Juragan Muda

Juragan Muda
128. Di lamar 2 wanita


__ADS_3

"Anisa, kamu sudah siap belum?"


"Sebentar lagi bi." balas Anisa dari dalam kamarnya.


"Kamu yakin sudah siap sayang?" tanya umi Salwa sambil merapikan jilbab yang di pakai Anisa.


"In shaa Allah umi." Anisa mengangguk. Polesan sederhana membuat nya tambah semakin cantik. Dari bayangan cermin, umi Salwa tahu jika anaknya tengah tersenyum.


"Ya sudah, ayo berangkat sekarang." Anisa kembali mengangguk dan bangkit dari duduknya.


"Kenapa lama sekali?" tanya pak Gofur ketika melihat keduanya keluar dari kamar Anisa.


"Namanya perempuan, pasti apa-apa ya serba lama bi." umi Salwa terkikik.


"Hem, benar-benar. Ya sudah ayo kita berangkat sekarang." pak Gofur berjalan menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan rumah.


Sama halnya dengan keluarga Rosyidah, keluarga Anisa juga membawa bingkisan untuk Reyhan.


"Bismillah." ucap pak Gofur sebelum berangkat. Anisa melakukan hal yang sama sambil menghembuskan nafasnya.


Sepanjang perjalanan, Anisa terus berdzikir dan beristighfar untuk menentramkan hatinya. Sedangkan matanya awas melihat pemandangan luar dari kaca. Hingga tak terasa, akhirnya mereka sudah tiba di rumah Reyhan. Jantung Anisa berdetak kian kencang. Ia bergelayut di tangan uminya untuk sekedar mencari kekuatan.


"Assalamu'alaikum." ucap keluarga Anisa.


"Wa'alaikumussalam." Reyhan dan ibunya bergegas berdiri dan menyambut tamu mereka.


Mereka saling bersalaman dan berpelukan, setelah itu mereka di persilahkan masuk oleh keluarga Reyhan. Mereka sejenak berbasa-basi untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka. Dan tak lama kemudian pak Gofur berniat menyampaikan maksud tujuannya.


"Jadi begini nak Reyhan, kami datang kesini untuk..."


Belum selesai pak Gofur berkata, mereka mendengar suara deru mobil yang berhenti di pelataran. Reyhan segera bangkit dan menyambut tamu itu.


"Assalamu'alaikum." suara haji Dahlan yang menggelegar jelas terdengar sampai ruang tamu itu.


"Wa'alaikumussalam. Mari pak silahkan masuk." balas Reyhan sopan.


Sontak saja, Anisa merasa terkejut, tangannya sudah mulai dingin. Ia melihat satu persatu keluarga haji Dahlan masuk ke ruang tamu. Dan tentu saja ia juga melihat Rosyidah.


Kedua keluarga itu tentu kini saling beradu pandang. Dan pada akhirnya kedua kepala keluarga itu saling melempar senyum.


"Gofur, ternyata kamu ada di sini." haji Dahlan mendekati pak Gofur, mereka saling berjabat tangan dan berpelukan. Begitu juga dengan Anisa dan Rosyidah.

__ADS_1


"Kenapa tangan mu sedingin es Nis." celetuk Rosyidah sewaktu menjabat tangan Anisa.


"Oh, em, aku kurang enak badan." kilah Anisa, suaranya pun terdengar bergetar karena merasa speechless.


Satu persatu mereka mulai duduk di tempat yang sudah di sediakan.


"Eh mari pak, bu, di cicipi dulu hidangannya." tawar bu Rohmah. Ia yang notabenenya sebagai orang tua, juga mendadak speechless ketika berhadapan dengan tamu tamu agung seperti kedua keluarga itu.


"Iya pak, bu, silahkan." ulang Reyhan.


_____


Dan, di kediaman Laura. Bu Ani tengah memasak beranekaragam jenis masakan. Ia berniat memberikan masakan itu pada keluarga Reyhan. Karena sudah lama sekali Laura tak mengirim masakan ke sana.


Bahkan mobil Laura pun juga masih di sana, sejak ia piknik bersama Reyhan. Bukan tanpa sebab mobil itu masih di sana. Setiap kali Reyhan mengantar mobil, setiap kali itu pula ia di suruh untuk membawa mobil itu kembali pulang.


"Hemm, beres juga." Bu Ani tersenyum puas ketika sudah selesai memindahkan seluruh masakannya pada rantang.


"Hemm, bau apa ini?" tiba-tiba pak Atmaja sudah berdiri di kongliong dapur, hidungnya sambil mengendus-endus.


"Ini untuk keluarga Reyhan?"


"Oh ya, Laura sudah siap belum?"


"Ya mana mama tahu, orang dari tadi mama sibuk di dapur. Papa aja sana yang panggil. Kalau sama papa pasti dia langsung nurut."


"Hem, ya sudah kalau begitu, papa ke atas dulu." pak Atmaja segera menuju kamar Laura.


Tok...Tok...Tok


Beberapa kali pak Atmaja mengetuk pintu kamar Laura, tapi tak ada balasan sama sekali.


Ceklek..


"Astaga, ternyata pintunya ngga di kunci." gumam pak Atmaja ketika membuka pintu dan ternyata tidak do kunci itu. Ia melongokkan kepalanya, dan melihat Laura yang tidur.


"Hemm, jam segini tumben ia tidur. Padahal tidur setelah waktu ashar ngga baik buat kesehatan." gumam pak Atmaja sambil mendekati Laura.


"Laura, ayo bangun. Papa ada tugas penting untukmu." seru pak Atmaja, sambil menggoyangkan tubuh Laura.


"Em.... Apaan sih pa? Laura capek ni." Laura menggeliat sambil menguap.

__ADS_1


"Cepetan kamu mandi, dan bergegas ke rumah Reyhan!"


"APA!" Laura langsung terduduk dan menatap papanya.


"Apa-apaan sih pa, males ah kesana mulu." Laura mengerucutkan bibirnya.


"Jangan gitu, ini perintah. Ngga boleh di bantah!" tegas pak Atmaja.


"Iya iya." Laura mendengus kesal lalu beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.


"Di suruh nikah ngga mau, tapi di ajak kencan sampai pagi buta ngga nolak." gerutu pak Atmaja sambil geleng-geleng kepala.


Tak lama kemudian, Laura sudah keluar dari kamar mandi. Bergegas ia memilih baju yang cocok untuk pergi ke rumah Reyhan. Matanya tampak awas memperhatikan satu persatu koleksi bajunya.


"Ini ajalah." gumamnya sambil menarik satu midi dress warna kuning dengan aksen renda di bagian depan dadanya, sedangkan bagian punggung nya agak turun ke bawah. Beberapa kali ia menyemprotkan parfum kesukaan nya. Make up tipis tak lupa membuatnya semakin cantik.


Setelah memperhatikan dengan seksama penampilan nya lewat pantulan cermin, bergegas ia turun ke bawah.


"Sayang, kamu cantik sekali. Pasti Reyhan bakal naksir berat sama kamu." puji pak Atmaja pada Laura yang kini sudah berada di hadapannya.


"Hem, gini nih, kalau ada kemauan, pasti muji muji. Ini makanannya?" tunjuk Laura pada rantang yang berada di atas meja tamu. Pak Atmaja pun mengangguk.


"Ya sudah, Laura berangkat dulu pa. Tolong pamitin ke mama." Laura mencium punggung tangan papa nya.


Ia melajukan mobilnya dengan santai sambil mendengarkan suara musik.


Hanya menempuh perjalanan 15 menit, akhirnya Laura sudah sampai di rumah bercat hijau. Seperti biasa, ia akan memarkirkan mobilnya di luar pagar, karena pelataran Reyhan tidak seluas pelataran di rumah nya.


Ia mengernyitkan kening, kala melihat 2 mobil yang sangat ia kenal. Mobil Rosyidah dan mobil Anisa.


"Apa yang sedang mereka lakukan di sini?" gumamnya.


Ia merasa tak nyaman karena memakai pakaian yang kurang bahan. Bergegas ia menelpon Reyhan untuk mengambil makanan yang sudah ia bawa. Berulang kali ia menelpon tapi tak kunjung di angkat. Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju teras rumah.


"Oh iya, jadi pak Gofur mau bilang apa?" tanya Reyhan yang tiba-tiba teringat akan ucapan pak Gofur yang terpotong karena mendengar suara mobil haji Dahlan tadi.


"Ehem. Maaf bang, aku sampaikan fardhu(kepentingan) ku datang kesini ya." pak Gofur menoleh pada haji Dahlan terlebih dahulu. Haji Dahlan pun mengangguk sambil mempersilahkan.


"Jadi begini nak Reyhan, seperti halnya kisah sayyidina Ummu Khadijah. Di mana beliau datang untuk melamar Rasulullah, maka seperti itu pulalah fardhu kami kesini selaku orang tua dari Anisa." pelan namun sangat mengejutkan seisi ruangan.


"Krompyang."

__ADS_1


__ADS_2