
"Eh, Miss Laura mau kemana?" Reyhan panik ketika melihat Laura yang mulai duduk.
"Mau ke kamar mandi." ucap Laura sambil meringis.
"Ya sudah aku bantuin." dengan hati-hati Reyhan memapah Laura menuju kamar mandi.
"Yakin ngga mau di bantuin?" tanya Reyhan dengan penuh rasa khawatir, ketika Laura sendirian di kamar mandi.
"Enggak, kamu keluar saja."
Laura segera mengecek, dan ternyata memang benar jika ia tengah menstruasi. Bahkan pakaian dalam nya pun sudah penuh darah. Ia membuka pintu dan melongokkan kepalanya mencari Reyhan.
"Reyhan ambilkan pembalut ku di almari bawah sebelah kiri, sama pakaian dalam di almari tengah, di rak kecil." pinta Laura yang sedikit merasa malu sambil membuka pintu kamar mandi.
Reyhan yang masih berdiri di situ, segera berlari menuju tempat yang di maksud. Ia terkejut ketika tak sengaja melihat noda darah di sprei tempat tidur Laura. Setelah menemukan barang yang di minta, ia segera mengetuk pintu kamar mandi.
Tok...Tok..Tok
"Miss Laura, ini pembalut nya."
"Terima kasih Reyhan."
Sambil menunggu Laura keluar, Reyhan segera mencari sprei pengganti. Dan mengganti sprei yang kotor dengan yang baru. Mendengar derit pintu, ia segera berlari menuju kamar mandi. Kembali memapah Laura.
"Hah, kamu yang mengganti sprei nya?" tanya Laura ketika hendak merebahkan diri. Reyhan tersenyum sambil mengangguk.
"Sekarang Miss Laura istirahat saja dulu, biar badan nya lebih enakan." Reyhan membantu menyelimuti tubuh Laura.
"Lhoh, kamu mau kemana?"
"Mencuci sprei nya. Ngga bagus kalau membiarkan sesuatu yang terkena darah. Bisa jadi makanan atau sarang setan." Reyhan terkekeh kecil menjelaskan hal itu. Lalu segera menuju ke kamar mandi.
Laura kembali tersentuh dengan perhatian kecil dari suaminya itu. Laura saja merasa jijik dengan noda darahnya sendiri, tapi Reyhan malah tidak menunjukkan rasa jijiknya sama sekali.
"Lho kok belum tidur?" tanya Reyhan ketika selesai menjemur selimut di balkon.
"Aku belum bisa tidur."
"Ya sudah aku pijitin saja." Reyhan segera duduk dan mulai memijit pelan kaki Laura.
__ADS_1
"Ngga usah Reyhan. Kamu pasti juga capek. Langsung tidur saja." Laura menarik tangan Reyhan. Hingga akhirnya ia mau tidur di samping Laura. Sejenak Reyhan memandangi wajah Laura dari samping sambil merapikan rambutnya.
"Boleh aku memeluk Miss Laura?"
"Tentu saja boleh Reyhan." Laura mencubit gemas pipi Reyhan.
Keduanya pun saling menatap penuh cinta, sampai akhirnya Reyhan tertidur lebih dulu. Laura mengusap wajahnya penuh cinta dan memberanikan diri memberikan kecupan di keningnya. Sehingga membuat Reyhan sedikit menggeliat tapi kembali mengeratkan pelukannya.
Sedangkan Laura belum bisa tidur. Ia mengusap bibirnya berulang kali sambil menyunggingkan senyum. Teringat tadi adalah kali pertamanya ia menikmati ciuman dari seseorang yang sangat di cintainya.
Suara adzan subuh sayup sayup terdengar. Reyhan menggeliat, lalu mengucek kedua matanya. Ia terduduk dan memandangi wajah cantik Laura. Setelah puas membelai wajah Laura bergegas ia berwudhu, lalu bersiap berangkat ke masjid yang ada di dekat komplek perumahan Laura.
"Duh, pengantin baru mau kemana sepagi ini?" tanya satpam.
"Mau ke masjid lah pak, memang mau kemana lagi." balas Reyhan sambil tersenyum tipis.
"Rajin amat mas, ngga mau minta tambah jatah lagi." kekeh satpam. Namun Reyhan hanya terkekeh kecil tanpa menjawab. Terus terang ia tak suka membahas urusan ranjang pada sembarang orang.
"Lhoh, bukannya itu menantunya pak Atmaja." celetuk seseorang yang juga baru sampai di masjid pada jama'ah lainnya.
"Iya, rajin ke masjid juga ya." balas yang lain.
Setelah selesai sholat, Reyhan segera pulang. Namun seorang jama'ah mendekati nya dan mulai mengajak nya bercerita. Hingga fajar mulai menyingsing, dan Reyhan segera berpamitan pulang.
Sementara itu, di kamar Laura. Ia menggeliat ketika sorot mentari terpancar dari balik jendela kamarnya. Berulang kali ia mengucek matanya lalu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar.
"Di mana Reyhan? Apa dia sedang sarapan? Atau justru mengecek counternya?" gumamnya.
Laura pun segera duduk sambil mengecek handphone nya. Tapi, tak ada pesan apapun dari Reyhan. Dengan langkah yang tertatih ia berjalan menuju kamar mandi.
"Lhoh, kamu dari mana Rey sepagi ini?" tanya pak Atmaja yang sedang menikmati kopi pahit sambil membaca koran.
"Dari masjid pa. Habis sholat subuh, bapak bapak di sana malah mengajak Reyhan bercerita. Akhirnya ini baru pulang." kekeh Reyhan.
Keduanya pun akhirnya saling bertukar cerita. Hingga tiba-tiba Reyhan teringat kondisi Laura.
"Apa Miss Laura sudah bangun pa?"
"Dari tadi papa belum lihat dia, coba cek saja. Kebiasaannya memang bangun siang. Papa harap kamu memakluminya."
__ADS_1
"Hem, baik pa." Reyhan bangkit berdiri dan bergegas ke kamar.
Reyhan mengedarkan pandangannya ketika sudah memasuki kamar, tapi tak melihat Laura. Bergegas ia mencari nya, hingga terdengar suara gemericik air. Seketika ia bernafas lega karena Laura pasti berada di sana.
Reyhan pun kembali berjalan menuju tempat tidur, tapi lagi-lagi ia di kejutkan dengan noda darah.
"Ya Allah, apa Miss Laura terus menerus merasakan sakit seperti itu ketika menstruasi? Kasian sekali." desisnya. Bergegas ia mengganti sprei nya lagi.
"Reyhan, kamu dari mana?" tanya Laura yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
Reyhan menatap Laura tanpa kedip yang hanya melilitkan handuk sebatas dada. Titik titik air yang masih membasahi wajah dan rambutnya yang masih basah membuat ia terlihat lebih segar. Apalagi dengan bau sabun yang masih menempel di tubuh Laura, membuat detak jantung Reyhan berpacu cepat.
"Kenapa kamu diam saja?" Laura bertanya lagi dengan jarak yang semakin dekat.
Bukannya menjawab, Reyhan justru menangkup wajah Laura dan mulai mendekatkan wajahnya. Laura mulai merasa tegang dan tak berani lagi menatapnya. Seketika ia pun menutup mata dan pasrah dengan apa yang akan Reyhan lakukan.
Melihat Laura yang justru memejamkan matanya, membuat Reyhan tak ragu untuk kembali mengecup bibir Laura yang ranum itu. Tangannya mengusap lembut badan Laura. Sekian menit hal itu terjadi, hingga membuat Laura mulai sesak nafas. Reyhan pun segera menghentikan aksinya.
"Maafkan aku yang tak bisa menahan...."
"Aku yang seharusnya minta maaf pada mu Reyhan." potong Laura.
Keduanya tersenyum mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
"Oh ya, bagaimana perutnya, apa masih sakit?" tanya Reyhan sambil mengusap perut Laura.
"Masih."
"Ya sudah ayo ke dokter sekarang. Aku ngga mau terjadi apa-apa pada Miss Laura. Apalagi melihat ada noda darah di sprei. Aku yang melihat ngilu sendiri."
"Ngga usah Reyhan. Nanti berangsur membaik kok. Kamu tenang saja." Laura tersenyum manis dan menggenggam tangan Reyhan.
"Hem... sepertinya ada yang kecanduan sama ciuman ku. Buktinya sudah mulai berani pegang pegang tangan ku duluan." kekeh Reyhan, melihat tangannya di pegang oleh Laura.
"Ish, kamu jangan ke ge-eran." Laura menyentak kan tangan Reyhan sambil mengerucutkan bibirnya.
Cup....
Sekali lagi Reyhan mengecup bibir Laura, lalu segera berjalan menuju kamar mandi membawa sprei kotor untuk di cuci. Yang membuat Laura membulatkan matanya dan tersenyum seketika.
__ADS_1