
Sore itu Tiwi di suruh pulang sedikit lebih cepat karena Anisa meminta tolong padanya untuk mampir mengantar paket gitf pesanan langganan nya, yang akan segera di bagikan.
Tidak mungkin jika harus menggunakan jasa ekspedisi. Dan dengan sukarela Tiwi melaksanakan tugas itu.
Dengan mengendarai motornya, ia menuju ke alamat yang di beri Anisa.
Tiwi menghentikan laju motornya ketika sampai di rumah yang mewah. Ia lalu mencocokkan alamat dengan rumah itu. Berkali kali ia mengerjapkan matanya, menyaksikan rumah yang lebih bagus dari rumahnya.
Setelah yakin, jika itu memang benar alamat pemesan, ia mendekati pos satpam untuk menyatakan maksud kedatangannya.
Baru saja ia akan bertanya tiba-tiba sebuah mobil membunyikan klakson. Tiwi menoleh menatap mobil yang melaju dengan cepat memasuki pelataran rumah. Bergegas satpam segera membukakan pintu gerbang.
Setelah membuka pintu gerbang, satpam kembali menemui Tiwi dan menanyakan maksud tujuannya.
Melihat majikannya masih berjalan menuju pintu depan rumah, satpam itu berlari kecil mengejar nya. Ia memberi tahu perihal tamu yang datang.
Majikannya duduk di kursi teras dan menunggu tamu itu di sana. Sementara satpam kembali berlari menuju ke pos satpam. Ia segera menyuruh Tiwi untuk menemui majikannya di teras.
Matanya membulat ketika perlahan melihat wajah tamu itu.
'Dia.'
Tiwi pun juga membulatkan matanya ketika melihat seseorang yang duduk di teras.
"Pak dokter."
"Sudah mama ku bilang kan sama kamu. Jangan memanggil ku dengan sebutan pak kalau di luar rumah sakit."
"Iya maaf pak. Eh, maksudnya...dok." ucap Tiwi sambil meringis dan salah satu tangan menutup mulutnya.
Adam mempersilahkan Tiwi duduk, dan mengutarakan maksud tujuannya.
Entah siapa yang memulai duluan, setelah Tiwi mengutarakan tujuannya, keduanya malah terlibat percakapan yang cukup lama.
Mamanya Adam yang mendengar suara orang yang sedang bercakap-cakap, segera mendekati asal suara. Ia menyunggingkan senyum, kala melihat Adam dan Tiwi yang sedang bercakap-cakap.
Walaupun Adam selalu menaikkan nada bicaranya setiap kali berbicara dengan Tiwi, namun itu suatu kemajuan bagi mamanya yang melihat.
"Mama." seru adiknya Adam mengejutkan mamanya yang masih berdiri di samping pintu menguping pembicaraan Adam dan Tiwi. Sehingga membuat keduanya terperanjat kaget dan tampak tersipu malu.
__ADS_1
"Ooh, jadi mama sedang lihat kak Adam pacaran?" celetuk adiknya Adam.
Tiwi seketika mendongakkan kepalanya, sedangkan Adam langsung melotot mendengar ucapan adiknya yang seenaknya itu.
Mamanya Adam yang mengerti kecanggungan di antara mereka segera mencairkan suasana dengan memperkenalkan adik Adam pada Tiwi, dan menanyakan maksud kedatangan Tiwi.
"Saya Andira mbak, adik kak Adam. Mbak pacar nya kak Adam ya?" Andira mengulurkan tangannya pada Tiwi, dan segera di balas oleh Tiwi.
Adam mempelototi adiknya karena berbicara seperti itu, namun adiknya justru menyunggingkan senyum.
"Saya Tiwi mbak. Saya kesini mau mengantarkan pesanan Bu Ningrum. Katanya paket gitf nya masih kurang."
Setelah Tiwi bersalaman dengan Andira, ia bersalaman dengan Bu Ningrum. Lalu menyerahkan paket yang tadi ia bawa.
Bu Ningrum segera mengecek paket itu lalu menyuruh Adam membayar dengan uang cash. Adam pun langsung merogoh dompetnya dan mengeluarkan 10 lembar uang merah. Dan Tiwi segera menghitungnya.
"Maaf, mas. Ini kelebihan 2 lembar." ucap Tiwi sambil menyodorkan kembali uang lebihan itu.
"Ngga apa-apa, buat ganti beli bensin mu."
"Kak Adam pelit amat, masa cuma ngasih 2 lembar." cicit Andira. Adam pun langsung membuka kembali dompet nya dan mengeluarkan 2 lembar uang merah lalu menyerahkan pada Tiwi. Namun Tiwi menolaknya.
Tiwi masih ragu menerima uang itu. Karena ia tak mau di kasihani oleh siapa pun juga.
"Aku ngga bermaksud merendahkan mu. Terima saja, aku ikhlas kok." imbuh Adam meyakinkan.
"Terima kasih. Semoga Allah membalas kebaikan ibu Ningrum sekeluarga."
Setelah sedikit berbasa-basi akhirnya Tiwi segera berpamitan pulang sambil menyalami mereka.
"Mbak, cepat nikah sama kak Adam ya. Biar aku juga bisa segera menikah dengan tunangan ku."
Langkah Tiwi seketika terhenti ketika Andira berkata seperti itu.
"Maaf mbak, tapi saya bukan pacar nya kakak mbak Andira. Saya pamit dulu karena sudah sore. Assalamualaikum."
Setelah itu, ia segera melajukan motornya keluar dari pelataran rumah mewah itu. Mereka bertiga berdiri memperhatikan sampai bayangan Tiwi menghilang.
"Apa kakak malu memiliki pacar seorang karyawan toko? Kenapa sejak tadi diam saja?"
__ADS_1
"Dira, bukan kah tadi dia sudah bilang, jika ia bukan pacar ku."
"Mungkin kalian belum lama jadian, jadi ya gitu, masih malu-malu." kekeh Andira.
Adam menggerutu kesal, lalu masuk ke dalam rumah. Sedangkan bu Ningrum menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua anaknya.
Sesampainya di kamar, Adam segera menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikiran nya melayang karena ucapan adiknya yang menyebut Tiwi sebagai pacarnya.
Padahal sejak dulu ia tak pernah memikirkan wanita. Hanya Laura yang mampu mengetuk pintu hatinya. Namun tak mungkin baginya untuk mendekati seorang wanita yang sudah bersuami.
Ia sudah berusaha untuk menghilangkan rasa itu. Sampai akhirnya Tiwi datang dan beberapa hari semenjak keduanya selalu tak sengaja bertemu, ia merasakan perasaan aneh di hatinya. Perasaan sebal kesal serta gemas bercampur jadi satu.
Belum lagi adiknya yang menggodanya serta mamanya yang selalu menyudutkan dirinya untuk segera menikah, membuatnya semakin gemas dengan Tiwi. Kenapa harus di pertemukan dengan wanita yang selalu menyebutnya dengan panggilan pak. Padahal keduanya terlihat seumuran.
"Semoga, kelak aku ngga memiliki pasangan seperti wanita tadi. Sudah tahu nama ku, tapi ngga pernah memanggil nama ku. Malah menyebut ku pak, memang aku bapaknya." gumam Adam sebelum ia ketiduran.
Sedangkan di tempat lain, yakni di rumah Tiwi. Kedua orang tuanya sudah menyambutnya di teras rumah. Karena tak seperti biasanya ia pulang sesore itu.
"Assalamualaikum." ucap Tiwi sambil menyalami kedua orang tuanya satu persatu.
"Wa'alaikumussalam." balas keduanya.
"Darimana saja kamu Wi? Tumben sekali pulangnya sore."
"Habis mampir nganter pesanan pembeli Bu."
"Ya sudah, kamu segera mandi karena sebentar lagi maghrib." bapak nya mengingatkan.
"Baik pak." Tiwi mengangguk lalu segera masuk ke dalam.
Setelah mandi dan selesai sholat, Tiwi membaca Al Qur'an. Ia menyenderkan kepalanya pada pinggir ranjang tempat tidur. Pikiran nya melayang memikirkan ucapan Andira.
Selama berpisah dengan Bayu, ia tak lagi memikirkan soal lelaki dan merasa begitu tenang dengan kesendiriannya. Tapi belakangan ini ketika bertemu dengan Adam, hatinya merasakan sebal dan kesal pada lelaki itu.
"Semoga kelak aku ngga mempunyai suami menyebalkan seperti pak dokter itu." gumam Tiwi sebelum ia menutup mata tidur.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1