Juragan Muda

Juragan Muda
240. Check up


__ADS_3

Pagi itu, para ibu-ibu tengah menyiapkan diri untuk melakukan medical check up pasca melahirkan. Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, mereka berangkat dengan di antar oleh suami masing-masing.


Bayi mereka juga terlihat anteng dalam gendongan ibunya.


Menempuh perjalanan sekitar 30 menit, mereka sampai di rumah sakit, tempat mereka melahirkan dulu.


Sesampainya di tempat parkir, mereka segera turun dari mobil masing-masing. Dan, sesaat pandangan mereka saling beradu, lalu senyum mengembang di wajah masing-masing.


Mereka tidak menyangka, setelah dulu melahirkan bersama, akhirnya kini kembali dipertemukan lagi.


Tentu saja mereka saling berjabat tangan dan berpelukan untuk melepaskan rindu yang membuncah.


Para suami pun juga melakukan hal yang sama. Mereka sangat senang, jika melihat istrinya bahagia.


Setelah sejenak melepas rindu, mereka berjalan bersama menuju ruang pemeriksaan. Para suami mengambil nomor antrian, sedangkan para ibu duduk di kursi tunggu sambil bercakap-cakap.


Mereka tampak antusias menceritakan tumbuh kembang bayinya. Begitu juga dengan para bapak, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan istrinya.


Gelak tawa meliputi setiap percakapan mereka. Sehingga tanpa mereka sadari nomor antrian mereka satu persatu di sebut.


Laura beranjak dari duduknya, di dampingi oleh Reyhan. Keduanya memasuki ruang pemeriksaan.


Seorang dokter wanita paruh baya menyambut mereka dengan senyum hangat, lalu mempersilahkan keduanya duduk.


"Kita mulai periksa keadaan adiknya dulu ya bu." ucap dokter itu. Ia bergerak mendekati bayi tampan dalam gendongan Laura.


"Silahkan adiknya ditidurkan di brankar terlebih dulu, untuk memudahkan pemeriksaan."


"Baik Bu."


Laura segera berdiri di dampingi oleh Reyhan. Dengan hati-hati ia meletakkan bayinya. Dokter tadi mendekati king Salman, lalu melakukan serangkaian pemeriksaan.


Reyhan dan Laura tampak memperhatikan dengan serius apa yang dilakukan dokter itu.


"Alhamdulillah, kondisi dedeknya cukup baik. Tidak ada tanda-tanda ia menderita penyakit kuning." ucap dokter. Lalu ia beralih meletakkan King Salman di tempat penimbangan.


"Berat badannya juga naik ya bu. Bagus sekali perkembangannya."


"Alhamdulillah." ucap suami-istri itu kompak. Senyum mengembang di wajah keduanya.

__ADS_1


"Apa dedeknya juga mengkonsumsi susu formula?"


"Tidak bu. Alhamdulillah asi saya melimpah."


"Hem, bagus sekali itu. Asi memang makanan terbaik untuk bayi. Semua nutrisi sudah ada dalam asi. Sebelum 6 bulan, memang sebaiknya tidak perlu diberi makanan pendamping lainnya."


"Baik bu. Nasehatnya akan berusaha kami jalankan dengan baik." balas Laura.


Dokter itu membalasnya dengan senyuman. Lalu, meminta Reyhan untuk menggendong bayinya. Karena ia akan memeriksa kondisi Laura.


Reyhan pun melaksanakan perintah dokter, ia menggendong bayinya dengan menggunakan kain jarik. Terlihat sekali ia sangat luwes menggendong. Bahkan dokter itu menyunggingkan senyum kearahnya.


"Sepertinya bapak sudah benar-benar terlatih ya." kekeh dokter itu.


"Gimana ngga terlatih dok, bayi saya selalu menjadi bahan rebutan bagi suami dan keluarga. Saya cuma kebagian pas menyusui doang." ungkap Laura polos. Sehingga membuat dokter itu terkekeh.


"Pasti anak ibu cucu pertama, makanya selalu jadi bahan rebutan." tebak dokter itu, dan Laura mengangguk mengiyakan.


Setelah berhenti tertawa, dokter mulai melakukan pemeriksaan. Ia menyuruh Laura untuk mengangkat kedua kakinya. Lalu mengarahkan lampu ke arah jalan lahirnya. Agar ia bisa melihat dengan seksama.


"Apakah masih merasa sakit?" tanya dokter itu, sambil menekan bagian tertentu tubuh Laura, lalu wanita itu menggeleng.


"In shaa Allah dicoba dok. Semoga tidak khilaf." balas Reyhan sambil terkekeh pula.


Akhirnya serangkaian medical check up selesai. Laura dan bayinya dinyatakan sehat. Mereka pun segera keluar ruangan.


"Kita ngobrol dengan mereka lagi yuk mas." ajak Laura, Reyhan pun mengangguk setuju. Bergegas keduanya mendekati sahabatnya.


Di saat Laura kembali bergabung dengan mereka, Anisa di panggil. Bergegas ia dan Bayu masuk ke ruangan.


Terlihat Laura dan Reyhan ikut mengobrol lagi. Hal itu berlangsung sampai mereka semua selesai melakukan pemeriksaan.


Dan, mereka sangat bersyukur, ketika ibu dan bayinya dinyatakan sehat.


"Kita makan siang di luar yuk?" ajak Laura.


Tanpa banyak kata, mereka semua mengangguk setuju dengan ajakan Laura. Dengan tetap berhati-hati, mereka berjalan menuju parkiran mobil.


Kendaraan roda empat milik mereka melaju meninggalkan pelataran rumah sakit, menuju ke restoran terdekat.

__ADS_1


Cukup menempuh 15 menit perjalanan, akhirnya mobil Reyhan memasuki sebuah restoran yang bergaya etnik jawa, di susul oleh mobil sahabatnya.


Mereka turun dari mobil, dan memindai keadaan sekitar. Yang terlihat asri dan sejuk, karena dipenuhi oleh pepohonan yang besar dan rindang.


"Ayo, segera masuk ke dalam. Cari tempat duduk yang paling nyaman." ajak Reyhan dengan penuh semangat.


"Ayo, kalau urusan makan mah, ngga perlu dioyak-oyak." balas Andre sambil terkekeh.


"Kita duduk di saung itu saja. Tempatnya terlihat luas dan teduh."


Bayu menunjuk saung yang ada di sebelah kiri restauran. Tempatkan memang terlihat cukup luas dan sejuk.


"Okay, aku setuju saja." balas yang lain.


Mereka pun berjalan beriringan menuju saung yang di maksud. Tak lama setelah mereka duduk dengan nyaman, seorang pelayan menghampirinya mereka sambil membawa buku menu.


Mereka saling bergantian melihat daftar menu, lalu menyebutkan pesanannya pada pelayan. Dan, sambil menunggu pesanan siap, tentu saja mereka memanfaatkan waktunya untuk bercakap-cakap.


Entahlah, meskipun waktu yang disediakan cukup banyak, nyatanya mereka tak juga berhenti bercerita. Ada saja hal yang menarik yang mereka bahas, dan dijadikan bahan candaan.


Mereka sejenak berhenti bercerita, ketika pesanan datang.


"Terima kasih mbak." ucap mereka kompak, pada pelayan yang baru saja menyajikan aneka menu pesanannya.


Terlihat mereka mulai mencicipi makanan nya yang terlihat cukup enak. Pelan namun pasti hidangan yang tersaji habis tak bersisa.


"Sepertinya, mengurus bayi itu memang menguras energi. Nyatanya kita mampu menghabiskan seluruh hidangan, hingga tak bersisa." celetuk Bayu.


Semua pun terkekeh dengan ungkapan hatinya. Tentu saja ia sangat kecapekan, karena mengurusi 2 bayi yang masih sangat kecil. Di tambah lagi, pekerjaannya sendiri, dan usaha mertuanya yang diserahkan padanya. Sehingga sangat wajar ia mengeluh capek.


"Ngga apa-apa, sekarang sibuk dan repot. Nanti kalau anak-anak kita sudah besar, pasti kita akan merindukan kerepotan ini. Betul ngga?" timpal Andre.


Semua mengangguk setuju.


"Aku sangat berharap, jalinan persahabatan kita tidak akan pernah putus. Meskipun nanti kita sudah tua." usul Reyhan.


"Iya, aku setuju. Bahkan, kalau bisa kemana pun kita pergi, ajak anak-anak kita. Agar mereka saling mengenal satu sama lain. Biar mereka juga bersahabat, sama seperti kita." imbuh Adam.


"Iya, ide yang bagus. Karena barang siapa yang menyambung tali silaturahim, sama saja dengan menyambung kebaikan, mendekatkan rezeki. Dan barang siapa memutus silaturahim, sama saja ia memutus kebaikan dari-Nya, dan menyempitkan rezekinya."

__ADS_1


"Benar sekali itu ustadz." ucap mereka kompak, menanggapi ucapan Reyhan. Sehingga mengundang gelak tawa mereka.


__ADS_2