Juragan Muda

Juragan Muda
195. Bertemu Choki


__ADS_3

3 bulan sudah sejak kejadian Laura keguguran. Ia tidak lagi di ijinkan mengerjakan pekerjaan rumah, dan tidak pula bekerja di showroom.


Ketika Reyhan keluar kota dalam rangka menghadiri seminar atau kunjungan kerja, ia mengajak Laura.


Tiap bulan keduanya juga tetap rutin pergi ke pondok pesantren atau panti asuhan untuk menyalurkan bantuan. Percaya atau tidak, dengan berbagi hati keduanya semakin tenang dan damai. Tentu saja kebaikan dunia juga mengikutinya, seperti omset yang terus mengalami peningkatan, dan keduanya semakin di sayang orang banyak.


Setiap weekend, keduanya jalan jalan ke tempat hiburan untuk sekedar menikmati waktu bersama. Karena setiap harinya, Reyhan selalu di sibukkan dengan 2 pekerjaan sekaligus.


Terkadang keduanya juga menikmati waktu pagi di akhir pekan dengan jalan-jalan atau gowes santai mengelilingi desa yang masih banyak terdapat sawah.


Suasana desa yang masih tampak asri, hamparan sawah yang terbentang luas, serta kicauan burung pagi yang saling bersahutan bagaikan fatamorgana yang indah. Yang tak pernah Laura jumpai di daerah tempat tinggalnya dulu.


Seperti pagi itu, setelah subuh, Reyhan mengecek kondisi sepedanya sebelum di pakai. Setelah semua ok barulah keduanya pelan pelan mengayuh sepeda meninggalkan pelataran rumah.


Terpaan angin pagi yang sedikit membuat dingin tak di hiraukan mereka. Laura menghirup dalam-dalam udara pagi yang masih segar. Baginya dengan menghirup udara segar, bisa membuat pikiran nya jauh lebih tenang.


Semua itu di lakukan Reyhan untuk Laura agar merasa lebih terhibur dan mengurangi tingkat kejenuhan nya.


Begitu pula dengan Reyhan yang melakukan hal sama, menghirup nafas dalam-dalam. Memang, untuk sebuah kesuksesan di butuhkan keuletan serta kerja keras yang tidak main-main. Di tambah lagi, ia masih mengerjakan pekerjaan rumah selama Laura sakit sampai sekarang.


Ketika di jalan, tak lupa keduanya menyapa para tetangganya yang kebetulan juga hendak berangkat ke sawah.


Tanpa terasa matahari mulai keluar dari ufuk timur. Menampakkan silau kemerahan nya yang tentunya membuat pandangan bertambah silau dan membuat keduanya mulai kegerahan.


"Kita istirahat dulu yuk?" ajak Reyhan karena melihat peluh membasahi wajah istrinya.


Ia tak mau sampai istrinya itu terlalu kelelahan. Laura mengangguk. Lalu Reyhan membelokkan sepedanya di pinggir sawah dekat anak sungai yang airnya mengalir cukup deras, karena semalam wilayah mereka habis di guyur hujan.


Laura duduk di pinggiran sawah dan anak sungai itu sambil selonjoran agar otot otot kakinya tidak kram. Sesekali ia juga menyeka peluh di dahinya. Kembali menghirup udara sedalam-dalamnya lalu menghembuskan perlahan.


Reyhan menyunggingkan senyum kala melihat Laura juga menyunggingkan senyum melihat pemandangan sekitar. Keduanya pun saling bercakap-cakap.


Setelah cukup beristirahat, keduanya kembali melanjutkan perjalanan mereka. Dan ketika di jalan melihat seorang penjual bubur ayam yang cukup ramai pembeli, keduanya pun memutuskan untuk mencoba.


Setelah berdesakan, akhirnya tiba giliran Reyhan untuk memesan makanan.


"Bubur nya 2 ya bang, sama teh hangat nya juga 2." pinta Reyhan.

__ADS_1


"Iya bang." jawab penjual bubur itu sambil menoleh ke arah pembelinya.


DEG


Pandangan mereka bertemu.


'Laura?' batin penjual bubur ayam itu.


"Choki." celetuk Laura.


"I_iya sayang. Eh, maksud ku iya Laura." dengan gelagapan Choki menjawab.


Sesaat Reyhan memandang ke arah keduanya yang terlihat sangat kaget. Selama ini mereka memang jarang ketemu, makanya Reyhan tak begitu mengenali wajah Choki. Berbeda dengan Laura dan Choki yang dulu sempat menjalin cinta. Tentunya masih hafal.


Ada perasaan malu di hati Choki karena sekarang ia berjualan bubur ayam. Jauh berbeda dengan Laura dan Reyhan yang terlihat seperti orang berkelas. Sehingga ia hanya tertunduk menahan rasa malu.


"Kok diam, ayo buruan bikin kan kami bubur." titah Reyhan menghilangkan kecanggungan di antara keduanya.


Setelah itu Reyhan mengajak Laura duduk di lesehan paling pinggir. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang Laura.


Choki yang melihat keduanya berjalan dengan mesra ikut merasa bahagia. Karena mereka adalah pasangan yang serasi. Dalam hati ia mendoakan segala kebaikan untuk keduanya.


Jantungnya berdetak lebih kencang kala hendak mengantar pesanan Laura. Setelah acara pernikahan itu, keduanya memang tak lagi pernah bertemu. Namun dengan berat hati, ia harus tetap mengantarkan pesanan itu, demi profesionalitas kerja.


Choki berjalan pelan membawa nampan yang berisi pesanan mereka dengan tangan yang sedikit bergetar.


"Ini pesanannya." hanya itu yang di ucapkan Choki lalu segera pergi.


"Kenapa dia jadi aneh begitu?" gumam Laura.


"Mungkin sungkan bertemu dengan kita Miss. Ya sudah, buruan di makan, keburu dingin."


Laura menganggukkan kepalanya, lalu keduanya mulai menikmati semangkuk bubur yang masih mengepulkan asap panas.


Keduanya terdiam sekian detik sambil merasakan.


"Enak juga ya." serempak keduanya memuji jualan Choki. Lalu kembali menyendok lagi.

__ADS_1


Seperti biasanya keduanya makan sambil bercakap-cakap. Selain memuji rasa masakan yang enak, keduanya juga memuji tentang pengunjung yang berjubel.


Padahal tempat jualan itu tak jauh dari rumah Reyhan, tapi ia baru tahu kalau ada bubur ayam yang seenak itu.


Sesaat Laura juga mengernyitkan dahi. Pasalnya saat wisuda, ia tidak bertemu dengan Choki. Entah apa yang terjadi pada Choki kala itu, yang jelas Laura tidak mau tahu.


Dan ketika keduanya bertemu dalam kondisi yang jauh berbeda seperti sekarang. Namun Laura tak mau menyimpulkan segala sesuatunya sendiri.


Matahari semakin menyengat, Reyhan segera mengajak pulang. Keduanya beranjak dari tempat duduknya untuk membayar terlebih dulu.


"Berapa totalnya?" tanya Reyhan sambil mengeluarkan dompetnya.


"Gratis untuk kalian berdua."


Reyhan dan Laura bengong mendengar ucapan Choki. Sehingga Choki mengulang perkataan nya.


"Sekali lagi aku katakan, kalau bubur tadi gratis untuk kalian."


"Tidak ada tulisan gratis, jadi kami harus tetap membayar." Reyhan mengambil selembar uang merah lalu meletakkan di meja.


"Aku mohon, bawalah uang ini lagi. Tiap weekend kesini lah, akan aku sediakan bubur yang spesial untuk kalian." ucap Choki sambil memasukkan uang itu ke dalam tas Reyhan.


"Apa kamu masih cinta dengan istri ku sehingga menggratiskan untuk kami."


Laura dan Choki tersentak kaget dengan ucapan Reyhan. Laura segera menggamit lengan Reyhan dengan erat, merasa tak enak di tuduh seperti itu oleh suaminya sendiri. Sedangkan Choki tampak menarik senyum.


"Aku menggratiskan untuk kalian, sebagai permintaan maaf ku atas segala kesalahan ku di masa lalu."


Reyhan dan Laura lega mendengarnya.


"Terima kasih ya, semoga usaha mu semakin sukses." balas Reyhan. Sedang Laura hanya diam saja.


Choki kembali memperhatikan keduanya yang berlalu pergi.


"Jika bukan karena kalian, mungkin aku masih menjadi parasit dalam hidup mu Laura. Aku bersyukur, Tuhan telah memisahkan kita walaupun dengan cara yang menyakitkan sehingga membuat ku menyadari semua kesalahan ku." gumamnya.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1



__ADS_2