
Hal yang sama juga tengah di rasakan oleh keluarga Tiwi. Mereka para orang tua sangat antusias menyambut kelahiran cucu pertama mereka.
Sedangkan, kedua orang tua Anisa sangat terkejut sekaligus bahagia, dengan kabar kehamilan anak satu-satunya. Pasalnya anak pertama Anisa masih sangat kecil. Meskipun begitu, kedua orang tua Anisa, siap merawat Zakira kelak ketika Anisa melahirkan.
Dan, yang paling terkejut adalah Bu Rohmah, ia tak menyangka jika menantunya bisa hamil dalam waktu yang bersamaan.
Bagai menerima mukjizat ketika mendengar kabar kehamilan Laura. Karena itu adalah hal yang sudah lama dinantikan olehnya. Bu Rohmah juga tak menyangka, Bayu akan memberikannya cucu lagi.
"Alhamdulillah ya Allah atas anugerah ini." ucapnya penuh rasa syukur.
_____
Hari yang ditentukan untuk syukuran akhirnya tiba. Keempat pasangan itu tak menyangka jika hari syukuran mereka sama, sehingga tidak bisa saling menghadiri.
Meskipun begitu, mereka tetap saling mendoakan. Mereka pun juga mengundang tetangga, rekan kerja dan anak-anak panti.
Acara itu berlangsung penuh khidmat, para hadirin mendoakan segala kebaikan untuk ibu dan calon bayi.
_____
Selama kehamilan, para suami begitu memperhatikan istri dan calon bayi mereka. Sebelum berangkat kerja dan saat sebelum tidur, mereka juga mengusap dan mengecup perut buncit istrinya.
Apapun yang menjadi keinginan para istri, selalu mereka turuti. Tak lupa, setiap bulan mereka rutin mengecek kondisi kandungan.
Walaupun sangat penasaran dengan jenis kelaminnya, mereka tidak bertanya soal itu pada dokter saat melakukan USG. Biarlah menjadi kejutan bagi semuanya saat lahir nanti.
_____
Tidak terasa, waktu cepat sekali berlalu. Kini usia kandungan mereka sudah memasuki bulan ke 9. Itu artinya, detik-detik menegangkan menanti kelahiran buah hati mereka.
Malam itu, Laura terbangun dari tidurnya karena merasakan perutnya mulas. Ia pun berjalan mengendap-endap ke kamar mandi karena tak ingin membangunkan Reyhan yang tampak tertidur pulas. Ia terkejut ketika melihat noda darah di pakaian dalamnya.
Sedangkan Reyhan yang menggeliat dan meraba sisinya namun tak menemukan istrinya segera mencarinya, di bawah tempat tidur, dalam lemari dan akhirnya ia melihat wajah istrinya yang baru keluar dari kamar mandi.
"Sayang kamu kenapa?" ucap Reyhan dengan panik melihat Laura berjalan pelan sambil meringis. Sebelah tangan memegang belakang pinggang, dan tangan satunya memegang perutnya yang besar.
"Perut ku mules sekali mas. Dan pakaian dalam ku ada noda darah." ucap Laura sambil meringis menahan sakit.
"Apa! Darah?" ulang Reyhan. Mendengar kata darah membuatnya cemas.
Tanpa pikir panjang Reyhan segera membopong tubuh Laura keluar kamar.
"Aku ngga ingin terjadi apa-apa dengan kalian berdua, kita harus segera ke rumah sakit." ucap Reyhan sambil berjalan cepat menuruni anak tangga.
"Papa, mama, Reyhan berangkat ke rumah sakit sekarang. Miss Laura mau melahirkan." teriak Reyhan dari balik pintu.
Mertuanya yang tengah terlelap tidur, langsung terkejut mendengar suara teriakan Reyhan, dan seketika keluar kamar.
Mereka segera menyusul Reyhan yang sudah berjalan keluar.
__ADS_1
"Tunggu Reyhan." teriak keduanya.
Mama segera membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Reyhan, lalu ia mengikuti masuk dan memangku kaki Laura sambil memijitnya. Sedangkan pak Atmaja segera duduk di kemudi.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi agar segera sampai ke rumah sakit.
Desisan dan erangan Laura, membuat Reyhan semakin tak tega. Rasanya ia ingin sekali menggantikan posisi istrinya itu. Namun tak mungkin terjadi. Hingga sesekali Reyhan mengusap peluh yang membanjiri wajah istrinya.
"Mas, tolong telepon ibu. Mintalah doa padanya, dan sampaikan permintaan ku padanya, jika selama menjadi menantunya, aku banyak berbuat salah."
Reyhan dengan patuh mengeluarkan handphone dari saku celananya.
_____
Dan di tempat lain, situasi yang tegang juga tengah terjadi.
"Mas, perutku mulas sekali." desis Anisa. Ia yang tengah menyusui Zakira, terpaksa menjauhkan bayi itu sehingga bayinya menangis histeris.
Ibunya yang tidur di kamar sebelah, segera menggedor pintu kamar Bayu untuk melihat apa yang terjadi. Bayu segera membuka pintu kamarnya dan menyerahkan Zakira pada ibunya, lalu ia segera menolong Anisa.
"Apa kamu mau melahirkan sayang?" tanya Bayu dengan cemas.
"Sepertinya begitu mas." ucap Anisa pelan sambil meringis.
Dengan sigap, Bayu segera mengangkat tubuh Anisa menuju mobilnya, dan segera melajukan menuju rumah sakit.
"Hati-hati Bay bawa mobilnya." teriak Bu Rohmah sambil menatap kepergian Bayu.
Baru saja Bu Rohmah mengunci pintu, terdengar suara dering handphone miliknya. Bergegas ia ke kamar mengambil benda pipih itu. Ia mengernyitkan dahi ketika nama Reyhan yang memanggil. Bergegas ia menekan tombol hijau.
"Hallo, assalamu'alaikum. Ada apa nak?" kekhawatiran mulai singgah di hati bu Rohmah.
"Wa'alaikumussalam Bu. Mohon doanya ya Bu, ini Miss Laura mau melahirkan. Aku sebagai suaminya, memohonkan maaf untuknya, jika selama menjadi menantu, terselip salah dan khilaf."
"Apa! Non Laura juga mau melahirkan?" ucap Bu Rohmah dengan syok. Ia tak menyangka jika kedua menantunya akan melahirkan bersamaan.
"Reyhan, non Laura tidak pernah melakukan kesalahan pada ibu, jadi ngga ada yang perlu dimaafkan. Semoga diberi kemudahan dan kelancaran dalam proses melahirkan ya nak. Ibu akan segera menyusul kesana nanti."
Setelah percakapan singkat itu, panggilan telepon pun berakhir.
_____
"Sayang, kamu sudah siapkan?" bisik Andre di telinga Rosyidah.
Istrinya itu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Andre bersiap untuk memasukkan senjatanya. Namun tiba-tiba,
Arghhh......
"Pelan-pelan mas, sakit." jerit Rosyidah.
__ADS_1
Andre mengernyitkan keningnya, karena belum sempat memasukkan senjatanya, istrinya sudah menjerit kesakitan.
"Sayang, tapi aku belum memasukkan senjata ku."
"Lalu, kenapa perut ku sakit?"
Rosyidah terus mengerang kesakitan.
"Andre, Rosyidah, apa yang terjadi?" teriak Abi dan umi sambil menggedor pintu kamar.
"Rosyidah sakit perut umi, Abi." balas Andre sambil berteriak.
"Cepat buka pintunya." balas Abi dan umi lagi.
"I_iya, tunggu sebentar." Andre kalang kabut, segera membantu mengenakan pakaian Rosyidah, dan memakai pakaiannya sendiri.
Abi dan umi segera menerobos masuk ketika pintu di buka.
"Sepertinya Rosy mau melahirkan bi, ayo cepat kita bawa ke rumah sakit."
Andre terkejut ketika mendengar ucapan uminya. Ia pun segera membopong Rosyidah, sedangkan abi menyiapkan mobilnya.
Mereka pun segera membawa Rosyidah ke rumah sakit.
_____
"Sayang, kenapa kamu bolak-balik ke kamar mandi melulu?" Adam sampai heran dengan kelakuan Tiwi.
"Aku ingin pipis terus mas, perut ku juga mules."
Adam langsung meletakkan bukunya, dan mengajak Tiwi ke rumah sakit.
"Sudah malam, kalian mau kemana?" tanya mama yang kebetulan berpapasan dengan keduanya di tangga.
"Sepertinya Tiwi mau melahirkan ma. Adam mau bawa ke rumah sakit."
"Melahirkan?" ulang mamanya, dan Adam mengangguk.
"Mama ikut Ndre." mama pun segera membantu memapah Tiwi.
Adam segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di belakang, mamanya menyangga badan Tiwi sambil mengusap perutnya.
"Mas, jangan cepet-cepet dong, nanti aku bisa mabok perjalanan." protes Tiwi.
Adam pun segera memelankan laju mobilnya. Namun selang beberapa menit, Tiwi kembali memprotesnya.
"Bisa cepat sedikit ngga sih mas? Anak kita sudah hampir mbrojol, kenapa kamu lambat sekali nyopirnya? Nanti kalau lahiran di jalan gimana?"
Adam mengernyitkan dahinya mendengar omelan istrinya. Walaupun bingung, akhirnya ia juga kembali menuruti permintaan istrinya, menambah laju kecepatan mobilnya.
__ADS_1
Dan, Tiwi untuk yang kesekian kalinya kembali mengomel, kadang ingin menambah laju kecepatan mobil, kadang juga ingin memelankan nya.
Dengan sabar dan patuh, Adam menuruti permintaan istrinya itu, hingga akhirnya sampai di rumah sakit.