Juragan Muda

Juragan Muda
160. Kembali kuliah


__ADS_3

"Rasanya dulu tak pernah aku melihat Miss Laura menangis seperti ini, kenapa sekarang jadi hobi menangis?" Reyhan terkekeh sambil mengusap wajah Laura.


"Ini tuh air mata haru mas. Kalau dulu kan belum pernah ngerasain cinta yang sesungguhnya, jadi ngga bisa nangis nangis seperti ini." balas Laura sambil terkekeh.


"Ya sudah, ayo kemasi bukunya, keburu telat kuliahnya." ajak Reyhan sambil menarik tangan Laura.


Laura bangkit berdiri dan segera memasukkan buku-buku nya ke dalam dus.


Reyhan segera membantu Laura membawa dus itu, dan keduanya berjalan beriringan menuruni anak tangga. Setelah berpamitan, keduanya kembali melanjutkan perjalanan menuju ke kampus Laura.


Di dalam mobil Laura membolak-balik buku untuk mata pelajaran hari ini. Reyhan yang melihat istrinya serius belajar, tersenyum sendiri. Hal itu mengingatkan ia ketika sekolah dulu, meskipun belajar mati-matian nilainya tetap saja tak sedap di pandang.


"Kenapa memandangi ku seperti itu, hayo?" tanya Laura sambil menaikkan alisnya.


"Memang ngga boleh memandang istrinya sendiri?" gurau Reyhan.


"Pasti ada sesuatu yang disembunyikan."


"Hem, ngga ada. Sudah sampai, ayo buruan turun. Nanti telat lho." kilah Reyhan.


Laura segera memasukkan bukunya ke dalam tas, lalu mengulurkan tangannya pada Reyhan hendak berpamitan.


"Sekolah yang pinter ya, jangan nakal." kata Reyhan sambil mengusap pucuk kepala Laura.


"Minta uang saku ngga?" imbuh Reyhan.


Laura menggeleng sambil terkekeh, mendengar ucapan suaminya yang memperlakukan nya seperti anak kecil. Ia segera keluar dari mobil dan melambaikan tangan pada Reyhan.


"Jangan lupa nanti kirim pesan kalau sudah waktunya pulang." teriak Reyhan sambil membalas melambaikan tangan.


Setelah memastikan Laura masuk ke kelasnya, Reyhan segera pergi meninggalkan tempat itu.


Sorak sorai teman temannya menyambut Laura ketika memasuki kelas.


Suit.... Suit


"Pengantin baru datang guys."


"Duh, yang jadi pengantin baru, absennya lama sekali."


"Iya nih, rasanya malam pertama kayak gimana ya."


"Rasanya aku sudah malas kuliah, kalau dapat suami seperti mas Reyhan."


"Ganteng, baik, tajir pula."

__ADS_1


"Eh romantis dan sholih juga lho orangnya."


"Iya, suaranya. Duh...merdu sekali."


Dan masih banyak lagi ucapan lainnya yang membuat Laura menyunggingkan senyum.


"Terima kasih ya, kemarin sudah datang di acara pernikahan ku." balas Laura ramah.


Semua memuji Laura, kecuali Mira dan Choki. Keduanya tampak diam sambil menahan rasa kesal.


Melihat Laura yang semakin cantik dalam balutan gamis syar'i, seketika mengingatkan Choki pada wanita bercadar yang ia temui pada acara pernikahan Laura kemarin. Sampai sekarang ia masih bertanya-tanya dalam hati, seperti apa wajahnya.


Tak berapa lama kemudian, dosen pun masuk ke kelas. Yang membuat ruangan itu seketika hening.


Bergegas ia membuka bukunya dan mulai menerangkan. Suaranya seketika berhenti, ketika melihat Laura yang tengah duduk mendengarkan penjelasannya.


"Miss Laura." pekik nya.


"Kapan kamu mulai masuk kuliah? Hemm, kamu terlihat semakin cantik saja." dosen itu dengan terang-terangan memuji Laura, yang membuat seisi kelas menyorakinya.


Laura hanya tersenyum simpul melihat dosennya yang terkejut dengan kehadiran nya. Sedangkan Mira bertambah benci padanya.


"Terima kasih pak pujiannya, saya baru hari ini masuk kuliah."


"Sekali lagi terima kasih pak pujiannya."


"Ayo pak, di lanjut mengajarnya." seru Mira, yang tak terima karena sejak tadi Laura selalu menjadi pusat pembicaraan.


Dosen pun kembali melanjutkan penjelasannya.


Jam pergantian tiba, Laura duduk di taman sambil membolak-balik buku. Merasa capek, ia membuka handphonenya. Tapi tak ada notifikasi pesan apapun juga. Ia lalu membuka galeri handphonenya, melihat foto-foto nya bersama suami.


Sementara itu, setibanya Reyhan di counter. Ia juga di sambut sorak sorai oleh karyawannya.


"Suit....Suit.. Pengantin baru."


"Gimana rasanya belah duren bos?"


"Bos, kenapa sudah masuk? Harusnya yang lama bulan madunya."


"Sumpah, aku pangling melihat mbak Laura yang semakin cantik kayak bidadari itu."


Dan masih banyak lagi celotehan dari para karyawannya. Yang hanya di balas oleh senyuman sumbing oleh Reyhan.


Bergegas Reyhan, duduk di depan meja komputer dan mulai mengecek stok toko serta pendapatan. Setelah satu jam lebih berada di cabang counter depan rumah sakit, ia segera menuju ke counter berikutnya, sampai seluruh counter yang ia miliki selesai di cek.

__ADS_1


Setiap kunjungan nya ke counter, karyawannya akan melakukan hal yang sama, menyorakinya, dan menghujani dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


Tak ada batasan yang membuat karyawan nya takut pada Reyhan, karena rata-rata mereka seumuran.


Setelah selesai melakukan pengecekan Reyhan membuka handphonenya, tapi tak ada satupun notifikasi pesan dari Laura.


Ia menyandarkan diri pada kursi sambil menghela nafas panjang. Ia sangat merasa bersyukur bisa melangkah sampai sejauh ini.


Setelah jam kuliah habis, Laura segera mengirim pesan sesuai perintah suaminya. Sambil menunggu Reyhan datang, Laura kembali duduk di taman.


"Laura."


Laura pun menengok ke belakang, dan melihat Choki berdiri di dekatnya. Ia tak menjawab dan kembali memainkan handphonenya. Baginya Choki hanya masa lalu, dan tak ingin mengingat nya lagi.


Choki memberanikan diri duduk di hadapan Laura.


"Laura, aku minta maaf ya sudah menyakiti hati mu. Aku minta maaf atas segala kesalahan yang selama ini aku lakukan." ucap Choki dengan tulus sambil mengulurkan tangannya.


Laura menatap Choki sekian menit sebelum akhirnya ia menghela nafas panjang.


"Aku sudah memaafkan kamu jauh jauh hari sebelum kamu minta maaf pada ku. Justru aku berterimakasih padamu. Karena setelah mengetahui perbuatan buruk mu dan kita putus, ada seseorang yang mau menerima aku apa adanya, bukan ada apanya. Berbuat baiklah agar mendapat jodoh yang baik dan takdir yang baik tentunya. Maaf, kita bukan mahram, tak baik kita saling berjabat tangan." ucap Laura dengan senyum tulusnya.


Choki sungguh tak menyangka, jika Laura akan dengan mudahnya memberi nya maaf, dan dengan terang-terangan justru berterima kasih padanya. Beberapa hari tak bertemu dengannya, ia sangat jauh berbeda. Menjadi semakin lebih baik. Yang membuat hati Choki semakin merasa bersalah karena telah memanfaatkan nya selama ini.


"Miss Laura."


Suara Reyhan mengagetkan keduanya yang tengah bicara serius. Ia melangkah mendekati keduanya.


"Aku kirim pesan tidak di balas ternyata disini."


"Maaf mas, aku dari tadi menunggu mu disini. Tapi tiba-tiba Choki menghampiri ku dan meminta maaf." jelas Laura tak ingin suaminya salah paham.


Reyhan tersenyum ke arah Laura. Ia tahu jika istrinya itu menyangka jika ia tengah memikirkan hal buruk tentangnya. Padahal Reyhan sepenuh hati percaya pada Laura.


"Iya Miss Laura, aku percaya pada mu kok. Aku hanya mengkhawatirkan diri mu, sejak tadi aku kirim pesan dan telepon tak ada balasan. Makanya aku mencari mu sampai sini. Apa masih ada hal yang perlu di sampaikan lagi? Kalau masih ada, silahkan di sampaikan, aku tunggu disini." Reyhan duduk di dekat Laura sambil merangkul bahunya.


"Benar apa yang Laura sampaikan mas. Kamu beruntung bisa mendapatkan nya. Jaga dia baik-baik ya."


"Tentu aku akan menjaga nya dengan baik, karena dia istri ku."


"Okay, aku pamit pulang dulu ya." Choki bangkit berdiri sambil mengulurkan tangan pada Reyhan, dan ia langsung menjabat nya sambil tersenyum. Setelah itu Choki meninggalkan keduanya yang masih duduk dengan santai.


"Mas, kamu baik banget. Terima kasih ya sudah percaya dengan ku."


"Tidak perlu berterima kasih Miss Laura. Tidak ada salahnya terus berbuat baik, karena kebaikan yang kita lakukan akan kembali pada diri kita sendiri. Seperti kamu yang tulus memaafkan kesalahan Choki." ucap Reyhan sambil menatap lekat wajah Laura.

__ADS_1


__ADS_2