Juragan Muda

Juragan Muda
191. Kuret


__ADS_3

"Miss Laura, apa yang terjadi?" tanya Reyhan dengan panik melihat Laura meringis sambil memegangi perutnya. Bergegas ia mendekat ke arah Laura.


"Perut ku sedikit nyeri mas. Sampai membuat ku ngompol." Rintih Laura sambil terus memegang perutnya.


"Ngompol?" ulang Reyhan, dan Laura kembali mengangguk.


Reyhan segera meraih handphone yang ada di atas meja dekatnya, lalu menelpon dokter yang biasa nya memeriksa.


"Istri saya mengeluh nyeri di bagian perutnya dok, sampai ia ngompol. Apa yang harus saya lakukan dok?" tanya Reyhan dengan panik ketika sambungan telepon sudah terhubung.


"Baik dok."


Reyhan meletakkan handphone ke sembarang arah lalu membuka daster bagian bawah yang di pakai Laura.


"Mas, apa yang kamu lakukan? Bisa bisanya kamu mau ngajak aku tanding pencak silat di tengah aku merintih kesakitan." cicit Laura sambil memukul kepala suaminya yang terlihat menyembul tertutup daster Laura.


"Kamu tenang dulu ya sayang, mas siapkan mobil sebentar." ucap Reyhan setelah melihat apa yang terjadi.


Reyhan segera berlari keluar menyiapkan mobilnya. Lalu tak berselang lama, ia sudah kembali ke kamar dan menggendong Laura.


"Mau di bawa kemana aku mas?" tanya Laura sambil mengalungkan tangannya di leher Reyhan.


"Kamu tenang ya sayang, jangan lupa berdo'a. Kita mau pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan kalian berdua baik baik saja."


Laura mengangguk patuh, walau di benaknya muncul banyak pertanyaan.


Bergegas Reyhan melajukan mobilnya membelah jalanan yang masih cukup ramai menuju ke rumah sakit.


Tak henti hentinya ia terus merapalkan doa dalam hati. Begitu pun dengan Laura. Keduanya berharap semoga tidak terjadi hal buruk.


Walaupun Laura terus merasakan nyeri, ia tetap berusaha menahannya hingga berulang kali ia mendesis dan meringis.


Arghhh....


Laura semakin tak kuat hingga membuatnya mengerang kesakitan.

__ADS_1


"Tahan sebentar ya Miss, sebentar lagi kita akan sampai." begitulah yang selalu di ucapkan Reyhan untuk menenangkan istrinya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam akhirnya, mereka pun tiba di rumah sakit. Reyhan segera mengangkat tubuh Laura, dan beberapa petugas rumah sakit yang melihat segera membantunya menyediakan brankar lalu mendorong nya ke ruang IGD.


Dokter segera melakukan serangkaian pemeriksaan pada Laura dan janinnya. Ia menghela nafas panjang sebelum memberikan kabar yang tidak mengenakkan pada pasangan suami-istri itu.


"Memang apa yang tadi ibu Laura lakukan di rumah pak? Ia kandungan nya memang sangat lemah sehingga membuatnya mengalami pendarahan seperti ini. Kita sudah berusaha hentikan pendarahan nya. Kita tunggu sampai nanti sore apakah ada perubahan atau tidak. Jika ada perubahan saya ijinkan pulang, tapi jika belum berhenti juga, terpaksa harus opname."


Reyhan dan Laura seketika pucat pasi mendengar penuturan dokter itu.


"Tolong dok, lakukan apa pun yang terbaik untuk istri dan janinnya." ucap Reyhan penuh harap.


"Tentu pak, kita akan berusaha semaksimal mungkin. Tapi jangan lupa, bapak dan ibu tetap harus berdoa pada sang Khaliq." tandas dokter itu sekali lagi.


"Baik dok, terima kasih sarannya dok."


Dokter pun tersenyum dan segera berlalu keluar ruangan.


"Maafkan aku ya Miss, pasti gara gara ciuman maut tadi pagi sehingga membuat kalian jadi seperti ini." ucap Reyhan sambil menggenggam erat tangan Laura dan mulai menitikkan air mata. Sungguh ia benar-benar menyesal telah membuat Laura jadi seperti itu.


Keduanya saling berebut salah, dan akhirnya sama sama saling memaafkan. Setelah sekian menit berlalu, akibat pengaruh obat, Laura mulai tertidur. Reyhan segera menghubungi keluarganya dan menjelaskan apa yang terjadi.


Tak berselang lama, kedua orang tua Laura pun datang. Wajah mereka terlihat tidak mengenakkan.


"Apa yang terjadi?" pertanyaan itu langsung meluncur dari mulut keduanya.


"Maafkan Reyhan pa, ma tidak bisa menjaga Miss Laura dengan baik." ucap Reyhan sambil tertunduk sedih menyadari kesalahannya.


"Laura tadi terlalu banyak gerak ma, karena bosan di kamar terus menerus." Laura pun juga menyadari kesalahannya.


Kedua orang tua Laura menghela nafas panjang. Mereka tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Karena memang benar jika terus menerus di dalam kamar dan tidak berinteraksi dengan banyak orang, akan terasa sangat membosankan.


"Ya sudah, ngga apa-apa. Pasti semua akan baik-baik saja." ucap pak Atmaja menenangkan hati anak dan menantunya.


Sore harinya, dokter kembali memeriksa kondisi Laura. Keduanya semakin berdegup kencang hatinya. Sementara dokter sendiri menghela nafas panjang sebelum berbicara.

__ADS_1


"Sesuai dengan apa yang saya katakan tadi pagi bahwa, sore ini bu Laura harus opname karena saya melihat pendarahan yang cukup banyak terjadi. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan keduanya."


Serasa rontok tulang tulang persendian mereka mendengar ucapan dokter itu. Wajah mereka pun seketika pucat pasi.


Reyhan terduduk, setelah dokter itu pergi. Ia mengusap dengan sangat pelan perut Laura.


"Kalian pasti bisa berjuang dan melewati ini semua." ucap Reyhan dengan senyum yang di paksa. Sementara Laura hanya menitikkan air mata.


Pak Atmaja menepuk pelan bahu Reyhan untuk memberi dukungan, sementara bu Ani mengusap pelan tangan Laura yang satunya.


"Assalamu'alaikum." pintu terbuka dan Bu Rohmah masuk ke ruangan mereka.


Ia bersalaman lalu memeluk Bu Ani. Setelah itu bersalaman dengan pak Atmaja dan Reyhan. Terakhir ia mendekati Laura dan menyapanya hangat.


"Maafkan ibu ya non telat datang." ucap bu Rohmah sambil mengusap lembut wajah Laura dan merapikan rambutnya. Laura mengangguk lemah sambil tersenyum.


"Pasti semua ini salah Reyhan, biar ibu jewer nih anak." ucapnya sambil hendak meraih satu telinga Reyhan.


"Bukan bu. Tapi semua ini salah Laura. Tadi Laura pengen banget mandi di kamar mandi, di guyur pakai air. Laura bosan di kamar melulu.


Mereka kembali menghela nafas panjang dan tak tahu harus berkata apa, selain menghibur dan memberi dukungan pada keduanya.


Malam kian merangkak naik, namun semua tidak bisa tidur. Bukannya rasa sakitnya berkurang, justru malah bertambah, sehingga membuat Laura semakin merintih kesakitan. Ia merasa seperti mengompol lagi. Namun tentu saja dia tidak sedang mengompol, melainkan mengeluarkan darah.


Reyhan yang berada di sampingnya segera menekan tombol emergency. Sehingga tak lama kemudian, seorang perawat mendatangi kamar mereka.


Ia mengecek keadaan Laura dan bisa di tebak raut mukanya terlihat tidak tenang. Ia pun segera menekan tombol emergency. Tak lama kemudian seorang perawat juga datang.


"Panggilkan dokter sekarang Sus, sepertinya pendarahannya tidak bisa berhenti. Harus segera ambil tindakan." ucap perawat yang pertama. Dan perawat yang kedua segera berlalu keluar memanggil dokter.


Semuanya semakin terlihat panik. Hingga tak menyadari kalau dokter sudah memasuki ruangan. Ia segera mengecek kondisi Laura, dan....


"Kita harus melakukan kuret."


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1



__ADS_2