
#Note:
Silahkan baca bab 114 dulu ya kak. Karena kemarin ada kesalahan up 🙏🙏
Jangan lupa setelah baca, tinggalkan jejak dengan tekan like hadiah vote dan favorit sampai mas Reyhan menemukan cinta sejatinya ya 😘😘
"Permisi kak, saya saudara mbak Mira. Kalau boleh saya tahu, ada acara apa ya mbak Mira sama mas Choki check-in kamar?" tanya Laura pada resepsionis.
"Maaf mbak, semua adalah privasi pelanggan. Kami tidak bisa menjawab pertanyaan mbak." Kata resepsionis itu yang membuat Laura kecewa.
'Menyebalkan." maki Laura dalam hati.
Ia bergegas mengikuti langkah keduanya agar mengetahui apa yang akan di lakukan mereka yang berhenti di sebuah kamar.
'Apa yang mereka lakukan di dalam.' batin Laura lagi. Ia kemudian menempelkan telinganya pada daun pintu.
"Aku suka deh bisa menghabiskan waktu berduaan sama kamu."
'Itukan suara choki.' batin Laura yang sangat hafal betul suara pacarnya itu.
"Kalau suka sama aku, ngapain juga masih jadi pacar nya tuh meses seres? Harusnya kamu cepat putus dengannya."
'Nah itu suara Mira.' batin Laura lagi yang mengenal suara musuhnya. Hatinya geram, karena ia menyuruh Choki untuk memutuskan nya.
"Iya iya, aku janji bakal putusin dia secepatnya. Lagian dia juga sudah tidak berguna bagi ku. Lebih baik kita nikmati waktu kita berdua di atas ranjang itu. Aku sudah tak sabar melakukan nya lagi dengan mu." ucap Choki yang menggoda Mira.
'Tega sekali Choki berkata seperti itu. Selama ini aku selalu menuruti setiap kemauannya. Lalu apa yang mau mereka lakukan di atas ranjang? Apa mereka akan melakukan......'
Setelah sekian lama tak terdengar lagi suara keduanya, Laura mencoba menekan handle pintu yang ternyata belum di kunci. Ia berjalan sangat pelan hingga tak terdengar langkah nya sama sekali. Matanya membelalak sempurna ketika melihat Choki dan Mira bagai cacing kepanasan di atas ranjang tempat tidur.
"CHOKI!" seru Laura yang mengejutkan Mira dan Choki. Keduanya membulatkan mata melihat siapa yang berdiri di hadapannya mereka saat itu.
Air mata yang sejak tadi Laura tahan akhirnya lolos juga, tidak menyangka jika lelaki yang di cintai nya dengan seluruh jiwa dan raga tega mengkhianati nya.
Ia berlari menjauhi kamar dua manusia yang kini di bencinya sambil menangis sesenggukan. Ia membanting pintu mobil dengan sangat keras dan mulai menumpahkan tangisnya.
Setelah tangisnya mulai reda, ia mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran hotel. Tangan lentiknya terus memutar kemudi tanpa arah tujuan yang jelas, hingga berhenti di sebuah pantai.
Berulang kali ia menghembuskan nafas agar lebih tenang. Tapi masih saja sulit untuk menghapus kejadian yang baru saja di lihatnya tadi. Setelah menghapus air mata dan merapikan penampilan nya ia keluar dari mobilnya. Tak lupa ia mengenakan kaca mata hitam agar mata sembabnya tidak terlihat.
__ADS_1
Hatinya yang terasa hampa membawa langkah kakinya menyusuri tepian pantai. Ombak yang bergemuruh dan menerjang karang menimbulkan suara yang kuat. Hembusan angin pantai menerbangkan rambutnya, dan menyapu wajah cantiknya dengan halus. Terkadang kakinya terkena gulungan ombak pantai yang sedikit menyegarkan.
DUGH.....
Tiba-tiba sebuah bola melayang tepat membentur kepala Laura dengan keras sehingga membuat ia langsung jatuh tak sadarkan diri.
Dan di bagian bibir pantai yang tak jauh dari tempat Laura pingsan, segerombolan laki-laki itu tampak panik melihat wanita yang ambruk.
"Gawat bos! Ayo segera kita tolong." seru Aldo sambil menyenggol lengan Reyhan.
'Waduh, perasaan tadi aku nendang nya pelan, kok sampai pingsan.' batin Reyhan.
Ia bergegas berlari menyusul Aldo dan karyawannya yang sudah berlari ke arah perempuan itu duluan.
"Mbak... mbak." bersahut-sahutan mereka membangunkan gadis itu.
Dengan nafas yang terengah-engah akhirnya Reyhan sampai di tempat kerumunan itu. Matanya membelalak sempurna ketika melihat siapa yang pingsan.
"Laura." gumam Reyhan.
"Bos, pacar nya pingsan bos." tutur Aldo.
"Bawa dia ke tempat kita." perintah Reyhan.
"Ngga mau bos. Ini kan pacar bos, bos Reyhan aja yang gendong dia." tolak Aldo.
"Iya bos, bos sendiri saja yang gendong. Kita ngga mau takut di gigit." balas karyawan lainnya.
"Huh dasar kalian?" maki Reyhan.
Reyhan menunduk, dan berusaha membangunkan Laura. Namun upayanya gagal. Dengan terpaksa ia menggendong Laura menuju tempat mereka yang lebih teduh.
"Suit.... Suit"
Aldo sengaja menggoda Reyhan. Salah satu karyawan pun juga segera mengabadikan momen itu dengan mengambil beberapa cekrekan foto. Sedangkan karyawan lainnya menatap penuh damba menginginkan bisa melakukan hal romantis itu pada pasangan mereka masing-masing, tapi sayang nya di larang mengajak siapa pun juga.
Sesampainya di bawah payung tempat mereka istirahat, Reyhan meletakkan Laura dengan hati hati. Mereka semua mengerubungi Laura. Pertanyaan demi pertanyaan muncul dari mulut karyawati dan ibunya yang tidak menyaksikan kejadian tadi.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Reyhan bingung.
__ADS_1
"Kok pakai tanya sih bos, ya kasih nafas buatan lah." seru Aldo.
"Memangnya kamu pikir dia habis tenggelam." maki Reyhan.
"Minyak kayu putih! Cepat gosok, pijat dia dengan minyak!" titah Reyhan.
Bergegas mereka mencari minyak kayu putih dari kotak p3k. Setelah ketemu bergegas salah satu karyawan menyerahkan pada Reyhan. Dengan sigap ia membalur dan memijit badan Laura dengan minyak itu, lalu mendekatkan minyak itu ke hidung nya.
Setelah sekian menit akhirnya Laura bereaksi. Tangannya bergerak pelan memijat kepalanya yang terasa sakit sambil meringis kesakitan. Matanya mulai mengerjap pelan pelan.
Ia mulai memperhatikan sekelilingnya yang terlihat hanya kepala yang berdesakan sedang mengerubungi nya. Sampai matanya tertuju pada sosok lelaki yang sangat ia kenal sedang duduk di sampingnya sambil serius memperhatikan nya.
"Kamu!" ucap Laura yang langsung bangun dari tidurnya. Seketika kepala nya terasa berdenyut sakit, sehingga ia kembali memegangi kepalanya.
"Kamu tidak apa-apa?" Reyhan bertanya dengan hati-hati.
PLAKK...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Reyhan. Ia membulatkan mata tak percaya dengan apa yang sudah di lakukan Laura kali ini sambil memegangi pipinya yang seketika memerah.
Seluruh karyawan yang menyaksikan kejadian itu seketika merasa ngeri sambil mengelus pipi masing-masing.
"Aoh... Pasti sakit banget." celetuk Aldo sambil meringis.
"Bubar semua!" perintah Reyhan dengan tegas.
Seluruh karyawan pun langsung menjauh dari tempat mereka setelah mendengar suara bos nya yang sangat lantang itu.
"Waduh, apa pacar nya marah, karena ngga di ajak piknik?" celetuk Aldo. Mereka pun saling mengeluarkan argumen nya masing-masing.
Sementara ibu, Bima dan Bayu juga tampak kaget dengan kejadian itu, dan juga ikut menjauh.
"Memangnya aku salah apa sama Miss Laura, sehingga menampar ku sekeras itu?" tanya Reyhan ketika situasi mulai kondusif.
"Kamu ngga tahu aku sedang patah hati? Kenapa tega menendang bola ke arah ku!" seru Laura. Lalu ia kembali menangis tergugu.
'Memangnya patah hati bisa terlihat? Kok dia bisa bertanya seperti itu ke aku.' selintas pertanyaan muncul di benak Reyhan.
Ia sekarang justru bingung dengan apa yang harus di lakukan nya. Jika salah bertindak, takut terkena tamparan lagi. Ia pun hanya duduk diam sambil menunggu Laura berhenti menangis.
__ADS_1