Juragan Muda

Juragan Muda
85. di toko Ar Rahmah


__ADS_3

"Astaghfirullah.... Kenapa pikiranku jadi belok ke dia?" gumam Reyhan, lalu mendengus kesal.


Tanpa Reyhan sadari ada dua pasang mata indah yang tak berkedip menatapnya.


DEG!


'Bukankah dia adalah lelaki yang menolongku ketika di Mekkah dulu?' batin Anisa, lalu segera menyembunyikan dirinya dekat dengan deretan baju.


DEG!


Begitu juga dengan Tiwi yang baru saja keluar dari toilet. Langkahnya seketika terhenti ketika melihat Reyhan sudah berdiri di meja kasir. Tiwi terpaksa bersembunyi agar tidak bertemu dengan Reyhan.


'Kenapa dunia sesempit ini? Harusnya aku tak bertemu dengan dia lagi. Sudah cukup aku menghancurkan hubungan persaudaraan diantara mereka.' batin Tiwi.


Setelah Reyhan memilih beberapa potong baju gamis dan Koko, ia segera menuju meja kasir.


"Semua totalnya 4 juta kak." kata Anya sambil tersenyum manis. Reyhan segera merogoh dompet nya.


'Astaghfirullah, semua uang sudah terlanjur aku setorkan ke bank. Mana ngga cukup lagi uang cash nya.' batin Reyhan ketika mengamati isi dompetnya.


"Mbak, saya bayar nya lewat non tunai bisa kan? pakai kartu ATM." tanya Reyhan.


"Bisa kak. Silahkan tekan nomor pin nya."


"Terimakasih kak." kata Reyhan setelah menyelesaikan pembayaran nya.


Anya tak berkedip menatap punggung Reyhan yang berjalan keluar toko.


Setelah mobil Reyhan keluar dari pelataran toko, Anisa muncul dari balik deretan baju gamis. Begitu juga dengan Tiwi yang muncul dari dekat toilet.


"Aduh, mbak Anisa sama mbak Tiwi kemana saja sih? Tau ngga, tadi cowok ganteng itu kesini lagi." seru Anya, tangannya terkatup di depan dada sambil mengerlingkan matanya.


Anisa dan Tiwi yang melihat kelakuan Anya itu hanya bisa tersenyum.


'Ternyata Anya juga mengagumi lelaki itu, sebagaimana aku pun juga mengaguminya.' batin Anisa.


"Semua laki-laki kan ganteng Nya." kata Tiwi.


"Tapi ini tuh gantengnya kelewatan mbak Tiwi. Aduh, lupa lagi mau tanya siapa namanya." Anya memanyunkan bibirnya.


"Semoga secepatnya dia datang ke toko ini lagi." kata Anya terus terang. Dalam hati Anisa, dia mengaminkan doa Anya.


'Semua terjadi atas kehendak mu ya Allah. Dua kali aku bertemu dengan nya dalam rasa yang sangat sulit untuk diartikan. Semoga ini bukan kebetulan semata.' batin Anisa.


_____


Sesampainya dirumah megah pak Atmaja, Reyhan segera turun dan mendekat ke gerbang.


Dengan tergopoh-gopoh pak satpam mendekati Reyhan.


"Mas yang waktu itu ya?" kata satpam, lalu dengan sigap membukakan pintu gerbang, padahal Reyhan belum menjawab.

__ADS_1


"Lain kali, bunyiin klakson saja mas, ngga usah turun dari mobil."


"Iya pak, terimakasih."


Reyhan segera memasukkan mobilnya.


Ting tong......


Reyhan menekan bel nya beberapa kali.


'Duh, kenapa aku jadi deg degan seperti ini? Aku kesini cuma mau ngasih oleh-oleh saja, bukan ingin ketemu dengan Miss Laura. Bukan.' batin Reyhan. Tangannya terasa dingin.


Sekali lagi Reyhan menekan bel, dan akhirnya pintu terbuka.


Pandangan Reyhan langsung tertuju pada tuan rumah yang menatapnya dengan angkuh.


'Ya Allah, dia..... Kenapa dia menyambut ku dengan pakaian seperti itu?' batin Reyhan lalu segera mengalihkan pandangannya.


Tak berani menatap Laura lama-lama. Karena saat itu Laura memakai short pant yang panjangnya tak lebih dari 5cm dan tang top.


"Kenapa diam saja, ayo masuk." ajak Laura.


"Apa kamu ngga kedinginan? Kenapa malam malam pakai baju seperti itu?" tanya Reyhan tapi pandangannya lurus ke depan melihat pemandangan di depan rumah Laura.


Mendengar Reyhan bicara seperti itu, seketika Laura melihat kembali penampilan nya saat ini. Sebagai orang kota dan anak orang kaya, hal itu adalah hal yang biasa.


Tapi bagi Reyhan melihat Laura yang selalu tampil terbuka membuat jiwa kelaki-lakiannya muncul, dan seketika harus menundukkan pandangan nya. Tak ingin terus terusan berzina mata.


Laura yang kesal karena diabaikan oleh Reyhan, dengan sengaja menarik tangan Reyhan untuk segera masuk ke dalam rumah.


Jantung Reyhan berpacu sangat cepat, tangannya kembali terasa dingin karena sentuhan tangan Laura.


"Kamu sungguh menepati janjimu Rey?" kata pak Atmaja dengan seulas senyum, mendekati Reyhan dan Laura yang berdiri dekat meja tamu.


"Alhamdulillah iya pa. Ini, untuk papa sekeluarga." jawab Reyhan sambil menyerahkan beberapa paper bag.


"Terimakasih sekali, tapi ini terlalu banyak." ujar pak Atmaja sambil menerima oleh-oleh itu.


"Tidak apa-apa pa, sengaja saya bawa banyak, agar asisten rumah tangga juga kebagian."


"Oh baiklah, pasti papa akan sampaikan ke mereka juga."


Pak Atmaja mempersilahkan Reyhan duduk dan mulai mengobrol. Sedangkan Laura disuruh papanya untuk membantu mamanya menyiapkan makan malam.


"Permisi pak, makanannya sudah siap. Disuruh ke ruang makan sekarang." kata bibi.


"Iya bi." pak Atmaja mengangguk.


"Ayo Rey kita makan." ajak pak Atmaja sambil bangkit berdiri.


Sayup-sayup, Reyhan mendengar suara adzan sholat isya'.

__ADS_1


"Maaf pa, bolehkah saya ke masjid dulu melaksanakan sholat isya' sebelum kita makan?" tanya Reyhan hati hati takut menyinggung pak Atmaja.


Mendengar permintaan Reyhan, pak Atmaja malah tersenyum. Karena selama ini dia memang jarang sekali sholat. Setahun sekali ketika hari raya idul Fitri tiba.


"Kita sholat berjamaah disini saja, biar papa panggil mama dan Laura."


"Apa! Sholat berjamaah?" bu Ani dan Laura memekik bersamaan.


"Iya, ayo kita sholat bersama." ajak pak Atmaja sekali lagi.


"Kalau boleh saya juga mau ikut tuan, biar dapat pahala dobel." bibi mengusulkan diri.


"Boleh bi, ayo segera cuci muka dulu." titah pak Atmaja.


"Cuci muka? Wudhu kali maksud bapak." bibi mengerutkan keningnya.


"Iya itu, maksudnya." pak Atmaja tersenyum malu.


Semua orang sudah berkumpul diruangan yang cukup luas itu.


"Reyhan kamu jadi imamnya ya."


"Lhoh, tapi kan lebih tua papa, harusnya papa yang jadi imam." protes Reyhan.


"Tidak apa-apa, kami ingin dengar suara kamu. Iya kan ma, Laura, bibi?" pak Atmaja menoleh pada makmum perempuan itu. Lalu mereka kompak mengangguk, kecuali Laura yang justru cemberut.


Reyhan akhirnya maju selangkah dan mulai mengimami.


"Allahuakbar." Reyhan mulai ibadah sholat itu dengan takbiratul ihram.


Suara Reyhan mengalun dengan merdu dan menentramkan jiwa selama membaca setiap bacaan sholat. Membuat para makmum seakan terhipnotis. 4 rekaat sholat isya' akhirnya selesai.


Mereka tak menyangka jika Reyhan memiliki suara yang sangat bagus. Dan ini adalah pertama kali bagi mereka melaksanakan sholat berjamaah.


Ada desir aneh di dada Laura semenjak takbiratul ihram sampai salam. Laura melihat Reyhan yang masih khusyuk berdoa.


'Kenapa suaranya begitu menyejukkan hati? Suara yang tak pernah aku dengar selama ini.' batin Laura, tanpa sadar matanya siap menjatuhkan kristal bening.


"Maa syaa Allah den, bagus pisan suaranya. Apa jadi imam masjid?" puji bibi dengan mata yang berbinar. Pak Atmaja Atmaja dan bu Ani juga mengangguk membenarkan perkataan art nya itu.


"Bibi bisa saja, suara cempreng pakai dipuji-puji segala." jawab Reyhan merendah.


"Sumpah lho den, suaranya bagus. Mirip yang di tipi tipi itu."


"Aamiin. Terimakasih doanya bi." balas Reyhan.


"Apa kamu mau mengajari papa tentang ilmu agama?" semua orang menatap ke arah pak Atmaja.


Hai readers setia mas Reyhan, semoga selalu diberi kesehatan dan kelancaran rezeki ya🤲


Tetap dukung mas Reyhan dengan kasih like bunga vote dan favorit ❤️❤️

__ADS_1


Mampir yuk ke karya teman author yang kece abiss sambil menunggu author update bab selanjutnya 😉😉



__ADS_2