Juragan Muda

Juragan Muda
221. Camping


__ADS_3

Hari yang di nantikan pun tiba. Sabtu siang, mereka pun berkumpul di rumah keluarga Reyhan.


Anisa menitipkan Zakira pada ibu mertuanya, yang dengan senang hati menerima amanah itu.


Setelah semua siap, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Mereka berangkat bersama dengan menggunakan mobil milik Reyhan.


Di sepanjang perjalanan, mereka saling bertukar cerita, sehingga membuat perjalanan yang jauh, tidak terasa membosankan. Akhirnya, mereka pun sampai di bukit yang dimaksud.


Hal yang pertama mereka lakukan adalah, menghirup udara segar pegunungan sebanyak-banyaknya.


Setelah mengeluarkan barang barang, mereka mulai menuju ke tempat yang sudah disediakan untuk mendirikan tenda.


Pasangan suami-istri itu saling berlomba mendirikan tenda. Hingga tentu saja, Juragan Muda lah pemenang nya. Yakni, pasangan Reyhan dan Laura yang berhasil mendirikan tenda lebih dulu.


Keduanya duduk di pintu masuk tenda, sambil menikmati secangkir kopi, dan melihat mereka yang masih sibuk dengan tendanya masing-masing.


"Ayo mas kita bantu mereka." ajak Laura yang merasa kasian pada sahabatnya.


"Biarkan mereka berusaha sampai bisa. Toh, siapa yang paling akhir mendirikan tenda tidak dapat hukuman kan." balas Reyhan santai.


Terkadang membiarkan orang yang sedang berproses dan berusaha itu perlu. Bukan karena tidak mau membantu, tapi biarkan mereka menyelesaikan masalahnya dengan caranya sendiri.


Karena, cara itulah yang akan mereka gunakan untuk menghadapi masalah yang mungkin terjadi di masa depannya. Jika kita terus membantu, kemampuan orang itu tidak akan pernah terasah. Dan hasilnya ia tumpul ilmu.


Akhirnya pasangan Andre dan Rosyidah menyusul selesai. Rosyidah tampak puas dengan hasil kerja sama dengan suaminya. Lalu di susul oleh pasangan Bayu dan Anisa. Yang terakhir adalah pasangan Adam dan Tiwi.


Setelah semua selesai mendirikan tenda, Reyhan menyuguhkan kopi hangat dan cemilan untuk mereka.


"Kita main paralayang yuk." ajak Reyhan, setelah perut mereka cukup terisi. Semua mengangguk setuju, lalu segera menuju ke tempat penyewaan.

__ADS_1


"Mas, aku takut ketinggian." bisik Laura, karena malu jika terdengar oleh yang lain.


Ternyata, tidak hanya Laura saja yang takut, namun para sahabatnya juga takut dengan ketinggian. Sehingga para suami memberikan pengertian terlebih dulu pada mereka.


"Kan kita naik berdua, ngga usah takut. Anggap saja naik pesawat." kekeh Reyhan untuk menghilangkan rasa nervous Laura.


Perempuan itu memang pernah beberapa kali naik pesawat, dan ia tidak pernah takut. Namun menaiki paralayang yang memiliki tingkat keamanan yang berbeda jelas saja membuatnya takut.


"Ayo sayang, kamu perempuan tangguh, Wonder woman ku. Bisa melayani Zakira dan aku dalam waktu yang bersamaan. Ini hanyalah permainan remahan, kamu ngga perlu takut." Dengan berkobar-kobar Bayu membujuk Anisa, hingga akhirnya perempuan itu mau mencoba.


"Ustadzah Rosyidah pasti berani. Memberi tausyiah pada seribu jama'ah saja berani. Masa, cuma mainan remahan kayak gini saja takut. Ayo menyerah jangan semangat."


Rosyidah menatap Andre lalu terkikik kecil.


"Kebalik sayang kata-katanya. Yang bener itu, tetap semangat jangan menyerah."


"Sengaja aku balik, biar kamu ketawa, sehingga ketegangan mu berkurang. Terus berani deh main paralayang."


"Mereka pintar sekali bikin kata-kata motivasi, aku bingung mau bicara apa untuk menyemangati mu sayang, supaya mau ikut naik paralayang." gumam Adam sambil garuk-garuk kepala.


Ungkapan hatinya polos serta mukanya yang tampak memelas justru membuat ketawa Tiwi yang sejak tadi sudah tegang.


"Lhoh, kok kamu malah tertawa sayang? Kamu ngga tegang lagi?"


Tiwi menggeleng.


"Sepertinya kamu ngga perlu cari kata-kata yang pas untuk menyemangati ku mas. Melihat ekspresi polos dan curahan hatimu justru membangkitkan semangat ku untuk mencoba permainan itu."


"Hah, yang benar sayang?" Tiwi mengangguk meyakinkan suaminya.

__ADS_1


Setelah memastikan semua alat pengaman terpasang dengan benar, akhirnya mereka mulai melesat tinggi menaiki paralayang.


Arghhh.......


Seru mereka kompak. Segala beban pikiran mereka lepaskan dalam jeritan itu. Yang awalnya takut, sekarang Laura justru minta nambah. Akhirnya mereka kembali menaiki paralayang hingga hari sudah sangat sore.


Setelah melaksanakan sholat, mereka membuat api unggun. Tak hanya itu saja, mereka pun juga mulai melakukan kegiatan bakar bakar.


Tidak hanya membakar makanan saja, mereka juga membakar segala kenangan buruk di masa lalu.


Berharap seterusnya mereka melewati hari-hari yang membuat hati bahagia, setelah sebelumnya mereka juga sempat mengalami masa-masa sulit yang tidak mengenakkan hati.


Aneka Frozen food, jagung manis, ketela rambat, ikan segar, ayam, terong, tahu tempe yang semua sudah dibakar, kini tersaji di hadapan mereka. Tak lupa ada lalapan, sambal tomat, kopi panas yang sudah tersaji.


Bau khas tiap makanan yang beraneka ragam menusuk indera penciuman yang menjalar ke perut sehingga menimbulkan bunyi dangdutan. Mereka pun segera menyerbu makanan itu tanpa malu-malu kucing.


'Astaghfirullah, tumben banget sih Miss Laura doyan banget makan terong. Kayak ngga pernah makan terong di rumah.' batin Reyhan sambil geleng-geleng kepala. Namun Laura tak menyadari hal itu, dengan lahap ia menikmati makanan itu.


'Lhololoh, apa-apaan Anisa ini, masa ikan ku diambilnya? padahal di piringnya masih ada ikan.' batin Bayu yang terkejut dengan kelakuan aneh istrinya.


'Lhoh, aku baru liat, ada wanita makannya porsi kuli. Dan wanita itu adalah istri ku sendiri. Kayak ngga pernah makan enak saja sih, ayam, ikan semua di ambil. Kan malu aku jadinya.' batin Adam. Seketika ia menelan saliva, melihat piring Tiwi yang penuh dengan makanan.


'Ya Allah, apakah ini adalah sisi lain dari istri ku yang baru ku ketahui, setelah 2 bulan menikah dengannya? Tragis sekali makannya. Makan nasi lauknya ketela bakar.' batin Andre yang geleng-geleng kepala.


Entah sudah berpuasa berapa lama, sehingga malam itu kaum hawa makan dengan sangat lahap dan banyak, hingga membuat para kaum Adam geleng-geleng kepala dan menelan saliva kasar. Terpaksa para suami hanya makan sisa lauk serta lalapan yang ada.


Mereka bercakap-cakap sambil menikmati bulan yang tampak lebih besar dan indah, dan suasana pegunungan yang sangat khas, dingin dingin menggigit. Tak lupa mereka pun juga masih mengunyah cemilan.


Hari kian merangkak malam, mata pun juga sudah mulai mengantuk. Akhirnya, mereka menyudahi percakapan itu, dan menuju tenda masing-masing untuk beristirahat.

__ADS_1


Seakan alam yang bersahabat, mereka terbangun saat dini hari, dan melakukan gerilya. Selain memberi kehangatan pada pasangan masing-masing, juga berharap agar benih lele yang mereka sebar di empang cepat tumbuh.


Di pagi buta, mereka harus segera buru-buru menuju ke pemandian umum untuk mandi junub dan, setelahnya melaksanakan sholat subuh berjamaah, hiking dan sarapan pagi.


__ADS_2