibu jalan kaki. Takut non Laura capek."
"Ngga apa-apa lah bu, sekalian jalan-jalan kok, lihat desa ini. Tunggu sebentar ya." Laura segera masuk kamar dan bersiap siap. Tak lupa menyambar dompet nya.
"Aku ikut ibu bagi-bagi sembako ya mas." Laura mengulurkan tangan hendak bersalaman dengan Reyhan.
"Kalau capek gimana? Jalan kaki lho."
"Ngga apa-apa, sekalian olah raga kok."
"Ya sudah, hati-hati ya." Laura pun mengangguk dan bergegas keluar kamar.
"Ayo bu, Laura sudah siap."
"Ayo." balas bu Rohmah lalu segera membawa bungkusan sembako itu, di bantu oleh Laura.
__ADS_1