
"Ayo, silahkan di minum." tawar haji Dahlan kemudian.
Mereka pun segera mengambil minuman masing-masing dan meneguknya pelan-pelan.
Haji Dahlan yang sangat kocak memperkenalkan keluarga pak Atmaja pada pak Gofur. Mereka saling bersalaman.
"Apakah ini...." kata haji Dahlan menebak wanita yang ada di samping pak Gofur.
"Dia Anisa bang, masa kamu lupa sama anak semata wayang ku." sahut pak Gofur dengan cepat sambil terkekeh.
"Lama sekali tidak bertemu, hampir saja aku lupa."
'Anisa? Jadi, anak pak Gofur namanya Anisa. Oh iya, aku baru ingat. Sewaktu aku beli oleh-oleh haji dan gamis, aku kan beli di toko dia. Berarti, dia yang aku tolong waktu umrah itu. Astaghfirullah, kenapa aku sulit untuk mengenali wanita bercadar?' batin Reyhan setelah mengetahui kenyataan itu.
"Rosyidah, sepertinya lebih baik kamu ajak nona Laura dan Anisa bertukar cerita di kebun belakang. Kalian seumuran pasti akan sangat nyambung dalam bercerita."
"Ayo mbak Anisa, mbak Laura. Kita ke kebun belakang." ajak Rosyidah sambil tersenyum.
Laura menatap kedua orangtuanya seolah-olah meminta persetujuan, dan kedua orang tuanya pun mengangguk. Begitu juga dengan Anisa, ia melakukan hal yang sama dengan Laura. Mereka bertiga berjalan beriringan menuju kebun belakang rumah.
"Melihat mereka bertiga berjalan, seperti melihat bidadari surga ya. Sama sama cantik dan berakhlak mulia. Tinggal menunggu pangeran nya menjemput mereka satu persatu ke pelaminan." celetuk haji Dahlan.
Semua yang mendengar nya langsung tertawa terbahak-bahak, kecuali Reyhan yang hanya menyunggingkan sedikit senyum.
Tak di pungkiri, memang benar apa kata haji Dahlan, melihat tiga wanita itu bagai melihat bidadari. Dan Reyhan berharap kelak bisa memiliki pendamping hidup seperti mereka. Walaupun tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Sedangkan pandangan tentang wanita yang akan di ajak nikah saja juga belum jelas.
Sebenarnya itu bukan hanya sekedar celetukan saja, melainkan ungkapan dalam hati haji Dahlan, ia berharap Rosyidah juga bisa segera menyusul kakaknya menikah. Ia berharap bisa memiliki menantu seperti Reyhan. Apalagi semakin kesini Reyhan selalu menunjukkan sisi baiknya.
Sedangkan di hati pak Gofur dan pak Atmaja, keduanya juga memiliki niat yang sama seperti haji Dahlan. Ketiganya pun menengok ke arah Reyhan yang sedang menyeruput teh bidara untuk menenangkan hatinya.
'Aneh, kenapa mereka kompak melihat ke arahku?' batin Reyhan sambil meletakkan cangkir nya di meja. Terpaksa ia menyunggingkan senyum karena merasa canggung.
Mereka pun saling bertukar cerita yang penuh dengan canda dan gelak tawa.
__ADS_1
Sedangkan di kebun belakang, tiga gadis beda background itu tengah duduk melingkar di bawah pohon kersen yang rindang.
"Rosyidah, kamu masih ingat dengan ku?" tanya Anisa membuka pembicaraan sore itu. Rosyidah berusaha mengenali suara Anisa. Sedangkan Laura masih diam sambil memperhatikan keduanya.
"Kamu Anisa... Jannatun Fitri, teman semasa kuliah ku di Kairo." tebak Rosyidah.
"Iya, kamu lupa ya dengan ku?" ucap Anisa. Lalu ia melebarkan kedua tangannya dan berpelukan dengan Rosyidah untuk melepas rindu.
'Apa! Mereka berdua kuliah nya di Kairo? Lalu, apa kabar diri ku yang cuma kuliah di indo.' batin Laura yang tiba-tiba merasa canggung.
'Keduanya juga sama-sama memakai set gamis lengkap dengan cadar, apa kabarnya aku yang masih pakai baju minim. Tapi, rasanya aku juga ngga siap pakai baju seperti mereka ketika kuliah. Aku dandan seperti ini kan cuma demi Reyhan saja. Eh, lhololoh... kenapa semua yang aku lakukan untuk dia?' Laura segera mengalihkan pikirannya dengan melihat deretan bunga mawar yang beraneka warna di samping nya.
Rosyidah dan Anisa akhirnya saling mengurai pelukan setelah rindu mereka sedikit terobati.
"Mbak Laura, ini Anisa teman kuliah ku dulu waktu di Kairo. Nah, Anisa, ini mbak Laura, teman belajar ku." ucap Rosyidah saling memperkenalkan keduanya.
Anisa segera mengulurkan tangannya ke arah Rosa untuk berjabat tangan. Laura yang melihat itu, segera membalasnya sambil menyunggingkan senyum. Keduanya saling menyebut nama mereka masing-masing.
Awalnya pembicaraan itu terasa canggung, karena Laura merasa minder dengan ilmu yang di milikinya saat ini. Berbeda jauh dengan kedua wanita yang ada di dekatnya saat ini. Tapi, Rosyidah selalu melibatkan nya dalam setiap pembicaraan, sehingga akhirnya pembicaraan itu bisa mengalir dengan cukup menyenangkan. Laura merasa sedikit lebih nyaman berbicara dengan mereka di banding dengan teman-teman kuliahnya.
'Apa kabar Choki? Aku sudah lama sekali tidak pernah berkomunikasi dengan nya.' tiba-tiba ia teringat dengan Choki yang seperti di telan bumi. Padahal mereka berada di kelas yang sama.
"Sudah hampir Maghrib, ayo anak anak gadis ku, segera balik ke rumah ya. Sudah di tunggu orangtuanya masing-masing." tiba-tiba suara umi Salwa mengejutkan mereka yang sedang bercengkrama.
"Iya umi sebentar." balas Rosyidah.
"Ayo kita selfi dulu untuk mengabadikan momen indah sore ini." ajak Rosyidah sambil menggeser layar handphonenya. Laura dan Anisa tersenyum dan mengangguk setuju.
"Umi, fotoin kita bertiga dong." pinta Rosyidah pada ibunya yang masih berdiri di situ.
"Baiklah." jawab ibunya sambil menerima uluran handphone anaknya sambil tersenyum.
Ketiganya saling merapatkan duduknya dan memasang senyum termanis yang mereka miliki, walaupun senyum itu tidak jelas terlihat karena tertutup niqab. Beberapa kali cekrekan akhirnya mereka selesai berfoto.
__ADS_1
"Ayo kita ke depan." ajak umi Salwa sambil menyerahkan handphone milik Rosyidah.
"Iya umi sebentar dulu." jawab Rosyidah sambil menggeser layar handphonenya yang memperlihatkan hasil jepretan ibunya.
"Ih, lucu ya. Kapan kapan kita foto bareng lagi aja." ajak Rosyidah.
"Boleh-boleh." sahut Anisa. Laura pun tersenyum sambil mengangguk setuju.
"Tukeran nomor telepon dulu, biar tambah akrab. Nanti kapan kapan kita jalan bertiga, pasti tambah seru." ucap Rosyidah lagi. Laura dan Anisa mengangguk setuju dan mengeluarkan handphone masing masing untuk mencatat nomor telepon.
"Tampaknya kalian asyik sekali bercerita, hingga tak terasa waktu sudah hampir Maghrib." celetuk haji Dahlan.
"Tentulah bi, namanya anak perempuan pasti ceritanya lama." balas Rosyidah yang ceplas-ceplos itu.
"Anak kamu pemberani juga ya, ceplas-ceplos seperti bapaknya." tukas pak Gofur yang terkekeh melihat keberanian Rosyidah.
Karena sejak tadi mereka selalu bertukar cerita dan bercanda bersama, maka di akhir acara, mereka menyampaikan maksud dan tujuan datang ke pondok. Pak Atmaja dan pak Gofur segera mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas.
"Maa syaa Allah, semoga berkah. Setiap kebaikan yang antum lakukan semoga di balas dengan kebaikan yang berlimpah pula. Jazakumullahu khoir." ucap haji Dahlan setelah menerima amplop itu.
"Aamiin ya rabbal aalamiin. Wa anta Jazakallah khoir." semua kompak mengaminkan doa haji Dahlan.
Hari sudah sore, mereka berpamitan pulang, sambil berpelukan dan berjabat tangan. Setelah itu, semua berjalan ke arah mobil mereka terparkir.
"Mari mampir pak." tawar pak Atmaja pada pak Gofur.
"In shaa pak, lain kali saya pasti mampir ke rumah bapak." balas pak Gofur dengan senyum ramah.
Dalam hati pak Gofur, ia sangat bersyukur bisa bertemu dan berkenalan dengan pak Atmaja yang ia sangka adalah orang tua Reyhan.
Hai kak, tetap dukung terus mas Reyhan sampai menemukan cinta sejatinya ya dengan tekan like hadiah vote dan favorit 😘😘
Terima kasih semoga selalu diberi kesehatan dan kelancaran rezeki yang berlimpah 😘😘
__ADS_1