
Pak Atmaja memasuki showroom dengan langkah yang tegas dan berwibawa. Di sisi kanan dan kirinya ada Reyhan dan Laura yang berjalan sejajar dengannya.
Reyhan tampak gagah dan rupawan dalam balutan jas berwarna hitam senada dengan warna celananya.
Sedangkan Laura tampak cantik dan anggun dalam balutan gamis lebar berwarna hitam. Kini kemanapun ia pergi, selalu menggunakan gamis lebar. Pakaian mininya hanya akan ia kenakan ketika berada di dalam kamar bersama suaminya.
Dan kini, semua mata memandang ke arah mereka, dengan tatapan yang takjub. Setelah bayangan mereka menghilang di balik tangga, barulah para karyawan mulai berbisik.
"Rombongan orang kaya lewat."
"Dari nenek moyang sudah kaya duluan sih."
"Bapaknya saja terlihat berwibawa, pantes saja nurun ke anak dan menantunya."
"Kenapa bisa pas sekali, satunya ganteng, satunya cantik. Kapan aku bisa bernasib seperti itu?"
"Kalau sudah kiamat." sahut yang lain.
Dan masih banyak lagi komentar dari para karyawan. Ada yang mencibir, tapi tak sedikit yang memuji.
Sebaik apapun hidup yang kita jalani, pasti akan ada yang berkomentar di belakang kita. Begitu juga dengan keluarga pak Atmaja saat ini, yang tengah menjadi bahan ghibah bagi karyawannya sendiri.
Setelah memberi briefing pada Laura dan Reyhan, kini ketiganya memasuki ruang meeting.
Semua karyawan yang sudah menunggu di ruang meeting, bangkit berdiri sambil membungkukkan badan untuk menghormati pimpinan mereka.
Pak Atmaja berdiri di dekat kursi yang biasanya ia pakai ketika meeting.
Ia mulai memimpin acara pada pagi hari itu. Setelah berucap salam, ia memperkenalkan Laura dan Reyhan pada staf penting di showroom nya.
Keduanya di beri waktu untuk memberikan sambutan pada seluruh staf.
Tepuk tangan dan ucapan selamat datang menggema memenuhi ruangan itu, ketika Reyhan dan Laura selesai memberikan sambutan. Keduanya sama sama memiliki publich speaking yang bagus.
Setelah acara itu selesai, Reyhan dan Laura kembali ke ruangan papanya. Pak Atmaja mulai memberikan arahan dalam mengerjakan tugas tugasnya.
Pak Atmaja juga menunjukkan seluruh berkas penting yang harus di cek setiap hari nya. Mereka berusaha mengerjakan tugas tugas itu, hingga tak terasa jam istirahat tiba.
__ADS_1
Pak Atmaja tak ingin melewatkan kesempatan untuk makan siang dengan anak anak kesayangannya.
"Ayo, kita sudahi dulu pekerjaan ini. Kita makan siang bersama." ajak pak Atmaja sambil tersenyum.
Reyhan dan Laura langsung menghembuskan nafas panjang mendengar ajakan papa mereka. Melihat hal itu, membuat pak Atmaja terkekeh.
"Kalau sudah biasa, ngga akan terasa capek." ucapnya menyemangati keduanya.
"Iya iya pa. Papa keluar dulu gih." ucap Laura datar.
"Lhohloh, ini kan ruangan papa. Kenapa papa malah di usir?"
"Laura mau peregangan sebentar pa." yang membuat pak Atmaja kembali terkekeh mendengar jawaban anaknya itu.
"Jangan lama-lama." imbuhnya, lalu keluar mendahului mereka.
Benar saja, setelah pak Atmaja keluar keduanya langsung menyenderkan tubuhnya di kursi sambil menghirup nafas panjang berulang kali.
Sesaat Reyhan merasakan beban pekerjaan nya semakin bertambah berat. Tapi, hal itu tak menyurutkan semangat nya.
Sekarang ada istri, dan mungkin sebentar lagi anak, yang akan menjadi tanggungan nya. Sehingga memicu semangatnya dalam bekerja, dan dalam mengelola bisnis papa mertuanya.
"Aku teringat uang papa yang aku habiskan untuk berfoya-foya dengan Choki mas."
"Hal itu jangan membuat Miss Laura menjadi down, harusnya menjadi cambuk semangat dalam mengelola bisnis papa agar semakin berkembang pesat. Dan uang papa yang di hamburkan bisa terganti." ucap Reyhan sambil menepuk pelan bahu Laura.
"Hem, sepertinya benar apa yang kamu katakan mas. Ya sudah, kita susul papa sekarang. Habis itu kita kerja lagi." ucap Laura kembali bersemangat.
Keduanya bergegas menyusul papanya yang sudah keluar terlebih dahulu.
"Kalian peregangan atau tiduran, kenapa lama sekali?" ucap pak Atmaja ketika keduanya sudah berdiri di dekatnya.
"Dua duanya pa." Laura terkekeh.
"Ayo, mau makan kemana kita?" tanya Laura sambil menggamit lengan papanya.
Pukul 4 sore, mereka pulang. Sesampainya di rumah, bu Ani sudah menyambutnya dengan wajah ceria. Walaupun rasa capek melanda, mereka pun menyapa mamanya dengan ceria juga.
__ADS_1
Setelah makan malam bersama, Reyhan berpamitan untuk mengecek counternya. Laura pun merengek ikut.
"Kita cari uang sama sama, untuk di nikmati bersama-sama. Aku ngga mau mas capek sendirian."
Sebenarnya ia tak tega jika melihat Laura yang sejak tadi pagi kerja, di tambah malam ini masih ikut dengannya. Tapi demi melihat semangat nya yang berapi api, akhirnya dengan berat hati Reyhan mengijinkan Laura ikut.
Laura memperhatikan kinerja suaminya dengan seksama. Setelah mengelilingi 4 counternya akhirnya mereka pulang ke rumah papanya.
Laura yang tak dapat menahan rasa capek dan ngantuk nya, akhirnya tertidur di dalam mobil.
Sesampainya di rumah, Reyhan yang tak ingin membangunkan Laura, bergegas menggendongnya sampai kamar.
Dengan pelan-pelan ia melepas jilbab dan gamis Laura, lalu merapikan rambutnya. Setelah memberi kecupan di keningnya, bergegas ia membersihkan diri.
Keesokan harinya mereka kembali melakukan pekerjaan yang sama. Bekerja di showroom papanya.
Tanpa terasa, mereka sudah 4 bulan bekerja di showroom papa. Mereka mulai mahir dalam mengerjakan tugas tugas nya. Walaupun capek karena setiap hari mengerjakan tugas ganda, tidak menyurutkan langkah keduanya.
Dan di malam itu Laura yang sudah kangen dengan ibu mertuanya, berpamitan pada kedua orangtuanya, jika selesai mengecek counter akan pulang ke rumah ibu mertua. Kedua orang tuanya pun mengijinkan. Karena disana Laura juga bisa belajar mandiri. Selain itu, ia juga sangat di sayang.
Reyhan mendekati mertua dan istrinya yang tengah duduk di ruang tamu. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang penting pada mereka.
"Kelihatannya serius sekali Rey, ada apa?" tanya pak Atmaja yang kini serius menatapnya.
"Pa, Reyhan punya sedikit tabungan. Rencananya, ingin membuatkan sebuah rumah untuk Miss Laura. Reyhan cuma minta restu papa dan mama, supaya pembangunan itu secepatnya bisa terlaksana."
Laura membulatkan matanya tak percaya, ketika mendengar ucapan suaminya. Lagi-lagi ia memberinya kejutan.
Reyhan memang pernah mengatakan padanya jika suatu saat akan membuatkan rumah untuknya, tapi ia tidak menyangka jika akan secepat ini.
Kurang dari waktu setengah tahun, ia memberinya begitu banyak hadiah, yang tentunya mengeluarkan uang yang tak sedikit jumlahnya.
"Reyhan, papa sangat senang dengan rencana mu itu. Papa juga bersyukur memiliki menantu seperti mu, sangat bertanggung jawab pada istri. Tapi, jika kalian berdua memiliki rumah sendiri, lantas siapa yang akan menempati rumah ini nantinya. Jika kalian bergiliran tidur disini dan di rumah ibumu justru papa malah lega. "
Reyhan menyimak baik-baik ucapan papa mertuanya, tanpa menjeda. Walaupun pada akhirnya papa tidak menyetujui keinginannya, itu tidak menjadi masalah untuknya.
"Sementara waktu, uang tabungan yang kamu miliki, gunakan saja, untuk buka cabang. Jika uangnya kurang, bilang sama papa." imbuh pak Atmaja.
__ADS_1
Reyhan sekilas menatap Laura sebelum akhirnya mengiyakan saran papa. Rencana Allah tidak ada yang tahu. Niat hati ingin melaksanakan tanggung jawab, tapi terganjal restu orang tua. Lebih baik mundur demi bisa melompat lebih jauh.