
"Apa kamu mau mengajari papa tentang ilmu agama?" semua orang menatap ke arah pak Atmaja.
Termasuk Reyhan yang tercengang dengan permintaan pak Atmaja. Karena dia bukanlah orang yang ahli ilmu agama. Tapi untuk menolak permintaan orang yang ingin berbuat baik juga tak tega Reyhan lakukan.
"Papa ingin bisa fasih dalam melantunkan ayat suci, sebelum berangkat umrah nanti." imbuh pak Atmaja.
"In shaa Allah pa, saya akan carikan seorang ustadz yang mau membimbing papa sekeluarga." jawab Reyhan akhirnya.
"Kenapa bukan kamu saja Reyhan?" tanya pak Atmaja lagi, dan semua orang ikut mengangguk kecuali Laura yang hanya diam saja, tapi telinganya tajam mendengarkan.
"Saya hanya butiran debu yang sangat fakir ilmu pa."
"Baiklah kalau begitu, tidak apa-apa. Papa percaya kamu akan memberikan yang terbaik untuk kami sekeluarga."
"In shaa Allah pa."
Kini mereka tengah berkumpul diruang makan. Laura duduk berhadapan dengan Reyhan. Tapi Reyhan sadar diri, sehingga tak mau menatap Laura karena masih memakai baju yang serba mini tadi.
"Laura ayo buruan ambilkan kita makan." titah pak Atmaja. Sekilas pandangannya melihat ke Reyhan, lalu ia bangkit berdiri sambil merapikan pakaiannya.
"Kamu mau pakai lauk apa?" Laura berkata dengan lembut ke Reyhan.
"Ini saja." Reyhan menunjuk cumi asam manis yang berada di dekatnya.
"Sudah cukup Miss Laura " kata Reyhan berulang kali, karena melihat Laura tak berhenti menyendok kan cumi itu sampai tersisa sedikit.
Kedua orangtua Laura menahan senyum melihat kejadian itu.
"Kalau ngga habis bagaimana? Ini terlalu banyak." keluh Reyhan.
"Ya harus kamu habiskan, ngga mungkin mau dikembalikan lagi kan?" kata Laura sambil tersenyum yang membuat Reyhan sedikit jengkel.
Setelah Reyhan pulang, pak Atmaja segera membagikan oleh-oleh dari Reyhan kepada keluarga dan art nya.
"Wah, den Reyhan sudah ganteng, pinter ngaji, baik pisan." ucap bibi ketika menerima paper bag dari bu Ani.
"Apa itu pacarnya non Laura nyah?"
"Ya doakan saja bi."
"Pasti bibi doakan nyah, dari pada non Laura dapat laki laki rakus seperti kemarin."
"Choki maksudnya?" tanya bu Ani dan bibi langsung mengangguk sambil mencibirkan bibirnya pertanda tak suka.
_____
Sudah beberapa hari pak Atmaja selalu menghubungi Reyhan untuk menanyakan soal guru mengaji, tapi Reyhan belum bisa memberikan jawaban yang pasti.
Dan, pagi itu seperti agenda bulanannya, Reyhan datang ke panti asuhan untuk menyalurkan bantuannya. Setelah ke panti asuhan, baru ia ke pondok pesantren.
__ADS_1
Para pengurus pondok dan panti sangat akrab dengan Reyhan. Karena Reyhan menjadi donatur tetap disana. Semua pimpinan pondok dan panti asuhan selalu takjub akan keberhasilan Reyhan dimasa mudanya.
Banyak sekali diantara mereka yang seakan-akan berlomba-lomba untuk menjadikan Reyhan sebagai menantu mereka. Tapi Reyhan dengan halus menolak. Karena ia merasa, level keimanannya masih seujung kuku. Ia takut tak bisa menjadi imam yang baik untuk anak ustadz. Yang tingkat ilmunya pasti tak di ragukan lagi.
"Assalamualaikum." Reyhan mengucap salam sambil mengetuk pintu kantor pondok pesantren yang terakhir ia kunjungi.
"Wa'alaikumussalam." Haji Dahlan tersenyum lebar melihat siapa yang datang. Bergegas ia bangkit dan menyambut Reyhan dengan sebuah pelukan hangat.
Reyhan merasa memiliki ayah lagi, karena kehangatan yang selalu ditampakkan oleh para pengurus pondok dan panti.
"Ayo masuk." ajak haji Dahlan setelah ia mengurai pelukan. Reyhan mengucapkan terimakasih sambil tersenyum atas keramahannya.
"Assalamualaikum." sapa seorang wanita berniqab yang sudah berdiri diambang pintu.
"Rosyidah." haji Dahlan langsung berdiri dan mendekati wanita itu. Wanita itu langsung mencium punggung tangan haji Dahlan dan setelahnya mereka saling berpelukan.
"Maafkan Abi yang tidak bisa ikut menjemputmu tadi, semoga kamu ngga kecewa nak."
"Rosy ngga kecewa kok bi, Rosi tahu kesibukan abi."
"Syukurlah kalau begitu, abi tahu kamu adalah wanita sholihah yang kuat dan pemberani. Oh iya, tolong buatkan minum untuk tamu abi yang istimewa ini." haji Dahlan mengerlingkan matanya ke arah Reyhan.
Reyhan sedikit menyunggingkan senyum dan kembali menunduk. Yang membuat Rosy langsung terkesima melihatnya.
"Idah." panggil haji Dahlan karena melihat anaknya yang terdiam.
"Ayo buruan buatkan minum sebelum tamu istimewa abi pulang." ulang haji Dahlan, dan Rosyidah mengangguk lalu keluar.
Sesampainya di dapur Rosyidah segera mengatur nafasnya yang sangat terasa sesak karena untuk pertama kalinya ia melihat Reyhan.
"Rosy, kamu kenapa?" tanya umi Salwa yang melihat Rosyidah mengelus dadanya.
"Em... Rosy tidak kenapa-kenapa umi." jawab Rosyidah, lalu ia segera menuangkan air hangat pada cangkir, yang langsung mengeluarkan aromanya yang khas.
"Apa ada tamu?" Rosyidah lantas mengangguk.
"Apa abi sudah lama berkenalan dengan nya umi."
"Dia siapa?" tanya umi Salwa sambil mengernyitkan dahinya.
"Abi bilang, tamu istimewa nya."
"Apa ia seorang pemuda?" tanya umi Salwa setelah sejenak ia berpikir. Dan Rosyidah mengangguk.
"Dia adalah donatur tetap di pondok kita, namanya Reyhan." jelas umi Salwa yang membuat Rosyidah menyunggingkan senyum.
"Apa.... kamu menyukainya?"
"Ah, tidak umi. Rosy hanya penasaran saja, kenapa Abi menyebutnya demikian." kilah Rosy, lalu ia segera membawa nampan itu menuju kantor.
__ADS_1
Haji Dahlan duduk di sofa dekat Reyhan. Dan Reyhan segera menyerahkan amplop coklat yang cukup tebal.
"Jazakallahu khoir nak Reyhan. Semoga usahanya kian sukses ya."
"Aamiin ya rabbal aalamiin, terimakasih pak doanya." balas Reyhan.
Selanjutnya mereka bercerita sampai akhirnya Rosyidah masuk dan menyuguhkan dua gelas teh daun bidara yang hangat beserta cemilan. Setelahnya ia kembali keluar.
"Silahkan dinikmati nak Reyhan." Reyhan mengangguk dan segera mengambil segelas teh mengikuti gerakan haji Dahlan.
"Enak sekali pak haji rasa teh nya."
"Jika nak Reyhan suka, nanti saya bawakan." tawar haji Dahlan.
"Tidak usah pak, nanti merepotkan pak haji."
"Kami tidak pernah merasa direpotkan nak." haji Dahlan lalu pamit keluar, dan tak berselang lama ia kembali dengan membawa sekantong teh bidara.
"Nanti bisa dibuat dirumah ya." haji Dahlan menyodorkan kantung plastik itu.
"Terimakasih sekali pak." haji Dahlan mengangguk sambil tersenyum.
"Oh ya, bolehkah saya meminta bantuan pak haji?" tanya Reyhan dengan sedikit ragu. Karena beberapa kali ia sempat ditolak di beberapa pondok yang ia datangi ketika menyatakan tujuannya untuk membantu keluarga pak Atmaja. Ditolak karena memang jadwal para asatidz yang padat.
"Bantuan apa?"
"Em.... saudara saya membutuhkan seorang guru mengaji yang bersedia datang kerumahnya. Untuk jadwal harinya, terserah dengan asatidz nya saja." terang Reyhan. Haji Dahlan mangut mangut sambil berpikir sejenak.
"Sebenarnya jadwal di pondok sangat padat. Tapi, demi sebuah kebaikan, bapak akan coba bantu cari jalan keluarnya." yang membuat beban pikiran Reyhan sedikit berkurang.
Setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya Reyhan segera berpamitan pulang. Karena hari sudah semakin sore. Sebelum masuk ke mobil, Reyhan mencium tangan haji Dahlan.
Dan, lagi lagi, Rosyidah melihat nya dari balik jendela rumahnya.
Setelah kepergian Reyhan, Rosyidah segera menghampiri abinya yang kembali masuk ke kantor.
"Siapa dia tadi bi?" tanya Rosyidah sambil berpura pura merapikan bekas hidangan tadi.
"Dia adalah donatur tetap di pondok kita Idah. Walaupun dia masih muda, tapi usahanya sangat sukses. Tiap bulan jumlah sumbangannya kian meningkat. Semoga Allah melimpahkan keberkahan dalam rezekinya."
"Aamiin ya rabbal aalamiin." balas Rosyidah.
Hai readers, terimakasih sudah setia sama mas Reyhan ya.
Tetep kasih dukungan dengan tekan like hadiah favorit dan vote agar menambah semangat author update 😘😘
Sambil nunggu author update bab selanjutnya mari mampir di karya besti author yang Joss gandosss 😉😉
__ADS_1