Juragan Muda

Juragan Muda
97. POV Imran


__ADS_3

Namaku Imran Nur Wahid. Kedua orang tua serta kakakku juga seorang dokter. Sehingga aku pun juga memiliki cita-cita yang sama, yakni menjadi seorang dokter. Dan Alhamdulillah sekarang cita-cita ku terwujud.


Pertama kali aku bertugas di rumah sakit Husada, aku menangani seorang wanita cantik. Selama beberapa hari ia di rawat, aku terus memantau perkembangan nya. Syukurlah, keadaannya berangsur-angsur membaik.


Terasa konyol, aku tidak mengetahui namanya, asal usulnya tapi bisa jatuh cinta padanya. Apakah ini yang dinamakan cinta monyet? hihihi lucu juga ya ternyata, sebesar ini aku baru mengalaminya.


"Gimana kondisi nya dok?" keluarga nya kompak bertanya padaku. Sepertinya dia anak yang sangat di sayang oleh keluarganya.


"Sepertinya asam lambungnya naik. Tapi nanti saya akan lakukan pemeriksaan kembali. Suster coba ambil sample darah nya dulu." ucapku pada suster yang menemani ku.


"Asam lambung?" mereka serempak berkata, mungkin heran dengan perkataan ku.


'Apa gadis itu tak pernah sakit? sehingga keluarga nya terkejut.' batinku bertanya.


Setelah mengecek, aku meninggalkannya yang masih tak sadar, sambil menunggu reaksi setelah selang infus terpasang.


"Selamat pagi?" ucapku sambil tersenyum, lalu menyiapkan peralatan untuk mengecek. Dia hanya mengangguk tanpa seulas senyum untuk membalas sapaan ku.


'Ah kenapa jual mahal sekali dia?' batinku tersenyum kecut. Di rumah sakit ini, banyak perawat yang naksir padaku, tapi aku tak tertarik sama sekali.


"Saya cek dulu ya." tanganku mulai menyentuh tangannya yang sangat halus, sehingga membuat hatiku bergetar.


"Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik dari pada yang kemarin." ucapku ikut bernafas lega. Ibunya yang setia menemaninya juga menyunggingkan senyum kala aku berkata demikian.


"Kamu, harus istirahat yang cukup, dan jangan memikirkan sesuatu yang berlebihan, agar sakitnya tak kambuh lagi." ucapku menasehati gadis itu, lagi lagi dia hanya mengangguk.


'Apa dia bisu ya? Atau mode hemat bicara karena baru pms. Bisa juga karena patah hati ditinggal cowoknya?' batinku buruk, karena dia hanya mengangguk saja.


"Laura, kamu dengar kan apa kata dokter? Mama ingin kamu sehat dan ceria seperti sedia kala." ucap mamanya menasehati.


"Iya ma, Laura bukan anak kecil lagi kok. Laura lagi ngga nafsu makan saja." akhirnya aku bisa mendengarkan suaranya untuk yang pertama kalinya.


'Oh, ternyata namanya Laura, bagus juga. Dan, dia tidak bisu. Tapi kenapa dia tidak mau bicara pada ku?' sangka ku lagi.


Setiap hari dia selalu di tunggu mamanya, terkadang ada seorang wanita bercadar yang menemani. Wajahnya tertutup cadar, jadi tidak bisa menebak, masih muda atau sudah tua. kenapa tak ada teman yang datang untuk menjenguknya? Dia kan cantik, seharusnya teman sosialitanya banyak.


Sepertinya aku harus cari cara agar bisa berkenalan dengan nya. Nantilah aku pikir lagi, karena sekarang masih banyak pasien yang belum aku cek.

__ADS_1


Kebetulan sebelum jam makan siang, aku melewati kamar nya. Sehingga membuatku berinisiatif untuk menengok nya.


"Selamat siang?" sapa ku sambil tersenyum, lagi lagi ia hanya mengangguk dengan menyunggingkan sedikit senyum.


"Kenapa tidak ada yang menunggu?" tanya ku ketika melihat tak ada seorang pun di ruangannya, tentunya aku sambil berpura pura mengecek keadaan nya.


"Mamaku baru ke kamar mandi." jawabnya. Setelah itu, suster datang membawa makan siang untuk nya.


"Aku bantu suapi kamu." aku segera mengambil makanan yang terletak di meja nakas dekat tempat tidurnya.


"Apa tidak merepotkan dokter?"


"Tentu tidak, ini kan tugasku juga sebagai pelayan masyarakat. Siap melayani masyarakat kapan pun juga." ucap ku sambil tersenyum lalu mendekatkan sendok ke bibirnya yang tipis itu.


"Ayo ha..." sejenak dia diam sambil melihat ku, ketika aku mengangguk barulah ia membuka mulutnya dan menerima suapan ku.


"Kenalin, aku Imran." aku mengulurkan tangan.


"Sudah tahu." jawab nya yang membuat ku mengernyitkan dahi.


"Itu." ia menunjuk nickname yang melekat pada jas yang aku pakai.


"Ayo buka mulut nya lagi nona Laura." kali ini ia yang terkejut dan mengernyitkan dahi, kala aku menyebut namanya.


"Sewaktu pemeriksaan kemarin aku mendengar mama mu memanggil mu dengan nama Laura." ucap ku sebelum ia bertanya. Dan kami pun saling menyunggingkan senyum.


'Semakin bertambah cantik dan manis.' batin ku ketika melihat ia tersenyum.


"Kenapa kamu merepotkan dokter?" tiba-tiba mamanya sudah berada di samping ku.


"Dia sendiri yang menawarkan bantuan." jari telunjuknya mengarah pada ku.


"Eh, iya bu, kasian ngga ada yang menemani. Sekalian memeriksa, saya bantu suapi."


"Terima kasih sekali dok. Oh ya, sini biar saya lanjutkan menyuapi Laura." ibunya segera mengambil piring dari tangan ku dan bertepatan dengan handphone ku yang berdering.


"Maaf, saya pamit keluar."

__ADS_1


"Iya dok, sekali lagi terima kasih sudah di bantuin." ucap ibunya, dan dia hanya tersenyum sedikit.


'Ah kenapa pelit senyum sih?' batinku.


"Sama-sama." aku mengakhiri percakapan itu dan bergegas keluar untuk segera menjawab panggilan telepon.


Setiap siang saat jam istirahat aku rutin mengunjunginya, karena di jam itu, aku sudah longgar. Tentu saja tanpa sepengetahuan teman teman ku. Bisa gempar seluruh rumah sakit, kalau sampai ketahuan aku menyukai pasien ku sendiri.


"Mood booster untuk mu agar cepat sembuh." aku menyodorkan sekotak jelly dengan berbagai macam bentuk dan warna.


"Memangnya aku anak kecil, yang langsung jingkrak jingkrak ketika di kasih jelly." dia memanyunkan bibirnya ketika menerima kotak itu. Sehingga membuat ku gemas ingin mencubitnya.


"Aku bantu suapin."


"Tidak usah, aku bisa sendiri." jawabnya, lalu mulai melahap sepotong jelly.


"Manis sekali." gumamnya.


"Iya, manis seperti kamu." Laura langsung memicingkan mata menatap ku.


'Astaga, aku keceplosan.'


"Em.... apa aku tidak boleh memuji mu?"


"Sudah sedari dulu aku cantik dan manis, kamu baru menyadarinya?" ucapnya dan kami berdua langsung tergelak.


Ah, apa benar aku ini sedang jatuh cinta? Kenapa indah sekali? Pantas saja semua teman ku sudah memiliki pacar, hanya aku saja yang belum.


"Woi! Tiap jam istirahat langsung ngilang duluan, ada apa?" seru teman ku sambil menepuk pundak ku dari belakang ketika baru saja keluar dari kamar Laura, sehingga aku sangat terkejut.


"Aku.... aku, kebelet pipis, jadi buru-buru." sambil meringis aku memberi alasan untuk teman ku, lalu kami berdua berjalan bersama menuju kantin untuk mengisi perut yang sudah keroncongan sejak tadi.


Seperti biasa, kami akan saling bertukar cerita tentang pekerjaan setiap hari. Setelah puas, baru berganti topik tentang hubungan asmara mereka. Aku hanya menjadi pendengar setia saja, siapa tahu bisa diam diam menyerap ilmu mereka dalam memikat hati wanita, hehehe.


Di hari ke empat, Laura sudah jauh lebih baik, untuk itu dengan berat hati aku mengijinkan nya pulang. Dan, senyum ku kembali redup, mengingat kapan lagi akan bisa bertemu dengan nya.


Hai kak tetap dukung terus mas Reyhan sampai ketemu cinta sejatinya ya dengan tekan like hadiah vote dan favorit 😘😘

__ADS_1


Spill pemeran tambahan untuk next projects novel baru yang berkaitan dengan novel ini juga😉😉


__ADS_2