
Setelah beberapa hari sempat menyesal mengenal Ratna yang sudah bersuami. Reyhan akhirnya perlahan lahan juga mulai bisa move on. Berhenti mengirim pesan dan menghapus nomor Ratna adalah cara yang paling ampuh.
Setiap hari menjalani rutinitasnya sebagai karyawan pabrik dan tetap bermain futsal dengan club nya.
Tak terasa sudah hampir setahun Reyhan tak menjalin hubungan dengan wanita. Dia masih trauma dengan masa lalu nya dalam berkenalan dengan wanita.
Hingga suatu hari, ada seorang anak training yang mendekat kepada nya dan bertanya dimana letak kamar mandi. Reyhan langsung menatapnya takjub. Kulit kuning langsat, tinggi, matanya sipit.
Untuk hal ini tidak boleh terburu buru, harus mengatur strategi jangan sampai terulang lagi. Sebulan pertama hanya diam sambil mengamati, bulan berikutnya mulai basa basi bertanya nama, lulusan sekolah mana. Selang beberapa minggu mulai berani bertanya nomor telepon.
Sebelum berchating lebih lanjut Reyhan mencoba bertanya ke Doni soal wanita itu yang ternyata bernama Sinta. Dan menurut hasil penerawangan Doni, Sinta terlihat masih gadis dan belum menikah alasannya simpel, PD nya terlihat lebih kecil.
Berbekal dari kata kata Doni, Reyhan mulai berani mengirim pesan ke Sinta. Tak perlu menunggu waktu lama Sinta juga segera membalas pesannya. Rutinitas saling berbalas pesan meningkat setiap harinya.
Tak terasa sudah sebulan mereka berkomunikasi lewat pesan. Dan tak terasa pula waktunya gajian tiba, Reyhan mengajak Sinta mengambil gaji bersama. Berbekal alamat yang dikirim Sinta lewat pesan akhirnya Reyhan tiba juga di rumah Sinta. Sinta yang ternyata sudah menunggu di teras segera berdiri dan berpamitan dengan ibunya. Tak lupa Reyhan bersalaman dulu dengan ibunya Sinta dan berpamitan hendak mengajak Sinta keluar.
Setelah mengambil gaji di gerai ATM terdekat, Reyhan mengajak Sinta mampir di resto steak terdekat. Mereka mulai bercerita lagi. Hingga tak terasa waktu sudah mendekati Maghrib, Reyhan lantas segera mengantar Sinta pulang.
_____
"Makin kesini kulihat kamu makin sering aja ngobrol sama Sinta, udah jadian ya Rey?" tanya Doni.
"Belum mas."
"Belum? Berarti ada rencana mau nembak dong" tanya Doni lagi.
"Gimana, kalo aku jadian sama Sinta kamu dukung ngga mas."
"Jadi kamu ngalor ngidul ngajak anak orang itu belum jadian." Doni balik bertanya.
"Menurut ku kalo suka langsung nikah aja Rey jangan pacaran. " gantian Didi yang menasehati.
"DOSA." kata Doni dan Rudi bersamaan kemudian keduanya langsung tertawa.
"NIKAH!" seru Reyhan. Bahkan 2 kali mencintai wanita nasibnya selalu berakhir tragis, apalagi langsung menikah, bayangannya belum ada di kepala Reyhan. Rencana nya mau mengajak Sinta pacaran demi bisa mengenal lebih jauh.
"Didi mah udah kayak ustadz aja kalo ngomong." cetus Doni.
"Ya kan ngga papa, kalo emang sama sama masih single." balas Didi lagi.
"Ah pada ngasal semua nih." gerutu Reyhan.
"Jangan lupa ditanya kejelasan status nya, jangan sampai bertepuk sebelah tangan, biasanya cewek cantik banyak yang ngelirik atau malah udah punya pacar." kata Doni sambil nyengir.
__ADS_1
"Okay, semua saran dari kalian aku tampung." balas Reyhan sambil tersenyum.
Reyhan kini semakin dekat dengan Sinta, sering menjemput saat pulang kerja, sering menghabiskan malam minggu bersama, sering keluar untuk sekedar jajan cilok, bahkan Reyhan sudah akrab dengan keluarga Sinta sehingga tak ragu untuk menyatakan perasaannya.
Disuatu sore, seperti biasa Reyhan akan menjemput Sinta untuk mengajak bermalam minggu. Reyhan yang habis mencukur rambutnya terlihat lebih fresh, memakai kemeja kotak kotak warna putih lengan pendek dipadukan dengan celana jeans biru semakin menambah kegagahan nya.
"Pasti mau malem mingguan ya." tebak Bayu sambil tiduran di depan TV.
"hemm, mau tau aja urusan orang gede." jawab Reyhan singkat.
"Kalo punya pacar kenalin ke kita dong kak, cantik ngga, royal ngga." lagi Bayu mencecar Reyhan.
"Yah doain aja lah aku dapat pacar seperti yang kamu mau. Eh.. maksud aku, aku punya kriteria tersendiri dong, kalo kamu mau pacar yang seperti itu ya cari aja sendiri sana. Bye..... Assalamu'alaikum." jawab Reyhan segera mengambil kunci yang tergantung di dekat pintu.
"Hu.... gitu aja sewot. wa'alaikumussalam."
Reyhan pun segera menyalakan motor menuju rumah Sinta. Dengan kekuatan cinta perjalanan jauh itu tak terasa melelahkan bagi nya. Dan seperti biasa Sinta sudah menunggunya di teras rumah. Setelah berpamitan dengan orang tua Sinta, mereka segera berangkat menuju ke taman kota. Kebetulan taman kota itu baru selesai direnovasi, jadi banyak sekali pengunjung yang berdatangan.
Setelah mereka sampai, Sinta mengajak jalan menyusuri sepanjang jalan yang penuh dengan penjual aneka macam cemilan. Langkah Sinta terhenti ketika melihat orang jualan es serut jumbo, dengan toping aneka rasa dipadukan campuran berbagai macam sirup yang sangat menggoda. Reyhan pun tak sungkan untuk membelikannya. Setelah itu mereka meneruskan perjalanannya lagi.
Setelah capek berkeliling Sinta mengajak duduk di kursi dekat bunga bunga yang menghadap ke air mancur. Kesempatan bagi Reyhan untuk segera mengungkapkan perasaannya mumpung kondisi sekitar lumayan sepi.
"Suka ngga Sin sama tempat nya." Reyhan mulai jurus basa basinya.
"Boleh boleh. Oh iya selama aku ngajak kamu keluar gimana tanggapan keluargamu."
"Em... ya biasa aja sih mas, ya kamu udah kenal mereka sendiri kan? lagian tumben tanya seperti itu, ada apa." Sinta mulai menatap Reyhan serius.
"Oh ya ngga papa, apa.... apa mereka ngga tanya gitu kalo kita sering keluar bareng trus disangka nya kita ada hubungan apa-apa."
"Maksudnya?"
"Ya.... mereka menganggap kita cuma teman atau...."
"Atau apa." potong Sinta tak sabaran.
"Atau pacar he he he." jawab Reyhan sambil tersenyum dan garuk-garuk kepala.
Sinta pun lantas tersenyum malu.
"Aku nunggu jawaban mu lho Sin."
"Jawaban apa?"
__ADS_1
"Ih kok pura pura ngga tau sih, ya yang tadi, gimana tanggapan keluargamu soal kita yang sering keluar bareng dianggap cuma temen atau pacar?"
"Em.... memang mas Reyhan mau nya di anggap gimana, ntar aku sampaikan ke mereka." jawab Sinta diiringi dengan senyuman.
"Em... kalo misal dianggap jadi pacar boleh ngga ya. Ada yang marah ngga nanti?"
"Em.... ngga ada yang marah sih, tapi memang mas Reyhan ngga ada pacar gitu."
"Kok balik tanya Sin."
"Ya ngga papa, misal nya keluargaku ngga papa kalo kita ada hubungan pacar trus gimana sama mas Reyhan, ada yang marah ngga ntar dibelakang."
"Ngga ada dong Sin. Jadi secara tidak langsung keluargamu ngijinin nih ya kalo kita pacaran." ulang Reyhan memastikan diiringi senyum kekhawatiran.
"Iya mas, semua terserah aku sih."
"Jadi... misal kita serius pacaran kamu juga mau Sin?" tanya Reyhan lagi dan akhirnya di jawab dengan sebuah anggukan dan senyumnya dari Sinta.
"Jadi hari ini kita resmi jadian ya. Hari Sabtu tanggal 10 Mei 2022 jam 5 sore di taman kota?" kata Reyhan menjelaskan sambil menggenggam tangan Sinta.
"Iya mas Reyhan." jawab Sinta dengan senyum termanisnya.
"HOREE.... aku diterima." seru Reyhan kegirangan sampai lonjak lonjak.
"Sutttt.... Astaga mas, jangan seperti itu, aku malu." bisik Sinta sambil menarik tangan Reyhan mengajak duduk.
"Iya iya sayang."
"Eh aku boleh kan panggil kamu sayang mulai sekarang?"
Lagi lagi jawaban Sinta cuma sekedar anggukan kepala disertai senyum.
Setelah mereka ngobrol panjang dan Reyhan mengajak Sinta jalan lagi. Kali ini mereka melewati para penjual baju jilbab dan beberapa fashion lainnya.
Ternyata mereka sama-sama sedang memandang kaos putih bergambar Tedy bear dan bisa request nama. Mereka pun saling pandang dan memutuskan mendekat untuk memesan.
"Sin, eh say maksudku, maaf ya cuma ini yang aku bisa beri sebagai tanda kita jadian." ucap Reyhan sambil menggenggam tangan Sinta.
"Ngga papa yang penting aku suka. Kemana lagi kita sekarang?" ucap Sinta antusias.
"Em... kamu laper ngga, kita cari makan yuk."
"Boleh, yuk."
__ADS_1
Akhirnya mereka berjalan menuju tempat motor, segera melajukan motornya ke resto terdekat. Setelah memesan menu makanan seperti biasa, mereka akan bercerita kembali. Sinta merasa nyaman karena Reyhan termasuk tipe orang yang humble, setiap bertemu dengannya pasti bakalan ada yang diceritakan nya. Hingga tak terasa pesanan pun tiba, mereka segera melahapnya. Setelah itu mereka memutuskan untuk segera pulang, karena jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tak lupa Reyhan juga mampir sebentar ke toko kue untuk membelikan keluarga Sinta oleh oleh.