
Reyhan dan Laura seketika bernafas lega karena di nyatakan sehat dan tidak mandul. Hanya butuh sedikit bersabar lagi dan hati yang ikhlas agar semua terasa mudah untuk di jalani.
Dokter juga menyarankan agar keduanya tidak terlalu stress memikirkan sesuatu dan mengurangi aktifitas yang menyita tenaga, serta beberapa saran lainnya. Ia juga memberi resep obat untuk di minum Laura.
Sesampainya di rumah, Laura langsung meminum obat yang di berikan oleh dokter tadi. Setelah nya membaur bersama ibu, Anisa dan Bima yang tengah duduk menonton TV. Sedangkan Reyhan kembali mengecek counternya.
Ibu mertua bertanya tentang hasil pemeriksaan tadi. Dan Laura menceritakan semuanya. Ibunya juga memberi nasehat pada Laura untuk tidak terlalu stress memikirkan berbagai hal dan memberi beberapa nasehat lainnya. Laura mendengar nya baik-baik dan berusaha untuk menjalankan nya.
Anisa juga memberi dukungan dan semangat untuk Laura. Semuanya sudah di atur oleh Allah, dan tugas manusia hanya menjalankan saja. Laura pun menyadari itu semua.
Keesokan harinya, Laura tetap pergi ke showroom menemani Reyhan. Ia tak ingin suaminya kelelahan sendiri dalam mencari nafkah. Ia juga merasa bosan jika hanya berdiam diri di rumah. Hanya duduk sembari mengerjakan laporan laporan tidak begitu menguras tenaga pikirnya.
Reyhan pun tak bisa melarang Laura yang tampak bersemangat membantunya. Semua ia serahkan sepenuhnya pada Laura. Jika Laura tak membantu juga tak masalah. Hasil usahanya juga cukup untuk menghidupi istrinya yang doyan belanja itu.
_____
Hari berganti bulan, tanpa terasa Anisa sudah mendekati waktu lahiran. Tapi ia masih semangat menjalani segudang aktivitas nya. Ia juga rutin memeriksakan kandungan nya, dan selama ini hasilnya memang bagus.
Laura juga selama ini rutin memeriksakan diri ke dokter dan mengkonsumsi obat serta herbal lainnya. Meskipun sampai saat ini ia belum menunjukkan tanda-tanda hamil, ia tetap tak menyerah.
Baik Anisa ataupun Laura, keduanya lebih suka tinggal di rumah ibu mertua dari pada di rumah sendiri. Meskipun di rumah sendiri mereka di hujani oleh kasih sayang dan kemewahan dari orang tuanya, nyatanya mereka malah lebih suka hidup berdesakan dalam rumah sempit suaminya.
__ADS_1
Yang justru terasa lebih menyenangkan, karena setiap hari selalu ada saja kekonyolan yang mereka buat sehingga menjadi bahan tertawaan anggota keluarga yang lain.
Maklum saja, karena keduanya adalah anak tunggal, jadi tak ada saudara untuk berbagi cerita. Terkadang justru orang tua mereka yang berkunjung ke rumah besan mereka, untuk mengobati rasa kangen pada anak semata wayangnya. Sehingga jika mereka kebetulan bertemu, pasti suasana rumah bu Rohmah semakin menjadi ramai dan heboh seperti momen lebaran.
Para suami merasa bersyukur melihat istri istri mereka yang mau menerima segala kekurangan mereka dan hidup berdampingan dengan ibu mertua dan semuanya berjalan baik. Tidak seperti kisah kebanyakan keluarga, yang mana antara mertua dan menantu tidak pernah akur.
Sedangkan di sisi lain, bu Rohmah, ibu mertua Anisa dan Laura juga sangat merasa bersyukur bisa memperoleh menantu yang baik seperti mereka.
Karena keduanya bisa menerima dengan baik setiap kekurangan suaminya. Mereka juga mandiri, mau membantu mengerjakan tugas rumah. Padahal bu Rohmah tak pernah memaksa mereka untuk membantu. Ia justru merasa tak enak hati ketika Laura membantunya, karena pasti di rumahnya semua pekerjaan sudah di handle oleh para pembantunya.
Bu Rohmah juga semakin bangga pada menantunya, terutama Laura, karena mau membaur dengan masyarakat sekitar.
Padahal ia adalah anak orang kaya yang tingkat pergaulannya pasti dengan orang-orang yang setara dengannya. Bahkan kemewahan pesta pernikahan yang di gelar di rumahnya sampai sekarang masih menjadi cerita yang cukup menarik di hati para tetangga kampung bu Rohmah.
Ia berusaha agar omongan buruk tetangga tidak sampai pada telinga menantunya. Karena ia sangat menyayangi mereka seperti anak kandung sendiri.
Tidak ada kebahagiaan yang terbesar bagi seorang ibu, selain melihat anak anaknya bahagia dengan pilihan hidupnya masing-masing. Dan bu Rohmah tengah menyaksikan itu semua.
'Andaikan bapak masih ada, ia pasti merasa sangat bahagia karena menyaksikan anak-anaknya yang kini tidak hanya sukses dalam urusan bisnis, tapi juga urusan rumah tangganya.' tanpa sadar bu Rohmah menitikkan air mata.
"Ibu kenapa?" tanya Laura yang duduk di sampingnya sambil menggenggam tangan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Iya, ibu kenapa, kok menangis?" imbuh Anisa yang juga mendekati ibu mertuanya.
Reyhan dan adik-adiknya juga menoleh ke arah ibunya sambil mengernyitkan dahi. Pasalnya dari tadi mereka tengah berkumpul membakar makanan sambil bersenda gurau, tadi ibu juga sempat tersenyum tapi sekarang malah menitikkan air mata.
"Ibu kenapa? Apa candaan kita ada yang kelewatan?" Reyhan bertanya, yang di iringi anggukan kepala oleh Bayu dan Bima. Mereka pun kini serius menatap ibunya.
"Ibu ngga apa-apa kok. Cuma, ingat bapak saja. Coba kalau dia masih hidup, pasti sangat senang bisa ikut berkumpul seperti ini."
Semua menghela nafas panjang. Termasuk Reyhan, ia seketika tertunduk sedih, karena merasa terpukul dengan ucapan ibunya. Bagaimana pun juga, penyebab kematian bapaknya adalah karena dirinya. Tapi segala sesuatu yang sudah terjadi tidak dapat di ulang kembali. Selain hanya bisa pasrah menerima nya.
"Bu, Reyhan mohon, jangan berkata seperti itu. Semua sudah menjadi suratan takdir. Kita do'akan saja semoga bapak tenang berada di surga. Ia bahagia berada di sana, sambil menyaksikan kita yang ada di sini. Kalau mengingat itu semua, Reyhan jadi ikutan sedih. Karena semua terjadi juga karena aku."
Bu Rohmah segera menyadari bahwa ucapan nya tadi menyinggung hati anak sulungnya yang sangat tulus menyayangi dan selalu membahagiakan nya.
"Maaf ya Rey, ibu tidak ada maksud untuk menyinggung mu." Reyhan pun mengangguk lemah sambil menyunggingkan sedikit senyum menanggapi ucapan ibunya.
"Sebenarnya ibu juga sangat senang dan bersyukur melihat kalian yang bisa hidup rukun dan memiliki istri istri yang baik seperti mereka. Hidup ibu terasa semakin berwarna." imbuh ibunya sambil menyunggingkan senyum.
Semuanya tentu merasa terharu dengan ucapannya. Termasuk Anisa dan Laura yang langsung memeluk mertua mereka sembari mengucapkan kata terima kasih.
Tentu saja hal itu membuat hati Reyhan dan Bayu bagai di siram air es yang terasa sangat dingin dan menyejukkan. Ungkapan menantu dan mertua tak bisa akur, tidak berlaku untuk mereka.
__ADS_1
"Aku juga mau di peluk." celetuk Bima yang langsung menghambur di pelukan ibunya. Ikut berdesakan dengan Anisa dan Laura yang masih merangkul bahu mertua.
Karena gemas, Anisa dan Laura menggelitiki Bima sehingga bocah itu terkekeh geli. Kesedihan yang tadi sempat mampir kini sudah berganti dengan canda tawa.