Juragan Muda

Juragan Muda
23. POV Tiwi


__ADS_3

Flash back on


"Pak, kok sudah pulang?" tanya ku ketika jarum jam menunjukkan pukul empat sore, dan aku baru menyapu halaman yang sudah tampak kotor lagi karena banyak nya daun yang berguguran. Aku pun merasa heran kenapa bapak pulang terlihat sangat bahagia.


"Iya nak, Alhamdulillah dagangan bapak sudah habis." jawab bapak dengan masih diiringi senyum.


Setelahnya beliau masuk, dan aku bergegas menyelesaikan pekerjaan ku. Barulah nanti bisa mendengarkan cerita bapak mengenai dagangan nya.


Bukan nya aku tak senang melihat dagangan bapak habis, tapi biasanya bapak akan pulang larut malam dan itupun masih tersisa banyak. Sehingga terpaksa harus dijual keesokan harinya. Sedih jika membayangkan saat saat itu.


Setelah tugas ku selesai, aku segera melangkah ke dapur untuk sekedar membuatkan teh untuk bapak. Tapi, loh, kok bapak mencuci panci yang biasa digunakan untuk jualan,ternyata memang benar dagangan bapak sudah habis. Baru aku bisa benar benar yakin dengan ucapan bapak yang tadi.


"Alhamdulillah pak, Tiwi ikut senang kalo dagangan bapak bisa habis. Apa ada yang memborong seperti kemarin pak?" tanya ku penasaran.


"Bukan nduk, hari ini pelanggan bapak banyak. Setiap orang habis beli pulsa pasti mampir beli cilok bapak. Bapak bersyukur bisa diijinkan jualan ditempat nya secara gratis."


Masa sih jaman sekarang masih ada yang gratis, kencing aja disuruh bayar 2rb batinku menyangkal tapi tetap tersenyum dihadapan nya.


"Semoga bisa laris terus ya pak, dan walaupun gratis nanti kalo sudah genap sebulan coba dikasih uang sewa pak, siapa tau mau." tuturku mengingatkan bapak.


Bapak menaruh panci pada tempatnya, lalu sejenak pandangan nya mengarah padaku dengan senyum simpul.


"Tentu nduk, bapak juga sudah memikirkan itu."


Sebulan sudah bapak berjualan yang katanya dekat counter itu. Lagi lagi bapak pulang dengan seulas senyum. Sambil melepas topi lalu mengibas ngibaskan untuk mengusir rasa gerah lalu duduk di dipan depan rumah.


Ibu pun keluar dari rumah sambil membawa sepiring singkong hangat dan menaruh nya di dekat bapak, lalu ikut duduk di sampingnya.


Aku yang tengah duduk sambil menyetrika baju di rumah mendengar percakapan keduanya dengan sangat jelas.


Bapak menceritakan kebaikan kebaikan pemilik counter padanya. Yang katanya sering memberi bapak makan siang, menggratiskan sewa tempat dan bahkan sampai memintakan aku pekerjaan.


"Wi, Pratiwi." suara bapak memanggil ku.


"Iya pak, ada apa?" gegas aku mencabut colokan setrika dan berlari kecil kearah depan.


"Di counter ada lowongan kerja, kamu bersedia ngga kerja disana? Kalo iya, kamu segera buat lamaran kerja ya, besok biar bapak bawa sekalian."


"Hah, bener kah pak?" aku terkejut sekaligus bahagia mendengar berita yang dibawa bapak.


"Iya nduk, segera kamu siapkan ya."

__ADS_1


"Baik pak, saya permisi ke dalam dulu nyelesaiin nyetrika habis itu segera buat surat lamaran." kataku dengan rasa tak percaya.


Setelah lulus sekolah, aku membantu tetangga ku yang kebetulan seorang guru TK. Sekolah nya pun terletak di samping rumah ku, jadi setiap hari sebelum jam pelajaran dimulai, aku diminta membersihkan lingkungan sekolah. Setelah itu aku pulang untuk bersiap siap membantu mengajar.


Meskipun aku hanya lulusan SMA, aku dipercaya nya untuk membantu. Katanya karena karakter ku yang mudah akrab dengan anak anak.


Hanya mengajari bernyanyi, mewarnai dan menulis bagiku itu tidak sulit. Karena sebenarnya modal terpenting dalam mendidik anak TK adalah rasa sabar yang besar.


Tak jarang ada anak yang masih ngompol dan pup dicelana, aku pun harus membersihkan. Awalnya aku sedikit ragu, tapi demi bisa bantu bantu kebutuhan keluarga aku pun berusaha menghilangkan rasa jijik itu. Hingga menjadi terbiasa.


Tapi untuk semua itu aku hanya digaji uang 250rb tiap bulannya. Terpaksa harus sabar karena cari kerjaan lainpun juga susah.


Dan ketika bapak pulang dengan berita tadi, sontak membuat secercah harapan muncul dihati. Pasalnya aku tau gaji karyawan counter dari cerita salah satu teman ku yang juga bekerja di counter. Paling tidak gajinya lebih tinggi dari gajiku mengajar di TK. Dan aku berharap semoga itu benar adanya.


"Nduk." panggilan ibu mengejutkan ku.


"Astaghfirullah." pekikku, melihat baju yang sedang aku setrika mengeluarkan sedikit asap, dan ketika ku angkat setrika nya, bajunya ternyata sudah bolong.


"Mikirin apa toh nduk? Nyetrika kok bisa sampai bolong gitu."


"Eh, ngga mikirin apa apa kok bu."


"Jangan bohong. cerita sama ibu."


"Kerjanya kudu ekstra sabar sampai ketika nerima gaji juga harus sabar. Doain Tiwi ya bu, semoga bisa diterima di counter teman bapak itu, dan semoga saja gajinya bisa lebih tinggi."


"Tentu ibu doakan yang terbaik untuk anak anak ibu."


_____


Hari yang aku tunggu pun tiba, dengan mengendarai motor aku berangkat menuju counter yang di maksud bapak. Sampai sana ternyata belum buka, alhamdulilah berarti aku tidak telat.


Aku pun segera duduk di kursi depan counter. Dan, tak berselang lama aku seperti mendengar suara dari dalam counter, bergegas aku mendekat ke rolling door.


Ketika pintu rolling door dibuka, aku begitu terkejut karena seseorang yang menurut ku sangat tampan sudah berdiri disana.


Dia pun sangat sopan, mempersilahkan ku masuk dan menanyai apa keperluan ku. Terlihat sangat sopan, persis seperti apa yang dikatakan bapak. Sesaat aku terpana, tapi segera bisa menguasai diri.


Dan dihari itu juga aku langsung disuruh untuk bekerja oleh mas Reyhan, namanya ku ketahui dari bapak. Ku pikir dulu mas Reyhan itu seorang bapak-bapak ternyata masih muda.


Mas Reyhan mengajariku dengan sabar, kata katanya terdengar sopan bahkan selama berbicara jarang sekali dia menatapku berlama-lama. Setiap siang atau sehabis bepergian dia selalu membelikan makan siang. Mengingatkan ketika waktu sholat tiba. Kadang memberikan uang tip ketika omsetnya memuncak. Padahal semua itu tidak pernah dia sebutkan di awal ketika aku mulai kerja. Dan tanpa sadar hal itu membuat hatiku semakin jatuh cinta dengannya.

__ADS_1


Sebagai perempuan aku tentu malu mengungkapkan perasaan ku padanya, apalagi dia seorang juragan muda yang pasti bakalan banyak cewek cewek cantik yang akan terpesona.


Cukup aku diberi kesempatan mengumpulkan pundi-pundi rupiah sambil menatap wajahnya saja sudah bahagia. Semoga suatu saat nanti perasaan ku ke mas Reyhan bersambut baik. Karena dia adalah orang pertama yang mengisi ruang dihati ini.


Dan suatu ketika aku kedapatan menatap mas Reyhan terlalu lama, lalu mas Bayu melontarkan kata-kata yang sedikit mengganggu pikiran ku.


'Nanti kesambet setan lho kalo melamun trus.'


Lhoh, apakah adik mas Reyhan itu tau tentang isi hatiku.


Keringat dingin mulai bercucuran di dahi saking malunya. Huh...


Aku pun segera berjalan menyiapkan pesanan reseller.


_____


Ketika makan siang tiba, mas Bayu mengajak ku makan bersama. Karena aku sedang haid makanya aku sedikit menunda waktu makan siang.


Selain berniat menyelesaikan pekerjaan ku, aku berharap bisa berduaan dengan mas Reyhan. Karena biasanya mas Reyhan akan menggantikan mas Bayu ketika jam makan siang tiba.


Tapi, mas Reyhan malah memaksa ku untuk segera makan dan sholat bersama adiknya, ini yang kurang aku suka. Tapi terpaksa mengikuti karena ini adalah perintah bos langsung.


Dimeja makan mas Bayu segera menyodorkan semangkok bakso yang masih hangat, aku pun segera melahapnya tanpa memperdulikan mas Bayu ada di sampingku.


Ketika tengah asyik menyantap bakso, lagi lagi mas Bayu bertanya yang aneh-aneh.


"Em... Kriteria cowok yang kamu suka seperti apa, kasih tau dong. oh ya udah punya pacar belum?"


Kata-kata terakhirnya sungguh membuatku tersedak. Lalu mas Bayu pun dengan sigap memberikan ku segelas es, aku pun segera meminumnya.


Kenapa bukan mas Reyhan yang bertanya hal itu, justru malah mas Bayu yang bertanya. Hemm..


Lagi, mas Bayu pun mengulang pertanyaan nya sambil menatapku tanpa berkedip.


"Udah punya belum Wi?"


Dengan tegas aku menjawab, "ngga ada".


Semoga kata kata ku barusan bisa sampai ke telinga mas Reyhan sebagai bentuk signal cintaku padanya.


Setelah menghabiskan bakso, aku segera mencuci mangkok dan berlalu menuju counter.

__ADS_1


Sengaja kubiarkan mas Bayu yang cerewet itu melongo sendirian di meja makan.


__ADS_2