
"Kita harus melakukan kuret." kata dokter dengan wajah serius.
"Apa! Kuret?" serempak mereka mengulang kata itu.
"Iya kuret bapak, ibu semua. Karena janin yang ada dalam perut ibu sudah tidak berkembang. Bahkan pendarahan semakin banyak terjadi. Jika tidak segera di tangani, bisa membahayakan ibunya juga."
Tak bisa di bayangkan wajah mereka semua ketika dokter berkata demikian. Yang jelas, mereka sangat terpukul dengan apa yang baru saja di ucapkan dokter. Terlebih Laura, ia langsung menitikkan air mata dan tak lama kemudian wajahnya sudah basah oleh air mata.
Perlu menunggu waktu hampir 1 tahun untuk bisa hamil, dan ketika benih itu mulai tumbuh di rahim Laura, justru kenyataan pahit harus terjadi.
Ia semakin menyesal, kenapa tak bisa bersabar dalam menghadapi kehamilannya. Begitu pula dengan Reyhan yang langsung lemas. Hatinya bagai tersayat sembilu melihat Laura menangis. Ia menggenggam erat tangan Laura, untuk saling menguatkan.
"Sabar ya sayang, kita pasti bisa melewati ini semua." bisik Reyhan lembut di telinga Laura yang terus menangis.
"Sebelum nya, saya akan beri obat agar janinnya bisa keluar dengan sendirinya, setelahnya kami baru bisa membersihkan rahim ibu dengan kuret." imbuh dokter itu lagi.
Reyhan semakin terbayang rasa sakit yang harus Laura alami sehingga membuatnya bergidik ngilu.
Dokter segera keluar ruangan untuk mengambil obat yang di butuhkan, sementara suster masih menunggu pasien dengan sabar.
Tak lama kemudian, dokter sudah kembali ke ruangan dengan membawa obat yang di butuhkan. Ia menyuruh Laura untuk segera meminumnya.
Tangan Laura bergetar hebat ketika menerima butiran pil yang harus ia minum. Wajahnya pun kembali berlinangan air mata.
"Kamu harus ikhlas sayang. Pasti Allah ganti dengan yang lebih baik lagi." bisik bu Ani menenangkan hati anaknya. Begitu juga dengan pak Atmaja yang melakukan hal sama.
Laura perlahan mendekatkan obat itu ke mulutnya, lalu menelannya.
Dokter hanya mengijinkan Reyhan untuk menemani Laura, sehingga dengan berat hati kedua orang tua mereka harus keluar ruangan.
__ADS_1
Kurang lebih setengah jam, obat itu mulai bereaksi. Laura semakin menggelinjang karena rasa sakit yang mulai menyerangnya.
Dan lama kelamaan rasa sakit itu mulai bertambah hebat. Hingga kedua tangannya mencengkram tangan Reyhan yang duduk di sampingnya sampai berdarah.
Reyhan pasrah dan tak menghiraukan tangannya yang berdarah karena tertancap kuku kuku Laura. Karena rasa sakit yang ia rasakan pasti tak sebanding dengan rasa sakit yang tengah di rasakan oleh istrinya.
Tangan satunya bergerak lembut membelai wajah dan kepala Laura, sembari mulutnya komat-kamit merapalkan doa.
Hingga hampir 2 jam Laura merasakan sakit yang hebat, dan darah yang keluar semakin banyak. Dokter pun selalu mengeceknya. Hingga akhirnya janin dan ari arinya berhasil keluar sendiri. Reyhan sedikit bisa bernafas lega ketika janin itu berhasil keluar.
Dokter meletakkan bayi laki-laki yang panjang nya baru selengan tangan orang dewasa atau sekitar 10cm itu pada sebuah tempat yang sudah dipersiapkan.
Reyhan pun menatap bayinya yang sudah tak bernyawa dengan sedih. Lalu segera mengalihkan pandangannya ke istrinya yang terlihat lemah. Ia menghapus peluh yang membasahi wajahnya.
Lalu dokter segera membersihkan rahim Laura dengan kuret. Satu tangannya masuk ke dalam dan merogoh sisa sisa darah yang masih menempel di dalam rahimnya.
Reyhan yang melihat bergidik ngilu dan dengan susah payah menelan saliva. Tulang tulang persendian nya terasa lemas, dan serasa ingin pingsan.
Setelah hampir satu jam, akhirnya semua selesai. Peralatan segera di singkirkan. Dan untuk sementara waktu membiarkan Laura istirahat.
Reyhan menyuruh orang tuanya untuk menunggu Laura, sedangkan dirinya harus pulang untuk menguburkan bayi mungilnya yang sudah tidak bernyawa.
"Sabar ya non, semua ini ujian untuk menaikkan derajat kalian berdua." bisik bu Rohmah sambil mengusap kepala Laura yang masih terisak menangis.
"Iya sayang, betul apa yang di katakan oleh ibu mertua mu. Jadi kamu ngga boleh sedih seperti itu. Jika sudah saatnya nanti, pasti kamu akan merasakan nya. Jauh lebih indah dari apa yang kamu bayangkan." imbuh bu Ani.
"Selama ini papa ngga pernah melihat mu menangis sayang. Dan baru kali ini papa melihat mu seperti ini. Menangis lah, habiskan seluruh air mata mu. Tapi janji, setelah ini kamu ngga boleh menangis lagi. Roda kehidupan teruslah berputar. Akan ada saatnya kamu bisa merasakan kebahagiaan itu bersama keluarga kecil mu. Karena dulu mama dan papa pun juga seperti kamu."
Mereka terus memberi support pada Laura, agar ia tidak lagi bersedih dengan yang baru saja di alami nya.
__ADS_1
Sementara itu di jalan, sambil menyetir Reyhan menumpahkan tangisannya. Karena selama di rumah sakit, ia tak mungkin melakukan hal itu. Ia takut akan membuat Laura semakin down.
Sesampainya di pemakaman yang tak jauh dari rumahnya, ia segera mencangkul tanah yang masih kosong di samping makam bapaknya untuk menguburkan bayi mungilnya.
"Maafkan papa dan mama mu ya nak, yang tidak bisa menjaga mu dengan baik. Semoga kita bisa berkumpul di surganya Allah. Di surga nanti, pasti kamu akan bertemu dengan kakek, bermainlah dengan kakek, pasti kamu ngga akan merasakan kesepian."
Setelah mendoakan anaknya, lalu Reyhan mendoakan bapaknya. Selama ini Reyhan memang sudah jarang takziah ke kuburan bapaknya, karena segudang aktivitas nya yang cukup padat.
Sekian menit Reyhan menghabiskan waktunya untuk membersamai bayi yang baru saja ia kuburkan. Ia duduk di tengah-tengah antara makam bapaknya dan anaknya. Pandangan nya menatap ke 2 kuburan yang berada di sampingnya silih berganti.
Angin malam yang sepoi sepoi serta suara gemerisik daun menambah kesan pilu yang mendalam di hati Reyhan.
Pikirannya kembali terbayang akan segala hal menyedihkan yang telah ia lalui.
Rasa sakit karena kehilangan orang-orang yang sangat di cintai kembali menyeruak di hatinya. Dan ia beranggapan bahwa semua itu terjadi karena dirinya.
Kata 'Andai saja aku tidak melakukan ini dan ini, pasti semua tidak akan terjadi.' selalu menjejali pikiran Reyhan.
Ia kembali teringat dengan Laura, akhirnya dengan langkah gontai ia berjalan menuju mobilnya terparkir.
Tak lupa ia pulang ke rumah untuk membersihkan diri dan menunaikan sholat. Setelah ibu barulah ia kembali ke rumah sakit.
Tak lupa ia menelpon Bayu untuk pulang ke rumah, karena merasa kasian dengan Bima yang tidur sendiri tak ada temannya.
"Bima ngga apa-apa kok kak di rumah sendiri. Yang penting Miss Laura cepat sembuh dan bisa bikin adik lagi bareng kak Reyhan."
Entah bercanda atau tidak, yang jelas ucapan Bima yang terakhir membuat Reyhan menyunggingkan sedikit senyum.
'Tahu dari mana adik ku yang satu ini tentang cara bikin adik.' batin Reyhan.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️