Juragan Muda

Juragan Muda
51. Bau Pesing


__ADS_3

"Arghhh......... Sialan aku di rampokkk....." Teriak Choki dengan kerasnya.


"Woi, ngapain teriak-teriak Chok?" dengan tergopoh-gopoh satpam mendekati Choki yang masih merebahkan diri di jalanan. Satpam pun geleng-geleng kepala melihat kelakuan Choki itu.


"Hei! kurang kerjaan ya, tidur dijalan." ujar satpam sambil berkacak pinggang.


"Oalah pak, aku ini lagi kena musibah bukan kurang kerjaan." keluh Choki disertai isakan tangis.


"Musibah opo?"


"Yo pokok e musibah, hanya Allah yang tahu karena ini aib. huhuhu."


"Ya wes, nangisnya diselesaikan dikamar aja, ayo bangun. Ngga enak dilihat orang karena ini aib dan hanya Allah yang tahu." satpam pun membantu Choki berdiri dan memapahnya.


"Dasar bocah sableng, ada-ada saja tingkah nya." satpam pun geleng-geleng kepala melihat Choki yang berjalan menuju kamarnya yang berada dilantai bawah dekat dapur.


"Kamu kenapa Chok?" tanya ibunya yang sedang meracik sayuran untuk esok hari dan sejenak memandang anaknya yang tampak acak adut itu.


"Choki lagi berduka cita ma."


"Mulut mu belum pernah ngerasain kolak sandal ya! Kalau ngomong sama orang tua yang benar dong, siapa yang meninggal?"


"Terserah kata mama deh." Choki pun berlalu ke kamarnya tanpa menghiraukan ucapan ibunya.


Sesampainya di kamar Choki segera menghempaskan badannya dikasur.


"Arghhh.... Kenapa aku selalu kena sial? Semua ini pasti gara-gara Laura. Pokoknya dia harus gantiin handphone ku yang ilang. Punya pacar 2 tapi kok ngga bisa diandalkan semua."


"Aku Choki yang ganteng, mukanya mirip Choki Sitohang pasti juga bisa sukses seperti dia. Aku bakal jadi orang kaya, punya banyak duit, mau apa aja tinggal tunjuk. Kalau papanya Laura ngga ngijinin aku jadi pacar anaknya ngga masalah, ntar bisa cari cewek yang lebih cantik dan lebih kaya dari dia. Tapi untuk sementara ini aku bakal terus deketin Laura sampai ketularan kayanya. Tak hanya itu saja, aku diam-diam juga bakal tetep dekati si Mira, dan jangan sampai Laura tahu kalau aku menduakannya. Karena mereka berdua adalah tambang emas bagiku."


Choki pun tertawa terbahak-bahak setelah berbicara panjang lebar seorang diri. Dan tak lama kemudian ia ketiduran dalam buaian mimpi yang indah.


"Chok..... Choki!" teriak bu Darmi sambil tergopoh-gopoh memasuki kamar Choki.


"Heh, Chok... Choki kamu kuliah ngga?" dengan susah payah bu Darmi membangunkan Choki yang tampak masih pulas sambil sesekali menggoyangkan badan Choki.


"Heem...... apaan sih ma... Choki masih ngantuk. Besok pagi aja bangunin Choki nya." dengan suara parau khas orang bangun tidur Choki mengusir ibunya.

__ADS_1


"Hey! Ini tuh sudah siang, kamu kuliah ngga!"


"APA! Udah siang? Kok ngga bangunin Choki dari tadi ma?" seketika Choki langsung terduduk dengan mata yang membulat sempurna.


"Sudah dari tadi ibu bangunin kamu, dasarnya aja kamu yang ndableg." kata ibunya sambil hidungnya kembang kempis menghirup suatu aroma.


"Kok seperti bau pesing, kamu ngompol!"


"Ssstttt.....Mama apa-apaan sih, nuduh Choki sembarangan. Ya udah buruan keluar, Choki juga mau ambil baju terus mandi." jari telunjuknya menempel di mulut memberi isyarat ke ibunya agar tidak teriak-teriak.


"Waduh, ternyata benar apa kata ibu, aku bau pesing. Tapi.... kapan aku ngompol?" gumam Choki. Lalu ia segera melompat dari kasur dan bergegas siap-siap ke kampus.


"Kok lamaaa banget sih sayang, aku telepon, aku kirim pesan berulang kali tapi ngga ada jawaban sama sekali. Kamu marah ya sama aku?" tanya Laura ketika Choki sudah masuk dalam mobilnya, lalu mulai melajukan mobilnya pelan.


"Handphoneku ilang." balas Choki singkat yang membuat Laura terkejut dan menghentikan mobilnya mendadak.


Ciiittt....


"Kok bisa? Bukankah semalam pas kita makan masih kamu bawa?"


Lalu Choki menceritakan serangkaian kejadian yang menimpanya tadi malam, dan berhasil membuat Laura tertawa terbahak-bahak.


"Maaf bukannya gitu, ya udah gampang, tinggal beli yang baru aja ngapain repot."


"Masalahnya ngga segampang itu sayang, kalau ketahuan mamaku, aku bisa di gorok karena ngga bisa jaga barang barangku sendiri." ucap Choki sambil menggerakkan tangan di depan leher.


"Lhoh, kok tutup sih kampusnya?" keduanya beradu pandang lalu melihat keadaan sekitar kampus yang terlihat sepi. Laura segera mengecek kalender di handphone nya.


"Astaga, ini kan hari minggu sayang, pantesan tutup." pekik Laura. Keduanya pun sama menepuk jidat lalu geleng-geleng kepala menyadari kekonyolan mereka.


"Ya udah sayang, kamu anterin aku beli handphone aja mumpung kita masih diluar." bujuk Choki.


"Boleh." Laura segera melajukan mobilnya meninggalkan kampus, menyusuri jalanan kota yang tampak macet karena banyaknya bus pariwisata atau kendaraan pribadi yang lewat, tentu tujuan mereka untuk berlibur.


"Mau beli dimana?"


"Kemarin aku sempat baca di pacebook, katanya ada counter yang baru buka, di pasar Baru dan depan rumah sakit Cipto."

__ADS_1


"Ya udah coba lihat di depan rumah sakit Cipto aja sayang, aku ilfil kalau harus menjejakkan kakiku ini di pasar." Choki pun mengangguk setuju.


Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di counter LARIS JAYA CELL depan rumah sakit.


"Ini bukan counternya?" tanya Laura ke Choki untuk memastikan.


"Mungkin benar sayang, namanya aku inget kok. Lagian ini satu-satunya counter yang terlihat besar diantara lainnya. Pasti stoknya komplit. Dan, tuh lihat banyak banget karangan bunga untuk menyambut grand opening. Pasti nih yang punya orang kaya dan terkenal. Ya udah, ayo masuk." ajak Choki yang tampak sudah tak sabaran.


Sedangkan Laura masih mencoba untuk mengingat nama counter itu yang dirasa tak asing baginya. Matanya membulat ketika melihat karangan bunga bertuliskan nama showroom papanya.


'Apa mungkin ini counternya tuh cowok.' batin Laura.


"Sayang, ayo." ajak Choki lagi, Laura pun mengangguk dan mengikuti Choki yang sudah keluar dari mobil. Sambil bergandengan tangan mesra keduanya memasuki counter.


Keduanya mengedarkan pandangan kesetiap sudut ruangan yang sudah di design dengan sangat indah. Mata Choki berbinar-binar ketika melihat deretan handphone keluaran baru.


"Ayo kesebalah situ." ajak Choki sambil menunjuk ke arah etalase dengan deretan handphone keluaran terbaru.


Matanya awas memperhatikan handphone dari ujung kanan ke kiri.


"Aku mau lihat yang ini mas." Choki menunjuk sebuah handphone viv* yang menjadi brand support di counter Reyhan.


Choki mendengarkan keterangan dari customer servis dengan serius, lalu sejenak menimang handphone itu.


"Sayang, aku mau yang ini, kamu bayarin dulu ya." bisik Choki yang membuat Laura membulatkan mata dengan permintaan kekasihnya itu. Tapi juga tak dapat menolaknya karena itu bisa menjatuhkan harga dirinya dihadapan pengunjung.


Laura pun segera merogoh dompet nya dan mengeluarkan kartu kreditnya.


"Sayang, itu bukannya cowok yang pernah nabrak kita." Choki menepuk pundak Laura pelan sambil menunjuk seorang lelaki yang berdiri diambang pintu counter. Laura mengikuti arah telunjuk Choki.


DEG!


Berteman yuk kak di FB.


FB: Nurul khanifah


Berikan penilaian yang baik ya agar menambah semangat author untuk terus update.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca, terimakasih semoga sehat selalu dan semakin lancar rezekinya.😘🤗


__ADS_2