Juragan Muda

Juragan Muda
6. Patah hati


__ADS_3

"Kenapa pulang mukanya kusut kak, perasaan tadi berangkat mukanya cerah bersinar." tegur Bima yang masih serius mengerjakan PR nya.


"Ih... sok tau banget sih anak kecil ini." Reyhan mencubit pipi adiknya lalu masuk ke kamarnya.


"Kak, bantuin ngerjain PR nya dong." teriak Bima.


"Kakak lagi sibuk, kamu minta tolong aja sama Bayu."


'Ih tuh tuyul apa main dukun ya, kok bisa bisanya Evi jadi pacarnya semenjak SMA. Atau mata Evi emang beneran udah rabun, jadi ngga bisa bedain titisan dewa sama titisan dukun. Udah jelas ganteng aku tapi kok malah pilih dia. sial sial.' maki Reyhan dalam hati, kemudian tangannya memukul bantalnya.


'Seumur umur baru kali ini aku suka sama wanita, tapi kenapa malah dia udah punya pacar duluan.' umpat Reyhan lagi.


Setelah selesai marah marah akhirnya Reyhan tertidur. Dan sialnya ketika tidur dia juga memimpikan Evi dan anak tuyul itu.


"Byurr.." segelas air putih sengaja dituangkan Bayu ke muka Reyhan karena melihat tingkah aneh kakaknya.


"Banjiir...." Teriak Reyhan bangkit dari tempat tidurnya.


"Alhamdulillah, akhirnya kakak sadar juga." kata Bayu dan Bima kompak.


"Eh ngapain kalian disini." tanya Reyhan setelah mengelap mukanya.


"Kita tuh panik kak, kami kira kamu kerasukan nyebutnya anak tuyul melulu, jadi... aku coba siram aja pake air yang sudah aku ucapkan surat Alfatihah Al Ikhlas An naas dan ayat kursi untung bisa sadar. Makanya kak jangan lupa sholat, jangan cuma sholat pas butuh aja." kata Bima.


"Aku tuh bukan kesurupan, tapi mimpi buruk!" kata Reyhan menimpuk adiknya dengan bantal. Bayu dan Bima akhirnya tertawa bersama setelah sempat panik sebentar lalu bergegas keluar meninggalkan kakak nya yang masih mendengus kesal.


_____


"Kenapa mukamu Rey, kusut bener dilihatnya." tegur Doni sambil merapikan peralatan kerja.


"Emang keliatan ya mas, tapi sekusut kusutnya mukaku masih ada yang jauh lebih kusut lagi lho mas." kata Reyhan.


"Wah, siapa itu?"


"Anak tuyul."


"Ah ada ada aja kamu, ngga lucu tau, dah cepet beresin tuh peralatan yang masih berantakan, biar bisa cepet istirahat."


"Lagian zaman kayak gini, masak sih ada tuyul." ungkap Doni tak percaya.


"Kemarin aku ketemu tuyul dirumah Evi waktu nganterin dia pulang kerja."


"Apa! kamu ketemu tuyul dirumah Evi? Evi operator mesin ini kan? Sejak kapan kamu deket sama dia? Atau..."

__ADS_1


"Oh maksud aku gini mas, kemarin, aku tak sengaja lihat Evi di depan pabrik sendirian, karena aku kasian ya udah aku samperin, aku tanya tanya, trus akhirnya aku anterin pulang dah itu aja." Reyhan segera meralat ucapannya.


"Berarti rumah Evi angker ya, ih kok Evi betah ya, kenapa ngga pindah aja ya Rey."


'Dasar otak sableng, bukan rumah Evi yang angker, tapi pacar Evi yang angker, mau aku jawab terus terang kalo tuyul itu pacar nya Evi kok keliatan pasaran ku turun drastis, masak kalah sama si tuyul.' batin Reyhan dan, "TIDAAKK." akhirnya Reyhan menjerit.


"Tidak tuyul mu." kata Doni sambil menoyor kepala Reyhan.


"Ayo makan biar ngga kaya orang gila." sambungnya lagi.


"Mau ku balas tapi takut dosa, ya udah ayo mas." gumam Reyhan.


_____


Setelah kejadian dirumah Evi, Reyhan jadi lebih menjauhi Evi, dia tidak ingin dirinya di cap sebagai pelakor. Setelah beberapa hari tampak lesu dengan kejadian itu, akhirnya perlahan lahan Reyhan bisa sedikit demi sedikit menghapus Evi dari otaknya.


"Rey, lihat tuh Evi kok dari tadi seperti ngeliatin kami terus ya." kata Doni sambil menyenggol lengan Reyhan dan menunjuk Evi yang berdiri di mesin depan Reyhan sambil menyambung benang.


"Ah masa sih mas, perasaan biasa aja, itu kalo kerja tolong your mata dikondisikan jangan lirik kanan lirik kiri, tangan mu ke getok martil baru tau rasa."


"Eh kok ngomong nya gitu, lagi mens ya." goda Doni sambil nyengir.


"IYA!" seru Reyhan dengan dongkol.


"Mas, aku... aku minta maaf ya atas kejadian kemarin. jangan kapok ya main kerumah ku."


"Oh iya iya Vi, ngga papa, lagian udah lama juga, aku udah lupa. Aku tinggal dulu ya, udah laper." kata Reyhan sambil mengelus cacing di perutnya.


Mereka berdua pun saling lempar senyum lalu berjalan berlawanan arah.


_____


"Eh tau ngga, kemarin itu aku seperti lihat Evi di jemput sama anak kecil, tapi pake motor yang gede itu lho." kata Doni sambil mengunyah nasi pecel.


"Evi operator group C itu maksudnya?" timpal Rudi ketika sama-sama lagi istirahat di kantin.


"Ho oh itu" kata Doni disertai anggukan.


"Denger denger itu pacar nya sejak SMA, dia sering banget kerumah Evi, katanya udah lamaran, 3 atau 4 bulan lagi mau nikah kata istriku." sambung Rudi yang duduk pas disampingnya. Reyhan yang mendengar hal itu langsung tersedak dari makannya lalu segera meminum es kopi di depan nya sampai hampir habis.


"Kamu ngga lagi kesedak anak tuyul kan Rey?" tanya Doni penasaran. Teman teman semeja nya pun sontak melihat ke arah Reyhan semua.


"Ehem.. ehem.." Reyhan berusaha melegakan tenggorokan nya sebelum mulai bicara lagi.

__ADS_1


"Engga kok mas, itu tadi aku nelen cabe rawit, mungkin Bu kantinnya sliwer matanya, masih ada cabe panjang yang belum diiris."


"Oh begitu." paduan suara teman Reyhan.


"Lanjut lagi brow, kok selama ini kamu ngga pernah bertegur sapa dengan Evi kalo di dalam ruangan." tanya Doni lagi ke Rudi.


"Emm... gimana ya, Evi tuh orangnya pendiem banget soalnya, jadi males aja ngobrol sama dia."


"Eh tapi kalo sama Reyhan dia mau lho ngomong." beber Doni.


"Oh itu cuma minta tolong aja waktu mesinnya rusak." sanggah Reyhan.


'Ya Allah tutup aib ku ya Allah, jangan sampai teman teman ku tau kalo aku pernah suka sama Evi dan kalah saing sama anak tuyul, aku janji akan sholat 3x sehari dulu ya Allah, 5x seharinya nanti kalo udah jadi orang kaya ya Allah.' batin Reyhan.


Setelah selesai makan mereka segera menuju ke mushola untuk menunaikan sholat dhuhur. Semenjak kerja dipabrik Reyhan mulai mengikuti sholat Dhuhur dan Ashar seperti teman teman nya.


Akhirnya Reyhan sudah benar benar bisa melupakan Evi, semangat kerja nya bangkit lagi. Setelah 3 bulan berlalu Reyhan dan teman teman nya mendapat undangan pernikahan dari Evi. Mereka memutuskan datang bersama sama, kebetulan resepsi akan diadakan dihari minggu jam 10.


Reyhan dan teman teman nya sepakat kumpul di pinggir jalan dekat perempatan lampu merah kedua dekat rumah Evi.


Setelah mereka sampai, mereka segera duduk berjajar di kursi yang telah disediakan. Tak lama acara pun dimulai. Seperti biasa, para hadirin akan melihat pengantin berjalan dari pintu masuk sampai ke atas pelaminan. Dan bisik bisik tetangga pun mulai terdengar ditelinga Reyhan.


"Ihh... Evi cantik banget ya." kata teman teman Reyhan kompak.


"Tapi itu suaminya kok seperti itu.. Seperti ngga ada cowok lain saja." kata Doni.


Dan mereka pun beradu pendapat masing-masing, sementara Reyhan cukup diam tak mau menanggapi ocehan teman teman nya. Bagi Reyhan, Evi adalah cinta keduanya yang berwujud manusia, sedangkan cinta pertama Reyhan berwujud bola. Boleh sedih karena tak bisa bersatu dengan Evi tapi ngga boleh lama lama sebab itu bisa menurunkan aura kegantengannya.


Setelah acara selesai para hadirin segera bersalaman satu persatu dengan pengantin. Termasuk Reyhan yang bersalaman dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Tapi anehnya mempelai pria tidak menerima uluran tangan Reyhan. Dan pemandangan itu dilihat oleh beberapa temannya, yang membuat mereka terkikik setelah sampai tempat parkir.


"Kayaknya ada rahasia deh, kenapa kita disalami sama tuh bocah sedangkan Reyhan sendiri yang ngga disalami." celetuk Doni sambil melirik Reyhan.


"Ah kamu ada ada aja mas, mungkin dia tuh ngga pede lihat orang seganteng aku, makanya dia ngga mau salaman ma aku. Kalo kalian kan udah pada nikah jadi aura aura kegantengannya tuh beda sama yang masih perjaka ting ting kayak aku." balas Reyhan tak mau kalah tapi berhasil membuat teman-teman nya tertawa terbahak bahak.


"Eh ntar kalo Evi lairan anaknya mirip siapa ya kira-kira?" kata Rudi.


"Duh, jangan sampai mirip bapaknya, ngga memperbaiki keturunan malah makin ancur keturunannya." sambung Doni, lalu semuanya kembali tertawa terbahak bahak.


"Kasian sekali nasib Evi jadi bahan ghibahan orang sejagad." Gumam Reyhan.


"Apa kamu bilang Rey." tanya Doni yang sekilas mendengar gumaman Reyhan.


"Aku ngga ngomong apa-apa juga, dah yok buruan jalan." ajak Reyhan menghindari obrolan lebih lama soal Evi.

__ADS_1


__ADS_2