
Hari Minggu yang di nantikan pun tiba. Andre mengendarai motor menuju rumah Reyhan. Sesampainya di rumah Reyhan, ternyata ia sudah siap menunggu di teras rumah.
Reyhan menyuruh Andre menunggunya sebentar, karena ia akan pamit terlebih dulu pada Laura. Istrinya sengaja tidak ikut, karena merasa tak nyaman jika satu mobil dengan teman Reyhan. Ia lebih memilih di rumah menemani Zakira.
"Aku pamit dulu ya sayang. Nanti pulang mau di bawakan apa?" Kata itu yang selalu di ucapkan tiap kali Reyhan menawarinya jajanan. Sehingga membuatnya semakin terlihat cubby karena banyak makan.
"Apa saja yang penting kita makan bersama." balas Laura.
"Baiklah, jika itu mau mu."
Cup... Cup.... Cup
Tak lupa Reyhan menghujani wajah Laura dengan kecupan yang bertubi-tubi karena gemasnya. Laura tersenyum manis lalu membalas melakukan hal yang sama.
Andre menunggu Reyhan dengan duduk di kursi teras. Pikirannya mulai mengelantur karena Reyhan tak kunjung keluar.
"Kamu pamitan atau tiduran dulu sih? Lama bener?" gerutu Andre ketika melihat Reyhan yang baru saja keluar dari rumah.
"Kamu iri kan?" balas Reyhan sambil menyunggingkan senyum.
Keduanya lalu berjalan menuju mobil pick up milik Reyhan. Ia biasa membawa mobil itu untuk mengangkut barang barang yang akan di sedekahkan.
Sepanjang perjalanan Andre banyak bertanya tentang panti dan pondok yang sering Reyhan kunjungi. Ia juga banyak bertanya tentang usaha yang di tekuni Reyhan. Dan masih banyak lagi hal yang membuat keduanya terus bercakap-cakap sampai akhirnya keduanya tiba di panti asuhan terdekat.
Bergegas keduanya turun dari mobil dan berjalan menuju kantor. Reyhan segera mengutarakan maksud kedatangannya pada pimpinan panti.
Ia juga mengambil amplop dari dalam tasnya dan menyerahkan pada pimpinan panti tersebut. Andre pun juga mengeluarkan amplop dan menyerahkannya.
Setelah cukup bercakap-cakap Reyhan dan Andre berpamitan pulang. Kardus kardus yang berisi sembako untuk panti tersebut, segera mereka turunkan.
Tak lupa mereka saling melempar senyum sebelum mobil melaju keluar meninggalkan pelataran panti.
Mereka pun segera menuju dari satu panti ke panti berikutnya. Dan dari pondok satu ke pondok berikutnya.
Andre tampak geleng-geleng kepala, melihat tingkah sahabatnya. Tak hanya memberi sembako, tapi juga memberi sejumlah uang. Walaupun ia tak tahu berapa nominalnya, yang pasti isinya cukup banyak, terbukti dari bentuk amplop itu yang cukup tebal.
__ADS_1
"Kamu ngga rugi apa, tiap bulan selalu mengeluarkan uang sejumlah itu. Bisa buat beli mobil lagi sih kalau menurut ku. Atau bikin rumah."
Reyhan tersenyum mendengar celotehan sahabatnya.
"Kamu lupa, kalau aku mau mobil baru, tinggal ambil saja di showroom papa. Kalau mau bikin rumah, papa melarang ku, karena rumah mereka akan di wariskan kepada kami." Reyhan terkekeh sambil menjelaskan.
"Tapi, bukan karena semua itu, aku terus menyedekahkan sebagian harta ku. Aku menyedekahkan harta yang aku punya, karena aku takut hisabnya. Orang kaya masuk surga nya paling lama, karena setiap harta yang di miliki di periksa dulu dari mana saja di dapatkan, di gunakan untuk apa saja. Tapi aku juga ngga menolak jika di beri kekayaan. Karena dengan kita kaya, bisa lebih mudah membantu siapa pun yang kekurangan. Jadi intinya kita harus cermat dan tepat dalam mengelola harta kita. Agar tidak menjadi bumerang kelak di akhirat."
Andre menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum penuh takjub dengan penjelasan Reyhan.
Sekarang dia tahu apa maksud Reyhan melakukan itu semua. Dalam hati, Andre juga berniat untuk meniru apa yang di lakukan oleh Reyhan.
Tanpa terasa mereka akhirnya sudah sampai di pondok terakhir, yaitu pondok milik haji Dahlan.
"Sepertinya aku pernah kesini." gumam Andre sambil memindai pemandangan pondok itu.
"Oh ya, kapan?"
"Sewaktu nganter mobil tuh cewek." aku Andre tanpa sadar, hingga membuat Reyhan mengernyitkan dahi.
"Cewek itu? Apa yang kamu maksud Rosyidah?" Reyhan tampak tersenyum jahil. Namun Andre hanya mengedikkan bahu, lupa namanya.
"Assalamu'alaikum." salam keduanya yang berdiri di samping pintu.
"Kenapa harus di samping pintu Rey?"
"Itu namanya adab, supaya kita tidak secara langsung melihat apa yang terjadi di dalam rumah pemilik nya." Andre manggut-manggut memahami.
"Wa'alaikumussalam." balas Rosyidah dari dalam. Bergegas ia meletakkan sapunya dan mendekat ke arah pintu untuk melihat tamu.
Jantung Andre berdebar ketika memperhatikan Rosyidah. Karena dia adalah wanita yang dulu pernah di tolongnya. Rosyidah pun sama, ia juga masih ingat dengan Andre. Mereka pun saling melempar senyum.
"Maaf, pak haji Dahlan ada Ros?" tanya Reyhan.
"Ada, mari masuk. Silahkan duduk."
__ADS_1
Setelah mereka masuk, Rosyidah segera berlari kecil ke belakang memanggil abinya yang ternyata belum selesai mandi. Rosyidah segera membuatkan minuman dan menyediakan cemilan untuk tamunya.
Sementara sejak Rosyidah berjalan ke belakang tadi, Andre terus memperhatikannya.
Tak lama kemudian, haji Dahlan menemui tamunya di ikuti oleh Rosyidah yang membawa senampan hidangan. Setelah meletakkan hidangan Rosyidah segera berlalu ke belakang.
Sementara itu, haji Dahlan seperti biasa menyambut Reyhan dengan hangat dan ramah. Setelah bersalaman dengan Reyhan, haji Dahlan bersalaman dengan Andre. Tampak ia mengernyitkan dahi sembari mengingat wajahnya.
"Bukankah kamu yang menolong putri saya, sewaktu bannya bocor dulu?" tebak haji Dahlan.
Andre pun mengangguk, lalu keduanya saling melempar senyum.
Haji Dahlan mempersilahkan tamunya untuk menikmati hidangan sambil bercakap-cakap. Karena haji Dahlan baru sekali bertemu dengan Andre, ia lebih banyak bertanya tentang nya.
Sesaat Andre merasa speechless di ajak bicara oleh orang yang lebih segala-galanya darinya. Namun haji Dahlan yang selalu bersikap ramah, membuat Andre perlahan lebih tenang. Percakapan beda generasi itu berlangsung dengan cukup seru sehingga membuat mereka lupa waktu.
Hari semakin gelap, sebelum Reyhan berpamitan pulang, ia kembali mengambil amplop dari dalam tasnya.
Sedangkan Andre hanya diam saja, karena uang yang di bawa sudah habis duluan. Haji Dahlan menerima uang itu dan tak lupa mendoakan kebaikan untuk mereka. Akhirnya mereka pun berpamitan pulang.
Ketika sudah di luar, Andre sedikit berbisik pada Reyhan.
"Kamu masih bawa uang ngga?"
"Buat apa?" balas Reyhan santai.
"Jangan kenceng kenceng bicaranya dan jangan banyak tanya. Uang ku sudah habis sejak di panti asuhan kedua tadi. Aku mau pinjam uang mu untuk sedekah di sini, nanti aku ganti uangnya."
Reyhan segera membuka dompetnya dan tampak berjejer rapi kartu sakti serta lembaran uang merah yang membuat Andre melongo.
"2 juta saja, secepatnya aku kembalikan."
Reyhan segera mengambil uangnya dan menyerahkan pada Andre yang langsung di sambut dengan senyum merekah. Ia pun membalikkan badannya menuju ke arah haji Dahlan yang masih berdiri di ambang pintu.
"Maaf pak, saya punya sedikit rezeki, mohon di terima, semoga bermanfaat untuk pondok ini." ucap Andre dengan menahan malu. Namun haji Dahlan tampak tersenyum lalu mendoakan kebaikan untuknya.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️