Juragan Muda

Juragan Muda
14. Satu wadah beda isi.


__ADS_3

Bima walaupun masih kelas 4 SD tapi sholat nya sudah full sehari 5x, rajin belajar dan setiap sore mengikuti TPA dimasjid samping rumahnya, bahkan sudah bisa membaca Al-Qur'an.


Bayu yang SMA masih lumayan bisa membaca juz amma.


Sedangkan Reyhan dulu berhenti TPA ketika masuk ke jilid 6. Dia sering membolos demi bisa ikut latihan sepak bola yang tiap sore diadakan di lapangan dekat kelurahan.


Dan, akhir akhir ini diam diam Reyhan belajar di sela sela waktu luangnya.


Seperti itulah mereka, meskipun terlahir dari satu wadah namun memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda.


Walaupun memiliki banyak perbedaan, kedua orangtuanya tidak pernah membedakan, karena yakin setiap anak punya kelebihan masing-masing.


Seperti halnya Reyhan, walaupun di bidang akademis kurang, tapi dia jago bermain sepakbola. Beberapa kali mengikuti turnamen, teamnya selalu menang berkat dia.


_____


"Bim, kamu tidur dulu sana, aku sudah selesai sholat." kata Reyhan keluar dari rumah sambil membawa 1 teko es kopi sebagai teman untuk mengusir rasa ngantuk. Kebiasaan yang baru dilakukan semenjak buka counter.


"Belum ngantuk kak, katanya mau ngajarin aku." kata Bima mengingatkan kakaknya.


"Oh iya lupa." kata Reyhan sambil menepuk jidatnya.


" Memang ngga ngantuk."


"Belum."


"Ya udah ntar kalo ada yang beli, lihat cara kakak melayani user ya."


"Terus begini cara ngisi token listrik, cara......." Reyhan menjelaskan ke Bima satu persatu dengan sabar.


Ketika ada pembeli pun Bima memperhatikan dengan seksama.


"Sebenarnya kakak juga masih belajar lho dek. Baru juga buka 3 hari, dan selama ini belum ada pengalaman apapun di bidang ini. Kakak cuma modal nekad saja, sambil nunggu panggilan kerja." kata Reyhan di sela waktu menunggu pembeli datang.


"Aku justru salut sama kakak, biarpun laki laki tapi mau jualan juga, aku pikir yang berani jualan itu cuma ibu ibu saja." balas Bima sambil ketawa, lalu mulai merebahkan diri dilantai dan mendengarkan Reyhan cerita. Saking asyiknya mendengar cerita, Bima terlanjur tidur.


Reyhan yang melihat Bima tertidur, memandangi adiknya sejenak.

__ADS_1


'Doain kakak ya dek, semoga usaha yang sedang aku rintis ini membuahkan hasil yang besar, bisa membantu biaya kuliah mu, jika suatu saat kamu menginginkannya.' batin Reyhan.


Kemudian satu persatu pembeli berdatangan, dan Reyhan sibuk melayani.


"Lho kak, kok Bima tidur di luar." kata Bayu yang turun dari motor nya sehabis pulang sekolah.


"Tadi nemenin aku nunggu counter, mungkin karena kecapekan terus ketiduran."


"Aku pindahkan ke dalam ya." tawar Bayu.


"Sebaiknya ngga usah, ntar malah kebangun."


Bayu pun menuruti kata kakak nya dan berlalu masuk rumah.


_____


Tak terasa usaha counter Reyhan sudah berjalan sebulan.


Usahanya senantiasa mengalami peningkatan yang signifikan.


Tak lupa setiap harinya dia menyisihkan uang untuk di tabung.


Bahagiakanlah orang disekitar mu,maka Allah akan membahagiakan mu.


Maka dari itu, setiap hari Reyhan selalu memberi uang saku pada kedua adiknya.


Semoga Allah mencatat amalan ini sebagai sedekah pagi baginya.


'Tidak ada satu hari pun bagi seorang hamba, kecuali datang dua malaikat yang salah satu dari mereka berdoa, ‘Ya Allah berilah ganti yang lebih baik bagi orang yang bersedekah, Dan celakalah bagi orang yang tidak mengeluarkan sedekahnya.'


Petikan sebuah hadits yang didengar Reyhan ketika mengikuti sholat subuh berjamaah di masjid beberapa hari yang lalu.


Selama 2 bulan Reyhan menjalani usahanya, sedikit banyak membawa dampak yang positif baginya. Hari hari yang di lalui pun dia fokuskan untuk terus mengembangkan usahanya. kegiatan futsal yang sering dilakukan sehabis waktu isya' pun akhirnya terkalahkan. Perlahan-lahan Reyhan pun juga mulai memperbaiki sholatnya yang dulu sering bolong bolong.


Bahkan dirinya tak menyangka counter kecil yang barangnya setiap hari dikeluar masukkan kerumah mampu menembus omset 50 juta di bulan pertama dengan laba bersih sekitar 5 juta, dan meraih omset 65 juta dibulan kedua ini dengan laba bersih sekitar 6 juta.


Berawal hanya menjual token listrik, pulsa reguler, beberapa paket data. Sekarang isi counter nya sudah terlihat semakin lengkap. Beberapa accesoris hp terlihat memenuhi standing rak. Dan waktu untuk mengeluarkan dan memasukkan barang counter semakin banyak tersita.

__ADS_1


Dan seperti biasa di malam hari, sekeluarga akan berkumpul di teras rumah untuk sekedar menjadi teman ngobrol bagi Reyhan. Mereka pun kembali bertukar cerita tentang kegiatan yang sudah dilakukan seharian itu. Di sela sela canda tawa mereka, Reyhan pun menyampaikan keluhannya setiap hari yang mengeluarkan banyak perlengkapan counter sendirian, selain menguras tenaga juga menguras waktu.


"Gimana kalo bikin toko kecil di depan kamarmu itu kak." Bayu memberi usul.


"Emm... uangnya gimana? Aku khawatir kurang. Terus kalo sewaktu waktu ada panggilan kerja dari PT Megatex lagi gimana?"


"Lhoh, aku kira kakak sudah di pecat dari pabrik itu." seloroh Bima dengan muka polosnya.


Ibu Reyhan dan Bayu yang mendengar hanya menanggapi dengan tertawa kecil.


"Kalo sudah punya counter, ya ngga usah kerja di pabrik, apa ngga capek gitu kerja di dua tempat." lagi, Bima mengatakan uneg-unegnya dan langsung ditanggapi oleh Bayu.


"Wah, bener itu kak. Lebih baik serius dengan counternya. Setiap hari kan malah dapat uang."


"Gimana ya, aku malah belum kepikiran untuk keluar dari pabrik. Padahal jualan pulsa juga cuma mengisi waktu luang sambil menunggu panggilan kerja lagi. Kalo bisa, dua duanya jalan." kata Reyhan diiringi tawanya.


"itu mah namanya SERAKAH!" jawab Bayu spontan.


"Sayang lho kak, kalo nanti kamu tetap kerja di pabrik dan menghentikan usaha ini." Bayu mulai menanggapi dengan antusias.


"Iya Rey, bener kata adik adikmu, lanjutkan saja usahamu ini." akhirnya ibu buka suara, setuju dengan pendapat kedua adiknya.


"Siapa juga yang mau tutup usaha." jawab Reyhan tersenyum penuh arti.


"Terus jadinya gimana? Mau kerja dipabrik sambil jualan pulsa?" Bima kembali bertanya penuh selidik.


"Memang berapa total tabungan mu?" tanya ibunya.


"Sekitar 15 juta."


"Wah itu udah banyak kak, kalo misal kurang ya ngga banyak banyak amat untuk buat sebuah toko. Iya kan bu?" Bayu menoleh ke ibu meminta persetujuan ibunya.


"Iya betul Rey, ibu juga setuju kata Bayu."


"Okay, aku setuju.. Tau gitu, dari dulu saja ya aku buka counter nya, ngapain harus capek capek keliling cari kerjaan pabrik." kata Reyhan sambil menepuk jidatnya.


Mereka pun kompak tertawa.

__ADS_1


"Rey.. Rey.. kita tuh ngga tau apa yang bakal terjadi ke depannya. Mungkin itu cara Allah melatih kesabaran mu. Membantumu mengumpulkan modal untuk membuat counter ini." ibunya menasehati dengan bijak.


reyhan sebenarnya sudah mengetahui dan memprediksikan tanggapan keluarga tentang langkah apa yang akan di pilih selanjutnya, memajukan usaha counternya atau meneruskan kerjanya di pabrik sebagai buruh bila nanti ada panggilan kerja, karena PT Megatex tidak mengeluarkannya tetapi hanya meliburkan sementara waktu menunggu perbaikan mesin selesai. Dan ternyata memang benar, bahwa seluruh keluarganya setuju dengan tetap melanjutkan usaha counternya. Dalam hatinya Reyhan begitu sangat bersyukur memiliki keluarga yang senantiasa mendukungnya, menerima setiap keadaan baik buruknya.


__ADS_2