
Kini Reyhan dan Laura sudah berada di ruangan dokter wanita setengah baya yang dulu pernah memeriksa keduanya untuk tes kesuburan.
Dengan ramah dokter itu bertanya tentang apa saja keluhan yang di alami oleh pasien.
Laura pun mengatakan apa adanya dan dengan sejujurnya, walaupun di akhir kalimat ia agak malu mengakui ketika ia dan suaminya baru saja melakukan hubungan suami istri.
Bu dokter itu menarik sebuah senyuman sebelum memberi penjelasan pada pasangan suami istri itu.
Setelah cukup menjelaskan, ia menyuruh Laura berbaring di brankar. Dengan hati-hati Reyhan membantu Laura menaiki brankar tersebut.
Dokter itu mengusapkan cairan gel ke perut Laura karena akan melakukan USG, untuk mengetahui apa yang terjadi dalam perut Laura.
Laura menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Teringat dulu kala saat ia juga melakukan USG untuk mengecek kandungan nya subur atau tidak.
Rasa grogi begitu kuat menyerangnya. Sehingga ia memejamkan mata sembari merapalkan doa dalam hati, berharap keajaiban datang terjadi pada dirinya.
Dokter itu mengernyitkan dahi, senyum yang tadi sempat mengembang perlahan memudar, melihat monitor yang menampakkan gumpalan semut hitam.
Reyhan mengalihkan pandangannya pada dokter itu.
"Apa yang terjadi dok?" Reyhan tak sabar menunggu penjelasan dokter.
"Saya belum bisa memastikan pak. Tunggu sebentar lagi ya sembari berdo'a." ucap dokter menenangkan Reyhan.
Dokter itu mengambil sebuah gelas berukuran sangat kecil dari dalam etalase, lalu menyerahkan pada Laura.
"Tolong tampung pipisnya di sini ya. Silahkan ke kamar mandi yang ada di sebelah sana." ucap Bu dokter memberi instruksi. Laura mengangguk patuh walau dengan dahi yang sedikit berkerut.
Reyhan membantu Laura turun dan memapahnya menuju kamar mandi.
"Ngga usah di temani mas, ngga enak tau sama bu dokter." ucap Laura saat melihat Reyhan turut masuk ke kamar mandi.
"Hem, ya sudah, mas tunggu di dekat pintu sini. Kalau ada apa-apa langsung panggil ya." ujar Reyhan mengingatkan.
"Iya iya suami ku yang pengertian."
Tak berapa lama kemudian, Laura menutup hidungnya dengan satu tangannya, lalu tangan satunya membawa air seninya. Reyhan terkikik melihat Laura yang tampak jijik dengan air seninya sendiri.
"Sini mas bantuin bawa." Reyhan segera mengambil gelas kecil itu dari tangan Laura.
__ADS_1
"Ya ampun mas, tapi bau lho." ucap Laura sungkan.
Sejak tadi dokter terus memperhatikan kemesraan keduanya, sampai akhirnya keduanya sudah duduk di kursi depan dokter itu.
"Ini dok, air seninya. Apakah penyakit perut bisa di deteksi melalui air seni?" ucap Reyhan dengan polosnya, sembari menyodorkan segelas kecil cairan yang berwarna kekuningan seperti sirup nanas pada dokter.
Dokter itu hanya menarik senyum, lalu memasukkan benda pipih ke gelas tersebut. Laura yang tahu benda yang di pegang dokter saat itu, langsung memejamkan matanya, serta tangannya mulai berkeringat dingin dan wajahnya kian pias. Takut akan kenyataan yang akan terjadi di depan nya sebentar lagi.
"Jangan takut sayang, mas akan tetap mencintai mu apa adanya." bisik Reyhan sambil menggenggam tangan Laura.
Walaupun ia berbisik, tetap hal itu bisa di dengar oleh dokter yang duduk di hadapannya. Sehingga untuk yang kesekian kalinya dokter itu menarik senyum.
'Bucin amat ini laki pada istrinya. Sejak dulu ngga pernah berubah.' batin sang dokter.
Hemm ...
Dokter itu menarik nafas sebelum akhirnya memberitahu tentang hasil tesnya. Dan Laura kian menegang. Sementara Reyhan masih mampu menguasai rasa penasarannya.
"Selamat, istri anda tengah hamil pak." ucap dokter itu di iringi senyuman.
"APA!" seru Reyhan tak percaya hingga menggebrak meja yang ada di hadapannya. Hingga membuat dokter itu tersentak kaget sembari mengelus dadanya. Sedangkan Laura langsung terbelalak membuka matanya.
"Selamat, istri anda hamil pak."
Laura dan Reyhan langsung beradu pandang setelah untuk yang kedua kalinya dokter itu berbicara. Lalu dengan spontan keduanya saling berpelukan.
Ehem....
Hingga akhirnya keduanya saling mengurai pelukan karena deheman dokter yang sejak tadi terus menunggu mereka mengurai pelukan, namun tak kunjung di lakukan.
"Terima kasih dokter sudah memberi kabar gembira ini." ucap Reyhan dengan riang gembira seperti anak kecil yang baru mendapat mainan yang di inginkan.
"Tapi..."
Keduanya kembali menatap dokter itu yang ternyata belum menyelesaikan perkataannya.
"Bu Laura harus mengurangi seluruh aktivitas nya, tidak boleh kecapekan, dan butuh banyak istirahat. Karena kandungannya sangat lemah. Seperti hal yang terjadi tadi, bu Laura mengalami flek. Dan untuk umur kandungan nya sudah sekitar 8 minggu, atau sekitar 2 bulan."
"Apa itu bisa membahayakan dok?" tanya Reyhan dengan antusias.
__ADS_1
"Jika hanya sedikit atau sesekali tidak apa-apa, namun jika terus menerus terjadi dalam kurun waktu yang stabil akan sangat membahayakan janinnya."
Perasaan keduanya sangat campur aduk ketika mendengar penuturan dokter. Antara sedih dan bahagia. Bahagia karena akhirnya impian mereka selama ini terkabul. Sedih karena realitanya, mengandung itu tidaklah mudah. Laura harus benar-benar istirahat total demi menjaga buah hati yang di nanti selama ini.
"Apapun akan saya lakukan untuk menjaga janin yang saya kandung dok." ucap Laura yakin.
Dokter pun menambahkan nasehat dan tak lupa memberi vitamin untuk menguatkan kandungan. Setelah itu mereka berpamitan pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, keduanya saling bercakap cakap meluapkan kebahagiaan yang tengah mereka rasakan.
Hingga akhirnya mereka tiba di rumah. Reyhan kembali mengangkat tubuh Laura.
"Sudah mas, ngga usah di gendong. Aku jalan sendiri saja. Ngga enak di lihat orang, malu."
"Ngga boleh. Bukan kah kita menginginkan anak sejak lama. Ngga usah malu dengan orang lain. Pikirkan kebahagiaan diri sendiri dulu."
Setelah berkata seperti itu, Reyhan mengangkat tubuh Laura pelan menuju kamarnya. Semua anggota keluarganya sudah menanti mereka di depan teras rumah.
"Apa yang terjadi?" semuanya silih berganti menanyakan keadaan Laura. Namun Reyhan tak kunjung menjawab, sebelum sampai kamarnya. Hingga akhirnya mereka mengekor di belakang Reyhan.
"Kakak nyebelin banget sih, dari tadi ada orang tanya ngga di jawab." gerutu Bima kesal.
"Bukannya nggak mau menjawab, tapi kakak sedang konsentrasi saja sama dedek bayi yang ada dalam perut Miss Laura Bim."
"Dedek bayi?" ulang Bima.
Semua pun saling menoleh dan beradu pandang seakan tak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Reyhan.
"Bentar lagi, kita juga bakal punya dedek bayi. Iya kan sayang?" ulang Reyhan sambil menatap Laura. Ia pun mengangguk sambil tersenyum.
"Alhamdulillah." semua kompak mengucapkan syukur. Bu Rohmah mendekati Laura dan memeluknya sembari mengucapkan kata selamat.
"Ibu, kenapa yang di peluk justru mantunya dulu? Bukan anak kandungnya?" protes Reyhan sehingga membuat mereka terkekeh.
Anisa pun ikut mendekati Laura dan mengucapkan selamat padanya. Sementara Bima berseru kegirangan karena akan bertambah lagi dedek bayinya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1