Juragan Muda

Juragan Muda
81. Menyatukan kakak beradik


__ADS_3

"Hah, menikah? Kamu serius nduk mau segera menikah?" tanya bu Siti dengan muka serius.


Tiwi membulatkan mata melihat ekspresi terkejut ibunya sedangkan pak Somad kembali tertawa.


"Ya... jika suatu saat ada lelaki yang mau dengan Tiwi, ya Tiwi mau bu." tutur Tiwi apa adanya.


"Bu, anak kita kan cantik, sholihah, sudah pasti bakal banyak yang suka. Cuma pesan bapak, ya carilah yang bisa membimbing mu dalam kebaikan. Kalau memang beneran suka sama kamu, suruh menghadap bapak untuk melamar kamu. Bapak ngga suka kalau anak bapak diajak wira wiri kesana kemari tapi tak kunjung dinikahi, apalagi kalau sampai hamil duluan." tegas pak Somad. Pandangan nya mengarah ke bu Siti dan Tiwi bergantian.


"Ya sudah, kalau begitu bapak keluar dulu ya."


"Nduk, kalau boleh ibu tahu, gimana hubungan kamu dengan Bayu? Sekarang dia tak pernah kesini lagi."


Tiwi menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjawab pertanyaan ibunya.


"Tiwi juga tidak tahu bu, mungkin mas Bayu tidak bisa memaafkan kesalahan Tiwi, jadi dia lebih memilih mengakhiri hubungan ini."


"Yah, padahal sebenarnya ibu suka kalau kalian jadian. Kalian itu pasangan yang serasi."


"Ibu..... ayolah jangan bicara seperti itu. Tiwi memang salah, dan ini mungkin hukumannya. Doakan saja semoga kelak Tiwi dapat jodoh yang lebih baik lagi." Tiwi menggenggam tangan ibunya sambil tersenyum.


"Iya, maaf nduk. Kadang yang lebih menyesal itu bukan yang menjalani tapi justru malah yang melihat. Ya seperti ibu ini contohnya. Dihari ulang tahun mu ini, ibu doakan supaya kamu lekas dapat jodoh orang yang sholih." bu Siti mengelus kepala Tiwi dengan penuh kasih sayang lalu merangkul nya. Tiwi merasa beruntung memiliki kedua orang tua yang sayang sekali padanya dan terus mengarahkan pada kebaikan.


_____


"Bu, kok Bima perhatikan dari kemarin kemarin, kak Bayu jadi lebih pendiam ya. Tidak pernah bertegur sapa dengan kak Reyhan juga."


"Iya, ibu perhatikan juga begitu. Ya Allah, selama ini kita selalu hidup rukun. Tapi, kenapa sekarang anak anak ku terlihat saling bermusuhan?" sesal ibu Rohmah lalu menghentikan aktivitas memotong sayur. Bima yang melihat ibunya bersedih, jadi merasa tak enak.


"Maafkan Bima bu, sudah berprasangka buruk ke kak Bayu. Sebenarnya Bima rindu dengan canda tawa sebelum kak Bayu dan kak Reyhan memiliki usaha sendiri."


"Iya, sekarang mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tapi, ibu yakin mereka sibuk juga demi mengumpulkan uang untuk kebutuhan keluarga kita Bim. Tak dipungkiri, ibu sangat terbantu dengan uang yang diberikan oleh kakakmu."


"Bu, gimana kalau sekali kali kita makan di luar bersama kak Reyhan dan kak Bayu. Kalau orang bilang itu namanya quality time." ucap Bima dengan antusias dan menjentikkan jarinya.


"Boleh, ide yang bagus itu. Ya sudah, biar ibu hubungi kedua kakakmu. Kalau ibu yang minta, pasti mereka ngga bakalan nolak. Ya sudah ambilkan handphone ibu dikamar ya."


Tak berselang lama, Bima sudah kembali ke dapur dan menyerahkan handphone ke ibunya. Bu Rohmah segera menghubungi nomor Reyhan dan Bayu.


"Alhamdulillah, mereka setuju Bim."


"Iya kah bu? Yee...... akhirnya bisa jajan diluar juga." seru Bima kegirangan.

__ADS_1


Malam pun akhirnya tiba. Setelah melaksanakan sholat isya' mereka segera bersiap siap.


"Lhoh, kok kak Bayu mau naik motor?" tanya Bima penasaran karena melihat Bayu mengeluarkan motornya.


"Kita naik mobil Reyhan saja Bay. Ibu kan kangen kita bisa kumpul bersama. Masa berangkat nya bawa kendaraan sendiri sendiri." bu Rohmah memasang muka sedih agar Bayu berubah pikiran, dan akhirnya rencananya berhasil.


"Ayo semua masuk, keburu malam." ajak Reyhan dengan antusias.


"Hore..... bisa jajan diluar." seru Bima kegirangan dan langsung menarik tangan Bayu untuk masuk mobil. Dengan berat hati akhirnya Bayu pun mengikuti langkah Bima karena tak ingin membuat ibunya bersedih.


Bu Rohmah sengaja mendahului masuk dan duduk dibelakang lalu disusul Bima. Dan mau tak mau akhirnya Bayu yang duduk di depan.


"Sudah siap semua kan, ngga ada yang tertinggal?"


"Enggak kak, justru aku yang harusnya bertanya ke kakak. Uangnya sudah dibawa kan? Karena nanti, kak Reyhan yang aku suruh bayar." balas Bima yang membuat ibunya tersenyum.


"Gampang." Reyhan mengacungkan jempolnya lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumahnya.


Selama di dalam mobil, Bima dan ibu mengajak Bayu bercerita. Reyhan juga ikut menimpali obrolan itu.


"Wow, sepertinya ini restoran terkenal ya kak? Banyak sekali mobil pengunjung, sampai kita kesulitan mau parkir." ujar Bima dengan takjub.


"Iya Bim. Yuk masuk." ajak Reyhan yang keluar dari mobil dan segera disusul oleh keluarganya.


"Ibu, kita makan disini kan juga bayar, kenapa harus minder?" balas Reyhan.


"Tapi, ibu ngga terbiasa makan ditempat mewah seperti ini."


"Reyhan janji, bakal sering ngajak keluar ibu dan adik adik. Kemarin kemarin memang Reyhan sangat sibuk, tapi kedepannya Reyhan pasti akan luangkan waktu. Sekarang, ayo kita duduk disana." Reyhan menunjuk sebuah gazebo yang dekat dengan kolam ikan. Mereka pun akhirnya segera berjalan kesana.


"Aku mau pesen duluan." seru Bima sambil meraih daftar menu dan membacanya.


"Ibu, kak Bayu, kak Reyhan mau pesen apa? biar aku tulis."


Mereka pun menyebut nama menu pilihan masing-masing. Dan sambil menunggu pesanan datang, ibu mengajak mereka ngobrol.


Awalnya canggung seperti di dalam mobil tadi, tapi ibu terus saja mencairkan suasana. Karena ia tahu, Bayu memiliki watak yang sedikit keras seperti almarhum bapaknya. Jadi harus lebih ekstra sabar menghadapinya.


Tak berselang lama, pesanan mereka pun datang. Menu menu yang menggugah selera tentunya. Apalagi Reyhan sengaja memesan varian menu lainnya agar keluarga nya puas.


"Ayo serbu...." teriak Bima.

__ADS_1


"Jangan lupa doa dulu." ibunya mengingatkan.


Setelah itu mereka mulai menyuap makanan masing-masing.


"Reyhan." mendengar namanya disebut Reyhan langsung mendongakkan kepalanya.


"Pak Atmaja." balas Reyhan ketika mengetahui siapa yang menyapanya.


Kedua keluarga itu akhirnya saling melempar senyum.


"Boleh kita gabung disini?" tanya pak Atmaja lagi.


"Pa, kenapa harus duduk disini." protes Laura.


"Tempat lainnya kan sudah penuh sayang."


"Ya sudah kita cari restoran lainnya saja." Laura masih saja ngotot.


"Sudah sayang, mama ngga mau muter-muter, keburu lapar."


"Boleh pak silahkan." tawar bu Rohmah dan Reyhan bersamaan. Lalu mereka beringsut merapikan duduk.


"Ayo non duduk sini." bu Rohmah menepuk tempat yang berada diantara dirinya dan Reyhan.


Dan dengan terpaksa Laura duduk disana karena hanya itu tempat yang tersisa.


"Mari dicicipi pak, bu, non. Kebetulan tadi Reyhan pesen banyak." tawar bu Rohmah lagi.


"Iya bu terimakasih." ujar pak Atmaja dan istrinya bersamaan.


"Bapak ibu mau minum apa? saya pesan kan." tawar Reyhan sopan.


"Kenapa yang kamu tawarin cuma papa sama mamaku saja." Laura mulai meradang.


"Iya, Miss Laura mau pesan apa?" tawar Reyhan.


"Terserah kamu saja." sebuah kalimat yang sakral bagi Reyhan, karena jika salah pesan bisa membuat wanita yang ada disampingnya meledak marah.


Hai kak, terimakasih masih setia dengan mas Reyhan ya. Dan total pulsa 75rb masih menanti. Yuk tetap tinggalkan jejak dan kasih dukungan sebanyak banyaknya.


Dan sambil menunggu author update bab selanjutnya, mari mampir dikarya temen author yang Joss gandosss 😉😉

__ADS_1



__ADS_2