Juragan Muda

Juragan Muda
96. POV Rosyidah


__ADS_3

Namaku Rosyidah Fauziah. Aku anak bungsu dari tiga bersaudara. Aku mempunyai dua kakak laki-laki yang sangat baik padaku. Mereka juga yang membantu membayar biaya kuliah selama di Kairo.


Dan, sebuah kebahagiaan yang besar bagi kedua orang tua ku, karena upaya mereka untuk mendapatkan anak perempuan berhasil. Dan itu adalah aku, Rosyidah Fauziah.


Sepulangnya dari Kairo aku sangat tertarik membantu mengajar di pondok yang di dirikan oleh kedua orang tua ku. Bagi kami, dakwah adalah harga mati. Oleh karena itu, kami berupaya semaksimal mungkin untuk menggratiskan biaya bagi santri yang kurang mampu. Niat mereka mulia, untuk mencari bekal akhirat, masa iya kita yang berkecukupan tidak bisa membantu mereka?


Awalnya dulu hanyalah sebuah rumah kecil. Seorang tetangga kami yang kurang mampu hanya bisa menitipkan mengaji di rumah kami, karena tak punya biaya untuk menyekolahkan mereka. Ditambah ia kurang paham soal agama.


Lama kelamaan warga sekitar juga mulai tertarik untuk mengikutsertakan putra putri nya belajar dirumah kami dan kian waktu jumlah pesertanya semakin meningkat. Sehingga kegiatan mengaji harus dibagi dalam beberapa gelombang. Agar tetap efektif dalam mengajar.


Seorang teman abi yang kebetulan silaturahim kerumah sangat tertarik dengan antusias anak anak. Sehingga ia rela menyumbangkan mushaf Al-Qur'an yang baru untuk menunjang kegiatan belajar.


Akhirnya, kegiatan belajar mengaji itu berubah menjadi kegiatan seperti sekolah karena memang di handle oleh tenaga pendidik yang profesional. Bahkan beberapa wali santri juga lebih memilih memasukkan anaknya ke rumah mengaji kami daripada ke sekolah, karena melihat tenaga pendidik nya yang sangat mumpuni, sehingga berhasil menjadikan putra putri mereka lebih baik.


Celetukan salah satu wali santri tentang memperluas bangunan untuk membuat pondok pesantren hanya bisa kami amin kan, walaupun kami sendiri juga belum tahu kapan waktu itu tiba.


Dan, ternyata Allah maha mendengar doa kami. Wali santri dari golongan orang mampu selalu memberi sumbangan tanpa pernah kami memintanya, baik berupa uang, buku atau sarana penunjang lainnya.


Dua tahun berselang akhirnya keinginan untuk membuat pondok pesantren akhirnya terwujud. Dan untuk itu abi harus rela resign dari sebuah sekolah dimana ia mengajar selama ini.


Jumlah santri yang kian meningkat membuat kami harus bergerak cepat untuk mencari tenaga pendidik tambahan. Alhamdulillah, kedua kakakku yang memang seorang pengusaha rela menggelontorkan dana untuk membayar tenaga pendidik. Terkadang mereka juga membantu mengajar, padahal kegiatan mereka sangat padat.


Dan sampai sekarang semakin banyak yang memberikan sumbangan. Menurut abi, pemberi sumbangan terbesar itu adalah seorang pemuda santun, tampan dan sukses yang bernama Reyhan.


Abi menceritakan kisah sukses Reyhan padaku, yang membuatku semakin mengaguminya, padahal kami baru pertama kali bertemu. Yaitu bertepatan dengan kepulangan ku dari Kairo yang bertepatan juga kunjungannya waktu itu di pondok. Bagai mendapat durian runtuh ketika aku melihatnya.


Ternyata benar apa kata abi, dia adalah pemuda yang santun. Selalu menundukkan pandangan ketika berhadapan dengan lawan jenis.


Aku jadi penasaran, seperti apa kehidupan sehari-hari nya. Ia rela mengorbankan waktunya untuk mengantar jemput abi ke rumah saudaranya untuk mengajari ilmu agama. Padahal aku yakin, dibalik kesuksesannya itu, pasti banyak waktu yang tersita.


Sebulan telah berlalu, tak disangka ia juga memberikan upah untuk abi karena telah membantu mengajari saudaranya. Awalnya abi menolak, tapi dia selalu memaksa, sehingga dengan berat hati abi akhirnya menerima.


Sebuah kesempatan emas yang sayang untuk dilewatkan, ketika abi memintaku untuk menggantikan nya mengajari saudara Reyhan. Aku langsung mengiyakan.

__ADS_1


Dan, sore itu kami berangkat bersama menuju rumah saudara Reyhan.


Maa syaa Allah, aku berdecak kagum ketika baru sampai. Rumahnya seperti istana. Luasnya setara dengan bangunan pondok pesantren kami. Aku pikir penghuninya banyak, jadi rumahnya besar. Ternyata keluarga inti hanya ada 3 orang, selain itu mereka adalah art dan satpam. Apa ngga rugi buat rumah sebesar ini, kalau ternyata penghuninya cuma sedikit.


Kami disambut dengan baik oleh saudara Reyhan. Walaupun kaya tapi tidak sombong, dan sangat ramah, itu adalah penilaian ku pertama dengan saudara Reyhan.


Kegiatan majelis akan dimulai, tiba-tiba dikejutkan dengan suara salam. Semua menjawab salam sambil menengok ke sumber suara termasuk aku.


Seketika kami bagai terhipnotis melihat seorang wanita yang sangat cantik berdiri diambang pintu.


'Bagai bidadari.' pikirku. Ia mulai berjalan dengan anggun dan duduk ditengah-tengah kedua orangtuanya.


"Bisa dimulai sekarang ustadzah majelisnya?" tanyanya dengan suara yang lembut. Aku pun mengangguk sambil tersenyum.


Kegiatan pertama setelah pembukaan adalah membaca iqro'. Tak disangka, ternyata kecantikan nya tak sebanding dengan kemampuannya membaca iqro' yang masih terlihat seperti anak SD. Dengan tertatih-tatih ia melafazkan setiap huruf. Namun ia terlihat sangat bersemangat, sampai peluh membasahi wajahnya yang putih mulus itu. Aku suka dengan semangatnya. Dia lah Laura Arabela. Nama yang cantik sesuai wajahnya.


Mulai sekarang, aku juga ikut serta membantu mendampingi abi ketika mengisi majelis. Ketika abi tidak bisa aku langsung menggantikannya.


Mbak Laura terlihat semakin fasih dalam membaca iqro'. Ketika sudah selesai bermajelis, kita akan bercerita di kamarnya. Semakin hari, kita bertambah akrab.


"Assalamu'alaikum." ucapku, tapi tak ada sahutan. Dengan langkah pelan aku mendekatinya yang masih terbaring dengan wajah pucat.


"Terasa panas." desis ku, ketika meraba dahinya. Bergegas aku turun untuk mengabarkan pada orangtuanya.


Berduyun-duyun mereka naik ke lantai atas, setelah mendengar kabar dariku.


"Reyhan, cepat gendong Laura! Kita harus segera membawanya ke rumah sakit." titah pak Atmaja.


'Lhoh, kenapa bukan pak Atmaja saja yang menggendong mbak Laura? kenapa justru mas Reyhan. Mereka kan cuma saudara.' Batinku tak terima.


"Ayo cepat Reyhan!" teriak pak Atmaja sekali lagi karena melihat mas Reyhan masih diam mematung dan kami saling bertukar pandang.


Setelah teriakan pak Atmaja yang kedua, barulah ia menghampiri mbak Laura. Dengan sigap ia menggendongnya.

__ADS_1


'Astaghfirullah.' batinku ketika melihat penampilan mbak Laura yang sangat berbeda dari biasanya. Karena ia hanya mengenakan pakaian yang sangat minim. Sedangkan aku melihat mas Reyhan tidak malu melihat dan mengangkat tubuh mbak Laura.


'Apa mereka sudah terbiasa seperti itu?' batinku penuh tanda tanya.


Dengan tergesa-gesa mas Reyhan segera berjalan menuruni anak tangga. Pikiran ku semakin bingung melihat tingkah keluarga ini. Sampai akhirnya mas Reyhan menegurku ketika aku masih berdiri diluar mobil.


"Aku harus mengantar Miss Laura ke rumah sakit sekarang. Kamu mau ikut atau menunggu disini sebelum aku antar pulang?" ucapnya.


Aku segera mengangguk dan masuk mobil. Didalam mobil aku kembali berpikir, kenapa mas Reyhan selalu menyebut kedua orang tua mbak Laura dengan sebutan papa dan mama seperti orang tua sendiri? Harusnya kan bisa memanggilnya dengan sebutan paman atau om. Kenapa juga dia terus memanggil mbak Laura dengan sebutan Miss? Sebuah panggilan yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Apakah itu suatu panggilan istimewa bagi keduanya? Atau hanya panggilan biasa? Kan aku jadi pengen mas Reyhan juga memanggilku demikian. Tapi gimana aku menyampaikannya?


'Miss Rosyidah, kira-kira cocok enggak ya?' Batinku, lalu tiba-tiba bu Ani menyuruh mas Reyhan untuk memelankan laju kendaraannya dengan suara yang sedikit tinggi sehingga aku ikut menengok ke arah mas Reyhan yang duduk di sampingku. Tak ku sangka, wajahnya terlihat sangat cemas sampai sampai ia tak sadar kalau sudah mengebut.


Sesampainya di rumah sakit, Mas Reyhan juga kembali menggendong mbak Laura. Semua mata tertuju pada keduanya yang tampak seperti pasangan suami-istri bukan layaknya saudara.


Selama beberapa hari mbak Laura di rawat, aku rutin berkunjung. Awal mulanya aku kaget ketika melihat mbak Laura sudah sadar tapi tidak mengenakan jilbab. Dia juga sama kagetnya dengan ku, tapi aku segera tersenyum agar dia tidak canggung. Sejak itu, ia tak sungkan ketika bertemu denganku dalam keadaan tidak memakai jilbab. Apalagi dokter yang merawatnya adalah seorang lelaki yang masih muda. Tapi, aku tidak berani untuk menegurnya.


Selama mbak Laura dirumah sakit, aku heran, kenapa mas Reyhan tidak pernah mengunjunginya. Untuk bertanya aku sungkan, hingga akhirnya sore itu ia datang.


"Assalamu'alaikum." ucap mas Reyhan. Aku menengok kearahnya sembari menjawab salamnya tapi ia justru malah melihat mbak Laura yang bengong.


"Alhamdulillah mas, mbak Laura sudah diijinkan pulang." ucapku, tapi dia tidak merespon perkataan ku dan justru malah mendekati mbak Laura, menanyakan keadaannya.


"Kenapa kamu baru menjengukku?" ucap mbak Laura dengan manja. Lhoh, apa seperti itu sikapnya ketika sakit? Kenapa terlihat manja sekali. Berbeda dari biasanya.


Mas Reyhan memberikan oleh-oleh untuk mbak Laura sehabis dari seminar, dan langsung dibuka. Mbak Laura terlihat senang. Seakan dunia milik berdua, mereka tidak mengajakku bercerita sama sekali.


Setelah selesai bercerita, mas Reyhan segera membayar administrasi sebelum pulang. Kesempatan yang bagus untukku bertanya tentang mas Reyhan.


"Tolong dong mbak, jelasin ke aku, sebenarnya mas Reyhan itu anaknya paman atau om mbak Laura?" ucapku, tapi mbak Laura malah diam dan tidak segera menjawab.


Hai kak dukung selalu mas Reyhan untuk menemukan cinta sejatinya dengan tekan like hadiah vote dan favorit ya 😘😘


Akan ada beberapa spill pemeran tambahan dan akan di ulas pada novel selanjutnya. Jadi tetep setia ya😉

__ADS_1


Terimakasih semuanya semoga sehat selalu lancar rezekinya 😘😘


__ADS_2