
"Ma, besok masak yang enak-enak ya, papa mau mengundang Reyhan untuk makan malam disini." Pak Atmaja memberitahu ke bu Ani tentang rencananya besok, ketika mereka sedang kumpul di meja makan.
"Reyhan? Siapa dia?" Bu Ani mengernyitkan dahi sejenak berpikir.
"Itu mah, customer kesayangan papa." Laura menyahut sambil menyuap nasi ke mulutnya.
"Oh ya?" Bu Ani sekilas melirik papa sambil senyum simpul.
"Laura kamu besok jangan kelayapan sama Choki, harus ikut makan malam. Papa ingin kalian bisa dekat."
"Papa....." Laura mendengus kesal.
"Hemm... mama jadi penasaran seperti apa orangnya, sehingga bisa menaklukkan hati papa."
"Biasanya aja mah, ngga ada yang menarik sama sekali kok ." Laura terus saja mengeluarkan uneg-uneg nya mengenai Reyhan.
"Bukankah papa sudah menjelaskan kamu panjang lebar soal dia waktu nganter mobil dulu?"
"Hemm, terserah papa sajalah." Laura males berdebat dengan papa nya karena suasana hatinya sedang tidak baik, karena Choki beberapa hari ini tidak menghubungi nya.
"Papa telepon Reyhan dulu ya untuk memastikan lagi." Setelah itu pak Atmaja pun segera menggulir benda pipih yang selalu dibawa kemanapun berada.
Setelah sambungan terhubung, pak Atmaja segera terlibat percakapan yang cukup lama. Bu Ani sesekali melihat suaminya yang sedang serius bicara, sedangkan Laura tampak acuh dengan papanya dan tetap sibuk menyuap nasi ke mulutnya.
"Gimana pa?" tanya Bu Ani ketika melihat pak Atmaja sudah selesai bertelepon.
"Yah ngga bisa besok ma, katanya ini masih di Surabaya ikut seminar kewirausahaan yang biasa diadakan sebulan sekali oleh team nya. Tapi 2 hari lagi katanya pulang."
"Jadi acara nya diundur sampai hari kepulangan nya ya?" tanya Bu Ani dan pak Atmaja pun mengangguk.
_____
Hari yang dijanjikan untuk makan malam pun akhirnya tiba.
"Rapi amat, mau kemana kak?" tanya Bayu di sela-sela kegiatannya menyiapkan barang pesanan pembeli.
"Kamu tahu orang yang nganter mobilku kemarin?" Reyhan balik bertanya.
"Yang sopirnya atau bapak-bapak yang pake jas kerja dan anaknya yang seperti artis terkenal kak?"
"Ya bapak-bapak yang anaknya macam artis itulah. Tahu ngga? Dia itu direktur showroom lho, ngundang aku makan malem dirumah nya."
"Hah! Serius kak? Dalam rangka apa kamu diundang makan malam disana?" Bayu menghentikan aktivitasnya lalu membulatkan matanya tak percaya.
"Dalam rangka 17 Agustusan kali ya." balas Reyhan asal lalu terkekeh sendiri.
"Wah, mujur bener nasibmu kak, diundang makan malam sama orang kaya. Kira-kira boleh ikut ngga aku?"
"Hush mulutmu, ya malu lah aku mau ngajak kamu, wong makan mu aja porsi kuli. Lagian yang diundang cuma aku aja, ngga disuruh ngajak anggota keluarga kok. Dah ya, aku pamit dulu, jangan lupa pamitin ke ibu, aku cariin ngga ada soalnya."
"Huh, iya iya. Jangan lupa oleh oleh nya ya."
"Kamu kira aku mau piknik, oleh-oleh mulu mintanya."
"Tangan diatas lebih baik lho dari pada tangan dibawah."
"Ya kalo gitu kenapa ngga kamu aja, malah maksa aku! Dasar." Reyhan pun segera berlalu pergi.
Menempuh perjalanan hampir 30 menit, akhirnya Reyhan sampai juga di alamat yang ditunjukkan oleh google map.
Sesaat Reyhan ragu, karena rumahnya besar sekali seperti istana.
Lalu satpam yang melihat Reyhan segera mendekatinya.
__ADS_1
"Cari siapa mas?" tanya satpam itu sambil memperhatikan penampilan Reyhan.
"Ini bener pak, rumahnya pak Atmaja pemilik showroom Mitsubishi di daerah Laweyan?"
"Iya bener mas, jangan bilang kalo mau nyariin pak Atmaja ya?"
Sejenak Reyhan mengernyitkan dahi mendengar penuturan satpam.
"Lhoh, tapi memang bener pak saya kesini diminta sama pak Atmaja untuk makan malam."
"APA! saya ngga salah dengar?"
Reyhan menggeleng, "Enggak pak, tanya saja ke pak Atmaja sendiri."
"Okay, tunggu sebentar. Don't go every where." lalu satpam itu segera berlari menuju pintu utama.
Reyhan hanya geleng-geleng kepala menanggapi gaya satpam yang lucu itu.
Pasti satpam itu sudah menyangka Reyhan yang bukan-bukan, karena Reyhan kesitu dengan mengendarai motor beatnya.
"Silahkan masuk mas, maaf sudah lama menunggu." kata satpam itu sambil membuka pintu gerbang dengan nafas yang terengah-engah sehabis lari maraton ke tuan rumah.
"Baik pak, terimakasih." Reyhan mulai melajukan motornya memasuki halaman rumah yang luasnya seperti lapangan sepakbola di desa nya.
"Selamat datang nak Reyhan, gimana gampang ngga cari alamat nya." sambut pak Atmaja sekeluarga yang berdiri di depan teras.
"Alhamdulillah pak gampang. Pak, saya parkirnya disini ngga papa ya, kalo di pos satpam kejauhan yang jalan, luasnya melebihi luas lapangan sepakbola yang ada di desa saya soalnya." ucap Reyhan sambil tertawa kecil sembari menyalami pak Atmaja, dan menangkupkan kedua tangannya sambil membungkuk dihadapan Bu Ani dan Laura.
"Bisa saja kamu, dah ayo masuk." ucap pak Atmaja setelah tawanya yang menggelegar selesai.
"Oh iya pak, terimakasih." Reyhan pun berjalan beriringan dengan Atmaja, sedangkan Bu Ani dan Laura mengekor.
"Kenapa ngga naik mobil kesini nya?"
"Mari silahkan duduk." ucap pak Atmaja sembari menggeser kursi untuk Reyhan.
Bu Ani dan Laura segera menghidangkan berbagai macam menu yang lezat di meja makan.
Setelah semua terhidang, pak Atmaja segera menyuruh untuk memulai makan malam itu.
"Lhoh, yang makan cuma ini saja pak?" tanya Reyhan dengan raut wajah sedikit bingung.
Pak Atmaja dan istrinya pun tersenyum.
"Iyalah nak, saya kan cuma ngundang kamu saja. Kenapa memangnya?" jawab pak Atmaja.
"Oh enggak, enggak papa kok pak, saya pikir ada acara besar dan melibatkan banyak tamu undangan."
Pak Atmaja kembali tersenyum melihat Reyhan yang sedikit kikuk.
"Ya sudah yuk segera dimulai makannya, keburu dingin nanti."
"Baik pak." Reyhan tersenyum sungkan sambil melihat makanan yang memenuhi meja.
Terlihat Bu Ani segera mengambilkan pak Atmaja nasi dan lauknya sesuai pilihan pak Atmaja.
"Laura segera kamu ambilkan Reyhan makan." perintah pak Atmaja.
"APA!" Laura membulat matanya mendengar perintah papa nya yang tak masuk akal itu.
"Kan bisa ambil sendiri pa, dia juga punya tangan kok."
Reyhan tersenyum kikuk melihat ayah dan anak yang sedang ribut kecil.
__ADS_1
"Benar kok pak, saya punya tangan, nanti saya ambil sendiri saja."
"Ngga papa nak, biar Laura terbiasa. Ayo Laura ambilkan nak Reyhan makan, atau......" sengaja pak Atmaja menggantung kalimatnya karena sungkan bertengkar dihadapan Reyhan.
Laura yang seakan mengerti kode dari papa akhirnya mengambil centong nasi dan piring dengan muka masam.
"Segini?" tanya Laura ke Reyhan dengan muka masam sambil memperlihatkan nasi yang baru saja dituang ke piring Reyhan.
"Astaghfirullah, itu kebanyakan mbak. Boleh dikurangi apa ngga?" Tanya Reyhan sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal.
'Nasib mau makan di rumah orang kaya, kok malah tersiksa.' batin Reyhan.
"Mau lauk apa saja?" Laura bertanya lagi.
"Apa saja boleh mbak." ucap Reyhan pasrah.
"APA! Kamu mau makan semua?" Laura membulatkan matanya.
"Eh, bukan begitu maksudnya mbak. Ini saja." ucap Reyhan sambil menunjuk nila bakar yang ada di hadapannya, takut kalo kebanyakan bicara jadi salah. Apalagi Laura selalu bersikap judes padanya.
"Bisa ngga, jangan panggil aku mbak. Memang kamu adikku?"
"Lalu.... saya mau panggil apa mbak?" tanya Reyhan bingung lagi.
'Baru saja dikasih tahu jangan panggil mbak, malah panggil mbak lagi.' batin Laura.
"Panggil Laura saja."
"Tapi..." belum selesai Reyhan bicara, bu Ani menyela.
"Kok itu saja nak, masih banyak lho menu lainnya. Ada ayam goreng rempah, ayam lada hitam, semur jengkol, rendang hati sapi, kwetiau, tumis jamur." Bu Ani menjabarkan menu masakan yang ada di meja.
"Terimakasih bu, ini saja sudah cukup kok."
"Nah, Laura bilang apa? makanya masaknya ngga usah banyak-banyak, tapi......" dan belum selesai Laura bicara sudah di potong oleh papanya karena jengkel dengan sikapnya.
"Laura, kamu mau makan atau mau ceramah?" mendengar penuturan papanya Laura pun langsung diam.
"Ya sudah, yuk mari makan." ajak pak Atmaja dan bu Ani.
Mereka pun akhirnya mulai makan sambil bercerita. Sedangkan Laura hanya diam, dan berbicara seperlunya saja.
Sesekali pak Atmaja memuji Reyhan yang menurutnya sangat pekerja keras, cerdas, rendah hati dan banyak lagi hal lainnya.
Bu Ani juga tampak mengangguk mendengar penuturan Reyhan.
Hari pun semakin malam, Reyhan segera pamit undur diri.
"Sering-sering main kesini ya nak."
"In shaa Allah pak saya usahakan."
"Oh ya, kapan-kapan boleh juga ya Laura main kerumah kamu."
"APA!" kali ini Laura dan Reyhan terkejut mendengar kata yang meluncur dari mulut pak Atmaja.
Berteman di FB yuk kak
FB: Nurul khanifah
Berikan penilaian yang baik ya agar menambah semangat author untuk terus update.
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca, terimakasih semoga sehat selalu dan semakin lancar rezekinya.😘🤗
__ADS_1