Juragan Muda

Juragan Muda
196. Main masak masakan


__ADS_3

Hari Senin menyapa. Semua kembali dengan rutinitas masing-masing.


Laura membantu merapikan dasi Reyhan sebelum berangkat ke showroom. Tak berselang lama, suara tangis baby Zakira terdengar memekakkan telinga. Laura dan Reyhan beradu pandang lalu keduanya segera keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi.


"Apa yang terjadi sayang?" ucap Laura sambil mendekati box bayi yang ada di ruang keluarga. Ia mengecek kondisi Zakira kenapa tiba-tiba menangis.


Reyhan pun juga mendekati dan memperhatikan dengan seksama.


"Oh... kamu di gigit semut ya sayang." ucap Laura sambil menghilangkan semut dari tangan Zakira. Lalu segera mencari minyak telon dan di oleskan pada bekas gigitan yang tampak memerah. Setelah nya Laura menggendong Zakira dengan kain jarik.


Laura sering menggendong atau menemani Zakira ketika Anisa dan Bayu sedang sama sama sibuk. Sehingga ia tampak semakin luwes merawat bayi.


Baginya dengan berada di dekat Zakira bisa sedikit mengobati rasa sedihnya karena kehilangan bayi laki-laki nya.


Sebenarnya sejak beberapa bulan lalu Laura sudah di ijinkan untuk melakukan program hamil oleh dokter yang sering mengunjunginya kala bedrest di rumah dulu, karena jaraknya sudah lebih dari 3 bulan.


Tapi, Laura merasa belum siap, takut hal buruk kembali terjadi. Dan suaminya menyerahkan semua keputusan padanya.


Bukan Reyhan tak tegas menjadi seorang suami. Tapi, ia hanya ingin agar istrinya merasa tenang dan nyaman terlebih dulu.


Anak hanyalah titipan, yang ketika kelak sudah tumbuh dewasa akan pergi meninggalkan kita orang tuanya. Namun istri, ia akan selalu di sisi kita sampai ajal menjemput.


Dan, Reyhan tak ingin kehilangan salah satu sisi hidupnya karena keegoisannya ingin memiliki seorang anak. Laura adalah nyawa hidupnya. Begitu pun sebaliknya. Keduanya selalu mengucapkan janji sehidup semati.


Jika masih rezekinya, pasti suatu saat akan di beri olehNya. Mereka yakin akan hal itu.


Jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 lebih 30 menit. Reyhan segera menyambar tasnya lalu berpamitan pada Laura.


"Mas berangkat kerja dulu ya sayang. Kalau ada apa-apa segera kabari. Jangan lupa makan, istirahat teratur. Kalau pengen sesuatu beli saja. Kalau habis uangnya, jangan sungkan minta."


Laura selalu terkekeh dengan serangkaian kalimat yang sama yang di ucapkan Reyhan setiap harinya.


"Sudah mas, keburu telat kalau kamu banyak bicara seperti itu. Buruan berangkat gih."

__ADS_1


"Iya iya sayang, aku pamit dulu, Assalamu'alaikum." Reyhan mengecup kening Laura cukup lama, lalu kedua pipinya dan terakhir Laura membalas mencium punggung tangan Reyhan.


"Wa'alaikumussalam paman."


Reyhan juga gemas pada Zakira, tak lupa mengecup pipi keponakannya itu. Lalu segera melangkah pergi.


Sebelum mobil melaju, Reyhan kembali menoleh ke arah Laura. Ia mengangkat satu tangan Zakira, melambaikan ke arah suaminya itu sambil tersenyum sumringah. Dan Reyhan pun membalas dengan hal yang sama.


Keduanya terlihat seperti ibu dan anak. Pemandangan yang sangat indah di mata Reyhan. Dalam hatinya berdo'a, semoga hal indah itu suatu saat bisa terjadi, entah kapan waktunya. Lalu mobil pun melaju keluar.


"La, tadi aku dengar Zakira menangis." ucap Anisa yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Laura.


"Cuma di gigit semut Nis."


"Maafkan aku, tadi perut ku sakit. Makanya lama di kamar mandi."


Keduanya pun bercakap cakap di teras rumah, sambil Zakira masih berada dalam gendongan Laura.


Semenjak melahirkan, Bayu memang meminta Anisa untuk menjaga putri nya itu di rumah. Mencurahkan segala kasih sayang dan perhatian yang penuh padanya.


Jika Anisa mengecek toko, ia sering mengajak suami dan anaknya, sekalian mampir ke rumah orang tuanya. Bagaimana pun juga selama belum memiliki rumah, keduanya masih sering wira wiri ke rumah orang tua.


Anisa yang notabenenya adalah anak tunggal, tentu saja berhak mewarisi atas rumah yang di tempati kedua orang tuanya. Tidak hanya itu saja, ia juga berhak meneruskan usaha yang di geluti oleh kedua orang tuanya dan harta lain yang di miliki.


Dan hal itu sudah di sampaikan oleh kedua orang tuanya jauh jauh hari padanya dan suaminya. Bayu sebagai menantu, sangat berterima kasih atas hal itu.


Sebenarnya ketika kedua orang tuanya mengatakan hal itu, Anisa merasa sangat sedih. Ia merasa seolah-olah orang tuanya akan segera pergi jauh.


Namun orang tuanya kembali mengingatkan, jika lebih baik sebelum meninggal dunia, semua urusan dunia di bereskan. Apalagi seperti urusan harta yang sangat riskan. Dan bersyukurlah mereka, karena orang tuanya tidak memiliki tanggungan hutang sepeser pun.


Abi nya Anisa juga pelan pelan mulai mengajari Bayu mengelola usahanya yang sangat jauh berbeda dengan usaha yang di kelola Bayu selama ini. Namun intinya adalah sama, berwirausaha.


Bayu juga nampak antusias dan semangat dalam menekuni bidang yang baru baginya itu.

__ADS_1


"Sayang, aku pamit ke counter dulu ya, habis itu ke rumah Abi, kamu ikut ngga?" suara Bayu yang menggelegar mengagetkan Anisa dan Laura yang tengah asyik bercerita. Ia mengulurkan pada Anisa.


" Iya sayang, hati hati ya. Aku di rumah saja, menemani Laura." balas Anisa sambil mencium punggung tangan suaminya.


Setelah Bayu bersalaman dengan Anisa, ia mendekati Zakira, lali mengecup kedua pipinya yang seperti bakbao.


"Dada Zakira, Abi berangkat kerja dulu ya." Bayu melambaikan tangannya pada si kecil.


"Pamit dulu ya ibu-ibu." imbuhnya lagi sambil nyengir.


Setelah semua berangkat kerja, tinggallah mereka bertiga.


"Daripada gabut, kita main masak masakan yuk?" celetuk Anisa sehingga membuat Laura terkekeh dengan bahasanya.


Namun tak perlu berpikir lama, Laura pun mengangguk setuju. Sudah lama ia tak beraktifitas di dapur. Tentu saja ia sangat kangen dengan hal itu.


Setelah menidurkan Zakira, keduanya segera menuju dapur untuk memasak.


Keduanya mencari bahan-bahan yang bisa di gunakan untuk acara memasak kali ini. Dan berdasarkan bahan yang ada, keduanya sepakat untuk membuat kue lapis legit.


Tentu saja, untuk membuat kue itu di butuhkan waktu yang cukup lama dan konsentrasi yang tinggi serta takaran bahan yang pas agar menghasilkan rasa yang istimewa.


Setelah hampir 2 jam, akhirnya kue itu selesai di buat. Bau wangi yang khas dari kue itu mulai menguar ke setiap sudut ruangan. Sehingga membuat perut mereka kembali keroncongan.


"Ayo Nis kita coba dulu?" ajak Laura dengan oenuh semangat, yang di jawab oleh anggukan dan senyum semangat dari Anisa.


Keduanya segera duduk di kursi dapur, lalu menggigit potongan kue itu.


"Hem, enak ya?" puji keduanya kompak.


Lalu keduanya justru terkekeh ketika menyadari wajah dan baju mereka sampai belepotan penuh dengan noda tepung.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1



__ADS_2