
'Seperti apa ya wajah mbak Anisa itu?' batin Tiwi yang juga semakin diliputi rasa penasaran. Karena selama 3 bulan Tiwi bekerja di toko itu, tak pernah sekalipun Anisa membuka cadar dihadapan nya.
"Eh mbak, kok aku jadi penasaran ya, apa mungkin wajah mbak Anisa itu lebih jelek dari kita jadi minder dan selalu ditutupi." ceplos Anya sambil mulai bekerja.
"Kalau ternyata lebih cantik dari kita gimana? Soalnya aku juga punya saudara yang memakai cadar juga, ngga pernah sekalipun aku lihat wajahnya. Tapi sewaktu menikah kemarin suaminya syok melihat kecantikan istrinya itu." Ceplos Nina pegawai yang satunya.
"Oh ya? Mungkinkah mbak Anisa juga seperti itu ya?" balas Anya.
Tiwi yang mendengarkan percakapan temannya hanya diam sambil mencermati percakapan keduanya.
Dalam hati juga membenarkan perkataan keduanya, bisa jadi benar mbak Anisa memiliki wajah yang jelek jadi senantiasa ditutupi walaupun ilmunya dalam berbagai bidang sangat mumpuni.
Tapi, bisa jadi kebalikan nya juga, seperti apa yang dikatakan Nina, bahwa kecantikan nya hanya senantiasa dipersembahkan untuk suaminya kelak.
'Kalau memang benar seperti itu, berarti beruntung sekali lelaki yang kelak jadi suami mbak Anisa.' batin Tiwi.
"Mbak Tiwi kok diam saja?" Anya sedikit menyenggol lengan Tiwi.
"Eh, ap_apa?" tanya Tiwi yang sedikit gelagapan karena ketahuan melamun.
"Kenapa mbak Tiwi diam saja? Kan kita lagi ngomongin mbak Anisa. Apa jangan-jangan lagi merekam kita ya, biar bisa diadukan ke mbak Anisa." ceplos Anya.
"Eh, eng_enggak kok. Kenapa kamu berpikir seburuk itu? Lagian ya, sebaiknya kita itu bekerja yang tekun. Jangan suka membicarakan orang lain dibelakangnya. Entah mbak Anisa itu berwajah jelek atau cantik aku tetap senang bekerja dengannya, karena dia orangnya pintar dan baik. Setiap perkataan yang keluar dari mulutnya menjadi sebuah ilmu baru bagiku." tutur Tiwi dengan tulus.
"Iya mbak, maafkan kami ya, sudah berbuat demikian. Aku janji ngga akan berprasangka buruk ke mbak Anisa lagi." ucap Anya dengan muka ditekuk.
"Iya, harusnya kamu minta maaf nya ke mbak Anisa langsung, bukan ke aku. Kan yang kalian bicarakan mbak Anisa bukan aku. Dulu kan kita pernah dikasih tahu, kalau membicarakan keburukan orang lain dibelakangnya ya harus minta maaf secara langsung ke orangnya kan, bukan lewat perantara?" balas Tiwi mengingatkan sebuah ilmu yang pernah di sampaikan oleh Anisa.
"Ya Allah, kira kira nanti mbak Anisa mau memaafkan aku apa enggak ya mbak?"
"Kan belum dicoba, kenapa sudah bicara seperti itu? Aku yakin pasti mbak Anisa memaafkan kamu, dia kan orang yang baik." balas Tiwi sambil tersenyum.
"Iya, sebaiknya kita disini kerja yang serius dan sungguh-sungguh, kalau usaha mbak Anisa bisa berkembang pesat, pasti mbak Anisa akan memberi kita upah yang lebih besar lagi." sambung Nina. Ketiganya pun langsung mengangguk setuju, dan dengan penuh semangat mulai mengerjakan tiap orderan yang ada.
__ADS_1
Hari sudah beranjak siang, waktunya sholat dhuhur tiba. Tiwi teringat pesan Anisa untuk tetap mendahulukan kewajiban sholat nya. Karena menuruti pekerjaan niscaya tidak akan ada habisnya.
Hal itu juga mengingatkan nya dulu ketika bekerja di counter Reyhan, yang juga selalu mengutamakan kewajiban sholat para karyawannya. Bergegas Tiwi segera mengambil air wudhu dan menunaikan empat rakaat sholat dhuhur.
Setelah Tiwi menyelesaikan ibadah nya, segera ia menyuruh Anya dan Nina untuk sholat dhuhur bergantian.
"Assalamu'alaikum." sapa bapaknya Anisa.
"Wa'alaikumussalam." jawab Tiwi dan bergegas mendekat ke arah pak Gofur berdiri.
"Ada apa pak?" tanya Tiwi ramah.
"Ini makan siang untuk kalian." kata pak Gofur menyerahkan rantang makan untuk Tiwi.
"Terimakasih ya pak, selalu ngrepotin bapak sekeluarga."
"Tidak merepotkan sama sekali, justru saya senang cita cita Anisa untuk mendirikan toko perlengkapan muslim bisa tercapai. Semua ini juga berkat mbak Tiwi yang mau membantu walaupun gajinya tak sebanyak bekerja ditempat lain."
"Saya hanya bekerja semampu saya pak, saya juga sangat senang diberi kesempatan bekerja di toko mbak Anisa. Selain mendapat gaji juga mendapat banyak ilmu yang bermanfaat."
Deg!
Seketika hati Tiwi bagai keluar dari tempatnya, melihat seorang lelaki yang baru saja turun dari mobil dan berjalan memasuki pelataran toko. Tiwi segera bersembunyi dibalik pintu sambil memperhatikan laki laki itu yang ternyata malah berhenti dan bertegur sapa dengan bapaknya Anisa.
"Kenapa mereka berdua bisa kenal?" gumam Tiwi sambil menatap dengan serius.
"Astaga, kenapa mereka menuju kemari?" seketika Tiwi langsung berlari menuju ke dalam, meletakkan rantang makanan dan segera berlari kecil menuju kamar mandi.
"Mbak Tiwi kenapa lari lari seperti itu?" tanya Anya yang melihatnya sedikit keheranan.
"Anu, aku kebelet, kamu makan duluan saja." sengaja Tiwi berbohong. Padahal Tiwi sengaja menghindari bertemu dengan lelaki itu.
"Mbak ini ada teman bapak mau lihat lihat koleksi toko, ayo dibantuin." pak Gofur mendekati Anya dan Nina.
__ADS_1
"Oh iya pak siap." dengan percaya diri yang tinggi dan senyum yang mengembang, Anya langsung bangkit dari duduknya dan melayani lelaki yang tampak keren di matanya itu.
Anya mulai menjelaskan satu persatu produk yang tersedia di toko Anisa secara mendetail. Mulai dari baju sampai obat obatan herbal.
Lelaki itu segera mengambil madu, dan habbattussauda lalu menyerahkan ke Anya untuk dimasukkan ke dalam kantong belanjaan.
"Totalnya 600rb kak." kata Anya dengan semanis mungkin. Bergegas lelaki itu segera mengeluarkan lembaran uang merah yang berjajar rapi di dalam dompetnya. Anya yang melihat itu seketika membulatkan matanya.
'Wow, sudah ganteng, tajir pula. Aku mau dia ya Tuhan.' batin Anya.
"Mbak, ngga dihitung dulu uangnya?" tanya lelaki itu yang membuat Anya tersadar dari lamunannya dan segera mengambil uang yang ada dimeja lalu dengan cekatan menghitung.
"Eh, sudah pas kak, terimakasih, semoga selalu sehat dan ada repeat order lagi."
"Iya, terimakasih kembali." jawab lelaki itu dan berjalan meninggalkan meja kasir diikuti oleh pak Gofur. Anya yang masih penasaran pun berjalan pelan mengikuti keduanya sampai dibalik pintu masuk. Setelah keduanya sudah pergi barulah Anya kembali ketempat duduknya.
Setelah lelaki itu pergi tak berselang lama Tiwi keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan mendekati kedua temannya.
"Mbak Tiwi....... Mbak Tiwi ke kamar mandi kok lama sekali sih. Tadi itu ada cowok ganteng banget, tajir pula. Ya Allah aku mau dong satu yang seperti dia." dengan pedenya Anya berdoa dengan keras yang membuat Tiwi dan Nina geleng-geleng kepala sambil tersenyum dengan tingkah konyol nya itu.
"Katanya kamu sudah punya pacar, terus mau dikemanakan itu pacar kamu Nya?" goda Tiwi.
"Ah, jelas aku pilih cowok ganteng tadi dong. Idolaku banget pokoknya." Anya berkata sambil mengerjakan matanya mulai menghalu.
"Ngga usah ladenin dia mbak, paling ngga bisa tahan lihat cowok gantengan dikit." bisik Nina.
"Mbak Tiwi kok ngga penasaran kayak aku sih?" semprot Anya yang membuat Tiwi menatapnya.
"Semua lelaki memang ganteng Anya." balas Tiwi kemudian.
"Tapi dia itu auranya beda banget mbak. Dan, mbak Tiwi tahu ngga, dia itu terlihat akrab sekali dengan bapaknya mbak Anisa. Apa mereka........"
Hai kak readers, jangan lupa ya hadiah pulsa total 75rb masih menanti untuk 2 orang pemenang, bagi yang memberi dukungan terbanyak di karya author ini. let's go semangat 😘😘
__ADS_1
Nah, sambil menunggu author update lagi, bisa mampir dong ya dikarya teman author yang Joss gandos...😁😁